
Alice masih belum menyerah untuk mendapatkan pria pujaannya. Saat ini di otaknya adalah bagaimana cara merusak pernikahan Riki dengan Suci.
"Mungkin aku harus menyerang lewat pihak lawan. Jika aku tidak bisa mendekati target, maka aku harus berhasil melumpuhkan sainganku. Sepertinya aku harus berkunjung ke rumah Riki saat dia sedang tidak ada di rumah. Jadi aku bisa leluasa untuk berkenalan dan lebih akrab dengan wanita itu." Senyum licik Alice terukir di bibir merahnya.
Jam 9 pagi.
Alice sudah ada di ruang tamu. Ia duduk berhadapan dengan nyonya rumah. Dengan so anggun, jemari tangannya terikat dan terpasang di kakinya yang tersilang. Rambut gelombang kecoklatan itu dibiarkan tergerai. Tubuhnya yang sintal terbentuk jelas lewat pakaian super ketatnya. Dan wajahnya, sudah pasti selalu kelewat menor.
Ya ampun, mau apa wanita ini ke rumahku ?
Suci sebenarnya enggan menemui Alice, tapi dia penasaran dengan tujuan wanita itu. Dengan terpaksa, Suci menebar sedikit senyum pada tamu tak diundang itu.
Dengan badan tegak dan pandangan lurus ke lawan bicara, Suci mencoba bertanya terlebih dahulu.
"Maaf mbak, untuk apa anda menemui saya ?"
Wajah Alice terlihat kesal, rupanya dia tidak suka dipanggil seperti itu. Mengingatkan bahwa umurnya lebih tua daripada Suci. Namun dia berusaha untuk tetap tenang.
"Begini, kita kan belum berkenalan secara baik-baik."
Tidak nyaman sekali jika aku harus pura-pura ramah pada istrinya Riki.
Suci menangkupkan kedua telapak tangannya. Dia tidak mau bersalaman dengan wanita yang sangat mengesalkan itu.
"Ohhh kalau begitu, perkenalkan, nama saya Suci Maharani. Seperti yang anda tahu, saya adalah istri sah dari tuan Riki Hadi Wijaya, pemilik rumah ini." Suci sengaja membuat Alice murka.
Ehhh, menyebalkan ! dia sengaja mau pamer. Tenang....jangan marah dulu. Aku harus membalasnya.
"Aku sudah tahu, aku Alice teman kuliahnya Riki."
"Ohhh hanya teman ?!" Suci menganggukkan kepalanya sambil menatap remeh.
Alice makin kesal meski dia terus berusaha tetap tenang.
"Kami teman dekat, dimana ada Riki, di situ ada Alice."
"Berarti mbak selalu jadi penguntit ya ? astaga !" Suci berlaga so kaget.
"Bukan begitu, kami dulu pernah berpacaran dan hampir mau menikah. Tapi karena aku lebih memilih karir sebagai model, jadi aku memutuskannya."
Berbohong sedikit tidak masalah kan, toh wanita ini tidak akan tahu.
Suci menyilangkan tangan di dadanya, "Lalu ? sekarang anda ingin melakukan apa ? minta balikan ?"
"Aku hanya meminta padamu, tinggalkan Riki untukku. Kami dulu saling mencintai, aku yakin saat ini pun masih ada sedikit ruang di hatinya untukku. Saat ini sikapnya memang acuh padaku, itu karena dia masih marah." Alice memasang wajah sedih, mukanya tertunduk.
Suci belum bersuara lagi, dia menunggu wanita gila di hadapannya selesai bicara.
"Hubungan kami sangat dekat, bahkan sudah seperti suami istri. Kau mungkin tidak akan percaya dan Riki pun akan mengelak. Tapi itulah kenyataannya. Yang paling parah adalah saat aku hamil, dan kami masih kuliah, dengan terpaksa aku melenyapkan janinku atas perintah Riki." Alice mulai berakting menangis.
"Demi cinta kami, aku pun menuruti keinginannya. Aku memaafkan Riki, tapi saat aku meninggalkannya demi karir, dia bahkan tidak mau melihatku lagi. Padahal aku tahu bahwa Riki masih mencintaiku." Alice mengambil tissue dari tas kecilnya dan mengusap air mata palsu itu.
Suci tertegun. Jika saja hal itu benar, maka dia akan sangat terluka. Namun hatinya sama sekali tak percaya pada bualan wanita itu.
Suci heran karena bingung dengan sikap Alice yang terkesan memalukan dan juga tidak penting sama sekali. Wanita yang terobsesi dengan suaminya itu rela melakukan hal aneh demi memiliki pria incarannya.
"Dan saat ini aku ingin meminta pertanggung jawaban Riki untuk secepatnya menikahi ku. Tapi dia menolak, akhirnya meskipun malu, aku meminta bantuanmu. Mungkin saja dia mau mendengarkan istrinya." Alice memelas menatap Suci.
Nyonya Riki masih bergeming. Di hatinya ada rasa kesal tapi juga ingin tertawa karena kekonyolan wanita yang berniat menjadi pelakor dalam rumah tangganya.
"Jangan takut, jika kau tidak mau bercerai, maka aku bersedia menjadi istri yang kedua. Yang terpenting adalah aku mendapatkan status istri sah Riki dan bisa menyelamatkan imejku. Riki yang merenggut kehormatanku, maka dia yang harus bertanggung jawab. Jika pria lain yang menikahi ku, maka aku akan dihina." Dengan pedenya wanita itu menambah banyak kebohongan dari mulutnya.
Tidak masalah jika menjadi istri kedua, setelah itu aku akan menendangnya dari kehidupan Riki agar hanya aku yang menjadi ratu di rumah ini.
Suci geleng-geleng kepala dan menghembuskan nafas dengan kasar. Tangannya masih bertengger di dada.
__ADS_1
Astaga, wanita ini memang gila ! dia adalah Toso versi perempuan. Aku harus marah atau tertawa karena ulah bodohnya ?
Suci menatap lekat pada wajah so sendu wanita yang tertunduk itu.
Sepertinya Suci sudah mulai termakan omonganku. Sudah ku duga, dia memang wanita lemah yang mudah tertipu.
Senyum smirk dari sudut bibir Alice hilang saat dia mendengar suara tawa dari lawannya. Dia akhirnya mendongak. Dahinya mengernyit melihat Suci terbahak dengan enaknya.
"Anda sangat lucu !" Suci memegangi perutnya dan sebelah tangannya menutupi mulut.
Heyyy kenapa dia tertawa ? aku tidak sedang melucu !
"Maaf mbak, anda sangat konyol tapi menyedihkan. Aku akui anda memang jenis perempuan dengan imajinasi yang sangat tinggi. Kenapa tidak membuat novel sekalian ? hahaha !" Suci masih terbahak memegangi perut.
"Kau !" Alice menunjuk wajah Suci dengan kesal, namun kata-katanya tertahan.
Suci geleng-geleng kepala dan masih tertawa asik.
"Kenapa tertawa ? ini fakta yang memang terjadi." Alice tetap kukuh dengan kebohongannya.
"Sudah mbak, jangan terlalu banyak halu ! aku tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kalian. Aku tahu bahwa hubungan kalian hanya teman kuliah saja. Dan anda sendiri yang sudah terbirit-birit mengejar mas Riki, sementara suamiku itu tidak pernah mau mbak dekati." Suci sudah bisa menghentikan tawanya.
Tangan Alice terkepal erat. Dia menatap tajam pada wanita yang sudah meremehkannya.
"Maaf mbak, sebenarnya saya tidak mau kurang ajar pada perempuan yang lebih tua daripada saya. Tapi karena sikap mbak yang sudah mengganggu ini, maka saya akan memperingatkan mbak. Jangan pernah lagi mengincar mas Riki ! anda tidak mau berdosa karena sudah merusak keharmonisan pernikahan kami kan ?!" Suci balas menatap penuh hujaman pada Alice.
Wajah wanita itu sudah hampir gosong menahan amarah dan rasa malu pada saat bersamaan. Dia tidak lagi bisa berkutik. Akhirnya dengan kesal, Alice melangkah meninggalkan Suci yang masih menatapnya tajam.
Kurang ajar, dia sudah sangat menghina ku !
Setelah Alice benar-benar hilang dari pandangannya, Suci berdiri dan kembali tertawa.
"Benar-benar tidak pintar ! kenapa dia bisa melakukan kekonyolan yang memalukan ini ? dia memang wanita yang tingkat halusinasinya tinggi. Dia cocok menjadi seorang novelis." Suci memegangi perutnya lagi karena masih geli.
Suci sama sekali tidak menyadari bahwa ia pun sudah melakukan kekonyolan saat berreaksi pada Alice. Biasanya dia akan tenang dan mencoba ramah tanpa menertawakan lawan.
Dulu saat menghadapi Teni, dia kebanyakan melow. Tapi saat ini sikapnya berbeda. Lebih berani dan sedikit jahil pada orang yang dianggapnya menyebalkan. Terlebih lagi, situasi pernikahannya yang pertama memang sangat berbeda dan penuh derita.
Apakah ini karena kehamilannya ? atau karena tertular oleh suaminya ? apapun itu yang penting dia tidak melakukan hal buruk pada siapapun.
***
Besok paginya, Alice datang lagi menemui Suci. Setelah rencana untuk mempengaruhi lawannya telah gagal, kini dia memakai cara lain. Jika kau berteman dengan seorang musuh, maka itu akan lebih memudahkan untuk menjatuhkannya. Itulah yang ada di pikirannya saat ini.
Mau apalagi wanita itu kemari ? apa dia mau bermain-main lagi seperti kemarin ?
Suci menatap jengah pada wanita yang ada di hadapannya. Posisi duduk mereka sama seperti sebelumnya.
"Begini Suci, aku mau minta maaf atas semua sikapku kemarin-kemarin. Bisakah kita berteman ?" Alice memasang senyum manis.
Bukannya suudzan, tapi aku bisa merasakan bahwa apa yang dia katakan adalah kebohongan. Kita lihat saja, apa yang kali ini mau dia lakukan ?
"Aku tahu sikapku itu sangat mengganggu mu, tolong maafkan aku." Alice agak memelas.
"Baiklah. Kita berteman sekarang. Kebetulan sekali, saat ini aku ingin memasak. Apakah mbak bisa membantu ? teman harus saling membantu kan ?!"
Kita lihat, setulus apa dia ?
"Ohh, tentu saja." Alice nyengir.
Masak ? malas sekali !
Meski terpaksa wanita itu akhirnya mengekor Suci menuju dapur.
Suci mengambil sebilah pisau yang sangat mengkilat untuk memotong daging, tepat di hadapan Alice.
__ADS_1
"Mbak, aku ini sedang ngidam yang aneh-aneh. Apa mbak tahu sekarang ini aku mau apa ?" Suci bicara sambil memotong-motong daging yang dipegangnya.
Jadi dia sedang hamil ?
"Tidak, memang kamu mau apa ? mungkin aku bisa membantu." Alice menggaruk tengkuknya.
"Aku saat ini ingin sekali memotong, mengiris dan mencincang banyak daging. Mungkin semua daging yang ada di dalam kulkas tidak akan cukup."
Suci mengayunkan pisau yang dipegangnya ke depan wajah Alice. Membuat bulu kuduk wanita itu berdiri.
"Anehhhh ya, masa ngidam seperti itu ?" Alice lagi-lagi menggaruk tengkuknya. Senyumnya dipaksakan melengkung.
"Mbak ini montok sekali ya....sepertinya mengasikan jika aku mengiris daging yang ukurannya besar seperti mbak." Suci kembali memotong daging mentah.
Suci mesem sedikit. Sepertinya kejailan pada wanita itu akan berhasil. Alice terlihat gemetaran, terpaku di tempatnya.
"Maksudmu, kamu ingin memotong daging sapi kan ?! biar aku belikan." Alice berbicara dengan gugup.
Suci belum menjawab. Dia mengambil sisa daging di lemari pendingin lalu mengirisnya.
Mata Alice terhipnotis pada pisau yang bergerak-gerak menghunus daging mentah itu. Dia kesusahan menelan ludahnya sendiri. Jantungnya mengamuk seiring suara hentakan pisau itu. Tubuhnya menggigil.
"Mbak, dagingnya habis. Bagaimana ini ? padahal aku masih ingin mengiris-iris. Sepertinya mbak bisa membantu." Senyum menyeringai yang muncul di bibir Suci semakin menakuti Alice.
"Mbak pergi dulu untuk...untuk...membeli...nya..." suaranya tersendat-sendat.
"Tidak usah kemana-mana. Mbak cukup diam saja dan tidak mengeluarkan suara, itu akan sangat membantu." Suci mengusap pisau tajam itu dengan tangannya tepat di hadapan Alice.
"Apa yang ingin kau lakukan ? kau tidak berniat mengiris-iris tubuhku seperti daging itu kan ?!" Alice tersenyum lesu.
Suci semakin mendekat meski wanita itu terus menghindar. Sebelah tangan Alice sudah dipegang oleh Suci.
Apa wanita ini tidak waras ?
Alice sudah ingin sekali kabur dari sana. Senyum menakutkan milik Suci membuatnya semakin panik.
"Tangan mbak mulus sekali, jika diibaratkan dengan daging ayam, pasti ini adalah kualitas paling baik." Suci mengacungkan pisau di atas tangan yang dia pegang.
"Aku harus pulang sekarang. Kita tidak jadi berteman, selamat tinggal !" Alice sekuat tenaga melepaskan tangannya dan segera melarikan diri.
Istri Riki ternyata tidak waras !
Setelah Alice lari terbirit-birit, Suci terbahak.
Alice adalah wanita yang bodoh, dikerjai begitu saja dia sudah kabur. Mana mungkin aku ngidam seaneh itu, dia percaya saja !
Suci membersihkan pisau dan daging yang tadi dia potong. Masih tertawa kecil mengingat respon Alice atas kejahilannya.
"Maaf nona, kenapa anda senyum-senyum sendiri ?" seorang ART mendekat.
"Tidak, oh ya. Semua dagingnya sudah dipotong dan dicuci, tinggal diolah saja. Terserah bibi mau dibikin apa. Saya mau ke kamar dulu. Terima kasih." Suci berlalu dengan senyumnya.
"Baik." Bibi itu mengangguk. Dahinya mengernyit heran. Ada yang aneh dengan majikannya.
Dia menggaruk kepalanya, "Daging sebanyak ini, apa hari ini nona ingin makan serba daging ?"
Suci sangat gedeg pada wanita bernama Alice. Dia memang sengaja ingin mengerjainya tadi. Seorang pelakor bukankah sekali-kali harus diajak bermain ?!
Dan aksi jahilnya ini sepertinya berhasil menciutkan nyali Alice. Wanita itu sangat ketakutan dan tidak mau lagi muncul di hadapan Suci. Bahkan senyum Suci pun akan membuatnya merinding.
Note:
Terima kasih banyak sudah selalu menyimak dan support karya author. Mungkin saat ini adalah episode-episode menuju final. Tetap tunggu lanjutannya sampai end ya teman-teman. Jangan lupa klik like, komen, vote dan favorit.
See you all ☺️
__ADS_1