
Suci bersama rekan kerjanya selalu makan-makan di warteg milik Bu Rahmi saat sudah menggesek uang gajian. Hari ini pun sepulang bekerja, mereka bersiap mampir ke sana.
"Mau kemana kalian ?" Riki menghampiri.
"Kami mau makan-makan pak." Barbi menjawab semangat.
"Dimana ? saya ikut." Riki bertanya lagi.
"Tapi bukan di restoran, kami mau ke warteg. Bapak tidak akan suka dengan tempat itu." Arif cengengesan.
"Kata siapa ? saya malah penasaran ingin tahu bagaimana rasanya makan di warteg."
"Bapak yakin ingin ikut gabung bersama kami ?" Irfan bertanya dengan ragu.
"Ya...memang tidak boleh ?"
"Boleh dong pak hehe." Barbi nyengir.
"Suci kenapa diam saja ? kamu keberatan saya ikut dengan kalian ?"
"Tidak pak. Silahkan saja kalau mau ikut." Terpaksa senyum.
"Baik, kalian naik mobil saya. Tapi saya hanya bisa bawa tiga orang saja."
"Saya bawa motor kok pak. Biar saya dan Arif boncengan. Barbi dan mbak Suci ikut bapak." Irfan berpendapat.
"Baik."
Yakin bakal jadi kambing conge nihhh aku. Tapi lumayanlah ngirit ongkos. Siapa tahu nanti makan bakal ditraktir si Bos.
Barbi nyengir kuda.
Ternyata seperti dugaannya. Barbi hanya menjadi penonton dan pendengar dua orang yang duduk di depannya. Riki hanya tertarik untuk mengajak bicara Suci. Sementara gadis itu sama sekali tidak dianggap keberadaannya.
Benar-benar tidak menyenangkan menjadi orang ketiga diantara dua orang yang sedang jatuh cinta. Aku sama sekali tidak dianggap ada. Menyedihkan sekali !
Sampai di warteg.
Arif, Irfan dan Barbi sudah memesan dan membawa makanan mereka ke meja yang masih kosong.
"Saya mau nasi sama semur ayam, sambel dan tumis buncis." Suci sudah memesan.
Riki masih melihat-lihat. Dia terlihat bingung.
"Bapak mau saya pesankan ? mau makan apa ?"
__ADS_1
"Samain aja sama punya kamu."
Suci memesan lagi satu porsi seperti miliknya untuk Riki. Setelah mendapatkan makanan, mereka mencari tempat duduk. Tadinya Suci mau bergabung dengan ketiga temannya namun hanya tersisa satu kursi di sana. Tidak enak juga jika nanti harus meninggalkan Bosnya duduk sendiri terpisah. Akhirnya Suci duduk berhadapan dengan Riki di tempat agak jauh dari teman-temannya. Kursi yang lain sudah penuh.
Setelah mengucap doa pelan, Suci melahap makanannya. Riki pun ikut mencicipi miliknya.
"Enak juga makanannya. Apa kamu sering ke tempat ini ?" bicara sambil mengunyah.
"Tiap gajian saja." Suci melahap makanan itu agak canggung.
Ayolah Suci kenapa harus grogi begini ? bukan pertama kalinya kau makan bersama Riki.
Suci bergelut dengan pikirannya sendiri. Jantungnya berdegup tak karuan.
"Apa kamu sakit ? tanganmu gemetaran begitu. Mau aku suapi ?" Riki panik.
"Ti..tidak !" gelagapan menjawab.
"Atau...aku tahu. Santai saja, tidak usah gugup begitu."
Tolong jangan menatapku sambil tersenyum begitu, aku malah tambah gugup.
Riki sudah menghabiskan separuh makanannya. Sementara punya Suci masih banyak yang belum dimakan.
"Kenapa makanmu jelek begitu ? apa tidak enak ? kita tukar saja. Punyaku lebih enak tahu !"
"Kalau begitu habiskan makananmu. Apa jangan-jangan itu hanya cara agar aku terpancing untuk menyuapimu ?" mengunyah sambil menatap Suci dengan senyum nakalnya.
"Tidak seperti itu." Suci langsung melahap makanan nya dengan cepat sampai habis.
Suci hampir tersedak saat minum karena tiba-tiba Riki mendekatkan wajahnya tepat di hadapan mata Suci yang membulat sempurna. Jantungnya semakin memberontak ingin keluar.
"Hahaha ! majahmu merah begitu." Riki kembali duduk normal.
Suci menghabiskan air dalam gelasnya dan menyimpan kembali di atas meja.
"Apa yang sedang kamu pikirkan ? memang aku mau melakukan apa padamu di tempat ramai seperti ini ? ini ambil dan bersihkan bibirmu yang penuh dengan sisa makanan. Seperti anak kecil saja." Riki menyodorkan tisu sambil masih tertawa renyah.
Suci segera mengambil tisu dan melap bibirnya. Tentu saja dengan wajah tertunduk.
Memalukan ! aku tidak pernah malu sampai separah ini !
Riki belum juga berhenti menertawakan wanita yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus itu.
Sepasang mata dari kejauhan memperhatikan semua gerak-gerik mereka. Bahkan dari tadi pagi orang itu sudah mengintai Suci dan Riki. Mencari tahu apa saja yang mereka lakukan.
__ADS_1
Mereka sudah seakrab ini. Apa Suci benar-benar sudah melupakan aku ?
Doni jelas tidak menyukai pemandangan yang dilihat matanya. Dadanya kembali panas dan tangannya terkepal. Ingin sekali menghadiahkan sebuah pukulan di wajah pria yang kini tengah dekat dengan mantan istrinya.
Doni sampai bolos kerja karena ingin memata-matai mereka. Semakin hari pikirannya semakin dipenuhi penyesalan karena telah membiarkan wanita itu pergi dari hidupnya. Jika masih ada celah untuk kembali maka dia akan berusaha memasukinya.
***
Suci sudah berada di depan rumahnya.
"Terima kasih sudah selalu mengantar saya."
"Sudah ku bilang jangan mengucapkan itu. Aku senang melakukannya. Cepat turun dan langsung masuk ke dalam rumah. Di luar dingin jangan sampai kamu masuk angin."
"Baik. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Suci turun dari mobil dan melangkah cepat tanpa menoleh lagi ke belakang. Saat Suci sudah benar-benar masuk, Riki menghidupkan kembali mesin mobilnya dan meluncur menuju jalan pulang.
Baru lima belas menit berjalan, mobil sudah berhenti kembali. Seseorang menghadangnya.
Apa mau bunuh diri itu orang tiba-tiba muncul di tengah jalan.
Riki turun dari mobil dan menghampiri orang itu.
"Hey mas bosan hidup ya ?! ehhh Doni ? sedang apa kau ? apa mau bunuh diri karena frustasi setelah salah memilih teman hidup ?" senyum menyeringai.
"Kenapa kau sangat perhatian pada Suci ? caramu menatapnya itu sangat berbeda. Apa kau mencintai Suci ?" muka judes Doni keluar.
"Jika aku bilang ya...kau mau apa ? aku memang sangat mencintainya." Riki menatapnya tajam.
"Kau !" Doni sudah mengepalkan tangannya.
"Heyyy jangan bilang kau cemburu. Apa sekarang otakmu sudah kembali waras ? baru sadar ? baru menyesal karena sudah menyakiti perasaan Suci ? kemana saja kau selama ini ? kau itu selain plin-plan juga licik. Kemarin kau sendiri yang berselingkuh dan ingin berpisah tapi sekarang saat melihat Suci dekat dengan pria lain, kau merasa terancam."
"Aku memang tidak suka kau dekat-dekat dengannya. Suci itu milikku. Dia sangat mencintaiku."
"Hahaha. Kau sudah pikun ya ? bukankah kau sendiri yang sudah menceraikannya ? lucu sekali ! percaya dirimu juga bagus !"
"Diam Riki !" Doni melayangkan tinjunya namun berhasil dihindari Riki.
Malah Doni yang tersungkur karena mendapat bogem keras dari Riki.
"Sakit yang kau rasakan saat ini tidak ada apa-apa nya dibanding penderitaan yang sudah kau berikan pada Suci. Mulai saat ini jangan lagi mengusik kehidupan Suci. Biarkan dia mencari kebahagiannya. Kau harus ingat bahwa aku akan selalu melindunginya terutama dari dirimu dan istri gilamu !" Riki segera meninggalkan Doni sendiri.
__ADS_1
Nikmati penyesalan mu Doni !