Seperti Sampah

Seperti Sampah
Season 2 resmi dimulai (bab 1)


__ADS_3

Sebelumnya saya minta maaf sekali, karena sudah tidak konsisten. Seperti yang pernah saya sebutkan, bahwa awalnya saya ingin menyudahi cerita ini. Namun, karena kalian dan author juga masih kangen pada novel ini, maka saya putuskan dengan MANTAP. Saya akan melanjutkan ke season 2. Tapi masih digabung ke novel ini.


Ada yang mau cerita Suci dan ada juga yang mau lanjut ke anak-anaknya. Biar adil saya akan garap keduanya.


Awal cerita masih akan membahas Suci dan Riki. Mungkin nanti ke depannya akan dilanjut oleh anak-anak mereka. Semoga author mendapatkan ide cerita yang bisa berkesan.


Jangan lupa jempolnya dimainkan, klik like, vote dan favorit. Jangan sungkan juga untuk memberi komentar dan saran kalian.


Tapi sebelum lanjut, tidak ada salahnya jika kita sejenak meluangkan waktu untuk berdoa bagi warga Palestina. Saya yakin kalian pun masing-masing sudah melakukannya.


Semoga mereka semua selalu diberi perlindungan dan kekuatan oleh Yang Maha Kuasa. Semoga tidak ada lagi peperangan di dunia ini. Kedamaian lah yang selalu jadi impian setiap insan.


***


SELAMAT MEMBACA.


Saat ini usia Yusuf sudah masuk sepuluh tahun. Si kembar cantik berusia tujuh tahun. Dan adik-adik yang baru juga sudah lahir ke dunia ini. Ya, setahun yang lalu Suci telah melahirkan kembali dua anak kembar laki-laki yang tampan.


Di malam hari. Usai menidurkan si kembar tampan Zidan dan Zein, Riki tengah berbincang dengan istrinya di tempat favoritnya (ranjang). Keduanya duduk berdekatan. Riki sibuk mengingat dan menghitung sesuatu. Jemarinya bermain seiring hitungannya.


"Adiknya Yusuf dari kita sudah ada empat. Dari Indah, sebentar lagi ada tiga dengan yang dikandung. Raisya, memberi Yusuf baru dua adik. Berarti tinggal satu lagi. Mmmm, kamu siap jika melaksanakan tugas mulia ini ?" menggerayang sesukanya ke seluruh area tubuh Suci.


Awalnya kesepakatan rencana memberikan sepuluh adik untuk si sulung adalah empat darinya, empat dari Raisya dan dua dari Indah. Tapi ternyata hal itu berubah menyesuaikan kondisi.


Suci memutar bola matanya malas. Menepuk jidatnya sendiri sembari menghembuskan nafasnya kasar. Kali ini kepalanya yang digeleng-geleng. Dia tak habis pikir dengan otak suaminya yang sangat ribet itu. Kenapa masih mengingat rencana konyol target memberi sepuluh adik ? sementara Yusuf sendiri pasti sudah lupa.


Riki memeluk erat, kepalanya diunyel-unyel gemas pada leher istrinya. "Kenapa ? kamu masih malu jika aku membahas tentang itu ?" senyuman dan kerlingan nakal itu membuat Suci merinding.


"Mas, apa kamu tidak pernah malu ? setua ini masih saja memikirkan hal begituan. Ingatlah, kita sudah punya anak lima !" Suci membuka lima jemari sebelah tangannya tepat di depan muka suaminya.


Riki menangkap dengan cepat tangan nakal itu. Dia malah semakin tertantang. Senyumnya sangat mencurigakan. "Aku ingat jika anak kita sudah lima. Tapi apa salahnya jika kita menambah lagi ? si kembar tampan sudah satu tahun. Sudah saatnya kamu melepas alat penunda kehamilan. Lagipula aku ini belum tua. Aku masih terlihat sangat tampan. Benar kan ?!"


Isssshh, sikapnya tidak berubah sama sekali.


Riki segera mencapluk bibir yang mulai mengerucut itu. Memblokirnya agar tidak protes dengan apa yang akan dia lakukan. Tengkuk Suci ditahan kuat dengan sebelah tangannya. Sebelah lagi memegang pinggang ramping istrinya.


Punya lima anak yang masih kecil, membuat Suci kerepotan. Berat badannya yang gemuk saat hamil cepat melorot karena kelelahan. Sebenarnya yang paling membuat pusing adalah si bayi besar, suaminya. Masih saja manja dan hobi sekali menyiksanya. Dan malam ini adalah buktinya. Riki sedang melancarkan aksi asik. Dan Suci, tidak akan bisa menolak.


Namun, dengan terpaksa Riki harus meng-cutt kenikmatan yang belum mencapai final itu, kedua anak kembar tampan sedang menangis bersamaan.


Suci dan Riki segera beranjak lalu menghampiri Zidan dan Zein. Mereka sibuk mengganti popok dan juga membuatkan susu. Bayi kembarnya tidak akan cukup jika diberi ASI saja.


Sekitar satu jam lebih mereka berkutat dengan si kembar tampan, hingga akhirnya kedua bayi itu kembali tertidur. Suci naik ke atas kasur diikuti suaminya. Dia segera bersembunyi di balik selimut. Meringkuk membelakangi Riki.

__ADS_1


Semoga saja suamiku mendadak amnesia. Tidak mengingat untuk melanjutkan niat mesumnya. Atau semoga saja dia kekelahan dan sangat ngantuk. Ayo cepat tidur yang nyenyak mas !


Suci berceloteh dalam hati. Mengucap mantra agar suaminya tidak lagi mengganggu. Tapi harapannya punah ketika Riki memeluknya dengan posesif.


Rambut yang tergerai menghalangi tengkuk Suci segera ditepisnya. Hidung mancungnya jalan-jalan di sana. Kemudian beralih mengecupnya. Riki membalikan badan gemetar istrinya hingga berhadapan. Melakukan hal sama di daerah leher Suci. Membuat beberapa tanda merah sebagai cap kepemilikan di sana.


Hatinya ingin menolak, tapi tubuhnya jelas menerima semua perlakuan hangat dari Riki. Apalagi saat bibir sexy sudah mampir di semua area wajahnya. Mulai dari kening, kelopak mata dan pipi. Berakhir dan lama di bagian bibirnya. Membuat tubuhnya lemas dan pasrah. Riki berhasil membangkitkan hasrat istrinya. Dan akhirnya berujung di adegan final dengan lancar tanpa gangguan.


***


Setelah menikah, Raisya tinggal di rumah baru pemberian kakaknya. Letaknya cukup dekat dengan rumah Riki. Itu memudahkan dia dan keluarga untuk sering mengunjungi kediaman kakaknya. Dan pagi ini karena akhir pekan, mereka sudah ada di rumah Riki, anak-anaknya ingin menginap di rumah oma.


Suasana sangat ramai. Sering terdengar suara tawa juga rengekan anak-anak yang bersenda gurau atau bertengkar. Si sulung Deby(anak Raisya dan Syarif) yang berusia 6 tahun sering dijahili oleh salah satu si kembar cantik, Khesya.


Sedangkan adik Deby, Arkan, sedang tertawa bersama Khaira. Sementara Yusuf sangat kalem dan hanya fokus pada sarapannya. Si mungil kembar tampan berada di tangan para baby sitter.


Semua orang dewasa merasa pusing tapi juga senang melihat kebersamaan anak-anak. Rumah terasa sangat hangat dan ramai. Sayangnya opa Hans tidak dapat menyaksikan kehangatan keluarganya, beliau masih betah berada di luar negri mengurus perusahaannya.


"Mas, ada kabar bahagia. Sekarang aku sedang hamil lagi, baru masuk dua bulan. Suamiku hebat bukan ?!" Raisya bicara dengan semangat.


Syarif seperti biasa hanya tertunduk malu. Dia berusaha tenang saat makan. Riki yang terlihat sangat antusias. "Benarkah ? syukurlah. Berarti target sepuluh adik untuk Yusuf sudah tercapai. Terima kasih sudah membantu Syarif."


Syarif hanya tersenyum sedikit. Wajahnya sangat merah menahan malu. Suci pun tak kalah malu dengan sikap konyol suaminya. Adik kakak itu memang kompak. Dan Bu Merly terlihat berbinar. Dia sangat bahagia karena akan diberi lagi cuci. Rumah ini akan semakin heboh.


Yusuf tertarik pada sebuah buku tentang biografi seorang pengusaha sukses. Seorang pria tampan dengan jasnya yang keren. Menguasai hampir semua bisnis di berbagai bidang di dunia. Baginya sosok pria itu sangat keren seperti seorang raja. Sejak saat itulah, buku berbau bisnis seolah menjadi cerita dongeng baginya.


***


Beberapa tahun berlalu. Yusuf sudah masuk SMP. Malam itu dia mengetuk pintu kamar orangtuanya.


"My son, masuklah !" Riki merengkuh pundak si sulung. Keduanya duduk di sofa. Suci ikut bergabung dan duduk di sebelah suaminya.


"Ada apa sayang ?" Suci mengelus kepala anaknya.


"Ma, jangan bersikap seperti ini. Aku kan sudah besar."


"Tapi di mata mama kamu tetap putra mama yang imut." Mengunyel pipi Yusuf dengan tangannya, gemas. Anak itu terlihat kurang nyaman.


"Ada apa jagoan ? kamu terlihat sangat serius." Riki bertanya.


"Pa, nanti sepulang sekolah aku boleh menemui papa di kantor ?"


"Kenapa harus di kantor ? kita tinggal serumah. Kamu bisa sepuasnya bertemu papa. Tapi jika kamu ingin melihat-lihat bagaimana papa bekerja, itu tidak masalah. Papa tahu jika kamu sangat tertarik pada dunia bisnis. Kami akan mendukung." Riki menepuk bahu anaknya.

__ADS_1


Suci ikut tersenyum dan mengangguk. Yusuf sangat senang mendapat support dari mereka. Namun dia hanya menunjukkannya lewat sedikit senyuman. Anak itu berbeda dari ayahnya. Riki agak cengengesan, sementara Yusuf sangat kalem bahkan terkesan cuek.


"Aku pamit. Maaf mengganggu." Yusuf berdiri.


"Formal sekali. Kami kan orangtuamu." Riki berkoar.


Suci membela, "Tidak apa-apa mas, itu cara Yusuf menghormati kita. Sayang, ingat jangan tidur terlalu malam !" matanya tertuju pada anaknya.


Yusuf mengangguk. Riki menggelitik pinggang istrinya. "Setelah kita punya anak, sayangmu hanya diucapkan untuk anak-anak saja. Nakal ya !"


Suci tertawa karena geli, "Mas hentikan !"


Yusuf geleng-geleng kepala dan segera memalingkan wajahnya dari adegan memalukan itu. Dia melangkah meninggalkan orangtuanya yang sedang asik bersenda gurau.


Mereka seperti anak kecil saja !


Esok siang setelah pulang dari sekolah.


Yusuf sudah berada di depan gedung tinggi perusaahan ayahnya. Matanya takjub melihat tempat sebesar itu. Di dalam sana pasti banyak orang yang berkutat dengan pekerjaan. Menggantungkan hidup mereka di tempat itu.


Suatu saat jika dirinya bisa menjadi seperti ayahnya, dia harus betul-betul mengabdi pada perusahaan. Harus mampu membuatnya tetap kokoh berdiri agar orang-orang yang mencari makan di sana bisa mempunyai sandaran hidup. Pikirannya sudah jauh ke arah sana meski usianya masih tiga belas tahun. Anak seumurannya kebanyakan masih banyak bermain-main. Tapi Yusuf tidak seperti mereka. Di dalam benaknya dia sudah jatuh cinta dengan dunia yang sehari-hari digeluti oleh papanya. Dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai cita-citanya.


"Halo son. Welcome to my palace ! haha." Riki muncul di hadapan anak yang masih berdiri terpaku itu.


Yusuf segera dibawanya melangkah menuju ruang kerjanya. Saking bahagianya akan kedatangan si sulung, dia rela menjemputnya di bawah. Selama perjalanan Riki mengoceh menjelaskan beberapa tempat dan juga apa yang dilakukan sebagian para pekerjanya. Senyumnya merekah tak henti. Riki benar-benar bangga karena sudah memamerkan salah satu putra kesayangannya.


Saat di dalam lift, semua karyawan yang berada di sana menatap gemas pada Yusuf. Jika diijinkan maka mereka ingin mencubit pipi putih milik anak itu.


Dengan semangat Riki memperkenalkan anaknya pada mereka. Semua tersenyum senang meski Yusuf tidak merespon. Anak itu hanya fokus menatap ke depan. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana birunya.


Menggemaskan sekali anak ini ! masih kecil tapi sangat cool ! Seorang wanita menjerit dalam hatinya.


Dia calon idola baru ! sangat tampan ! Seorang lagi memegang dadanya yang berdebar.


Meski hanya dapat menatap tas sekolah yang menempel di punggung anak itu, tapi mereka mampu merasakan ada magnet dalam diri Yusuf.


Sungguh kuat pesona Yusuf di usianya yang masih di bawah umur. Garis wajahnya sama persis dengan Riki. Bisa dibilang dia adalah kopian dari ayahnya. Hanya saja karakter mereka yang agak berbeda. Meski sama-sama baik, tapi Yusuf terkesan lebih cuek dan bermuka datar. Namun, justru itulah yang menjadi nilai lebih. Pria cool bukankah memang lebih menggemaskan ?!


Sampai di ruang kerja Riki. Yusuf terkagum melihat kursi kebesaran milik ayahnya. Benda itu seolah terlihat layaknya tempat singgasana seorang raja.


"Cobalah duduk di sana. Rasakan sensasinya. Bayangkan jika suatu hari nanti kamu berada di sana, memimpin perusahaan ini !"


Yusuf menuruti perintah sang ayah. Dia juga memang ingin melakukannya tanpa disuruh sekalipun. Benar saja, dia merasakan ada yang lain setelah duduk di sana. Jiwa ingin memimpinnya muncul. Aura kewibawaan seolah terpancar dari wajahnya. Dia yakin suatu hari nanti dia akan bisa mewujudkan impiannya.

__ADS_1


__ADS_2