Seperti Sampah

Seperti Sampah
Bab 29.


__ADS_3

Pagi ini Pak Daniel sudah ada di rumah menantunya. Duduk menunggu di ruang tamu. Yusuf dan Andini baru selesai sarapan, saat orang tua itu datang. Pak Daniel mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Mau tidak mau, menantunya itu menyambut. "Apa kabar menantu ?" memeluk dan menepuk-nepuk punggung Yusuf.


Yusuf mencoba ramah karena meskipun pria itu sangat menyebalkan, tetap saja dia adalah mertuanya yang harus dia hormati. Bukan untuk Pak Daniel, tapi ini semua demi menghargai istrinya saja. "Baik," sedikit senyuman tentu lebih baik ditunjukkan, agar pria bernama Daniel itu merasa senang.


Pak Daniel duduk berhadapan dengan anak dan menantunya. "Andini, kamu pasti bahagia tinggal bersama suami dan keluarga yang baik." Jurus menjilatnya keluar.


Andini mengangguk sambil tersenyum. Yusuf menimpali, dia menggenggam tangan istrinya. "Tentu saja. Kami semua menyayangi Andini, tidak akan ada yang berani memperlakukannya seperti seorang pelayan." Menatap tajam pada pria yang kini tertunduk malu. Biar bagaimanapun juga, dia tidak akan melupakan perbuatan kejam pria itu pada Andini. Terlebih, Pak Daniel belum benar-benar tulus mengakui putri kandungnya.


Pak Daniel berdehem pelan untuk memperbaiki tenggorokannya yang mendadak terasa serak. Pria itu tersenyum, "Maafkan ayah karena pagi-pagi begini sudah datang mengganggu. Ayah sudah kangen pada kalian. Ayah juga bosan karena tiap hari di rumah terus, tidak ada kegiatan." Menjeda kalimatnya untuk mengetahui ekspresi Yusuf.


Menantu laki-lakinya itu bergeming. Tak menunjukkan ketertarikan dengan pembahasan itu.


Pak Daniel melanjutkan perkataannya, "Bagaimana bulan madu kalian ?" tersenyum di tengah situasi canggung itu. Dia sengaja mengganti topik pembicaraan karena tak ada respon dari Yusuf.


"Selamat pagi !" Willy muncul dan membungkuk sopan.


"Pagi !" semua orang menjawab hampir berbarengan.


Yusuf menoleh pada istrinya, mengecup tangan dan kening Dini dengan lembut. "Sayang, aku harus berangkat sekarang. Hati-hati, jangan keluar rumah tanpa seijin ku !"


Andini mengangguk lalu mencium punggung tangan suaminya. "Hati-hati di jalan !"


Pak Daniel ikut berdiri sambil tersenyum, "Hati-hati nak ! duhhh, ayah jadi kangen suasana kerja."


Yusuf tak mengindahkan, Willy menatap pria paruh baya itu dengan sinis. Pak Daniel menunduk lalu kembali duduk. Setelah kepergian Yusuf dan Willy, pria itu mencoba berbicara lagi untuk melancarkan rencananya. Sepertinya sangat susah untuk mendekati menantu tajirnya, dia harus menjalankan misi itu melalui Andini.


Oma dan kedua adik ipar Andini muncul di sana. Pak Daniel harus bersabar sedikit untuk berbicara dengan putrinya.


"Wah, ada tamu rupanya. Ayahnya Andini, kan ?!" Oma tetap bersikap manis pada pria itu meskipun tahu bagaimana perangainya. Dia hanya tidak mau membuat Andini bersedih.


"Selamat pagi Bu. Saya kangen dengan Andini. Maaf jika saya mengganggu."


"Tidak apa-apa."


Khaira dan Khesya pamit untuk pergi ke suatu tempat. Oma pun pergi ke kamarnya. Ini adalah waktu yang tepat untuk melanjutkan obrolan yang tertunda.


"Ayah, silahkan minum dulu. Ayah sudah makan belum ?" tanya Dini.


"Ayah sudah sarapan di rumah." Mengambil cangkir yang ada di atas meja. Menyeruput dan menyimpannya kembali.


"Nak, ayah bingung. Setelah dipecat oleh suamimu, ayah jadi pengangguran. Mencari pekerjaan lagi itu tidak mungkin, karena usia ayah yang tidak lagi muda. Ingin membuka usaha pun ayah tak punya modal. Tadinya ayah ingin bekerja lagi di perusahaan tuan Yusuf. Tapi sepertinya dia tidak mau menerima ayah lagi."


Andini belum berkomentar, hanya mendengarkan dengan seksama.


"Apa kamu bisa membantu ayah ? bujuk suamimu agar mempekerjakan ayah lagi di perusahaannya. Ayah janji tidak akan mengulangi lagi kesalahan." Wajahnya sangat memelas.


Dini menghembuskan nafasnya kasar, "Ayah, bukannya aku tidak mau membantu. Ini adalah urusan ayah dengan suamiku, terkait Perusahaan. Jadi aku tidak bisa ikut campur."


"Atau, bisakah kamu bicara padanya agar meminjamkan sejumlah uang untuk modal usaha ayah ? ayah tidak mungkin terus berdiam diri dan membiarkan keluarga ayah kelaparan. Kamu tahu sendiri, jika hanya ayahlah tulang punggung keluarga. Yasmin adalah anak yang pemalas dan suka keluyuran. Dia sama sekali jauh berbeda denganmu. Sedangkan istriku Rahma, dia sama seperti anaknya. Sukanya menghamburkan uang ayah."


Andini menundukkan kepalanya, permintaan itu baginya sangat berat. Yusuf bisa saja dengan mudah mengabulkan keinginan ayahnya, tapi dia merasa tidak enak. Tidak mau dibilang memanfaatkan suaminya yang banyak uang.


"Kenapa ? ayah mengerti, kamu pasti tidak akan peduli jika ayah sekeluarga menjadi gelandangan. Kami memang pantas menerimanya. Mungkin ini adalah karma karena selama ini kami selalu bersikap buruk pada mu."


Andini mendongak, "Bukan begitu, ayah ! aku tidak enak hati untuk mengatakannya pada suamiku."


"Kalian sudah menikah, sudah sewajarnya saling membantu. Tapi, ayah tidak akan memaksa. Terima kasih karena sudah mau mendengarkan keluh kesah ayahmu ini."


"Akan aku usahakan untuk membicarakan ini padanya."


Pak Daniel tersenyum cerah, "Terima kasih banyak, nak. Kamu memang putri ayah yang terbaik. Kalau begitu, ayah pamit." Beranjak dari duduknya.


Andini menyalami tangan Pak Daniel, "Hati-hati, ayah !"


Pak Daniel tersenyum dan berlalu. Andini tahu persis jika kedatangan ayah kandungnya itu hanyalah demi membujuknya. Dia bisa merasakan jika pria itu belum benar-benar tulus mengakui keberadaannya. Namun meski demikian, dia tidak tega melihat ayahnya tak berdaya. Mungkin Dini memang harus bicara pada suaminya.


***

__ADS_1


Malam ini Yusuf duduk di bibir ranjang bersama Andini. Dia memegang kedua bahu istrinya. Sedari kepulangannya dari kantor, perempuan itu banyak diam dan terlihat gusar. Itu membuatnya merasa cemas.


"An, ada apa ? kenapa dari tadi wajahmu terlihat muram ?"


"Yusuf, aku..." bibirnya diblokir oleh telunjuk suaminya.


"Andini sayang, aku suamimu, tapi kamu masih saja memanggilku seperti itu."


"Lalu ? harus panggil mas, atau abang ? itu terdengar menggelikan."


Yusuf terkekeh, "Aku tidak suka dipanggil begitu, kurang keren. Panggil saja aku sayang ! itu lebih romantis !" tersenyum sembari bermain-main dengan pipi Andini.


"Tapi kalau di depan orang lain, aku yang akan malu jika memanggilmu begitu."


"Kenapa harus malu ? aku saja tidak malu !"


"Baiklah, aku akan memanggilmu seperti itu." Tersenyum sambil manggut-manggut. Wajah tampan itu membuatnya meleleh dan dengan mudah mengiyakan permintaannya.


"Bagus, istri yang baik !" mengecup bibir Andini.


Sudah bisa ditebak lanjutannya akan seperti apa. Andini dan Yusuf pasti akan kembali bergulat asik di atas ranjang. Sentuhan Yusuf benar-benar menghipnotisnya. Dia bahkan melupakan apa sebenarnya yang akan dia bahas dengan suaminya itu.


Usai pertempuran menggelikan itu, Andini menempelkan kepalanya di dada Yusuf. Tersenyum bahagia sekaligus malu. Sudah tak terhitung lagi seberapa sering suaminya menggaulinya. Kadang membuat kesal tapi akhirnya malah membuatnya terbang tinggi menuju surga terindah.


Yusuf adalah pria satu-satunya yang mampu membuatnya bahagia. Dia memberikan semua hal yang dulu tidak dia dapatkan dari ayah kandungnya sendiri. Perhatian, ketulusan dan kasih sayang.


Ayah ? Andini baru ingat jika dirinya harus membahas mengenai keinginan ayahnya.


"Sayang, aku mau bicara sesuatu." Andini mengelus dada suaminya.


Tangan Yusuf menghentikan pergerakan nakal dari sentuhan yang menggerayangi dadanya. "Mau bicara, atau mau menggodaku ?" tersenyum menyeringai.


Andini mendongak sambil nyengir, "Aku mau bicara serius. Tenanglah, aku tidak akan macam-macam !"


"Katakanlah !" mensejajarkan wajah dengan wajah Andini.


Sejenak Dini menjeda kalimatnya. Memang tidak enak hati dan takut jika harus mengatakan itu. Tapi biar bagaimanapun juga, ayah kandungnya sedang benar-benar membutuhkan pertolongannya.


"Sebenarnya, ayah..." masih ragu untuk melanjutkan.


"Dia minta bantuanmu agar membujukku memberinya pekerjaan lagi ?" Yusuf menyimpulkan.


"Bagaimana kamu tahu ?" matanya membulat.


"Hanya menebak."


"Itu benar, tapi jika kamu keberatan maka...., bisakah kamu meminjamkan sedikit modal usaha untuk ayahku ?" terdengar ragu-ragu.


Yusuf menghembuskan nafasnya berat. Dia terlihat berpikir beberapa saat. Jika mertuanya itu diberi pinjaman uang, Yusuf ragu bahwa Pak Daniel akan dapat menggantinya. Pasti uang tersebut hanya akan dihamburkan oleh Bu Rahma dan Yasmin. Jika begitu, kemungkinan besar mertua laki-lakinya itu akan kembali meminjam lagi. Mungkin akan jauh lebih baik jika Pak Daniel diberi kesempatan untuk bekerja lagi padanya di Perusahaan. Tentunya dengan beberapa syarat dan ketentuan !


"Baiklah, sepertinya ayahmu harus diberi kesempatan sekali lagi, untuk kembali bekerja dengan ku. Tapi jika dia melakukan kesalahan lagi, maka aku tidak akan berbaik hati meskipun dia adalah mertuaku."


"Terima kasih banyak. Maafkan aku sayang, aku tidak berniat memanfaatkan mu, aku hanya ingin membantu ayah. Meski dia belum mengakui diriku dengan tulus, tapi aku tidak tega jika ayah hidup kekurangan." Menatap lekat sepasang mata sipit milik Yusuf.


"Aku mengerti. Jangan pikirkan masalah itu lagi ! sekarang tidurlah, kamu pasti lelah setelah ku serang tadi." Tertawa kecil sembari memeluk tubuh istrinya.


Andini menyembunyikan wajah merah meronanya di dada Yusuf. Dengan penuh ketulusan, suaminya itu membelai rambutnya hingga keduanya terlelap.


***


Pagi itu Pak Daniel mendapatkan telpon dari Willy. Dia begitu kegirangan, mengetahui dirinya akan bekerja lagi di perusahaan milik menantunya itu.


"Anda jangan senang dulu Pak Daniel, ada beberapa syarat yang harus anda patuhi sebelum kembali ke perusahaan. Kita akan membahasnya pagi ini. Sampai jumpa !" Willy menutup pembicaraan.


Pak Daniel tertawa puas, "Hahaha, akhirnya berkat anak itu, aku bisa kembali bekerja di sana. Aku harus cepat-cepat ke kantor, jangan sampai terlambat."


Bu Rahma dan Yasmin menghampiri Pak Daniel di kamarnya.

__ADS_1


"Ayah sepertinya semangat sekali pagi ini," ucap istrinya.


"Ayah mulai hari ini bekerja lagi di Perusahaan tuan Yusuf." Jawab Pak Daniel.


Yasmin ikut sumringah, "Benarkah ? berarti aku bisa shopping dan jalan-jalan lagi ?! aku juga ingin ke salon, sejak ayah jadi pengangguran, aku belum pernah lagi ke sana."


"Bisa diatur. Ini semua berkat bantuan dari Andini. Dia pasti sudah membujuk tuan Yusuf agar memberi pekerjaan pada ayah." Bicaranya penuh dengan kebanggaan.


"Andini, ya tentu saja. Dia kan sekarang sudah jadi istri kesayangannya tuan Yusuf. Nanti kapan-kapan ibu akan menemuinya untuk berterima kasih secara langsung."


Yasmin berubah kecut, "Momy apa-apaan ? kenapa malah sama seperti ayah, membanggakan si Andini ? dia itu hanya wanita murahan dari keturunan rendahan."


"Yasmin, jangan berkata begitu ! itu sama saja kamu merendahkan ayah." Pak Daniel memelototi putrinya itu.


Bu Rahma menimpali, "Yasmin, sudahlah ! Andini itu jauh lebih berguna daripada kamu. Selama ini apa yang sudah kamu lakukan untuk kami ? bisanya cuma merepotkan dan menghamburkan uang saja !"


"Momy ! kenapa lebih membela Andini ?" Yasmin tambah kesal.


"Call me IBU ! Selama ini kamu so-so an memanggil momy. Ibu sudah muak mendengarnya. Lebih bagus panggil ibu saja !"


"Ahhhh sudah ! kalian bikin pusing saja. Ayah berangkat sekarang, takut terlambat." Buru-buru pergi.


Bu Rahma menyusul suaminya ke depan. Sedangkan Yasmin masih cemberut berdiri di tempatnya, dengan bersilang tangan di dada. "Andini, aku tidak rela jika kau mengambil perhatian orang tuaku !"


Rasa benci dan dengki semakin menjalar di tubuh gadis itu. Nama Andini semakin membuatnya mendidih ketika disebut. Sampai kapan pun, Yasmin tidak mau posisinya berada di bawah Andini.


***


Esok paginya.


Andini duduk di kursi belakang mobil bersama sang suami. Mulai hari ini, dia mulai mengikuti sekolah persamaan paket C. Perempuan itu terlihat gugup.


Yusuf menggenggam erat tangannya. "Kamu gugup ?"


Andini mengangguk-anggukan kepalanya.


"Tenanglah, tidak usah gugup begitu ! apa mau ku temani ?"


"Jangan ! aku bisa sendiri. Hanya saja aku gugup karena merasa terlalu tua untuk sekolah."


Yusuf terkekeh-kekeh, "Kamu itu masih terbilang muda. Dan meskipun memang sudah tua, tidak masalah jika ingin menimba ilmu."


Andini menarik nafas dalam-dalam. Setelah sekian lama, akhirnya dia akan kembali ke sekolah. Statusnya kini selain menjadi istri orang, dia pun saat ini menjadi seorang pelajar, pelajar tua. Itu menurut Andini. Orang lain yang seusianya sudah berhasil menjadi seorang sarjana, dia malah baru mulai sekolah lagi. Itu sedikit menggelikan !


Tapi seperti apa kata suaminya, dia tidak usah cemas atau gugup. Ya, aku harus semangat ! tidak ada kata terlambat untuk belajar !


Matanya berbinar-binar setelah mendapat pencerahan dari Yusuf. Semangat itu berkobar di dadanya. Andini mengepalkan tangannya di udara, "SEMANGAT !!"


Cup ! kecupan semangat di pipi Andini dari sang suami tercinta. "Semangat sayang ! aku selalu mendukung kamu ! selamat bersekolah lagi, belajar yang fokus dan jangan berdekatan dengan laki-laki manapun !" senyum menyeringai.


Andini memutar bola matanya dengan malas. "Mau memberi semangat atau mengancam ?"


Masih dengan senyum yang membuat tidak nyaman, "Dua-duanya. Aku ingin kamu semangat dan juga menjauhi setiap makhluk bernama laki-laki, kecuali aku !"


"Ya, aku tahu. Memang siapa lagi pria bodoh yang tertarik pada gadis seperti ku ? selain kamu tentunya."


"Pokoknya jangan dekat dengan pria lain. Titik !" masih ngotot juga.


"Baiklah, sayang." Lebih baik mengiyakan saja daripada suaminya terus nyerocos. Lagipula siapa yang mau mendekati pria lain ?


Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. "Sudah sampai nona." Ucap Willy.


Andini gugup kembali. Beberapa langkah lagi dirinya akan masuk ke dunia baru. Yusuf membelai rambutnya, "Tenang dan semangat !" Senyuman itu membuat Andini merasa lebih baik. Dia mengangguk mantap, "Terima kasih, sayang. Kamu selalu melakukan yang terbaik untukku. Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu, istriku." Memeluk erat tubuh Andini dan mengecup puncak kepalanya.


Willy hanya menghembuskan nafasnya berat. Lagi-lagi dirinya harus jadi kambing conge saat menjadi orang ketiga diantara kedua insan yang tengah mabuk asmara itu.

__ADS_1


__ADS_2