Seperti Sampah

Seperti Sampah
Bab 40.


__ADS_3

Selama mengikuti pelajaran, pikiran Andini tak dapat fokus. Sikap Yusuf yang berubah karena kehamilannya, sangat menguras perasaannya. Hingga bel tanda jam sekolah berakhir pun, dia masih termenung padahal semua temannya sudah berhamburan dari kelas. Pak Nino yang sedari tadi menyadari kegusaran muridnya itu, memberanikan diri untuk bertanya.


"Andini, saya lihat kamu tidak fokus mengikuti pelajaran. Apa kamu sedang ada masalah ?" masih duduk sembari membereskan buku ke dalam tas.


Tak ada suara yang terdengar dari mulut wanita yang masih melamun itu.


"Andini ! Kamu kenapa ?" agak berteriak.


Andini tersentak lalu menundukkan kepalanya. "Maaf, pak. Saya tidak mendengar apa yang anda katakan."


"Kamu baik-baik saja ?"


"Tidak ada apa-apa, pak. Saya hanya sedikit kurang enak badan."


"Jika begitu, segeralah ke Dokter ! Oh ya, kamu mau pulang atau menginap di tempat ini ?" tersenyum menggoda.


Andini celingukan, ternyata semua temannya sudah tidak ada di sana. Berarti ini saatnya pulang. Dia segera beranjak dari sana.


"Pak, saya duluan. Permisi !"


"Hati-hati, Andini !"


Nino merasa ada yang tidak beres dengan perempuan itu. Tapi dia tidak bisa ikut campur begitu saja. Semoga Andini baik-baik saja !


***


Andini berjalan lesu menuju gerbang. Kenapa hal yang menyakitkan itu masih saja menghantui pikirannya ? Dia tidak mau manjadi perempuan yang cengeng. Sudah begitu lelah menangisi nasibnya yang malang. Namun, lagi-lagi air mata itu senang sekali berselancar di wajahnya.


Kini rasa hina dan rendah dirinya kembali muncul, bahkan lebih dalam. Sepertinya Yusuf sudah tidak mau lagi menatapnya. Dia merasa lebih menjijikan daripada seorang istri yang ketahuan selingkuh.


Apakah kamu sudah tidak lagi mencintaiku ? Apakah kali ini kamu tidak akan mencari ku saat aku menghilang ?


Andini perlahan menyeka air matanya ketika mobil yang menjemputnya tiba. Dia segera masuk, berharap di dalam sana ada sosok yang menunggunya. Tapi harapannya pun sirna saat mengetahui hanya ada Pak Yadi di sana.


Benci, Andini benci pada dirinya yang begitu lemah. Kenapa dia selalu mengharap untuk dijemput suaminya ? Bukankah sudah jelas jika Yusuf tak mau lagi peduli padanya ?!


Bodoh ! Kau masih tinggal di rumah itu saja sudah untung. Jangan lagi berharap suamimu akan berbuat baik seperti sebelumnya ! Kau pikir ada laki-laki yang mau menerima seorang istri yang dihamili oleh pria lain, meskipun itu adalah kecelakaan ? Kau harusnya bersyukur karena masih menjadi istrinya dengan keadaanmu yang hina itu !


"Tapi, bukankah ada kemungkinan juga bahwa anak ini bukan anak pria brengsek itu ?! Kenapa dia masih saja tidak perduli ?" bergumam pelan sambil terisak.


Sang sopir yang memperhatikan sambil mengemudi, hanya bisa menghembuskan nafasnya berat. Dia sungguh tidak tega melihat Andini bersedih. Tapi dia tidak tahu masalahnya seperti apa, lagipula dia tidak berhak untuk ikut campur.


***


Andini masuk ke dalam kamarnya. Tidak ada siapa-siapa di sana. Apakah suaminya masih ada di ruang kerja ? Untuk apa dia memikirkannya ? Meskipun pria itu ada di hadapannya, belum tentu juga dia akan mendapat kehangatan dari Yusuf.


Andini berjalan ke arah pintu saat Oma memanggilnya. Orang tua itu segera masuk saat pintu terbuka. Dia membawakan makanan untuk Andini. Keduanya duduk di sofa.


"Kamu sedang hamil muda, harus menjaga kesehatan dengan benar. Tadi pagi Oma lihat kamu cuma makan sedikit, makanya sekarang Oma bawakan banyak makanan untukmu. Oma ingin kamu dan bayimu selalu sehat." Memegang perut Andini yang masih rata.


Andini sekuat tenaga menahan agar kristal bening itu tak lagi membanjiri wajahnya. "Terima kasih, Oma. Andini akan makan sekarang." Memaksakan untuk mengunyah meski dadanya terasa sesak. Dia tidak boleh menunjukkan kesedihan pada Oma.


"Andini, dalam rumah tangga itu banyak sekali rintangan yang akan kamu hadapi. Oma harap kamu dan Yusuf dapat melaluinya dengan baik. Oma ingin kalian dapat bersama sampai maut memisahkan." Menatap lekat sembari memegang tangan Andini.


"Aku harap juga seperti itu. Oma doakan saja." Tersenyum kelu.


Setelah memastikan cucunya menghabiskan makanan, orang tua itu pun pergi.


Andini masih duduk di sofa. Saat Oma pergi, air mata yang dia tahan pun jebol. Oma begitu menyayanginya. Mendukung hubungannya dengan Yusuf. Tapi apakah Oma masih akan berbuat begitu seandainya tahu jika dia sudah ternoda oleh pria lain ?


***


Sedari pulang sekolah Andini berdiam diri di dalam kamar hingga hari berganti gelap. Makan malam pun diantar oleh pelayan. Saat pintu kamarnya terbuka, dia pura-pura berbaring di sofa. Siapa lagi yang akan masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu, selain suaminya ?


Yusuf perlahan berjalan mendekat. Menatap lekat istrinya yang tidur di sofa. Sebenarnya ada rasa bersalah karena sudah mengacuhkan Andini. Tapi egonya belum hilang, masih tidak nyaman saat mengingat kehamilan istrinya itu.


Yusuf mengangkat tubuh Andini dan memindahkannya ke atas kasur. Menyelimutinya lalu mengusap lembut kepalanya. Terakhir dia mengecup puncak kepala istrinya, "Selamat malam, sayang. Tidur yang nyenyak !"


Andini sangat sakit sekaligus marah dengan sikap suaminya. Ingin sekali dia mengamuk kenapa diperlakukan seenaknya oleh Yusuf ? Memang pria itu tak mengeluarkan perkataan pedas apalagi menyakiti fisiknya. Namun, sikap acuh itu lebih menyakitkan untuk Andini. Tapi di sisi lain, dia heran kenapa suaminya memberi perhatian ketika dirinya sudah tidur ? Apa sebenarnya yang ada dalam pikiran Yusuf ?


Untuk kesekian kalinya, dia menangis tanpa suara. Suaminya tak pernah lagi mau tidur atau menyentuhnya semenjak kehamilannya terungkap. Apakah Yusuf benar-benar sudah jijik padanya ? Tapi kenapa setiap malam pria itu selalu mengecup kepalanya ? Dia benar-benar frustasi memikirkannya.


***

__ADS_1


Pagi-pagi seperti biasa, Andini selalu muntah-muntah di kamar mandi. Dan suaminya pasti turun ke ruang kerja. Pusing, lemas yang dia rasakan belum seberapa dibandingkan dengan rasa sakit hati yang ditorehkan oleh Yusuf. Jangankan untuk sekedar memijit tengkuknya, bertanya kabar saja sudah tak lagi dilakukan suaminya.


Saat di ruang makan.


Yusuf sama sekali tidak terlihat. Andini semakin terpojok, mungkinkah suaminya itu kehilangan selera makan jika berdekatan dengannya ? Jika begitu, maka lebih baik dia saja yang tidak hadir di sana.


Andini beranjak dari duduknya lalu pamit pada Oma dan ipar-iparnya. Meski mereka memaksa Andini agar sarapan sebelum berangkat, tapi dia menolak. Buru-buru pergi dari rumah yang semakin hari semakin menyesakkan dadanya.


***


Oma membanting pintu ruang kerja Yusuf dengan kasar. Raut wajahnya begitu murka. Baru kali ini wanita itu marah pada cucu pertamanya.


"Yusuf, apa yang sudah kamu lakukan pada Andini ? Kenapa semenjak istrimu hamil, dia selalu terlihat murung ? Dia bahkan buru-buru pergi dengan perut kosong."


Yusuf beranjak dari duduknya. Dia bahkan tak sempat menjawab pertanyaan Oma. Dia bergegas ke dapur dan membawa banyak makanan. Setelah itu segera mengendarai mobilnya. Meski dia ingin menghindari istrinya, tapi jika mengetahui Andini belum makan, dia pasti cemas.


***


"Andini, tunggu !" suara itu menghentikan langkah kakinya menuju gerbang. Perlahan dia berbalik, sebenarnya ragu dengan pendengarannya sendiri. Tidak mungkin rasanya jika suaminya ada di sini mengingat bagaimana sikap Yusuf belakangan ini. Tapi, matanya tidak mungkin berbohong. Sosok pria bermata sipit itu mendekat ke arahnya.


Yusuf menyodorkan tas besar yang isinya hanyalah makanan dan minuman. "Ambillah, perutmu tidak boleh kosong. Ingat, ada sebuah nyawa yang hidup di sana !"


Andini menatapnya sebal. Kenapa suaminya itu bersikap plin-plan ? Bukankah Yusuf selalu menghindar dan acuh ? Tapi kenapa juga di lain waktu masih perhatian padanya ?


"Ambillah, aku harus segera pergi. Masih banyak urusan yang harus aku kerjakan."


Andini mengambil tas itu kemudian berbalik menuju gerbang. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Meskipun mungkin dia pantas untuk diacuhkan, tapi jujur dia merasa marah pada suaminya itu.


Yusuf terus berdiri menatap punggung itu hingga tak lagi terjangkau oleh matanya. Dia merindukan Andini, tapi kenapa egonya susah hilang ?


***


Yusuf memutuskan untuk menjemput istrinya siang ini. Sikap dingin yang Andini tunjukkan tadi pagi, membuatnya makin merasa bersalah. Mungkin sudah saatnya dia berlapang dada untuk menerima kehadiran anak itu. Dia tidak mau menyesal di kemudian hari karena mengacuhkan Andini dan juga bayi yang bisa saja adalah darah dagingnya sendiri.


Baru saja mobilnya menepi, dia melihat Andini di depan gerbang, tengah memasuki mobil lain. Entah siapa yang sudah membawa istrinya itu ? Mungkinkah salah satu teman perempuannya atau seorang pria ? Dia harus mencari tahu sendiri.


Mata elangnya terus fokus ke mobil di depannya. Dia tidak boleh kehilangan jejak. Tapi sial, dirinya terjebak kemacetan hingga tidak dapat mengejar mobil yang terus melaju cepat itu.


"Arggghhh !" harusnya dia bisa menyusul Andini jika saja lampu merah itu tidak menyala.


"Arggghhh ! Ponselnya mati. Kemana dia sebenarnya ? Siapa yang sudah membawanya ?" membanting benda itu ke bawah.


***


Andini saat ini tengah duduk di sofa kamar Bu Vivian. Selain merindukan wanita itu, dia juga ingin meminta sedikit saran dan nasehat.


"Aku sedang hamil, Bu." Ucap Andini.


"Alhamdulilah, itu bagus."


"Usia kandunganku bertepatan dengan kejadian waktu itu, baru tujuh minggu. Aku takut, bagaimana jika anak ini ternyata adalah anak pria itu." Menundukkan wajahnya.


Wajah tersenyum Bu Vivian berganti menjadi sendu. "Lalu, bagaimana sikap suamimu ?"


"Dia berkata akan selalu menerimaku. Tapi sikapnya yang berubah, mengisyaratkan kebalikannya. Dia selalu menjauh dan terkesan tidak peduli. Aku merasa benar-benar terhina. Apa yang harus aku lakukan, Bu ?" terisak-isak.


"Nak, mungkin suamimu masih belum siap jika bayi yang ada dalam rahimmu itu adalah anak pria lain. Sabarlah, semuanya belum pasti. Semoga saja calon anakmu ini memang milik suamimu." Mengusap-usap kepala Andini.


"Bu, terima kasih sudah mau mendengar keluh kesahku. Jika ibu tidak keberatan, bolehkah aku sesekali menginap di sini ?"


"Ibu senang sekali jika kamu menginap atau bahkan tinggal di sini. Tapi, kamu itu adalah perempuan yang sudah bersuami. Jika mau bepergian, harus seijinnya. Bagaimana jika dia mencari-cari kamu lagi seperti waktu itu ?"


Andini tersenyum kelu, "Mungkin kali ini dia akan senang jika aku tidak bersamanya."


"Nak, berilah kesempatan untuk memperbaiki hubungan kalian ! Siapa tahu suamimu akan kembali perhatian lagi. Jangan pernah menyerah untuk menjaga rumah tanggamu tetap utuh !"


Andini terdiam. Bu Vivian memang benar, Andini harus kuat menghadapi ujian berat ini.


***


Yusuf segera turun dari kamarnya saat diberi tahu Satpam, jika Andini telah tiba di depan gerbang rumahnya. Pria itu berlari menuju ke sana. Dengan wajah murkanya dia menatap istrinya yang tengah berbincang dengan seorang pria.


Jadi Andini pergi bersama gurunya itu ?! Mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Andini, darimana saja kamu ?" nada suaranya datar namun begitu mengintimidasi.


"Aku....tadi dari rumah Pak Nino, mengunjungi Bu Vivian." Suaminya begitu menyeramkan hingga membuatnya gelagapan bicara.


Yusuf menatap pria itu tajam. Dadanya benar-benar terbakar melihat istrinya dekat dengan lelaki lain. Di matanya, Nino adalah pria yang hanya memanfaatkan kesempatan untuk lebih akrab dengan istrinya.


"Kurang ajar !" Nino ambruk setelah mendapat bogem mentah dari Yusuf.


"Ahhh ! Apa yang kamu lakukan ?" histeris Andini. Dia berjongkok untuk melihat kondisi Nino, "Bapak, bibir anda berdarah."


Yusuf tambah naik pitam menyaksikan istrinya mencemaskan pria itu. Dia segera mencengkram erat tangan Andini lalu memaksanya masuk ke dalam rumah. "Ikut aku, tidak ada lagi kelas tambahan untuk pelajaran bahasa Jerman ! Waktunya guru favoritmu itu pulang !"


"Tapi, bagaimana dengan Pak Nino ? Kamu harus tanggung jawab karena sudah melukainya !"


"Dia harus diberi pelajaran karena sudah berani membawa istri orang tanpa ijin." Terus berjalan tanpa melepaskan tangan Andini.


"Kenapa kamu jadi kasar begini ? Lepaskan ! Aku bisa jalan sendiri !" berteriak-teriak namun suaranya bergetar karena tengah menangis.


Yusuf menghentikan langkahnya, menoleh pada wanita yang menatapnya penuh kecewa dan sakit hati. Air mata di wajah Andini membuatnya lemah dan melepaskan cengkraman tangannya.


"Kamu bukan suami yang ku kenal. Kamu banyak berubah." Berlari masuk ke dalam rumah.


Yusuf menyusulnya dengan langkah yang lemas. Andini benar, dia memang akhir-akhir ini banyak berubah. Hati dan pikirannya begitu kacau, emosinya pun tak dapat terkontrol.


***


Andini menangis tersedu memeluk bantal dengan posisi miring. Kenapa makin hari sikap Yusuf makin kasar ? Kemana perginya suami yang baik itu ?


Yusuf perlahan menghampiri. Duduk di belakang istrinya. "Aku cemas. Kenapa kamu tidak memberi tahu jika akan ke rumah Bu Vivian ?"


"Untuk apa ? Tidak mungkin juga kamu mau mengantarku ke sana !"


"Lain kali jangan lagi pergi tanpa ijinku


apalagi dengan pria lain !"


Andini duduk menatapnya tajam. "Apa maumu ? Ingin menuduhku berselingkuh ?"


"Bukan, aku hanya tidak suka jika kamu dekat dengan laki-laki lain. Aku takut ka..." kalimatnya terpotong.


"Apa pedulimu ? Bukankah akhir-akhir ini kamu bahkan tidak menganggapku ada ?! Kamu selalu menghindar bahkan disaat aku membutuhkan ?" teriak-teriak.


"Aku, maaf ! Aku memang salah, tapi..."


"Katakan, apa kamu bersikap acuh karena merasa jijik padaku ?! Kenapa tidak dari awal saja kamu membuang istri yang hina sepertiku ? Dengan begitu, aku tidak akan lagi berharap banyak padamu."


"Bukan ! Aku masih sangat mencintaimu. Aku tidak mau kamu pergi. Hanya saja hatiku selalu gusar saat memikirkan anak itu. Aku takut jika kemungkinan terburuk itu akhirnya menjadi nyata."


"Apa kamu pikir aku tidak memikirkannya ? Bahkan bebanku jauh lebih berat daripada dirimu. Aku begitu takut jika ayah dari anak yang ku kandung adalah pria bejad itu. Ditambah lagi rasa sakit hati karena sikap burukmu padaku. Aku merasa benar-benar terhina dan terpuruk."


Yusuf tertunduk mendengarkan uneg-uneg Andini. Dia memang salah.


"Kemana saja kamu saat aku membutuhkanmu ? Bahkan kamu tidak pernah tahu, makanan atau minuman apa yang aku inginkan selama hamil. Tapi, mungkin kamu tidak perlu bertanggung jawab karena anak ini belum tentu adalah anakmu. Benar ?!"


Andini turun dari ranjang menuju ke ruang ganti. Membuka lemari dan memindahkan baju-bajunya ke dalam koper. Yusuf merebut koper itu dan menyimpan kembali pakaian Andini ke dalam lemari.


"Apa yang mau kamu lakukan, Andini ? Siapa yang menyuruhmu pergi ?"


"Biarkan aku pergi agar hidupmu lebih tenang." Mengambil lagi baju-baju itu tapi Yusuf menghalanginya. Dia segera memeluk tubuh Andini dengan erat. "Aku memang salah, aku minta maaf !" Andini berontak, "Lepaskan ! Jangan lagi memberi harapan kosong !"


"Aku janji, tidak akan lagi mengacuhkan mu apapun yang terjadi ! Aku tidak mau kehilangan kamu, Andini !" mengeratkan pelukannya sambil terisak.


Andini terdiam tak lagi berontak. "Aku tidak akan memaksa agar kamu menerima aku dan anak ini. Jika kamu merasa risih atau terganggu dengan kehadiran kami, maka biarkan aku pergi !"


Yusuf menggeleng cepat lalu mengecup kepala istrinya. "Aku tidak pernah mau kamu pergi. Aku sangat mencintaimu. Aku janji tidak akan lagi menyakitimu, sayang."


Andini tersedu ketika Yusuf berjongkok bertumpu pada lutut. Tangan itu memeluk pinggang Andini, yang satunya lagi mengusap perutnya. "Maafkan papa. Mulai saat ini papa akan lebih memperhatikan kalian !" mengecup bagian perut itu lalu kembali berdiri.


"Sayang, aku tidak akan lagi mempermasalahkan hal ini. Siapapun ayah dari anak ini, maka aku akan tetap menjadi ayahnya." Menatap lekat sambil mengusap wajah sembab istrinya.


Andini terharu mengetahui sosok suaminya telah kembali. Yusuf yang begitu hangat, telah kembali lagi padanya.


"Aku mencintaimu, sayang." Yusuf memeluk lagi Andini lebih erat.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu, sayang." Ucap Andini sambil terisak.


Dalam sebuah hubungan tidak akan mungkin selalu berjalan mulus. Akan ada saja ujian. Entah itu hal ringan maupun berat. Yang terpenting adalah bagaimana cara kita menghadapi dan menyelesaikan semua itu dengan baik.


__ADS_2