
Andini terus melangkah perlahan dengan berat hati. Bukan karena masih ingin tinggal bersama ketiga orang yang kejam itu, tapi caranya keluar dari rumah itu yang membuat kakinya terasa berat.
Gadis itu menyusuri jalanan sepi. Di tengah malam begini, di saat semua orang mungkin sudah berada di alam mimpi. Entah akan sampai mana dia berjalan ? yang pasti, dia harus terus menjauh dari rumah terkutuk itu.
Matanya menyisir ke tiap bangunan yang dia lewati. Hampir semuanya sudah gelap. Hanya lampu jalanan yang menyala.
Sudah satu jam lebih kakinya menapaki jalan. Rasa sakit dan pegal sama sekali tak dia rasakan. Hatinya masih berdarah mengalahkan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Bahkan sesekali Andini menyeka air matanya yang selalu tumpah setiap mengingat kejadian dalam hidupnya.
Saat ini Andini telah berada di sebuah halte. Dia duduk di sana sendirian. Hembusan angin malam terasa menusuk kulitnya. Jalanan sangat lengang. Hanya beberapa kendaraan yang lalu lalang. Sungguh malam yang dingin untuk jiwa yang sepi.
Gadis itu termenung, menatap kosong ke arah kendaraan yang kadang lewat. Pikirannya buntu. Harus kemana dia akan pergi ? tak ada orang lain yang dia kenal di kota ini. Jika pulang ke kampung halamannya, itu tidak mungkin. Semua keluarga besarnya pasti tidak akan mau menerima kehadiran Dini.
Hidupku benar-benar menyedihkan. Bertahun-tahun tinggal di kota sebesar ini, tapi tidak punya seorang teman pun yang bisa ku mintai bantuan.
Andini tersenyum kelu. Bulir bening kembali membanjiri wajah sendunya. Dari dulu gadis itu sangat akrab dengan kesendirian dan kesepian. Di rumah tentu saja tak ada teman. Di sekolah yang hanya sampai SMP, tak ada yang mau berteman dengan gadis kucel sepertinya. Tak ada kesempatan untuk bermain dan mencari teman, karena dia sibuk dengan setumpuk pekerjaan di rumah mewah ayahnya. Andini yakin, jika pun sempat pergi ke luar rumah, Bu Rahma akan menyuruhnya segera masuk kandang.
"Heyyy kalian ! aku juga manusia ! kenapa kalian tidak mau berteman denganku ?" dia berteriak sepuasnya. Kembali sesenggukan memeluk kakinya. Andini merasa menjadi orang paling tidak dianggap keberadaannya. Tak ada yang peduli dengannya. Hanya mendiang ibunya dan bi Juju, juga si.....pria itu. Pria menyebalkan tapi memberi perhatian padanya.
Kenapa pria itu yang aku ingat ?
Andini merogoh saku kemeja belelnya, mengeluarkan benda jadul yang terlihat aneh di jaman sekarang. Namun, benda itu sangat berharga baginya. Meski tak ada aplikasi sosial media, bahkan tak ada kamera, setidaknya Dini dapat mengusir kesepiannya dengan menyetel saluran radio yang ada di handphone butut itu.
Dia baru ingat jika di dalam ponselnya sudah tersimpan nomor Yusuf. Haruskah dia menghubungi pria itu ? apakah tidak akan memalukan ? tapi bukankah pria itu sendiri yang menyuruh ? sekarang ini dirinya sedang ada dalam masalah, pasti tidak apa jika menerima bantuan dari pria itu.
Andini memencet tombol untuk melakukan panggilan ke nomor Yusuf. Setelah lima menit tak ada jawaban, panggilan itu dimatikan. Pria itu pasti sudah tidur. Mungkin besok saja ? ponsel disimpan kembali ke dalam saku.
Dia akhirnya memilih memejamkan mata. Rasanya tidak adil jika matanya harus terus mengeluarkan air. Bukankah bagian dari tubuhnya itu juga perlu istirahat ? Andini terlelap masih dengan posisi memeluk lututnya.
Subuh-subuh mata Andini mengerjap. Dia celingukan mencari sumber suara yang berasal dari ponselnya. Mungkin itu bunyi alarm yang biasa dia pasang. HP jadul itu sudah ada di tangannya. Benar saja, suara barusan adalah suara alarm. Andini mematikannya. Baru akan menyimpan lagi benda kecil itu, suara ponselnya berdering lagi. Bukan bunyi alarm, tapi ada sebuah panggilan masuk atas nama Yusuf.
Andini menurunkan kakinya dari tempat duduk. Mendadak jantungnya berdegup kencang. Pria itu menghubunginya di pagi buta begini. Dini sangat gugup, haruskah dia mengangkat panggilan telpon itu ?
"Ha...halo !" Dini berusaha bicara setelah memencet tombol hijau tadi.
"Halo, An !" suara di seberang sana membuatnya merinding. Bukan karena panggilan aneh yang ditujukan padanya, melainkan ada desiran yang muncul di hatinya ketika mendengar suara pria itu.
"Andini, kau baik-baik saja ? halo.....An !"
"Ha...halo ! kenapa memanggilku An ? itu terdengar asing, panggil saja Dini !" suaranya melemah seiring tubuhnya yang gemetaran.
"Namamu Andini, jadi harusnya tidak masalah jika aku memanggilmu An. Menurutku itu lebih manis. Kau sedang ada masalah ? aku melihat notifikasi di ponselku. Ada panggilan masuk dari nomormu beberapa jam yang lalu."
"Maaf, sebenarnya....aku memang membutuhkan bantuan. Tapi jika kau sedang sibuk maka tidak usah. Aku tidak mau merepotkanmu."
__ADS_1
"Katakan, kau kenapa ? sekarang ada dimana ? kau tidak sedang ada di rumah kan ?! apa kau sedang ada di jalan raya ? aku mendengar suara kendaraan." Suara Yusuf terdengar panik.
"Aku....di halte bus."
"Aku segera ke sana secepatnya. Jangan pergi kemanapun sebelum aku sampai !" panggilan telepon dimatikan.
Andini memasukan lagi handphone ke dalam saku kemejanya. Dia kembali duduk dan termenung. Benar-benar aneh, pria asing yang hanya beberapa kali bertemu dengannya, begitu panik mendengar dirinya berada di luar rumah. Disadari atau tidak, hatinya telah tersentuh akibat kebaikan pria bernama Yusuf.
***
Kini banyak orang di halte. Jalanan juga ramai oleh kendaraan yang lalu lalang. Kota itu kembali sibuk oleh aktivitas orang-orang. Yusuf menghentikan mobilnya setelah matanya menangkap sosok Andini yang duduk menunggunya. Dia menghubungi kembali nomor gadis itu dan menyuruhnya naik ke mobil.
Mata Andini tertuju ke arah mobil yang berhenti di depan halte. Perlahan dia mendekat. Ponsel masih menempel di telinganya. "Halo, apa kau ada di dalam ? aku takut salah naik mobil. Mobilmu sepertinya berbeda dari mobil yang pernah waktu itu aku tumpangi." Dini celingukan menatap kaca mobil di depannya.
Perlahan jendela mobil itu terbuka dan menampakkan sosok indah yang ada di dalamnya. Andini sampai melotot melihat pria itu yang rasanya semakin sexy di matanya.
"Cepat naik !" kaca itu kembali tertutup.
Andini menyimpan ponselnya di saku baju. Dia segera membuka pintu mobil dan masuk, duduk di kursi depan berdampingan dengan si pria baik hati. Awalnya gadis itu menganggap Yusuf menyebalkan, tapi kini dia menilai bahwa Yusuf sebenarnya baik.
"Maaf, aku sudah merepotkan. Apa kau akan pergi bekerja ?" Andini bertanya tanpa menoleh.
"Ya, aku harus ke kantor. Tapi tidak masalah, aku akan mengurusmu terlebih dulu. Katakan, kenapa kau ada di halte ?"
"Kita cari tempat makan dulu. Aku tahu kau sedang kelaparan. Dari tadi perutmu bernyanyi." Yusuf sedikit menyunggingkan senyum.
Andini memegangi perutnya, memang sedari menunggu Yusuf, lambungnya terasa perih. Tapi kenapa pria di sebelahnya harus mendengar bunyi keroncongan itu ? padahal dia pikir Yusuf tak akan mendengarnya, tapi ternyata pria itu punya telinga yang super normal.
Ahhhh memalukan !
Gadis itu melemparkan pandangannya ke arah luar, menyembunyikan wajahnya yang merah karena malu.
"Stop ! itu ada tukang bubur ayam !" Andini setengah berteriak membuat Yusuf mengerem mendadak mobilnya.
"Kenapa ? memang tukang bubur itu kenapa ? apa terjatuh atau ada yang merusak dagangannya ?" Yusuf panik.
"Ahhh bukan, tidak terjadi apa-apa. Hanya saja, sepertinya buburnya enak karena banyak yang beli." Andini nyengir sambil menunduk.
Gadis itu meremas jemarinya. Sungguh bodoh apa yang barusan dia lakukan. Saking bahagianya melihat tukang bubur, dia ingin menghentikan mobil yang dia naiki. Berjalan ke arah gerobak itu dan memesan makanan yang menjadi favoritnya sejak kecil. Jika dia punya uang, itu tidak masalah, tapi saat ini tak ada satu koin pun yang ada di tasnya. Mau minta belas kasihan pria di sebelahnya ? itu sangat memalukan dan tidak tahu diri.
Yusuf bisa menangkap apa sebenarnya keinginan gadis kucel tapi imut itu. Dia melajukan kembali mobilnya untuk mencari parkiran terdekat. Setelah memarkir mobil, Yusuf mengajak Andini turun dan mengikutinya. Mereka berjalan ke tempat gerobak tukang bubur tadi.
"Kenapa kau mengajakku ke sini ? ini kan tukang bubur yang tadi aku bicarakan ?" Dini mensejajarkan langkahnya.
__ADS_1
"Aku penasaran ingin mencobanya. Kau bilang banyak yang beli, berarti memang enak."
Sedari kedatangan Yusuf ke tempat itu, semua pasang mata menatapnya kagum dan heran. Pria tampan dan pasti dari kalangan atas itu kenapa bisa mampir di sana ? apakah orang kaya sudah bosan makan di restoran atau semacamnya ?
Yusuf tak mempedulikan mereka. Dia menatap gadis yang saat ini tengah memperhatikan para pembeli yang makan di sana. Sepertinya gadis itu ingin cepat-cepat melahap bubur. Mungkin air liurnya sudah banyak yang menetes.
Seorang pria paruh baya menghampiri keduanya dan membungkuk sopan. "Maaf tuan, ada yang bisa saya bantu ?" dia pikir pria berpenampilan seperti Yusuf tidak mungkin akan jajan di tempatnya. Mungkin si pria kaya hanya ingin menanyakan alamat saja.
"Pak, tolong buatkan dua porsi untuk kami."
Jederrrr ! benarkah yang dia dengar ? pria kaya memesan bubur dagangannya ?
"Ba...baik tuan. Makan di sini atau dibungkus ?"
"Di sini saja." Yusuf juga ingin merasakan sensasi makan di pinggir jalan.
Dengan sigap bapak itu menyediakan dua kursi untuk Yusuf, mengelapnya agar lebih bersih. "Silahkan duduk dulu tuan. Saya akan segera membuatkan bubur pesanan anda."
Yusuf dan Andini duduk di sana. Orang-orang yang masih ada, tak henti memonitor pergerakan si pria tampan dan kaya. Sungguh pemandangan yang langka. Bahkan beberapa orang diantara mereka mengenal Yusuf.
"Bukankah itu adalah tuan Yusuf Hadi Wijaya, CEO dari Angkasa Group ? salah satu pengusaha muda yang sukses ?"
"Mirip, tapi ku rasa bukan. Mana mungkin pria setajir dia makan di pinggir jalan. Apalagi ditemani seorang gadis yang kucel."
Dua orang berbincang. Dari kejauhan mereka memperhatikan Yusuf dan Andini. Untung saja omongan mereka tak dapat sampai di telinga Yusuf karena keduanya berdiri agak jauh.
Andini merasa tidak enak hati berada di samping pria yang sangat mencolok itu. Tampilannya yang kucel dan semrawut sungguh berbeda jauh dengan sosok Yusuf yang penuh daya pikat. Apalagi orang-orang itu menatapnya dengan heran. Seolah berkata, bahwa gadis sepertinya sama sekali tidak cocok bergaul dengan pria sekeren Yusuf.
Ahhh bodo amat, yang penting sekarang aku bisa makan bubur meskipun aku belum tahu, apakah akan ditraktir atau nanti harus diganti ?
Pesanan pun datang. Andini segera melahap makanan itu. Dia seperti orang yang kesurupan. Dalam waktu singkat bubur itu sudah ludes. Yusuf sampai bengong karenanya. Dia bahkan belum makan sesuap pun karena sibuk memperhatikan gadis di sampingnya.
"An, apa kau tidak makan selama setahun ? atau memang rakus ?"
"Sudah lama aku tidak makan ini. Jadi sekarang aku ingin makan sepuasnya sampai benar-benar bersih mangkoknya."
"Kau mau tambah lagi ? sepertinya kau mengincar punyaku ! jika mau, pesan saja."
"Benarkah ? tapi, bayarnya ?"
"Aku traktir. Tenang saja !"
Dengan semangat gadis itu menghampiri sang pedagang lalu memesan bubur ayam komplit dengan sate telur puyuh dan juga ati. Dia kembali duduk setelah mendapat apa yang dia inginkan.
__ADS_1
Yusuf tersenyum keheranan melihat nafsu makan gadis itu yang ternyata lebih besar dari tubuhnya. Baru kali ini dia melihat seorang gadis berprilaku cuek, apa adanya dan tidak bersikap so anggun.