
Sampai di ruangan Bos. Suci menelisik ke segala penjuru ruangan itu. Memperhatikan setiap sudutnya.
Harus mulai dari mana ini ? perasaan ruangan ini sudah sangat nyaman menurutku. Apanya yang kurang ? aku juga sama sekali tidak tahu seleranya seperti apa.
Suci menghela nafas sebelum memulai pekerjaannya.
Ok pertama bereskan dulu barang yang kurang rapi lalu menyapu dan mengepel lantai dengan sebersih mungkin. Lap meja dan kursi sampai mengkilat. Mungkin jika ditambah sedikit bunga hidup bisa membuat ruangan ini segar. Setelah tempat kerja Bos cantik aku harus membuatkan kopi untuknya. Ayo cepat lakukan sekarang juga jangan sampai saat Bos datang aku masih belum selesai. Ayoo semangat !!!
Semua rencana menata ruangan itu pun dilaksanakan secepat kilat dengan penuh semangat. Meski peluh sudah menetes namun tak membuatnya lelah. Suci merasakan energinya saat itu sangat besar. Dia melakukan pekerjaan itu dengan ceria dan bahagia.
Sekarang tinggal menyeduh kopi. Ayo cepat...!!!
"Bos sukanya kopi yang agak pahit, manis, manisnya sedikit atau bagaimana ? tidak ada yang tahu juga jadi aku harus berpikir dan mengira-ngira sendiri. Bismillah saja...lakukan dengan penuh cinta pasti akan diterima dengan cinta juga. Semoga aku berhasil membuatnya terkesan."
Kini secangkir kopi susu sudah ada di meja kerja Bos. Suci memeriksa kembali semua hasil kerjanya takut ada yang kurang rapi.
Menurutku ini sudah maksimal ku kerjakan sebaik yang ku bisa. Semoga Bos suka dan aku bisa dapat pekerjaan ini.
Suci kembali ke lantai bawah menuju ruangan para OB.
"Gimana Suci kamu sudah selesai dengan tugas yang saya berikan ?" Pak Juned atasan Suci, atau karyawan OB suka menyebutnya ketua geng OB.
"Sudah pak."
"Saya harap kamu berhasil. Saya sudah bosan terus-terusan mencari orang hanya untuk membuatkan kopi dan merapikan tempat kerja Bos."
"Memang Bos kita itu seperti apa orangnya ?"
"Sebenarnya baik sih cuma ya itu saja yang nyeleneh dari si Bos. Kalau dia gak minum kopi yang pas dengan seleranya maka ya gak apa-apa sih...cuman pasti Bos langsung minta ganti orang. Padahal ya tinggal ganti kopinya aja yang baru...ini malah suruh ganti orangnya."
"Ya mungkin maksudnya bikin kopi baru oleh orang yang sama rasanya gak jauh beda." Suci mencoba menerka.
__ADS_1
"Tahu ah saya suka pusing jika membahasnya. Sekarang kamu tunggu dulu saja di sini. Gak usah kerja dulu karena belum pasti juga kamu diterima oleh si Bos. Saya sekarang mau ke ruangan Bos untuk mengetahui bagaimana pendapatnya mengenai hasil kerjamu.Ok !"
Suci hanya mengangguk. Namun dia tidak bisa hanya berdiam diri menunggu. Dia memutuskan membantu karyawan lain yang tengah membuatkan minuman untuk para staf kantor.
"Makasih ya mbak udah mau bantu. Kebetulan saya memang lagi agak kerepotan. Saya Barbi, nama mbak siapa ?" mengulurkan tangan dan tersenyum.
"Saya Suci." Balas tersenyum.
"Saya permisi dulu mau anterin minuman ini. Mbak duduk aja lagi. Semoga mbak bisa diterima kerja di sini."
"Aamiin."
Setelah setengah jam Pak Juned kembali menghampiri Suci.
"Gimana Pak ? apa Bos menyukai hasil kerja saya ?" Suci sontak berdiri.
Pak Juned menghela nafasnya dalam-dalam sebelum berbicara.
"Berkata ???" Suci semakin deg-degan saja.
"Dan dia tidak berkata lagi untuk sesaat. Bos hanya mengacungkan dua jempol. Suci apa kau tahu ? saat itu rasanya bunga-bunga turun menghujani tubuhku. Aku tahu bahwa akhirnya misiku mencari OB khusus melayani Bos sudah berakhir. Dan Bos pun berkata bahwa kau sudah membuatnya terkesan."
"Itu artinya saya bisa langsung kerja hari ini juga ?"
Pak Juned mengangguk mantap.
"Alhamdulilah...." senyum secerah mentari tersungging di bibirnya.
"Bekerja dengan baik dan jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan ini. Kalau ada yang kamu tidak mengerti tanya saja pada saya."
***
__ADS_1
Sudah sore hari. Saatnya Suci pulang. Dia keluar dari gedung tinggi itu dengan sangat ceria. Bersukur karena mendapat pekerjaan yang halal. Bisa memenuhi kebutuhan ibu dan adiknya.
Mendapat pengalaman dan teman-teman yang baru yang menyenangkan. Mereka semua bersikap baik padanya. Suci seperti mendapat kehidupan baru karena suasana kerja di sana sangat ceria. Meski lelah berkutat dengan pekerjaan namun semua karyawan OB itu semangat menjalaninya. Apalagi karena kehadiran Ketua geng OB, Pak Juned yang memang baik meskipun sikapnya lebay.
"Pertama kerja di sini aku kira ketua geng kita itu gay...soalnya kadang terlihat seperti banc* tapi ternyata dia pria tulen. Dia bahkan udah punya lima anak dari dua istri. Hebattt !!" Arif bercerita pada Suci dan Barbi. Mereka memang berjalan bersama saat keluar gedung.
"Makanya jangan suudzan sama orang. Jangan menilai orang dari luarnya saja !" Jelas Barbi.
"Syuttt udah kita jangan ghibah nanti amalan baik kita bisa hangus lagi." Suci menasehati.
Arif dan Barbi seumuran Syarif jadi Suci merasa seperti sedang bersama adik-adiknya.
"Mbak Suci benar itu...dengerin Rif !"
"Ya siap hehe."
Suci pun berpisah dengan kedua temannya karena tujuan mereka berbeda arah.
***
Sampai di dalam rumah.
Setelah mandi Suci mengobrol dengan ibu dan Syarif. Dia menceritakan semua kejadian hari ini pada mereka. Gurat kebahagiaan di wajah ketiga orang itu terpancar jelas.
"Alhamdulillah kalau rejeki gak akan kemana." Ucap Bu Ayu.
"Besok mbak aku anterin ke tempat kerja setelah itu aku mau coba lagi melamar ke tempat lain." Tawar Syarif.
"Ya makasih semoga kamu juga bisa secepatnya dapat kerja."
Alhamdulillah...aku sangat bahagia hari ini. Lebih bahagia lagi saat melihat senyum dari orang-orang yang aku sayangi.
__ADS_1
Kebahagiaan manusia itu tidak abadi. Namun tergantung seseorang memandang kebahagiaan itu seperti apa. Kunci sebenarnya adalah jika kita dapat mensyukuri setiap apa yang kita miliki sekecil atau sesederhana apapun maka itu akan membuat kita bahagia dan tenang.