
Hari Minggu siang teman-teman Yusuf mengunjunginya. Mereka ingin main bersama sekaligus meminta bantuan untuk mengerjakan tugas sekolah yang harus dikumpulkan besok.
Ketiga teman sekolahnya diperkenalkan kepada orangtuanya. Mereka berada di ruang keluarga. Saat hendak sungkem pada Suci, dengan tegas Riki melarang mereka.
"Stop ! anak-anak, jangan ada yang berani menyentuh tante sedikitpun. Perhatikan om ! jika ingin memberi salam, menyapa atau berkenalan, caranya seperti ini." Riki menangkupkan kedua telapak tangannya.
"Baik om, maaf !" ketiganya serempak menjawab.
"Bagus !" Riki tersenyum puas. Yusuf hanya menghela nafasnya kasar. Dia setuju jika semua temannya harus menghargai dan tidak menyentuh ibunya. Namun, dia juga paham betul bahwa ada maksud lain dari sikap Riki. Ayahnya itu sama sekali tidak mau ada pria lain yang dekat, menatap apalagi menyentuh Suci. Tidak siapapun termasuk para bocah itu. Sikap posesif Riki masih melekat sampai kini.
"Saya Aji."
"Saya Adit."
"Saya Noval tante, om !" mereka tersenyum sambil menangkupkan tangan.
"Ya...ya..kami pergi dulu, kalian lanjutkan saja mengerjakan tugas sekolah." Riki menarik tangan istrinya dan segera pergi.
Noval nyengir, "Papamu posesif sekali !"
"Mereka seperti pasangan yang baru jadian saja." Adit menimpali.
"Memangnya apa yang kamu tahu tentang pacaran ?" Aji mendelik.
"Bisa kita mulai sekarang ? kalian masih mau bergosip tentang orangtuaku ? atau mau menyelesaikan tugas sekolah ?" Yusuf menatap mereka satu persatu. Entahlah, aura mistis seolah mendadak muncul di ruangan itu. Tanpa menunggu Yusuf berbicara lagi, semua temannya sudah tenang. Mereka membuka tas masing-masing. Jika ekspresi menyeramkan muncul di wajah temannya yang selalu serius itu, maka mereka tidak berani membantah.
Selesai dengan tugas, mereka makan bersama lalu menghabiskan waktu di taman belakang. Si kembar cantik juga ikut bergabung sambil mengajak bermain si kembar tampan. Mereka duduk santai di atas tikar. Dilindungi rindang pohon di atasnya.
"Aku lupa, kenalkan. Ini semua adikku. Adik pertama dan kedua, Khaira dan Khesya." Yusuf menunjuk si kembar cantik yang duduk di sebelahnya. Akan tetapi dia keliru.
"Kebalik. Aku Khesya, bukan Khaira."
Yusuf hanya berdehem dan berusaha tetap tenang. "Ini adik ketiga dan keempatku. Zidan dan Zein."
Lagi-lagi Yusuf salah menerka. Si imut Zidan menjelaskan, "Kebalik lagi ! aku bukan Zein."
Yusuf merasa malu di depan teman-temannya. Harusnya dia mampu mengenali semua adiknya.
"Itu karena kalian terlalu sama. Kenapa aku harus punya dua pasang adik yang kembar identik ?" dia berkilah.
Khesya langsung menjawab tak mau kalah. "Justru aku yang harusnya bertanya. Kenapa kakak tidak kembar seperti kami ? ohhh aku tahu. Mungkin karena kak Yusuf ini galak dan judes makanya tidak ada yang mau menemani kakak saat masih ada di dalam perut mama. Hahaha !" Khesya terbahak disusul oleh tawaan yang lainnya.
Wajah Yusuf sudah sangat masam. Dia malu sekaligus juga kesal. Semua orang menertawakannya. Namun, meski begitu hubungan mereka selalu akan kembali baik dalam waktu singkat.
***
Pak Hans semakin tua. Kini saatnya dia diam di rumah menikmati waktu kebersamaan dengan cucu-cucunya. Bisnisnya di Jepang mau tidak mau diambil alih oleh Riki. Sementara Perusahan XZ akan diserahkan kepada Syarif.
Hari ini Suci dan Riki bersama si kembar tampan telah ada di Bandara. Semua keluarga besar turut mengantar. Semua orang banjir air mata meski para pria pandai menyembunyikan kesedihan mereka.
Yusuf menangis dalam hati, tak mau terlihat lemah di hadapan orang lain terutama ayah ibunya. Suci dan Riki memeluknya erat secara bergantian. Zidan dan Zein juga mencium kakak sulungnya dengan manja.
"Kami berangkat ya nak. Jaga adik-adikmu jangan sampai salah pergaulan ! mama yakin kamu adalah anak yang dewasa dan juga mampu melindungi mereka." Suci mengecup lama kening Yusuf. Air mata yang mengalir dari pipi ibunya segera dia usap lembut dengan jemari. Meski dadanya sesak namun dia bertahan agar tidak mengeluarkan air mata kesedihan. Yusuf benar-benar anak yang tegar.
"Jagoan, sekolah yang fokus ! ingat apa yang pernah mama bilang. No pacaran ! jika sudah temukan gadis yang tepat, maka langsung saja lamar." Riki memberi nasehat dengan nada bicara yang so tabah. Padahal jelas terlihat dari sudut matanya yang berair, pria itu sangat merasa sedih.
"Pa, aku masih kecil. Kenapa membahas hal seperti itu ?"
"Papa hanya mengingatkan saja. Jaman sekarang kan banyak yang baru saja gede sedikit, sudah mengenal pacaran. Kamu jangan jadi salah satu dari mereka." Riki menepuk pelan bahu anaknya.
Yusuf mengangguk. Giliran si kembar cantik yang berpelukan dengan orangtua dan adik-adik. Mereka menangis tersedu-sedu. Enggan melepas kepergian Suci, Riki juga si kembar tampan.
"Jangan menangis ! kan kalian tinggal di sini dengan oma dan opa. Ada tante dan om juga. Ada nenek Ayu juga saudara-saudara yang lain. Lagipula mama dan papa juga pasti akan selalu menelpon. Kami juga akan berusaha sering pulang ke Indonesia." Riki memeluk kedua putrinya.
__ADS_1
Setelah lama berpeluk cium dan berpamitan dengan seluruh keluarga besar, mereka pun pergi. Suci dan Riki beserta si kembar tampan melambaikan tangan sampai akhirnya tidak lagi terlihat.
***
Seminggu berada di Jepang. Tetangga yang tinggal di sebelah apartemen tempat Riki dan keluarganya menetap, kini tengah berkunjung. Mereka berada di ruang tamu.
Riki dan Suci sudah sempat berkenalan dengan sepasang suami istri itu. Namun kali ini kedatangan mereka adalah untuk mengakrabkan diri.
Nyonya dan tuan Arata sedikit lebih tua usianya dari Suci dan Riki.
Nyonya Arata sebenarnya asli Indonesia juga. Nama aslinya adalah Winarti. Ia menikah dengan tuan Arata yang merupakan majikannya. Jadi, sedikit banyak tuan Arata paham bahasa Indonesia.
"Senang sekali saya bisa bertemu dengan sesama orang Indonesia. Sedikit mengobati rasa rindu saya dengan tanah kelahiran." Nyonya Arata menyeka air matanya. Dia memang termasuk perempuan yang sensitif.
"Saya juga senang nyonya Arata." Suci tersenyum.
"Wahh you're so beautifull ! I like your smile ! " Tuan Arata tersenyum pada Suci.
Sudah dipastikan jika Riki langsung cemberut jutek. Dia segera memeluk pinggang istrinya dengan posesif.
"And i like your stomach Mr. Arata, it's so big !" Wajah Riki tersenyum sarkas.
Apa-apaan mas Riki ? nanti kalau tuan Arata merasa tersinggung karena dibilang perutnya besar bagaimana ?
Suci tertunduk nyengir tak enak hati. Nyonya dan tuan Arata hanya tertawa mendengar perkataan Riki. Mereka menganggapnya cuma candaan.
"Are you kidding me, Mr. Riki ? ternyata anda lucu juga." Tuan bermata sipit itu mengelus-elus perut buncitnya yang bergoyang kegelian.
"Ya benar, anda lucu tuan ! senang punya tetangga yang ramah seperti kalian." Istrinya menimpali.
Apa otak mereka rusak ? sama sekali tidak peka jika aku tidak menyukai pria satu ini !
Riki terus bersikap judes sampai mereka pamit pulang. Tapi kedua orang itu sama sekali tidak terganggu. Menurut mereka Riki adalah tetangga yang ramah.
"Si Sumo siapa ?"
"Itu, tetangga gila ! berani-beraninya dia menatap dan memamerkan senyum padamu. Apa tadi dia bilang ? I like your smile. Enak saja ! senyummu itu hanya milikku. Dia tidak berhak menyukai senyum manismu !" semakin meledak-ledak seperti ABG yang sedang cemburu buta.
"Ya ampun mas. Maksudmu tuan Arata ? dia tidak bermaksud apa-apa. Lagipula aku tidak secantik bidadari yang pasti akan disukai semua pria di dunia ini." Suci geleng-geleng kepala sembari mengambil handuk.
"Jika semua pria di dunia ini mengenalmu maka pasti mereka akan jatuh hati padamu sayang. Aku yakin itu !"
"Mas terlalu berlebihan. Terserah sajalah !" Suci bergerak ke kamar mandi.
Riki yang baru menyadarinya, segera berlari menyusul. "Tunggu sayang. Kita mandi bareng !"
Ahhh mulai ! semakin tua malah semakin menjadi.
***
Akhir pekan ini si kembar tampan ingin bermain di sekitar taman depan apartemen. Riki menemani mereka bermain bola. Sementara Suci hanya duduk menonton. Tuan dan nyonya Arata menghampiri.
"Halo nyunya Susi ! senang melihat anda di sini." Sapa pria itu.
Nyonya Arata menyenggol pinggang suaminya, "Bukan Susi, tapi SU-CI !"
"Ahhh ya I'm so sorry ! Mana tuan Riki ?" sedikit nyengir dan garuk-garuk kepala.
Suci sedikit tersenyum, "Sedang mengajak anak-anak bermain. Di sana !" menunjuk ke depan dengan matanya.
Tuan Arata menghampiri Riki yang sedari tadi sudah monitor gerak-gerik menyebalkan pria itu. Dan istrinya ikut duduk di samping Suci.
"Halo anak-anak ! boleh uncle ikut kalian bermain ?" pria gendut itu berjongkok di hadapan si kembar.
__ADS_1
Zidan dan Zein mengangguk bersamaan. Meski tidak suka dengan kehadiran tetangganya itu, terpaksa Riki mengijinkan tuan Arata bergabung. Anak-anak menyukai kebersamaan mereka dengan uncle Arata. Lain halnya dengan papa Riki. Dia semakin sebal melihat keakraban pria itu dengan anak-anaknya.
Tuan Arata bertindak sebagai penjaga gawang. Dia sengaja mengalah tidak dapat menangkap bola dari tendangan Zidan dan Zein, agar anak kembar itu senang. Sebagai ayahnya, Riki merasa dikalahkan karena anak-anak terlihat lebih antusias dibanding saat bermain dengannya.
"Mister, saya akan mencoba menendang bola ini, coba anda tangkap !" Riki bersiap menendang si kulit bundar.
Tuan Arata mengangguk, sangat semangat meladeni. Dia seolah kembali ke masa kecilnya. Dengan tatapan fokus dia memperhatikan pergerakan Riki. Tapi karena penglihatannya sudah tidak senormal dulu, dia gagal menangkap bola itu. Dicoba hingga beberapa kali tetap gagal.
Saat pria itu semakin kekelahan dan tidak fokus, Riki mengambil kesempatan untuk menyerangnya.
Bukk ! bola tepat menyambar bagian perut buncitnya dengan keras. Seketika itu juga pria itu ambruk. Riki yang semula merasa senang akhirnya khawatir juga. Dia berjongkok mengecek kondisi tuan Arata. "Are you ok ?" menepuk-nepuk pipi tembem pria gendut itu.
Suci dan nyonya Arata juga menghampiri, berdiri di sebelah si kembar. "Darl, wake up !" istrinya sudah bercucuran air mata. Tak hentinya menggoyangkan tubuh pria itu.
Suci gemetaran. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk dengan tuan Arata ?
"Kita bawa ke Rumah Sakit !" Riki sudah tak enak hati karena menjahili tetangganya itu.
Gurat kepanikan terlihat jelas dari wajah mereka. Tiba-tiba tuan Arata memecah ketegangan dengan tawanya. Kini dia sudah duduk sambil memegangi perutnya. "Aku berhasil membodohimu !" dia menunjuk wajah bingung milik Riki.
Nyonya Arata segera memeluk erat suaminya. "Darl, kamu membuatku takut !"
Suci membuang nafas lega, berarti suaminya tidak akan terkena masalah. Sementara itu, Riki kini sedang melotot tajam pada pria menyebalkan yang masih asik tertawa.
Dasar pria gila !
Riki mengajak istrinya dan si kembar masuk ke apartemen mereka. Moodnya benar-benar hancur karena ulah tetangganya yang tidak waras. Tapi apa dia juga tidak sama konyolnya dengan tuan Arata ?
***
Di tempat lain.
Syarif sedang ada di ruang kerjanya. Saat sebelum jam makan siang tiba, dia terlihat fokus menjelaskan mengenai sesuatu yang berhubungan dengan perusaahan pada keponakannya, Yusuf. Keduanya duduk di sofa.
Mendadak mereka dikagetkan dengan kedatangan Raisya. Wanita itu uring-uringan tidak jelas pada suaminya. "Mas, aku ingin kamu ganti sekertaris. Aku tidak suka dengan sekertarismu yang bernama Mira itu. Dia terlalu cantik dan juga sexy."
Syarif memegang bahu Raisya dan menyuruhnya duduk. Yusuf pindah ke sofa yang ada di depan karena merasa risih.
"Sebenarnya ada apa ?" Syarif menatap lekat wajah cemberut istrinya.
"Aku ingin mas memecat Mira. Ganti dengan sekertaris yang lebih tua dan juga gendut."
Syarif mengernyit, "Tapi aku tidak bisa memecat orang sembarangan. Apalagi Mira itu kerjanya bagus."
"Tapi aku sedang ngidam. Bukan aku yang menginginkan ini. Anak kita yang tidak suka melihat sekertaris yang kecentilan." Raisya menunjuk perutnya.
"Maaf, aku tidak bisa melakukannya. Itu tidak masuk akal. Dengar nak, sekertaris ayah bukan perempuan yang centil dan penggoda. Jadi jangan menginginkan hal yang aneh-aneh !" memegang perut istrinya.
Sebenarnya dia tahu bahwa itu hanya akal-akalan Raisya saja. Istrinya itu memang sangat cemburuan. Sebelas dua belas dengan kakaknya, Riki.
Yusuf menatap malas paman dan bibinya itu. Ribet sekali mereka. Kenapa harus membahas hal-hal yang tidak penting ?
Akhirnya anak itu pamit, "Om aku pulang sekarang. Besok sepulang sekolah aku main lagi ke sini."
"Ya. Hati-hati ! jangan mampir dulu ke tempat lain. Langsung pulang ke rumah !"
"Yusuf sayang. Pulang sekolah langsung mandi dan jangan lupa makan ! kerjakan PR dan jangan banyak main gadget." Raisya juga ikut menasehati.
Mereka memang menjaga dan memperhatikan semua keponakan sama seperti pada anak mereka sendiri.
Yusuf hanya mengangguk. Dia segera pergi dari sana. Kenapa aku masih saja dianggap seperti bocah ?
Anak itu memang ingin diperlakukan layaknya orang dewasa. Dia tidak menyukai hal-hal kekanakan dan tidak penting.
__ADS_1