
Yusuf melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mungkin dia akan mencoba mencari Andini di rumah pria yang diserempet Pak Yadi. Dia ingin memastikan sendiri keberadaan istrinya. Mungkin saja ada petunjuk di sana.
Saat itu ponselnya bergetar. Sebuah panggilan telpon dari nomor asing, segera dia terima. Siapa tahu ada hubungannya dengan Andini.
"Tuan, ini saya, Meta."
"Meta, kamu dan Andini ada dimana sekarang ?" tetap menyetir, suaranya terdengar panik.
"Saya baru keluar dari Rumah Sakit. Maaf, tuan. Saya tidak bersama dengan nona. Saya belum tahu dia ada dimana saat ini."
"Jelaskan tentang apa yang terjadi pada kalian !" Menepikan dulu kendaraannya.
Meta menjelaskan semuanya. Yusuf mengusap kasar wajahnya. Dia merasa bersalah pada Andini. Harusnya dia memberikan penjagaan lebih ekstra pada istrinya itu.
"Sekarang kamu pulang dengan siapa ?" tanya Yusuf.
"Suami saya sedang dalam perjalanan ke sini."
"Meta, terima kasih banyak karena sudah berusaha menjaga Andini. Maafkan aku, karena sudah melibatkan mu dalam masalah besar."
"Tidak apa-apa, tuan. Saya juga tidak mau terjadi hal yang buruk pada Andini."
Pembicaraan berakhir. Willy mengetuk kaca mobil Yusuf. "Tuan, anda baik-baik saja ?" Dia khawatir karena tiba-tiba tuannya menepikan mobil.
Yusuf membuka kaca mobilnya, "Apa aku akan baik-baik saja di saat seperti ini ? Aku sebentar lagi jadi gila jika tidak segera bertemu istriku. Jika kau tidak bisa membantu, maka jangan perlihatkan wajahmu di depanku !" berteriak-teriak.
"Sebentar, tuan. Anak buah saya menelpon." Willy merogoh saku jasnya. Panggilan terhubung.
"..........."
"Dimana pria itu saat ini ?"
"........"
"Baik, jangan sampai dia kabur. Aku dan tuan Yusuf akan segera ke sana." Menyimpan kembali ponselnya.
"Ada apa, Will ? Apa Andini sudah ditemukan ?"
"Belum, tapi orang suruhan saya sudah berhasil menangkap pria yang diduga sudah menjebak nona."
"Cepat katakan dimana pria brengsek itu ?!"
"Biar saya yang mengantar anda, tuan. Anda tidak mungkin terus mengemudi dalam keadaan panik seperti itu."
"Terserah, cepat !" Menutup kaca mobilnya lalu beringsut agar Willy dapat duduk di kursi kemudi.
Sebelum menghidupkan mesin, asisten itu mengubungi seseorang agar mengamankan kendaraannya yang ditinggal di tempat itu.
"Cepatlah, Willy !" sudah tidak sabar.
Tanpa berkata, asisten itu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
***
Seorang pria yang wajahnya sudah bonyok, tengah terikat pada kursi yang dia duduki. Nyalinya benar-benar ciut saat mendengar derap langkah kaki dua pria yang menghampirinya. Ingin sekali dia menghilang saja dari sana, agar tak menyaksikan kemurkaan pria-pria itu.
"Tunjukkan wajahmu pada tuan !" Willy berdiri di belakang Alex, lalu mendongakkan kepala pria itu dengan cara menjambak rambutnya ke belakang.
Tubuhnya gemetaran melihat sorot mata mematikan milik pria bermata sipit yang ada di depannya. Menyesal, benar-benar menyesal karena sudah berani mengusik barang berharga milik Yusuf. Harusnya dia tidak membuang waktu dan melakukan hal bodoh yang akan mengantarkannya ke gerbang pintu neraka.
Rahang Yusuf mengeras. Kedua tangannya terkepal kuat. Darahnya mendidih. Dadanya terasa begitu panas. Ingin sekali dia menghabisi pria brengsek itu detik ini juga. Tapi dia harus sedikit bersabar, Alex harus memberi tahunya mengenai keberadaan Andini.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Andini, dimana istriku sekarang ?" berteriak-teriak.
__ADS_1
"A...a..ku, awww ampun !!!" meringis kesakitan karena Willy menyetrumnya. "Bicara yang benar, brengsek !" ucap asisten.
"Aku tidak tahu wanita itu ada dimana ?"
"Apa kau bilang ? bicara yang jelas, apa yang sebenarnya kau lakukan ?!" Yusuf mencengkram dagunya dengan kasar.
"Aku memang merencanakan ini sejak kau menikahi wanita itu. Tapi aku baru bisa punya kesempatan saat pagi tadi."
Dada Yusuf naik turun memendam amarah. Pria brengsek di hadapannya itu ternyata sangat berniat mengincar Andini.
"Setiap hari aku memantau situasi, dan saat kau pergi ke luar kota, barulah aku bisa bertindak."
Alex terus mengatakan apa yang dia lakukan pada Andini. Pria itu terus berbicara meski dengan suara tersendat, karena Yusuf terus menyerangnya dengan pukulan.
"Kenapa kau melakukan itu ? Apa tujuanmu sebenarnya ?" berteriak, mengamuk bahkan memukul kepala Alex dengan sebuah kursi.
"Aku tidak akan mengatakannya meskipun kau membunuhku." Alex tersenyum kelu.
"Ahhhhh !" Yusuf menjungkirkan kursi yang diduduki Alex hingga pria itu ikut tersungkur. Menendang keras tubuh yang meringkuk itu.
Willy berjongkok untuk menyetrum lagi tubuh Alex. Tapi pria itu masih bungkam. "Katakan, apa tujuanmu sebenarnya ? Kenapa kau mengincar nona ?" Alex tidak mau menjawab.
"Kau pikir bisa menyembunyikan itu dariku ? Aku akan pastikan jika aku akan mendapatkan jawaban itu meski bukan dari mulutmu !" ucap Yusuf sambil menginjak dadanya.
Sebenarnya Yusuf masih ingin menghajar pria itu sampai sekarat. Tapi, dia tidak mau menjadi seorang pembunuh. Akan jauh lebih baik jika Alex mendapatkan hukuman yang lebih berat dengan berada di balik jeruji besi.
Willy berdiri, "Tidak menyenangkan jika kau harus lenyap dengan cara yang mudah. Lebih baik kau membusuk di penjara. Mati perlahan di sana tanpa ada yang peduli. Itu akan jauh lebih menyakitkan !"
Yusuf dan asistennya pergi dari sana. Meninggalkan Alex yang terbaring terikat bersama kursi itu. Dalam ruangan gelap dan dingin. Besok pagi anak buah Willy akan melemparnya ke kantor polisi.
***
Malam ini di kamar tamu rumah Bu Vivian. Andini duduk di atas tempat tidur dengan memeluk lututnya sendiri. Sepi dan dingin yang dia rasakan saat ini. Dia begitu merindukan sosok suaminya. Dia ingin melihat wajah itu, senyumnya dan segalanya yang ada pada Yusuf.
"Dia sedang apa sekarang ? Aku ingin bertemu. Aku rindu. Mungkin dia sudah pulang, atau masih ada di luar kota. Apa dia saat ini merindukan aku ? Pasti dia dan keluarganya saat ini sedang mencemaskan aku. Maafkan aku. Aku bukannya mau membuat kalian terluka. Aku hanya tidak sanggup untuk kembali ke rumah dengan keadaanku yang sudah kotor ini."
"Meta dan Pak Yadi, bagaimana keadaan mereka saat ini ? Semoga mereka baik-baik saja." Pikiran Andini melebar kemana-mana.
"Pria bernama Alex," bercucuran air mata lagi. "Kenapa dia merencanakan kejahatan ini, padahal kami baru saja bertemu ?"
Andini menggosok-gosok lagi tubuhnya dengan keras. Mengingat pria bejad itu membuat Dini merasa jijik pada dirinya sendiri. "Aku ini kotor, aku hina !" menangis histeris. "Kenapa hidupku selalu menderita ? Baru saja aku merasakan kebahagiaan, tapi sekarang sudah musnah. Apa yang harus aku lakukan ? Aku tidak mau berpisah dengan suamiku, tapi.....aku tidak pantas lagi bersamanya."
Rasa rindu bergelut dengan rasa rendah diri dalam benaknya. Semakin membuatnya terpuruk. Semua sudah terjadi, tak mungkin lagi dapat dihindari. Entah akan seperti apa nasibnya nanti ? Mungkin jika sudah benar-benar siap menemui Yusuf dan menjelaskan semuanya, Andini hanya bisa pasrah dengan keputusan yang akan diambil suaminya.
***
Usai menghajar Alex habis-habisan, Yusuf bersama asistennya pergi ke apartemen. Willy berhasil membujuknya untuk istirahat sejenak di sana karena jaraknya yang lebih dekat dari tempat penyekapan Alex.
Tadinya Yusuf tidak mau berhenti untuk mencari istrinya, tak peduli jika tubuhnya telah lelah sekalipun. "Jika tuan sakit, maka anda tidak bisa lagi mencari nona. Jika pun nona sudah ditemukan maka dia akan bersedih jika melihat anda sakit, tuan." Itulah perkataan yang membuat Yusuf luluh.
Esoknya pun saat tuannya tak mau sarapan, Willy memakai kata-kata yang sama untuk membujuk Yusuf. Barulah pria itu mau mengunyah makanan meski hanya beberapa suap saja.
Usai sarapan, mereka kembali meluncur untuk mencari Andini. Saat di perjalanan, ponsel Willy bergetar. Salah seorang suruhannya, menghubungi. Willy berbicara padanya memakai earphone agar dirinya bisa fokus mengemudi.
"Ada informasi penting, tuan." Ucap orang di sebrang sana.
"Katakan !"
".........."
"Baik, tangkap wanita itu juga !"
"Siap, tuan !"
__ADS_1
Saat Willy selesai bertelepon, Yusuf langsung memberondongi nya dengan banyak pertanyaan. "Will, apa itu anak buahmu ? Apa yang dia bilang ? Apa Andini sudah berhasil ditemukan ? Dimana istriku sekarang ? Cepat bawa aku menemuinya ! Aku sangat merindukannya, Will."
"Maaf, tuan. Itu memang orang suruhan saya, tapi dia memberi kabar lain. Nona Andini memang belum berhasil ditemukan, tapi ada informasi yang sangat penting. Semoga saja ini akan menjadi petunjuk."
Yusuf mendengus murka, "Informasi yang penting itu adalah berita ditemukannya Andini."
"Tuan, ternyata Alex adalah kekasih Yasmin, saudari tiri nona. Saya rasa perempuan itu ada kaitannya dengan kasus ini. Sekarang kita akan menemuinya di tempat kemarin Alex disekap."
"Apa ? Dasar wanita j***ng ! Aku tidak akan mengampuninya !" Sorot matanya begitu merah menyala.
Willy mempercepat laju mobilnya. Dalam beberapa menit mereka sudah sampai di tempat tujuan. Yusuf segera turun dari mobil dan berjalan cepat, masuk ke rumah kosong itu. Willy dengan sigap mengikuti langkah kaki tuannya.
Saat pintu terbuka, terlihat seorang gadis yang terikat dalam posisi berdiri. Tangannya tergantung kuat pada tali yang mencengkramnya. Tubuhnya gemetaran, dan matanya bercucuran air mata ketakutan. Meski mulutnya tak dibekap, tapi wanita itu tak berani berucap sedikit pun.
Untuk pertama kalinya, pria tampan itu menghampirinya. Tapi bukan untuk bermanis-manis padanya. Yusuf lebih terlihat seperti malaikat yang bersiap mencabut nyawanya. Baru kali ini Yusuf begitu menyeramkan dalam penglihatannya.
Meski takut, tapi Yasmin tak dapat mengalihkan pandangannya dari pria itu. Yusuf tetap tampan dalam keadaan menakutkan seperti itu.
Plakkk !!! Sebuah tamparan keras didaratkan pada pipi mulus Yasmin. Sudut bibirnya mengeluarkan darah. Wanita itu langsung menangis.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Andini ?" Yusuf tidak lagi bisa bersabar pada gadis itu. Tak peduli lagi jika Yasmin adalah seorang perempuan.
"Sa....saya ti...tidak mengerti tuan."
"Bohong ! Aku tahu jika kau adalah wanita yang licik. Dimana istriku ? Cepat katakan dimana Andini ?!" Berteriak-teriak hingga membuat Yasmin makin gemetaran.
"Sebaiknya anda jujur saja, nona ! Karena kami sebenarnya sudah tahu kejahatan apa yang sudah anda perbuat." Ucap Willy memancingnya.
"Sa....saya, maaf tuan ! Saya memang salah, jangan habisi saya !"
"Jika kau mau jujur, maka aku akan mengampuni nyawamu !" Yusuf menatapnya tajam.
Akhirnya Yasmin mulai bercerita. Dia memang sengaja ingin memisahkan Andini dengan Yusuf. Caranya adalah meminta bantuan Alex, kekasih yang dengan bodohnya begitu mencintainya. Hingga rela melakukan apapun demi Yasmin.
Belakangan ini dia dan Alex selalu mengintai pergerakan Andini. Apalagi saat mengetahui jika istri Yusuf itu mengikuti sekolah lagi. Peluang mereka semakin besar ketika Yusuf berangkat ke luar kota. Rencana mereka akan berjalan dengan lancar dan leluasa dilakukan.
Yasmin yang bergerak untuk mengikuti kemana Andini pergi. Sedangkan Alex menunggu perintah dari kekasihnya untuk beraksi. Dan di pagi itu, Alex dengan lihainya berpura-pura melintas di depan mobil yang Andini tumpangi. Aktingnya sungguh patut dipuji karena dia berani mempertaruhkan nyawa agar Andini percaya. Untung saja Tuhan belum menakdirkannya tewas saat itu juga.
Setelah berhasil mengajak Andini dan sopir itu ke rumah miliknya, Alex yang sudah merencanakan ini dengan matang, menyuruh bibi pelayan untuk membuat minuman yang dicampur obat tidur. Sayangnya Pak Yadi belum meminumnya karena masuk ke kamar mandi, jadi pria itu terpaksa dipukul dengan sebuah balok kayu oleh si pelayan.
Sedangkan Andini berhasil dilumpuhkan. Namun saat Alex baru saja akan menyentuhnya, tiba-tiba gangguan datang dari Meta. Pria itu limbung setelah bagian intinya ditendang dengan keras oleh teman Andini.
Di saat itulah Yasmin datang lalu memukul Meta menggunakan vase bunga.
"Tapi sumpah, tuan. Saya benar-benar tidak mengetahui dimana wanita itu berada. Mungkin dia kabur darimu, tuan." Tersenyum puas.
"Kau dan pacar bodohmu itu benar-benar bukan manusia. Aku akan memastikan jika kalian berdua akan mendekam di penjara dalam waktu yang lama." Mencengkram leher wanita itu dengan kencang.
Yasmin tersenyum sinis meski sebenarnya dadanya mulai sesak. Yusuf mengernyit, "Kenapa kau dari tadi tersenyum ? Rencana apalagi yang kau sembunyikan ?" melepas tangannya.
Yasmin terbahak, "Anda yang bodoh, tuan. Kenapa lebih memilih anak haram itu daripada aku ? Aku jauh lebih baik dari si Andini !"
"Diam ! Jangan berani menghina istriku !" mencengkram lagi leher Yasmin.
"Silahkan jika ingin menjebloskan aku ke dalam penjara. Bagaimanapun juga akulah pemenangnya. Setelah kejadian itu, Andini tidak akan pernah mau bertemu lagi denganmu. Dia pasti berpikir jika dirinya adalah wanita paling kotor di dunia. Tidak pantas untuk bersama dengan tuan Yusuf. Benar, kan tuan ?!" masih tersenyum sinis.
Yusuf melepas cengkraman tangannya, "Kau benar-benar wanita yang tidak waras !"
"Ya, aku tidak mau jika posisiku dikalahkan oleh Andini dalam hal apapun. Jika aku tidak bisa mendapatkan cintamu, maka anak haram itu pun tidak boleh bahagia bersamamu ! Hahaha !" berteriak-teriak.
Yusuf menatap asistennya, kemudian berjalan meninggalkan ruangan itu. Willy mendekati Yasmin lalu mencengkram kuat lehernya. "Tertawalah sepuasmu ! Sebentar lagi kau akan digiring ke kantor polisi. Dan untuk nona Andini, kami akan segera membawanya kembali." Berbalik lalu melangkah.
"Aku akan laporkan balik tindakan kasar kalian padaku barusan." Gertak wanita itu.
__ADS_1
Willy tersenyum smirk tanpa menoleh, "Silahkan saja jika kau bisa. Aku yakin kau tidak akan menang. Kasus kejahatanmu jauh lebih besar daripada apa yang sudah kami perbuat."
Yasmin berteriak tak terima. Kenapa rencananya bisa cepat terbongkar ? Sejurus kemudian dia kembali tertawa. Setidaknya dia tidak akan menyesal karena kini Andini menghilang. Yasmin yakin betul jika wanita yang dia benci tidak akan mau lagi menemui Yusuf. Bukankah itu poin utamanya ?