Seperti Sampah

Seperti Sampah
Bab 21.


__ADS_3

Yusuf berkata dengan penuh kebanggaan, "Kalian pasti sudah mengenal calon istriku !" pinggang Andini lebih dieratkan pada pinggangnya.


Andini mencoba menutupi kegugupannya. Dia tersenyum manis pada ketiga orang di depannya yang kini masih shock. Sementara Willy berdiam diri menikmati wajah konyol pemilik rumah itu.


Yusuf berdehem, "Baikah, kami akan pergi lagi jika kalian hanya diam saja seperti ini."


"Tidak, tuan. Maaf, kami hanya terkejut melihat anda bersama....., apa benar perempuan ini adalah calon istri anda ?" Bu Rahma mendelik kesal pada gadis yang menempel dengan tamunya.


Yasmin ikut bicara dengan nada yang tidak enak didengar. "Tuan Yusuf pasti hanya bercanda kan ?! mana mungkin anda akan menikahi bekas pembantu kami. Meskipun tampilannya dihias seperti seorang putri, tapi tetap saja tidak akan merubah jati dirinya sebagai pelayan." Gadis itu benar-benar tak bisa mengendalikan emosi. Dengan tangan bersilang di dada, dia menatap tajam penuh kebencian pada saingannya.


Andini sudah biasa mendengar hinaan dari mulut berbisa milik gadis di hadapannya. Namun, kali ini justru dirinya malah merasa lebih sakit hati. Mungkin karena saat ini Yasmin merendahkannya di hadapan Yusuf. Andini seolah tidak punya harga diri di depan calon suaminya.


Saat ini Yusuf tengah menatap dengan murka wajah gadis yang menghina Andini. Rahangnya mengeras menahan amarah. Giginya berdencit seiring getaran tangannya yang mengepal. Jika saja Yasmin adalah seorang pria, maka saat ini Yusuf sudah memberinya bogem mentah.


"Jaga bicaramu ! jika kau berani lagi menghina Andini, maka aku tidak akan segan untuk merobek mulutmu !" Tatapannya beralih pada Pak Daniel, "Aku beritahu, seorang anak yang diperlakukan seperti seorang pelayan, maka itu tidak akan merubah jati dirinya sebagai anak kandung !"


Jantung Pak Daniel mendadak berhenti berdetak. Dadanya terasa sesak. Perkataan tuan Yusuf jelas-jelas ditujukan padanya. Itu berarti rahasianya sudah terbongkar.


Seketika itu juga Yasmin menundukkan kepalanya. Mendadak mulutnya tak dapat terbuka. Bu Rahma ikut menunduk. Wanita itu takut kena semprot karena tadi dia pun telah menghina Andini. Apalagi saat ini kebejatan mereka sepertinya sudah terbongkar.


Jika Yusuf sudah mengetahuinya, maka Daniel tidak bisa lagi menyangkal hal itu. Bahkan dia saat ini harus pandai memanfaatkan situasi, setidaknya meskipun Yasmin gagal menggaet Yusuf, masih ada putrinya yang lain yang ternyata lebih lincah untuk merebut hati pria tajir itu. Saatnya bersandiwara sebagai ayah yang bertanggung jawab.


Pak Daniel tiba-tiba mendekat pada Andini. Pria itu menatap lekat sambil bercucuran air mata. Kedua tangannya menyentuh pundak Andini.


"Ternyata kamu memang benar Andini." Pak Daniel memeluk erat anaknya sambil menangis tersedu. Sedangkan gadis itu hanya membuntang. Tak percaya jika ayah kandungnya itu akan bersikap di luar dugaan.


Bu Rahma dan Yasmin melongo. Sedangkan Yusuf dan asistennya menatap pria agak gendut itu dengan malas. Sikap Daniel benar-benar mencurigakan dan terlihat tidak natural. Pasti pria licik itu hanya berakting.


Pak Daniel melanjutkan sandiwaranya. Dia meraup wajah Andini. Tangis buaya masih dipaksakan mengalir dari matanya. "Ayah menyesal karena membiarkan mu pergi dari rumah ini. Apa kamu tahu, ayah sampai terbaring sakit karena memikirkan dimana keberadaan mu selama ini."


Andini tak kuat lagi menahan bulir bening dari pelupuk matanya. Gadis itu saat ini menangis tersedu. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya.


"Lihatlah, Will ! pria culas itu sedang berakting. Sayangnya aktingnya itu sangat jelek." Yusuf berbisik pada pria di sebelahnya.


"Benar, tuan. Terasa sekali jika sikapnya itu tidak tulus. Tapi sepertinya nona mempercayainya." Willy juga berbisik sambil menunduk sopan.


Yusuf memijit pelipisnya, merasa ilfil dengan sikap Pak Daniel. Bu Rahma dan putrinya saling pandang. Keduanya tak habis pikir, kenapa Daniel bisa secepat itu berubah ?


"Maafkan ayahmu yang sudah berbuat jahat selama ini. Ayah sangat menyesal. Setelah kamu pergi dari rumah ini, barulah ayah sadar jika ayah merasa kehilangan dirimu. Ayah bangga mempunyai putri sebaik mu." Pak Daniel kembali memeluk Andini, tapi gadis itu tak membalas.

__ADS_1


Yusuf berdehem keras hingga akhirnya Pak Daniel melepaskan pelukannya. "Maaf, tuan. Saya sangat terharu karena bisa bertemu lagi dengan anak kandung saya, hingga melupakan keberadaan anda. Mari kita masuk."


Yusuf menoleh pada Andini lalu menyeka air matanya. "Kita bisa pulang saat ini juga, jika kamu merasa tidak nyaman berada di sini." Andini menggeleng pelan lalu tersenyum, "Kita masuk saja."


Pak Daniel menepuk pelan bahu Andini, "Mana mungkin kamu merasa tidak nyaman, ini kan rumahmu juga."


Yusuf menatapnya tak suka. Pria itu akhirnya melepaskan tangannya dari bahu putri yang selama ini dia abaikan. Pria itu tersenyum seramah mungkin meski Yusuf masih menunjukkan ekspresi kebencian. "Mari silahkan masuk !" melangkah lebih dulu diikuti istri dan anaknya.


Yusuf menggandeng tangan gadis di sampingnya, memberi pesan jika saat ini akan selalu ada dirinya untuk melindungi Andini. Gadis itu tersenyum, merasa disayangi dan dihargai. Keduanya melangkah ke dalam rumah itu diikuti Willy.


Sampai di ruang makan. Yusuf menarik kursi yang akan diduduki Andini. Setelah gadis itu duduk, barulah dia ikut duduk di sebelah. Asisten pribadi Yusuf duduk di samping tuannya.


Bu Rahma dan Pak Daniel malam ini benar-benar bersikap manis pada Andini. Nyonya rumah itu bahkan mengambilkan makanan dan minuman untuk gadis itu. Mereka harus bersikap baik karena sekarang Andini adalah gadis kesayangan tuan Yusuf.


"Andini, tambah lagi lauknya. Bukankah kamu sangat menyukai ini ?!" Bu Rahma menyendokkan satu potong udang ke piring gadis yang sebenarnya sangat dia benci.


"Sudah, Bu cukup !" Andini menolak dengan lembut.


Matanya kembali berkaca-kaca. Teringat dulu hingga kemarin-kemarin saat masih tinggal di rumah ini. Baru kali ini, nyonya dan tuan rumah seperhatian ini padanya. Dulu Bu Rahma bahkan tak pernah mengijinkannya memakan segala macam protein hewani. Dia hanya ditugaskan untuk memasak, dilarang keras memakannya ! tapi lihat malam ini, bahkan Yasmin sampai monyong gara-gara terabaikan. Biasanya dialah yang lebih diutamakan dalam segala hal.


Yusuf dan Willy semakin lelah dengan drama orang tua penyayang, yang diperankan Pak Daniel dan istrinya itu. Bahkan sang asisten berani menyindir sikap memalukan sang pemilik rumah.


Pak Daniel dan istrinya langsung bungkam, tak lagi mengeluarkan kata-kata yang menjilat. Yasmin menatap Andini dengan tajam, penuh kebencian dan iri hati. Harga dirinya terusik melihat gadis yang sangat dia benci, kini terlihat sangat cantik dan elegan. Padahal selama ini, Yasminlah yang berada di posisi lebih tinggi dari gadis itu.


Yasmin lebih cantik dan menarik. Apa yang dia kenakan adalah barang-barang mahal. Dulu Andini sangat jauh di bawahnya. Tapi saat ini, Yasmin melihat semua barang yang menempel di tubuh Andini, adalah barang-barang mewah yang harganya jauh lebih tinggi dari miliknya. Apalagi sekarang Andini ditemani seorang pria tampan dan kaya. Itu jelas menunjukkan jika posisinya kini berada jauh di bawah Andini.


Harusnya aku yang sekarang duduk di samping tuan Yusuf ! ini tidak adil ! perempuan rendah seperti Andini sama sekali tidak pantas berada di dekatnya !


Tetap saja gadis itu tak mau kalah jika berkompetisi dengan Andini. Dia tidak mau mengakui jika dirinya lebih rendah dibanding gadis yang selalu dia hina.


Makan malam luar biasa itu pun berakhir. Pak Daniel dan istrinya kembali pura-pura bersikap manis. Mereka memeluk Andini, "Andini, rumahmu kan di sini, kenapa harus pergi ? momy senang kok, jika kamu bersedia tinggal bersama kami lagi."


"Kamu mau pulang kemana ? ini kan rumah ayah, rumahmu juga."


Yusuf kembali menarik tangan Andini, lalu merangkul pinggangnya. Dia menatap tajam pada kedua orang di depannya. "Setelah kalian usir, Andini tinggal di rumah calon suaminya. Jadi, itu adalah tempat tinggalnya saat ini. Permisi !" Keduanya melenggang pergi.


Pak Daniel beserta anak dan istrinya kembali shock. Kelakuan bejad mereka sudah terbongkar.


Sebelum mengekor tuannya, Willy berbicara pada pemilik rumah. "Tuan Yusuf sudah mengetahui semua yang pernah kalian lakukan pada nona Andini. Jadi mulai saat ini, belajarlah bersikap layaknya manusia yang punya nurani !"

__ADS_1


Bu Rahma dan Pak Daniel dibuat membisu. Mereka benar-benar tak dapat membela diri.


"Berarti sekarang kita harus bersikap lebih baik lagi pada Andini. Siapa tahu gadis itu bisa membantu ayah untuk kembali ke Perusahaan itu." Pak Daniel berkacak pinggang, wajahnya masih tegang.


"Tadinya momy pikir ayah benar-benar mau menerima anak haram itu. Ternyata hanya berakting. Yasmin, harusnya kamu juga bisa pura-pura bersikap manis pada Andini."


"Tidak akan pernah ! sampai kapanpun aku tidak rela jika gadis rendahan itu hidup bahagia ! momy tahu, harusnya aku yang ada di posisinya saat ini !" Yasmin berteriak-teriak sambil merengek.


"Sudah, jangan seperti bocah ! itu salahmu sendiri kenapa tidak pandai menarik perhatian tuan Yusuf." Pak Daniel berlalu.


"Momy mengerti, tapi yang harus kita lakukan sekarang adalah, pura-pura mendukung Andini, agar kita bisa kecipratan rezekinya." Bu Rahma pergi menyusul suaminya.


Sementara Yasmin tambah uring-uringan. "Aku tidak rela perempuan rendah itu mengambil yang harusnya jadi milikku ! harusnya aku yang tinggal serumah dengan tuan Yusuf ! aku yang lebih pantas menjadi calon istrinya !" Yasmin semakin tak terkendali. Dia melempar barang-barang yang ada di sekitarnya.


Bu Rahma kembali turun untuk mengecek keadaan. "Ya ampun, Yasmin ! apa kamu sudah tidak waras ? kenapa vas bunga dan guci punya momy kamu pecahkan ? kamu tahu kan, jika itu harganya mahal ?!" berteriak-teriak karena panik dan marah.


Sementara Yasmin tak mempedulikan amarah ibunya. Dia sendiri masih tenggelam dalam pusaran kedengkian dalam hatinya.


***


Di dalam mobil saat perjalanan pulang.


Andini menundukkan kepalanya, matanya berkaca-kaca. Dia masih mengingat perlakuan istimewa dari Bu Rahma dan ayahnya yang tiba-tiba. Hatinya mencelos, semakin manis sikap kedua orang itu, dirinya semakin sakit. Andini tahu persis jika mereka tidak tulus.


Yusuf menoleh, "Kamu percaya, jika ayahmu sudah berubah ?"


Andini tersenyum kelu, masih menunduk. "Tidak ! aku sangat hafal karakternya. Dia tidak setulus itu saat memeluk ku, dan menyebut dirinya sebagai ayah." Andini menjeda kalimatnya sejenak.


Yusuf masih menatapnya dalam. Gadis itu sedikit mendongak. Tatapannya sendu ke arah depan. "Aku hanya ingin menikmati sedikit sandiwara ayah dan juga istrinya. Mungkin begitulah jika seandainya mereka benar-benar menyayangiku. Hanya saja jika tadi bukan akting, pasti tangisku ini adalah tangis kebahagiaan."


Air matanya tak dapat lagi dibendung. Ini adalah ekspresi kesedihan mendalam. Jauh lebih sakit saat dirinya diperlakukan buruk oleh ketiga orang jahat itu. Sungguh miris sekali, seorang ayah kandung mati-matian bersandiwara bersikap baik pada anaknya, hanya karena pencitraan saja.


Andini tersedu, tapi mulutnya masih ingin bicara. Ingin mengeluarkan unek-unek dalam hatinya. Dia menoleh pada pria yang setia menatapnya. "Ayah baik padaku karena kamu, Yusuf ! dia tidak tulus ingin mengakui diriku. Apa aku memang tidak pantas menjadi anaknya ? kenapa dia harus bersandiwara dulu ketika ingin memeluk ku ? sejak kecil aku menginginkan pelukan dari ayah, baru tadi aku mendapatkannya. Aku ingin menikmatinya meskipun itu adalah suatu kebohongan."


Yusuf memeluknya erat, "Dia yang tidak pantas menjadi ayah kandungmu. Jangan lagi memikirkannya, jangan pedulikan orang yang tidak mengharapkan dirimu ! masih ada aku dan keluargaku yang dengan senang hati akan selalu menyayangi kamu."


Andini menumpahkan kepedihannya dengan bersandar di dada Yusuf. Pria itu mengelus rambut tergerai milik Dini. Sungguh dadanya terasa sesak menyaksikan langsung kesedihan dari mata Andini. Dia tak bisa membayangkan bagaimana gadis itu dapat bertahan selama ini, hidup bersama orang-orang kejam di rumah terkutuk milik Daniel.


Andini adalah gadis yang kuat, mampu menghadapi semua kemalangan hidupnya sendirian. Tapi, itu tidak akan lagi terjadi karena Yusuf tidak akan membiarkan siapapun melukai gadis yang amat dia cintai.

__ADS_1


Willy yang sedari tadi menangkap suara-suara di belakangnya, ikut merasa bersedih. Dia tak dapat membayangkan jika berada di posisi Andini. Mungkin nasibnya jauh lebih beruntung karena dia mempunyai ayah yang sangat mencintainya, meskipun sudah tiada.


__ADS_2