Seperti Sampah

Seperti Sampah
Bab 31.


__ADS_3

Mata Andini berbinar-binar melihat motor gede milik suaminya. "Sayang, coba kamu naik !" pintanya.


Yusuf dengan senang hati menuruti. Dengan gagahnya dia menaiki kendaraan beroda dua itu. Andini berdecak kagum, "Wahhh, kamu terlihat jauh lebih tampan dan keren dengan motor ini."


"Aku memang keren meski hanya menaiki sepeda butut saja." Penuh kebanggaan.


"Ishhhh, kamu ini narsis sekali ! tetap saja, karena motor keren ini, kamu jadi terlihat lebih macho."


"Keren aku atau motor ini ? pilih aku atau motor ini ?" mulai naik darah.


"Kenapa berlebihan begitu ? ya jelas, aku pilih kamulah. Kalau aku pilih kendaraan butut ini, lalu siapa yang akan memelukku saat aku kedinginan ?" nyengir yang tanpa ikhlas. Ayolah, puji terus suamimu itu Andini ! jangan sampai dia marah ! anggap saja dia bocah yang sedang ingin dimanja dan diperhatikan.


Yusuf tersenyum puas. Jika barusan kamu lebih memilih motorku, maka aku akan membakar benda ini sampai menjadi abu !


"Cepat naik !" perintah Yusuf. Dia memakai helm terlebih dahulu, kemudian memakaikan benda itu pada kepala istrinya dengan hati-hati. Senyum mengembang pada bibir mereka, seiring debaran jantung yang berjingkrak-jingkrak riang.


Andini segera duduk di belakang suaminya. "Maju, bang ! ke depan sedikit berapa bang ?" canda Andini. Yusuf terkekeh, "Tidak usah bayar pake uang, bayar saja dengan tubuhmu !"


Andini menepuk keras bahu suaminya. "Mulai modus lagi, padahal aku cuma bercanda barusan."


"Tapi aku serius, sayang. Kamu harus membayar dengan tubuhmu nanti." Tersenyum menyeringai.


Dasar modus, suami modus dan mesum ! tapi tampan....aku tidak kuasa menolak ! Ahhhh, aku juga sama mesumnya !


Yusuf menarik tangan Andini agar berpegangan di perutnya. "Kamu ingin jatuh ? pegangan yang kuat, jangan malu-malu !"


Motor itu pun mulai bergerak maju dengan kecepatan tinggi. "Ahhhh, pelan-pelan ! aku takut !" memeluk erat tubuh si pengendara hingga dadanya menempel rapat pada punggung Yusuf.


Bagus ! pegang yang erat, sayang ! begitu saja harus dipancing dulu.


"Sayang, jalannya jangan terlalu ngebut, bahaya !" Andini berteriak-teriak.


Yusuf menurunkan kecepatan motor itu. Jika begini, Andini dapat menikmati perjalanannya. Tanpa dipancing lagi, dia semakin mengeratkan pelukannya. Menyandarkan kepala di bahu suaminya. Senyum merekah dari bibirnya seiring terpaan semilir angin pada tubuhnya. Bagi Andini, ini adalah momen yang sangat romantis.


Yusuf pun tak henti mesem-mesem ria, baru kali ini dia berboncengan dengan seorang wanita, dan yang lebih spesial lagi, wanita itu adalah istrinya sendiri. Mungkin seperti ini rasanya berpacaran !


Saat di lampu merah, Yusuf tak lepas menggenggam tangan yang melingkar di pinggangnya. Sesekali mengusapnya perlahan. Keduanya tersenyum seperti pasangan yang baru saja jadian.


Masih dengan senyum yang merekah, Yusuf kembali menggerakkan kuda besinya, setelah lampu hijau menyala. Menyusuri jalanan yang ramai itu dengan tanpa beban, meski terjebak macet di beberapa titik. Banyak menunggu lampu hijau menyala, justru lebih mengasyikan. Lebih banyak waktu baginya untuk menyentuh tangan Andini.


***


Di sebuah restoran, Andini dan Yusuf duduk berhadapan. Menyantap makanan yang tersaji di atas meja.


"Enaknya, kenyang sekali. Sepertinya tubuhku menjadi gendut setelah menikah denganmu." Ucap Andini sambil menepuk-nepuk perutnya yang agak membesar.


"Itu bagus ! kamu akan terlihat lebih montok dan sexy." Seringai yang sering kali muncul saat otak miringnya kambuh.


Andini mencebik, "Kenapa hanya hal itu yang selalu ada di pikiranmu ?"


"Memang apa yang aku pikirkan ? memangnya kamu tahu ?"


"Tubuhku lebih montok itu berarti lebih sexy dan menggoda bagimu. Ujung-ujungnya pasti begituan !"


Yusuf tertawa kecil, "Kamu yang mesum sayang. Aku hanya berpikir jika kamu lebih montok, berarti itu tandanya kamu tidak tersiksa hidup denganku."


Andini menggerutu sendiri, "Malah menyalahkan aku ! selama ini kan kamu yang selalu modus dan berpikiran mesum."


Setelah makan, keduanya pergi ke bioskop. Andini sangat bersemangat karena ini kali pertamanya datang ke tempat tersebut. Setelah mendapatkan tiket dan membeli popcorn juga minuman, mereka masuk ke ruangan itu. Andini dan Yusuf duduk di kursi tengah.


Yusuf bersikap baik saat menonton. Dia sama sekali tidak menggerayang sembarangan pada istrinya. Mungkin lain lagi ceritanya jika mereka memilih menonton film yang romantis. Yusuf pasti akan terpancing untuk melakukan hal gila.


Beberapa jam berlalu, semua orang berhamburan keluar dari ruangan gelap itu. Film yang mereka tonton telah habis.


Yusuf menarik Andini untuk berbelanja keperluan istrinya itu. Meski berusaha menolak, tetap saja pria itu bersikeras.


"Sayang, kita sudah terlalu banyak berbelanja. Nanti bagaimana cara membawanya ? kamu kan tidak bawa mobil." Tanya Andini.

__ADS_1


"Ada sopir yang akan membawakan barang-barang ini ke mobil." Menyodorkan barang tersebut ke seorang pria paruh baya.


Andini mengernyitkan keningnya, Kapan datangnya ? tahu-tahu sudah muncul di belakang ku ?


Yusuf merangkul pinggangnya, "Ada lagi yang ingin kamu beli ?"


"Tidak, itu sudah lebih dari cukup. Kamu saja yang membeli sesuatu untukmu sendiri, atau untuk Oma dan adik-adik."


"Boleh, jika kamu tidak cape."


"Tidak, aku malah bersemangat." Senyum sejuta Watt.


Mereka pun berburu barang-barang untuk diberikan pada Oma dan si kembar cantik.


"Mang, tolong bawa semua barangnya ke mobil. Mamang boleh pulang duluan. Saya masih mau jalan-jalan lagi sebentar." Perintah Yusuf. Si mamang sopir pun menurut.


"Tapi, kamu belum membeli apapun untuk kebutuhanmu sendiri." Ucap Andini.


"Ada satu baju yang ingin ku beli." Yusuf mengajak Andini memilih baju yang dia maksud.


Dini melongo memperhatikan baju aneh yang belum selesai dijahit, dan juga serba kurang bahan itu. "Sayang, apa tidak salah kamu ingin membeli baju ini ?" Andini bahkan ragu jika kain tipis yang dipegangnya itu adalah sebuah baju.


Yusuf menyeringai, "Ya, tapi tentunya bukan untukku. Baju tidur ini khusus untukmu."


"Masa baju tidur lebih terbuka daripada baju renang ?!" mulai protes.


Yusuf mengambil baju dengan model yang sama, namun berbeda warna. Memperhatikannya dengan seksama. Lalu menempelkan baju itu di badan Andini. Dengan senyum smirk, "Wowww, cocok sekali ! hemmm, cantik dan sexy."


Andini menyingkirkan baju itu dari tubuhnya. Dan baju yang dia pegang pun disimpan kembali ke tempat asalnya. "Jangan harap aku mau memakai baju seperti itu." Aku pakai baju tertutup saja, otaknya selalu konslet, apalagi jika aku memakai baju yang memperlihatkan semua lekuk tubuhku. Bisa-bisa dia tidak akan pernah melepaskan aku ! terkurung selamanya di dalam kamar. Itu mengerikan !


Andini buru-buru pergi. Yusuf segera menyimpan baju yang dia pegang, lalu menyusul istrinya.


***


Dalam perjalanan pulang, Andini masih cemberut. Meski wajah juteknya itu tertutupi helm, tapi Yusuf bisa menebak jika saat ini istrinya itu sedang kesal. Dia hanya tertawa dalam hati, betapa menggemaskannya Andini ketika sedang ngambek. Dia tahu benar jika perempuan itu tidak benar-benar marah, tepatnya hanya malu.


Andini celingukan memperhatikan jalan yang dilewati. Ini bukan arah menuju rumah. Lantas suaminya itu akan membawanya kemana lagi ? Sampai di sebuah gedung megah bertingkat-tingkat, barulah motor itu masuk ke sana, lalu memarkirkan kendaraannya.


"Kita akan ke apartemenku, sayang." Tersenyum sambil membuka helm. Wajah tampannya muncul setelah benda itu tersingkir.


"Apartemen ?" Entah kenapa mendengar tempat itu, Andini jadi gemetaran ? mungkin waktu itu Yusuf pernah beberapa kali menggodanya dengan menyebutkan tempat tersebut.


Yusuf tersenyum menyeringai sambil membukakan helm yang masih menempel di kepala Andini. "Kenapa wajahmu tegang begitu ?" Andini menggeleng cepat.


Keduanya pun berjalan menuju lift. Sampai di lantai sepuluh, pintu lift terbuka. Yusuf berjalan santai, diikuti istrinya yang celingak-celinguk. Sampai di pintu apartemennya, Yusuf menekan tombol kuncinya. Bagi Andini, itu adalah suatu hal yang menakjubkan. Wahhhh, canggih sekali !


Pintu ditutup setelah mereka masuk ke dalam sana. Ruangan itu benar-benar terawat meski tak ada penghuni. Sangat rapi dan bersih.


Yusuf menarik tangan Andini agar mengikutinya ke dalam kamar. Andini nyengir gugup, inilah yang dia pikirkan tadi. Pasti, pasti akan berakhir di tempat ini ! mau kemana pun mereka melangkah, tetap saja pelabuhan terakhir adalah di atas ranjang.


Yusuf memeluk erat tubuh Andini. Membuat keduanya menempel rapat-rapat. Dia tersenyum puas melihat perempuan itu gugup. Sudah sejak tadi dirinya menahan diri untuk tidak mengecup wajah indah istrinya.


"Sayang, mau apalagi ?" Andini gemetaran saat bertanya.


"Aku mau kamu, sayang. Kenapa masih bertanya ?"


Senyum dan tatapan itu membuat Andini tambah merinding. Suara lembut dari Yusuf terdengar erotis di telinganya. "Kenapa ? apa kamu tidak bosan, setiap hari melakukannya ?" suara Andini mencicit, tapi Yusuf dapat mendengarnya dengan jelas.


"Tidak akan pernah bosan. Aku malah kecanduan." Nafas pria itu mulai tak beraturan. Tatapannya sayu dan penuh kobaran gairah.


Ihhhhh, Andini makin merinding ! Dadanya mengamuk ingin mendobrak keluar. Segera dia tundukkan kepalanya, tatapan mata suaminya makin mengintimidasi.


Seperti biasa, tangan Yusuf memegang tengkuknya lalu segera mendongakkan wajah Andini, menyerang bibir itu tanpa ampun. Semakin mencoba melonggarkan pelukan suaminya, dia malah semakin terkurung.


Semakin liar dan semakin memanas, akhirnya mereka naik ke atas tempat tidur. Melakukan pergulatan cinta di sana. Setelah itu, keduanya tertidur pulas untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah.


***

__ADS_1


Andini terbangun dan melihat sekeliling. Dia lupa jika saat ini sedang ada di apartemen suaminya. Astaga, dia melihat jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam. "Sayang, bangun ! ini sudah malam, kita harus pulang ke rumah. Oma nanti mencemaskan kita." Menggoyangkan tubuh pria yang masih terlelap di sampingnya.


"Eehmmmm. Apa ?" masih belum membuka mata, suaranya terdengar seperti sedang mengigau.


Andini terus mengguncang tubuh itu, "Sayang, kita harus pulang. Oma pasti khawatir karena kita tidak ada di rumah." Makin panik.


Mata Yusuf perlahan terbuka. "Oma sudah tahu jika kita akan menginap di sini malam ini."


Andini menganga, antara kaget dan lega. Bersukur karena Oma tidak akan mencemaskan mereka. Tapi, kaget karena dia pasti akan dimangsa berkali-kali di tempat itu. Sudahlah, Andini ! jangan terlalu khawatir ! mau di rumah atau di apartemen, itu sama saja. Kau selalu digerayangi suamimu. Lagipula, jangan pura-pura tidak mau ! kau pun sebenarnya selalu menikmatinya bukan ?!


Andini menggerutu sendiri, "Tapi tetap saja jika terlalu keseringan, aku lelah juga !"


"Kenapa sayang, mau lagi ?" seringai Yusuf.


"Tidak, aku cape !" terbaring miring membelakangi suaminya.


Yusuf tersenyum lalu memeluknya erat. "Bagaimana jika aku mau mengulanginya lagi ?" berbisik di telinga Andini.


Ya ampun, dia benar-benar tidak waras !


Dan lagi-lagi Yusuf berbuat nakal pada istrinya itu.


Usai pertempuran itu, Andini membersihkan badan. Saat keluar dari kamar mandi, dia tertegun. Harus pakai baju apa saat ini ? bukankah dia tak bawa baju ganti ? jangankan untuk mempersiapkan hal tersebut, bahkan dia tak tahu akan dibawa ke tempat ini.


Dini bergerak ke lemari. Mungkin di sana ada baju-baju Yusuf yang bisa dia pakai. Lagi-lagi dia dibuat menganga. Di dalam lemari itu ada banyak pakaian wanita di sana. Milik siapa ? apa jangan-jangan, itu milik para gadis yang selalu mampir di apartemen ini secara diam-diam ?


Andini menghampiri suaminya yang terlentang di atas kasur. "Sayang, ikut aku !" wajah murkanya keluar.


Yusuf bangkit dan terduduk bingung. "Ada apa ?"


"Ikuti aku ! ada yang harus kamu jelaskan." Berjalan ke ruang ganti diikuti Yusuf.


Andini membuka lemari dan menunjukkan baju-baju wanita yang berderet rapi di dalam sana.


Andini menyilangkan tangan di dadanya, "Baju siapa itu ? banyak sekali ! jangan bilang ini semua milik wanita-wanitamu ! siapa saja gadis yang sudah kamu bawa ke sini ?" nyerocos tanpa jeda.


"Semua baju ini adalah milik wanita paling cantik dan sexy yang ada di bumi ini. Wanita yang selalu membuat aku gila." Memeluk erat tubuh Andini.


"Siapa ? katakan !" masih belum menyadari bahwa yang disebut suaminya adalah dia sendiri.


"Baju ini milikmu, sayang. Aku sengaja menyiapkannya. Kenapa masih tidak mengerti ?"


"A...aku ? kenapa tidak langsung bilang ? mana ku tahu, jika kamu akan melakukan itu."


Yusuf tersenyum, "Apa jangan-jangan kamu sengaja berbohong karena ingin menggodaku ? katakan saja langsung, jika kamu ingin melakukannya di tempat ini !"


Andini menginjak kaki Yusuf. "Dasar otak mesum ! apa kamu tidak kasihan pada istrimu ini ? lihatlah wajahku sampai pucat begini ! tubuhku juga lemas seperti tak bertulang."


Yusuf nyengir, "Maaf, sayang. Sekarang aku tidak akan mengganggu." Sebelum pergi dia mengecup dulu pipi Andini.


Selesai berganti pakaian, Andini duduk di sofa. Di meja sudah ada beberapa hidangan yang menggugah selera. Ingin cepat makan tapi suaminya belum muncul dari kamar mandi. Dia menunggu beberapa menit sampai akhirnya Yusuf menghampirinya. Keduanya pun makan malam dengan lahap.


***


Esok paginya.


Yusuf mengantar Andini pulang ke rumah besar menggunakan motor. Usai pamit pada Oma dan adik-adik, dia pun naik ke mobil. Willy sudah bersiap membawanya ke kantor.


Dengan tenang, asisten itu menjalankan mobilnya. "Selamat pagi, tuan."


"Pagi, Will !" tersenyum secerah mentari pagi.


Tuan semakin hari semakin terlihat bersemangat ! aku jadi ikut senang !


"Tuan, akhir pekan anda harus menghadiri rapat penting di luar kota. Ini mengenai perusahaan cabang baru yang akan dibuka di sana."


"Ahhh, apa kau tidak bisa mengurusnya sendiri ?" Aku tidak mau meninggalkan istriku di sini. Menghembuskan nafasnya berat.

__ADS_1


"Maaf, tuan. Anda harus menghadirinya langsung. Ada beberapa dokumen yang harus anda tanda tangani. Selain itu, anda juga harus memastikan sendiri bagaimana situasi di sana."


Yusuf terdiam. Dia tidak mau jauh-jauh dari Andini. Tapi, dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Apa dia harus membawa serta istrinya ke luar kota ? tapi, Andini harus mengikuti pembelajaran di sekolah. Moodnya jadi terganggu karena memikirkan hal ini.


__ADS_2