
Esok paginya.
Yusuf dan Andini sarapan di pinggir kolam renang. Sambil menikmati makanan enak, mata mereka juga disuguhi pemandangan pantai yang indah. Tidak, hanya Andini yang menyaksikan cantiknya pantai itu. Beda halnya dengan Yusuf, dia lebih senang menatap pemandangan lebih indah di depannya. Wajah polos tanpa make up itu, jauh lebih menarik di matanya. Bibir Andini yang terus mengunyah, adalah hal paling dia incar.
"Aku senang dan sangat sangat bahagia....sekali ! akhirnya keinginanku terwujud. Liburan naik pesawat meskipun awalnya ketakutan. Menginap di villa dekat pantai. Sarapan seperti ini, sambil menikmati pemandangan indah. Benar-benar sempurna !" Menghembuskan nafasnya dengan lega, lalu mengunyah lagi sisa makanannya.
"Aku juga sangat senang, bisa banyak berduaan dengan dirimu." Matanya tak beralih dari sosok istrinya.
Andini tak mengindahkan, fokus menghabiskan makanan lalu minum. "Ayo, ajari aku berenang !"
"Semangat sekali ! tunggu sebentar, kamu baru saja selesai makan. Diamlah sampai lima belas menit, setelah itu kita lakukan dulu pemanasan agar kakimu tidak keram saat berenang."
***
Andini dan Yusuf sudah ada di dalam kolam. Dengan sigap, pria itu mengajarkan beberapa gaya berenang. Andini sekuat tenaga belajar fokus. Tapi dia belum mampu menguasai, hanya dapat sedikit melakukan gaya dada.
"Nah, itu lumayan. Sekarang aku ajarkan gaya lain. Dengar dan praktekkan dengan baik !" Yusuf memberi intruksi.
Andini manggut-manggut, "Ok, siap pak !"
"Sedikit maju dan fokus ke depan !" Perintah Yusuf. Andini menurut.
"Tegakkan badan dan kepalamu !" Andini menurut lagi. "Tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan ! jangan tegang dan tetap tenang, nikmati saja prosesnya !" Dini mengernyitkan keningnya tapi tetap menurut. "Pejamkan matamu dan rasakanlah semilir angin yang berhembus di tubuhmu ! diam dan nikmati !"
"Heyyy, aku mau belajar berenang, bukan mau relaksasi !" mulai protes.
Yusuf berkilah, "Ya, itu agar kamu relax dan tidak tegang. Dengan begitu kamu bisa fokus belajar."
Akhirnya Andini pun menurut lagi. Memejamkan matanya dan merasakan semilir angin yang lembut di kulitnya. Merasakan sentuhan hangat dari pelukan Yusuf dan gesekan bibir suaminya di lehernya. Apa ? Andini membuka matanya lalu menoleh. "Heyyy, apa yang sedang kamu lakukan ? mana ada gaya berenang seperti ini ? yang ada hanyalah, gaya bercinta kesukaanmu !"
Yusuf mengeratkan pelukannya sambil terkekeh, "Istriku ini memang pintar !"
Dini mencebik kesal, "Dasar suami mesum ! kamu ini doyan sekali menggerayangi aku."
Yusuf membalikkan badan Andini agar mereka berhadapan. Memegang dagu istrinya, "Tapi kamu juga menyukainya. Kamu sangat menikmati sampai-sampai menghujani leherku dengan tanda merah dan cakaran."
Andini mengalihkan pandangannya ke arah lain, merasa malu semalu-malunya. "Maaf, tidak sengaja !"
Yusuf memiringkan kepalanya untuk meraih bibir menggoda itu. Memeluk dan mengunci tubuh Andini agar tidak berontak. Pria itu benar-benar kecanduan dengan manis dan lembutnya daging yang dapat bersuara itu. Tiap melihatnya, selalu ingin mampir dan berlama-lama menjelajahinya.
Tiba-tiba tubuh Andini ambruk di pelukannya. Secepatnya dia melepas ciuman panas itu. "An, kamu kenapa ?" menepuk-nepuk pipi wanita yang pingsan itu. Andini bangkit dan tertawa, "Kamu tertipu, makanya jangan main nyosor begitu ! ingat, jangan bermesraan di sembarang tempat !"
Yusuf mengangkat tubuh Andini sambil berjalan keluar dari kolam. "Aku akan memberimu pelajaran karena sudah berani mengerjai suami tampan sepertiku !"
Andini bergerak-gerak ingin melepaskan diri, "Heyyy, turunkan aku ! jangan marah begitu ! anggap saja ini adalah balasan karena kamu juga tadi mengerjai ku. Kita impas, lagipula aku hanya bercanda."
"Tidak bisa ! kamu harus dihukum !" dengan langkah kokoh menyusuri ruangan dan anak tangga, menuju kamar.
Jika sudah masuk kamar, Andini tahu hukuman apa yang akan dia dapatkan. Hukuman atau rejeki istri sholehah ?
Tubuh Andini dimasukkan ke dalam bathub, setelah memasuki kamar mandi. "Heyyy, kamu mau apa ?" berteriak-teriak panik. Tangannya menutupi wajah.
Yusuf menjawab dengan tindakan. Dia melepas semua kain penutup di tubuhnya. Dan tanpa ragu, melakukan hal sama pada istrinya. "Heyyyy, heyyyy heyyyy ! aku bisa membukanya sendiri." Marah, tapi kebanyakan rasa yang ada adalah malu.
Pria itu masih ngotot, "Biarkan suamimu yang baik ini, untuk membantu membuka baju istrinya !"
"Ehhh, ehhh dasar suami tidak peka. Aku malu diperlakukan begini !" menutupi dadanya dengan kedua tangan.
Yusuf ikut nyemplung ke dalam bak mandi. Andini berteriak, "Yusuf ! kau mau apa lagi sekarang ?" mungkin saja jika dia masih berpakaian, saat ini akan turun dari bathub.
Yusuf menyodorkan punggungnya. "Sayang, tolong gosok punggungku !" berbicara selembut mungkin, tapi tetap saja membuat kesal yang mendengar. Meski begitu, Andini tetap menurut saja. "Baik, suamiku sayang...." bersikap ramah padahal hatinya dongkol. Bukan karena tidak mau melayani suaminya, tapi cara Yusuf yang membuatnya malu, memang membuatnya jadi kesal.
"Bagus, inilah hukuman atas kejahilanmu tadi. Mandikan aku sampai benar-benar bersih !" pura-pura judes padahal dalam hatinya tertawa geli.
Andini mengerucutkan bibirnya, "Baik, yang mulia raja !" nyengir yang dipaksakan.
Akhirnya yang terjadi adalah saling memandikan, sesekali dibumbui dengan kecupan dimana-mana.
__ADS_1
***
Andini bergerak-gerak berontak saat tubuhnya kembali diangkat ke atas tempat tidur. "Kenapa ke kasur ? bukankah kita harus ganti baju ?"
"Nanti saja setelah mandi besar."
Mandi besar ? pasti maksudnya ke arah sana. Ya, memang perkiraan Andini benar jika hukuman sesungguhnya adalah melayani Yusuf di atas tempat tidur, bukan hanya memandikannya.
"Tapi, kita baru saja mandi. Masa mau mandi lagi, hehe." Tersenyum untuk menghilangkan rasa gugup.
"Yang barusan adalah mandi biasa, bukan mandi besar." Nyosor lagi di bagian area wajah Andini dengan lembut. Lama-lama jadi semakin dalam dan brutal.
Dan lagi-lagi kamar yang baru saja dibereskan oleh pelayan, kini kembali berantakan seperti habis diterjang banjir, banjir keringat pengantin baru !
Andini terkulai lemas karena kelelahan, dia langsung tidur setelah diserang habis-habisan oleh suaminya. Yusuf pun begitu, terbaring sambil memeluk pinggang Andini.
***
Siang hari setelah membersihkan badan, Andini dan Yusuf duduk di sofa kamar. Usai makan siang, rencana awalnya adalah jalan-jalan di sekitar pantai. Tapi karena tubuh Andini lemas, rencana itu pun diundur.
Yusuf mengajaknya duduk di balkon untuk melihat pemandangan laut biru yang berkilauan saat diterpa sinar matahari.
Posisi seperti kemarin sore. Duduk berpelukan di atas matras. Tangan Yusuf mengelus lembut kepala Andini yang bersandar di bahunya. Pria itu mengulum senyumnya. Mesem-mesem sendiri, membayangkan banyak pergelutan yang sudah dia lewati bersama istrinya. Pertarungan hebat dan melelahkan, tapi begitu nikmat dan menyenangkan. Membuatnya kecanduan dengan makhluk indah yang ada di pelukannya itu.
Yusuf mengecup lembut dan lama bagian puncak kepala Andini. "Aku mencintaimu, sayang !"
Suara lembut dan penuh ketulusan itu membuat jantung yang mendengarnya terasa seolah longsor. Andini memeluknya erat, tersenyum sambil mendongak. "Aku juga mencintaimu, sayang !"
Senyum Yusuf semakin mengembang karena bahagia mendengar kalimat indah yang terlontar dari mulut istrinya.
***
Sore hari Andini dan Yusuf berjalan-jalan di sekitar pantai. Bermain-main dengan beberapa wahana air, mencicipi kuliner dan banyak lagi kegiatan yang lain. Sore hari mereka kembali ke villa.
Usai mandi dan makan malam, Yusuf mengajak Andini ke belakang Villa. Sebuah tenda telah terpasang di sana. Bahkan ada api unggun yang menyala-nyala di depan tenda.
"Anggap saja begitu," ikut jongkok.
"ini jagung bakar dan teh hangat yang anda minta, tuan." Bibi pelayan menghampiri dan menyodorkan nampan.
Yusuf mengambil benda itu, "Terima kasih, bi."
Bibi pelayan pun pergi. Andini dan Yusuf duduk di tikar menghadap api unggun.
"Kurang seru ah, harusnya jagungnya jangan dulu dibakar ! lebih menyenangkan jika kita bakar-bakar jagung di api unggun," seru Andini.
"Aku tidak mau kamu kerepotan." Yusuf mengambil satu buah jagung bakar dan langsung mengunyahnya. "Enak, cobalah !" menyodorkan makanan itu ke mulut Andini. Perempuan itu pun membuka mulutnya. Tapi bukan jagung yang dilahap Dini, melainkan bibir Yusuf. Wahhh, pintar sekali suamiku ini ! dia punya berbagai trik untuk terus menyerang ku !
Jagung itu disimpan di nampan, sambil sebelah tangannya memeluk Andini. Bibirnya tak mau lepas sebentar saja dari bagian paling manis dari wajah istrinya. Sebelah tangan lagi menyusul memegangi tengkuk Andini. Terus mengeksplor area bawah hidung dengan nakal. Selama setengah jam barulah dia melepaskan bibirnya.
Andini memegang bibirnya yang terasa jontor. Waktu selama itu hanya dipakai untuk berci***n, pantas jika saat ini mulut Dini menjadi doer. Dia mendelik, Dasar suami doyan bermesraan ! tidak melepaskan kesempatan sedikit pun untuk beraksi.
Yusuf menengadah ke atas langit, menunjuk jarinya ke sana. "Lihatlah, bintang-bintang di atas sana terlihat indah sekali."
Andini ikut menengadah, "Ya, kamu benar. Kerlap-kerlip sangat indah."
Yusuf menoleh, "Tapi lebih indah wajahmu."
Andini mendelik, "Jangan modus terus !"
"Ini fakta, bukan modus !"
"Benarkah ?"
"Aku akan buktikan jika kamu tidak percaya." Yusuf berjongkok, mengangkat tubuh Dini lalu berdiri.
"Heyyy, mau apalagi sih ?" memukul dada suaminya dengan keras.
__ADS_1
Yusuf menyeringai tanpa menjawab pertanyaannya. Pria itu membawanya masuk ke dalam tenda. Tubuh Andini dibaringkan di sana. Segera dikuncinya tubuh itu dengan kedua kaki dan tangannya. Kini, dia tersenyum puas melihat perempuan di bawahnya gemetaran.
"Yusuf, ini malah membuktikan bahwa kamu memang modus."
"Salah, kamu salah besar ! aku jujur, bahwa wajahmu lebih indah daripada bintang yang bersinar di malam hari. Setiap aku melihatmu, aku selalu ingin melakukan ini." Menatap dengan dalam.
Dada Andini bergemuruh hebat karena mendapat tatapan seperti itu. Wajahnya merah merona. "Lepaskan, kenapa kamu mencengkram tanganku seperti ini ?" agak berontak karena gugup. Tatapannya dialihkan agar tidak bersitatap dengan pria yang sedang mengukungnya.
"Biar kamu tidak kabur !" Usai bicara, dia langsung mengecup bibir Andini, membuat wanita itu terkesiap. Dia memang suka main serobot seenaknya !
Bibir nakal itu pindah ke kening, kedua pipi, kelopak mata dan juga hidung. Mampir lagi dan berlama-lama di daerah favoritnya, bibir manis Andini telah menjadi candu bagi bibir Yusuf.
Istrinya itu dibuat tak berkutik dengan serangan nakal Yusuf. Tak memberi celah sedikitpun untuk bisa lepas. Tenda itu adalah saksi bisu penyatuan dua insan dalam keromantisan. Malam yang dingin ini menjadi malam yang hangat dan indah bagi mereka.
***
Waktu terus bergulir.
Tiga malam dihabiskan Andini dan Yusuf untuk berbulan madu. Siang ini mereka sudah kembali di rumah besar. Usai peluk cium dengan Oma dan kedua adik ipar, Andini digusur lagi ke dalam kamar dengan alasan untuk beristirahat. Namun semua itu hanyalah akal-akalan dari suaminya.
Yusuf berbaring di atas tempat tidur dengan terlentang. Andini duduk di tepi ranjang. "Aku mau mandi dulu," ucap Andini.
"Sebentar, pijit dulu kepalaku !" pinta Yusuf. Andini pun menurut.
"Sudah, sekarang giliran aku memijat kepalamu." Mengubah posisinya menjadi duduk.
Andini tersenyum, "Baiklah, suamiku ini memang baik !" membalikkan badannya untuk membelakangi suaminya.
Yusuf dengan telaten memijit kepala Andini hingga perempuan itu mengantuk. "Aduhhh, enak sekali pijitanmu ini. Jangan-jangan kamu pernah kursus memijat !"
"Tidak, ini hanya memakai teknik penuh keikhlasan." Tersenyum sembari tangannya terus bergerak.
Tapi kelamaan, Yusuf tak dapat bersikap profesional lagi sebagai tukang pijat dadakan. Tangannya menjalar memijat daerah lain dari tubuh istrinya. Bibirnya ikut jalan-jalan di area leher dengan nakalnya.
"Ahhhh, mulai lagi ! tidak cape apa ?" bergerak-gerak agar tangan nakal suaminya bisa terhempas dari tubuhnya.
Yusuf berbisik di telinga Andini, "Diam dan nikmati saja. Jangan cemas, aku punya tenaga sepuluh kali lipat dari laki-laki biasa."
Merinding, tubuh Andini makin gemetaran. Hembusan nafas Yusuf membuat dadanya meletup-letup. Tidak, aku mulai terpengaruh lagi oleh kegilaan suamiku !
Setelah puas menyentuh dari belakang, Yusuf membalikkan badan Andini agar berhadapan dengannya. Menyerang lagi perempuan itu dengan buas. Tak lama kemudian, mereka terjatuh di atas kasur. Bergulingan sensual tanpa beban. Hanya ada keindahan dan kenikmatan di sana.
***
Usia makan malam, Yusuf masuk ke ruang kerjanya untuk menemui Willy. Dia berjalan lalu duduk di kursi kebesarannya. Willy berdiri di hadapannya, "Selamat malam, tuan ! saya ingin memberi tahu, bahwa selama anda pergi berlibur, Pak Daniel setiap hari datang ke Perusahaan. Dia ingin menemui anda. Jika tidak saya larang, maka mungkin kemarin-kemarin dia pun akan terus menelpon anda. Sepertinya dia ingin kembali bekerja di perusahaan anda."
"Lalu ?" menatap lekat pada asistennya.
"Saya menyuruh Pak Daniel menunggu konfirmasi dari anda."
"Biarkan saja. Nanti juga dia tidak akan lagi ke perusahaan, paling-paling mertuaku itu akan langsung datang ke rumah ini. Dia pasti sangat merindukan putri kesayangannya." Tersenyum sinis.
Yusuf yakin pria itu akan memanfaatkan Andini untuk membujuknya.
***
Setelah menemui Willy, Yusuf masuk ke kamarnya. Duduk di sofa bersama Andini.
"Kamu pasti tahu jika ayah kandungmu sudah aku pecat dari Perusahaan. Sepertinya dia ingin kembali bekerja lagi. Bagaimana menurutmu ?"
Andini menatapnya lekat, "Itu urusanmu. Aku tidak berhak ikut campur. Dia memang ayah kandungku, tapi jika masalah pekerjaan, kamu lebih paham bagaimana kualitas ayahku."
Yusuf menghembuskan nafasnya kasar, "Entahlah, aku sedikit bingung. Mungkin aku harus melihat lagi kesungguhan dari ayahmu. Aku ingin tahu, cara apa yang akan dia lakukan untuk bisa kembali bekerja denganku."
Andini menggenggam erat tangan Yusuf. "Jangan terlalu dipikirkan ! jangan sampai posisiku sebagai istrimu, membuat mu salah mengambil keputusan !"
Yusuf mengangguk. Dia menatap lekat pada istrinya. "Aku sedang pusing, kamu harus memberi aku semangat !"
__ADS_1
Tatapan lapar dan senyum seringai itu menandakan jika Andini lagi-lagi harus melayani suaminya itu. Yusuf memang pintar memanfaatkan situasi.