Seperti Sampah

Seperti Sampah
Riki vs Doni.


__ADS_3

Riki dan Suci kembali duduk di tempat semula.


"Habiskan makananmu !" menyuruh Suci padahal Riki sendiri tidak menyentuh lagi makanannya. Sudah kehilangan selera gara-gara masih memendam kemarahan akibat pegawai yang tadi menghina Suci.


Suci pun sama, dia sudah tidak mau melanjutkan lagi makan. Masih merasa tidak enak karena dia yang menjadi pemicu insiden tadi. Padahal itu bukan salahnya.


"Kenapa diam saja ? apa mau saya suapi ?" sudah memegang alat makan Suci.


"Tidak tidak !!!"


"Kalau tidak dihabiskan maka saya akan memaksa menyuapimu seperti waktu itu." Riki menggerakkan alis tebalnya ke atas ke bawah sembari tersenyum nakal.


"Saya akan habiskan sekarang juga pak." Secepat kilat memasukkan mie ke mulutnya sampai tak ada lagi yang tersisa.


"Minum !" menyodorkan es teh miliknya.


"Belum saya minum, jadi tidak usah merasa jijik begitu. Cepat ambil !" terus memaksa hingga akhirnya Suci menerima.


Suci menyedot minuman itu setengah gelas dan menyimpan di atas meja. Dan Riki segera mengambil alih, es teh sudah ada dalam genggamannya.


"Dari cara kamu minum tadi sepertinya es teh ini segar sekali, biar ku coba !" menyedot minumannya dengan santai.


Bapak jorok sekali itu kan sedotan bekas bibir saya...kalau mau kenapa tadi dikasih ke saya ?


"Kenapa syok begitu melihat saya ? apa karena saya minum tepat di bekas bibirmu ?"


"Mmmmm...." bingung harus menjawab apa.


"Kamu tidak rabies kan ?!"


"Tentu saja tidak pak." Tegas menyanggah.


"Kalau begitu saya aman. Jadi kamu jangan khawatir begitu." Kembali menyedot minuman hingga kosong.


Bukan khawatir tapi jijik !!! ternyata Bos begitu yaaaa


"Apa sudah habis makananmu Suci ?" beralih ke ponselnya.


"Sudah pak."


"Kalau begitu ayo kita pergi !" sudah berdiri.


"Bapak duluan saja." Suci nyengir.


"Apa kau mau dibully semua orang ? mereka pasti akan menyerangmu jika berjalan sendirian."


"Memang kenapa ? apa salah saya ?"


"Karena kamu sudah berhasil makan siang dan duduk bersama idola mereka. Ayo cepat ! aku akan melindungimu. Jalan duluan ! Cepat !"


Kenapa jadi seperti ini ? malah lebih terlihat mencurigakan bagi yang melihat. Nanti malah lebih banyak lagi haters ku.


"Ayo cepat !!! atau mau saya gendong jika kamu masih duduk seperti itu."


"Yaaa baik." Suci sudah berdiri dan berjalan cepat di depan Riki.


Riki tersenyum penuh kemenangan. Setelah kepergian Suci dan Riki, kantin kembali riuh dengan suara-suara orang yang membicarakan mereka. Kebanyakan mengumpat dan merasa iri pada Suci.

__ADS_1


***


Di ruang Dirut jam setengah 5 sore.


"Duduk !"


Suci menuruti perintah Bosnya.


"Kamu baik-baik saja ?" Riki menatap Suci dari tempat kebesarannya.


"Saya sehat, bapak pasti bisa melihatnya sendiri."


Ada apa sebenarnya ?


"Bukan itu, mereka tidak mengganggumu ? para fans ku."


"Ohhh ituu tidak ! saya baik-baik saja. Tidak usah khawatir." Terpaksa nyengir.


Sebenarnya ada sih beberapa yang mengeluarkan kata-kata kasar, tapi aku masih bisa mengatasinya.


"Jika ada yang berani mengusikmu, bilang saja ! aku akan memberi pelajaran."


"Tidak usah ! lebih baik bapak mengurus hal yang jauh lebih penting. Sebenarnya saya tidak nyaman jika sikap anda berlebihan seperti ini."


"Saya hanya ingin melindungi kamu Suci." Tatapan lembut hingga menembus jantung yang ditatap.


Maksudnya apa ? perkataannya terdengar tulus dan indah.


"Jangan kePDan begitu, saya hanya ingin melindungi semua pegawai saya." Riki mengalihkan pandangannya ke layar laptop.


Ahhh ya benar. Tidak mungkin lebih dari itu. Suci.


Ceklek ! pintu terbuka dan seorang pria masuk ke sana.


"Halo bro !" menghampiri dan menepuk pundak Riki.


"Suci ? kau ada di sini ?" pria itu menoleh.


Mas Doni !


"Kenapa datang tanpa buat janji dulu ?" Riki tidak suka melihat tamu tak diundang itu.


"Biasanya kan seperti ini haha."


Suci hendak berdiri.


"Tunggu Suci jangan pergi dulu ! saya masih mau bicara." Riki mencegahnya.


Suci pun menuruti meski sebenarnya tidak mau.


Kenapa aku harus bertemu dengan mas Doni sekarang ? aku ingin lari saja dari sini jika Pak Riki tidak mencegahku tadi. Entah kenapa meski aku sudah mengikhlaskan tapi masih tersimpan kepedihan saat melihat wajahnya. Mungkin lukaku terlalu dalam.


"Ini Rik, nanti datang ya ! bawa pacarmu sekalian haha." Doni menyerahkan surat undangan pernikahannya dengan Teni.


"Kau mau menikah lagi secepat ini ? hebat sekali. Pantas saja selama ini kau tidak pernah menemuiku lagi. Rupanya sedang sibuk dengan Teni." Tersenyum sinis.


Doni sebenarnya tidak suka dengan perkataan Riki namun karena mereka sahabat, jadi dia mencoba menepisnya.

__ADS_1


Suci menguatkan hati mendengarkan berita pernikahan mantan suaminya. Ada sisi yang terluka namun juga ada rasa ikut senang karena akhirnya Doni akan menghalalkan hubungannya dengan Teni, itu artinya Doni dan Teni tidak akan lagi terjerumus dosa.


"Ehemmm Rik. Kenapa kamu membiarkan wanita ini bekerja di perusahaanmu ?"


"Dia punya nama, apa kau lupa bahwa kalian pernah saling mencintai ? kenapa kau sama sekali tidak menghargai Suci ?" menatap tajam pria yang menyebalkan itu.


"Kau belum tahu siapa dia sebenarnya, Suci tidak sepolos yang kau lihat. Jangan sampai kau tertipu olehnya."


"Cukup ! kalau kau kemari hanya untuk menghinanya, lebih baik angkat kaki dari kantorku dan jangan pernah kembali lagi." Riki sudah berdiri dan tatapannya semakin mematikan.


Doni tidak pernah menduga reaksi sahabatnya akan seperti itu. Sementara itu, Suci yang sudah berkaca-kaca tetap berusaha menahan tangisnya.


Aku tidak boleh terlihat lemah di hadapan mas Doni.


"Rik, aku sudah memperingatkan mu." Doni bersikeras.


"Kalau kau sudah selesai bicara, silahkan keluar. Aku mau mengantar Suci pulang ke rumahnya."


Apa maksud Riki ? apa mereka sedekat itu ? jangan-jangan mereka memang sudah main mata saat aku dan Suci masih bersama.


Doni sangat terusik dengan perkataan Riki. Ada rasa panas di dadanya.


Suci hanya terdiam, tak mampu berkata karena dadanya sesak mendengar semua penghinaan Doni.


"Baik, aku pergi sekarang." Doni berbalik.


"Aku akan datang ke pernikahanmu bersama Suci." Riki berbicara mantap.


Doni tidak menggubris, tangannya terkepal erat. Ada marah yang menyelimuti perasaannya.


"Satu lagi, kalau kau mau menemuiku maka buatlah janji terlebih dahulu. Jangan datang seenaknya tanpa sopan santun !"


Baru satu langkah Doni maju, Riki bicara lagi.


"Doni, mulai saat ini jangan pernah lagi menyakiti perasaan Suci, aku tidak mau dia terluka. Jika itu terjadi maka kau akan berhadapan denganku secara langsung !" peringatan terakhir Riki membuat Doni semakin geram. Secepatnya dia meninggalkan ruangan yang sesak itu.


"Ini ambil ! hapus air mata itu, kamu kelihatan jelek saat menangis. Aku tidak suka melihatnya." Riki menghampiri dan memberikan tisu.


Meski sudah berusaha menahan sekuat tenaga namun bulir bening itu tak dapat dibendung lagi. Akhirnya pecah juga walau tanpa bersuara.


"Saya tidak menangis, dari tadi saya hanya diam saja." Suci berbicara agak parau sambil mengusap matanya yang sembab.


"Heyyy apa kamu pikir aku ini bodoh ? meski aku tidak mendengar tangisanmu, tapi lihatlah wajahmu itu ! masih mau bilang tidak menangis. Ayo pulang, adikmu tidak akan menjemput karena dia sudah dapat kerja, benar kan ?!"


Suci mengangguk pelan dan berdiri.


"Saya pulang sendiri saja."


"Biar saya antar. Dan jangan menolak. Kamu sedang bersedih, saya takut nanti kamu malah salah naik angkot dan tersesat karena tidak fokus."


Tidak mungkin seperti itu pak.


"Ayo cepat jalan di depan, atau kamu mau menginap di sini ?"


"Baik."


Pemaksa sekali sih.

__ADS_1


Seketika itu juga Suci melupakan kesedihannya karena penghinaan Doni.


__ADS_2