Seperti Sampah

Seperti Sampah
Dimana pun dan kapanpun tetap mesra.


__ADS_3

"Pasti anaknya teman Bu Merly ya ? atau ponakannya mungkin, apa jangan-jangan...calon mantu ?" Bu Shiva menebak-nebak sambil cengengesan.


"Saya tidak perlu menjawabnya kan ?!" Bu Merly bicara masih tanpa ekspresi.


Baiklah sekarang diam saja, jangan lagi so tahu. Jangan sampai membuat Bu Merly kesal, atau nanti dia tidak jadi membeli semua perhiasan ini. Tapi aku penasaran juga siapa sebenarnya gadis ini ? kenapa bisa dianggap seperti anak oleh Bu Merly ?


Pemilik sekaligus perancang design perhiasan itu memindai tubuh Suci dari ujung kepala hingga ujung kaki. Merasa heran juga kenapa gadis sederhana seperti Suci bisa sedekat itu dengan pelanggan terbaiknya.


Keluar dari tempat itu Suci dibawa berkeliling menikmati keindahan gambar-gambar cantik dan antik di sebuah pameran lukisan. Beberapa terlihat indah meski kebanyakan gambar itu tak dimengerti oleh orang seperti Suci.


Bu Merly terlihat sangat nyaman dan tenang di tempat itu. Sangat fokus hingga tak mengeluarkan kata sedikit pun. Memandang lekat dan sesekali menyentuh lukisan yang ditemuinya.


Suci hanya setia menemani dan mengekor ibu mertuanya. Sebenarnya dia merasa tidak nyaman berada di tempat asing itu. Dia hanya ingin menghargai dan membuat mama Merly senang.


Setelah berlama-lama di tempat itu mereka berpindah ke sebuah restoran Korea yang tak jauh dari tempat pameran tadi. Kebetulan sekali karena perut Suci sudah kerubukan dari tadi.


Tak ada pembicaraan sama sekali saat itu. Hanya fokus makan membuat suasana sangat canggung.


"Mama juga menyukai makanan Korea ya ? saya bisa mencoba membuatnya di rumah jika mama mau." Suci membahas apapun untuk menghancurkan ketegangan dan kecanggungan.


"Hemmm tidak perlu."


"Apa mama juga suka makan Tacho ? mas Riki sangat menyukainya."


Ehhh mama diam saja. Apa aku terlalu banyak bicara ?


Suci melanjutkan makannya, tanpa berkoar lagi.


"Saya juga menyukai makanan khas Mexico kecuali Tacho." Bu Merly akhirnya buka suara meski fokusnya hanya pada makanan. Tak menoleh sedikit pun pada Suci.


Ohhhh untung saja waktu itu aku tidak membuatnya.


Pembicaraan hanya sampai sebatas itu. Akhirnya mereka pun pulang diantar oleh sopir.


***


Makan malam saat ini lebih spesial karena kehadiran Bu Ayu dan Syarif. Mereka sengaja dijemput oleh Riki agar bisa berkenalan dengan kedua orangtuanya.


Riki duduk berdampingan dengan Suci, di sebelah kanannya ada Raisya. Bu Ayu dan Syarif berhadapan dengan mereka. Bu Merly dan Pak Hans masing-masing mengisi kursi di sisi kiri dan kanan, menempati kursi utama.


Berbagai hidangan sudah disusun rapi dan cantik di atas meja makan. Menunggu diambil dan dimasukan ke dalam perut. Semuanya memilih makanan berat. Hanya Bu Merly yang mengkonsumsi buah saja. Dia memang anti makan malam.


"Mas jangan menyuapiku, aku malu." Suci berbisik di telinga Riki.


"Apa sayang ? kamu mau menyuapiku ? kamu manis sekali." Riki bicara lantang. Sengaja menggoda istrinya.


Apa-apaan ? pendengaranmu tidak rusak kan ? atau kamu memang sengaja membuatku malu ?


Suci nyengir pada semua yang menatapnya.


Sudah terlanjur malu juga. Lebih baik aku melakukannya sekalian.


Terpaksa Suci menyuapi Riki. Jika saja hanya mereka berdua di ruangan itu, maka dengan senang hati Suci akan melakukannya.


Manis sekali istriku. Kamu terlihat menggemaskan saat berusaha menutupi kekesalanmu.


Riki tersenyum penuh kemenangan melihat Suci melengkungkan bibir namun mata istrinya itu menatap sinis.


"Aku juga akan menyuapimu biar adil." Riki pun melakukan hal sama pada Suci.

__ADS_1


Sudah terlanjur malu, ayo ikuti saja kemauan pak suami.


Acara suap menyuapi itu membuat yang melihat ikut malu. Pak Hans, Bu Ayu dan Syarif pun bahkan ikut tersenyum melihat tingkah mereka. Kecuali Raisya dan Bu Merly. Raisya hanya fokus menatap dalam setiap gerak-gerik Syarif.


Semakin hari bocah itu semakin tampan saja. Hey Syarif....tataplah aku sedetik saja !


Raisya yang tadinya menyerah untuk mengejar Syarif, semakin lama malah semakin menyukai adik dari iparnya itu.


Putraku benar-benar mencintai Suci. Dia bahkan tidak peduli jika ada orang lain di sekitarnya.


Bu Merly tak henti memperhatikan anak menantunya.


Makan malam berakhir dan Bu Ayu beserta Syarif pun pamit. Bu Merly menghampiri Riki di kamarnya. Saat itu putranya tengah asik bermanja-manja pada Suci. Riki tidur di pangkuan istrinya sambil memeluk pinggangnya. Dia sama sekali tak mau beranjak meski ibunya itu datang.


"Riki, mama mau bicara denganmu sekarang." Bu Merly berdiri di hadapan mereka.


"Bicara di sini saja ma..." masih setia memeluk dan tak mau menoleh pada yang mengajaknya bicara.


"Tidak bisa. Mama ingin membahas sesuatu yang penting hanya denganmu."


Suci sudah berusaha memberi kode dengan mencolek-colek punggung Riki agar dia meladeni dulu mama Merly.


"Suci dan aku adalah satu. Jadi mama tidak usah merasa sungkan. Bicara saja sekarang." Riki duduk lalu menyandarkan kepalanya di bahu Suci. Memegang dan mencium tangannya.


Bisakah kamu menjaga sikap di hadapan ibumu ? aku bertambah malu saja karena sikapmu yang manja.


Suci nyengir malu pada ibu mertua. Dia berulang kali menggaruk alisnya.


Anak ini seperti bapaknya saja waktu muda. Lupa dengan yang lain jika sedang bersama istri. Sepertinya aku memang harus pergi dari kamar ini.


"Baiklah nanti saja kita bicara. Sepertinya kalian tidak mau diganggu." Bu Merly akhirnya pergi.


"Kalau penting pasti mama akan memaksa. Dia tidak akan pergi dari sini." Memeluk erat tubuh Suci.


"Tapi aku tidak enak tadi pada mamamu. Aku mera..." bibir yang belum selesai cuap-cuap itu langsung dibungkam paksa oleh bibir milik Riki.


Ahhh kau mulai lagi mas !


Lagi dan lagi, selalu pasti berakhir dengan adegan final suami istri. Jadwal wajib sehari sekali dan semalam sekali, tidak termasuk bonus. Kenapa pakai ada bonus segala ? jangan ditanya, itu hanya akal-akalan Riki saja. Ahhh benar-benar !!!


***


Pagi ini Suci sudah bersiap untuk kembali ke aktivitas nya sebagai OB di perusahaan milik suaminya. Saat pamit pada mama mertua, wanita itu hanya berbicara hemmm saja dengan ekspresi datarnya. Padahal dalam hatinya dia merasa heran kenapa mau-maunya Suci bekerja padahal sudah menjadi istri dari seorang CEO. Mama Merly kadang pandai menyembunyikan perasaannya.


Saat di kantor.


Semua karyawan terheran-heran melihat bos mereka cengar-cengir sendiri saat berjalan melewati mereka. Padahal biasanya Riki bisa menutupinya, namun sekarang saking bahagia dan berbunga-bunga, dia tidak bisa menyembunyikan hal itu.


Riki bahagia, sangat bersemangat karena sebentar lagi dia akan meresmikan hubungan pernikahannya di mata hukum negara. Memberi tahu dunia bahwa Suci adalah miliknya. Suci adalah wanita yang sangat berharga di hidupnya.


Muncul beberapa spekulasi di kepala seluruh pegawai.


Kenapa Pak Riki senyum-senyum sendiri begitu ? apa dia sudah dapat proyek yang sangat besar ? rasanya terlalu berlebihan jika seperti itu.


Seorang karyawan menduga-duga.


Mungkin perusahaan ini akan bangkrut, jadi Pak Riki stress begitu. Jika benar begitu, gawattt !


Pemikiran pesimis dari seorang pegawai yang mempunyai banyak cicilan.

__ADS_1


Bos semakin tampan saja jika tersenyum begitu.


Pemikiran dari seorang pegawai wanita. Apa kau tidak bisa membedakan antara tersenyum sama nyengir sendirian nona ? nona ini memang sudah terlanjur kepincut dengan pesona Riki.


Di ruang OB.


Suci tengah disidang oleh ketiga rekannya dan juga oleh Pak Juned. Mereka berdiri mengelilingi Suci dan menanyakan beberapa hal.


"Kenapa kamu banyak ijin ? memangnya kamu punya kesibukan apa hah ? kamu mau dipecat ya ?!" ketua geng OB itu ngambek.


"Maaf pak. Saya benar-benar ada urusan penting, urusan keluarga." Suci memberi alasan.


"Mbak ini membuatku cemas saja. Aku takut mbak sakit lagi." Barbi ikut kesal saking mengkhawatirkan Suci.


"Ayo mbak ngaku saja. Apa yang sebenarnya sudah terjadi sama mbak. Bikin penasaran saja." Arif menunjuk-nunjuk wajah Suci.


"Mbak tolong jujur saja pada kami. Sebenarnya ada apa sih ? belakangan ini mbak suka bolos kerja dan bersikap aneh." Irfan menimpali.


Bagaimana ini ? aku tidak mungkin memberi tahu mereka. Belum saatnya !


"Ehemmm jadi...saya memang akhir-akhir ini sedang sibuk dengan keluarga saya dan tidak mungkin jika meninggalkan mereka di rumah. Untuk itu saya minta ijin untuk tidak masuk kerja. Ya..begitulah alasannya !" Suci melirik kepada mereka secara bergantian. Harap-harap cemas.


Ayooo percaya saja ! jangan lagi bertanya yang lebih detail !


"Suci tolong ke ruangan saya sekarang. Sekalian bawakan kopi susu untuk saya !" Riki tiba-tiba muncul dan menyelamatkan Suci dari situasi yang membuatnya tersudut.


Syukurlah kamu datang di saat yang tepat mas.


Suci bisa bernafas lega.


"Sekarang kalian kembali bekerja dan jangan lagi mengganggu Suci !" Riki kembali ke ruangannya dengan begitu keren. Dia seolah telah menjadi pahlawan bagi istrinya.


Aku tahu pasti mereka akan banyak bertanya. Aku tidak mungkin diam saja membiarkan mereka membuatmu pusing.


Semua orang menurut. Dan Suci langsung menuju lantai atas sambil membawa minuman untuk pak bos.


***


Suci meletakkan kopi susu itu di meja kerja. Riki menghampiri dan mengajaknya duduk di sofa.


"Kamu tidak apa-apa kan ?" Riki mengelus lembut kepala Suci.


"Tidak mas aku hanya bingung saja harus menjawab apa saat mereka banyak bertanya. Untung mas datang. Terima kasih ya mas."


"Jangan berterima kasih. Aku memang ingin selalu melindungimu dari hal kecil sekalipun." Tangannya sudah melingkar di pinggang Suci.


Aku tahu jika dia sudah senyum mencurigakan begitu, berarti otaknya sedang ngeres.


"Pak....saya permisi." Suci sudah bersiap kabur namun gagal karena Riki lebih memperkuat pelukannya.


Ahhh tolong mas, jangan seperti ini !


"Nanti ada orang yang melihat kita." Mencoba melepaskan diri.


"Tidak akan ada. Sebelum masuk mereka selalu mengetuk pintu dulu." Tangannya sudah memegang wajah Suci dan langsung memburu bibirnya dengan lembut.


Ceklek ! pintu terbuka begitu saja. Seseorang tanpa ijin sudah masuk dan mengagetkan sekaligus mengganggu kegiatan asik mereka.


Apa yang sedang mereka lakukan barusan ? apa aku tidak salah lihat ?

__ADS_1


Orang itu mengucek matanya dan menggelengkan kepala. Takut apa yang dilihatnya hanya halusinasi.


__ADS_2