
Willy menjalankan mobilnya dengan mengikuti arah mobil di depannya. Yusuf yang duduk di belakang, terlihat tidak tenang. Kadang bersandar, kadang menyondongkan tubuhnya ke depan. Sesekali melirik ke luar mobil dan memastikan sudah sampai mana pergerakan mereka. Hati dan pikirannya masih berkecamuk. Tidak sabar ingin segera melihat dan memeluk sosok yang begitu dia rindukan.
"Will, kenapa kau menjalankan mobil ini lelet sekali ? Aku seperti sedang mengendarai becak !" berteriak.
"Jika saya tahu dimana rumah pria itu, maka sekarang saya akan menyalib mobilnya. Anda tahu sendiri jika saya harus berada di belakang untuk mengikutinya." Jawab Willy dengan tenang.
"Arggghhh, apa pria itu sengaja mengulur-ulur waktu ? Harusnya kita tadi minta alamatnya saja. Benar-benar payah !" berteriak sambil menendang belakang kursi yang diduduki asistennya.
Willy harus lebih extra bersabar menghadapi tuannya itu. Yusuf saat ini dalam keadaan panik dan frustasi. Jadi Willy yang harus bersikap tenang agar misinya mempertemukan Yusuf dan Andini bisa segera terlaksana.
***
Andini menaiki taxi menuju rumah Bu Vivian. Sepanjang perjalanan pikirannya terus tertuju pada Yusuf. Dia merasa jadi istri yang paling durhaka pada suami. Tega membiarkan Yusuf kelimpungan mencari nya. Tapi mau bagaimana lagi ? Seorang wanita yang telah ternoda oleh pria lain, tidak akan sanggup menatap pasangannya lagi. Rendah diri, merasa kotor dan jijik pada dirinya sendiri. Tidak mungkin dia membiarkan suaminya menyentuh tubuhnya yang penuh noda.
"Sudah sampai, nona." Ucap pak sopir taxi. Tak ada jawaban dari penumpangnya itu. "Maaf, nona. Kita sudah sampai di tempat tujuan !" sengaja memperbesar volume suaranya.
Andini baru tersadar dari kegalauannya. Segera disekanya air mata dari pelupuk matanya. "Ya, Pak. Terima kasih." Menyodorkan sejumlah uang.
Setelah mengambil kembaliannya, perempuan itu turun dari taxi. Lalu segera masuk ke dalam rumah. Dengan sigap, Dini mengambilkan makanan untuk dikonsumsi Bu Vivian sebelum minum obat.
"Nak, terima kasih. Kamu sudah membelikan obat dan membantu ibu makan. Padahal ibu hanya flu saja lhoo ini." Bu Vivian tersenyum.
"Saya senang melakukannya. Setidaknya saya ingin berguna bagi orang yang telah menolong saya dalam masa-masa sulit." Ucap Andini.
"Ibu mau istirahat sebentar, nak. Sekali lagi terima kasih banyak."
"Jangan berkata begitu, Bu. Saya yang seharusnya berterima kasih." Membantu Bu Vivian berbaring, lalu menyelimuti orang tua itu.
Andini meninggalkan kamar Bu Vivian, menuju kamar yang dia tempati. Segera membersihkan badan dan berganti pakaian. Setelah itu, pergi ke dapur untuk membantu bibi pelayan memasak.
Di sela-sela kegiatan itu, bel rumah berbunyi.
"Biar saya yang membuka pintu, bi !" Ucap Andini sambil melangkah ke depan.
Ceklek ! saat pintu dibuka, Andini membuntang. Matanya menangkap sosok pria yang dia rindukan sekaligus dia hindari, telah berdiri menatapnya lekat.
"Andini, akhirnya kita bertemu !" Yusuf memeluknya erat sambil menangis tersedu. "An, aku merindukanmu. Aku tidak bisa hidup tanpa dirimu, sayang !" mengusap kepala Andini lalu mengecup semua area wajahnya. Bukan nafsu birahi, yang ada hanya rasa bahagia. Hanya ingin meluapkan kerinduan di benaknya.
Andini seolah membeku. Mulutnya tak mampu terbuka. Hanya bulir bening yang keluar dari pelupuk mata, mewakili rasa harunya. Inilah yang dia rindukan setiap waktu. Melihat wajah suaminya dan merasakan kehangatannya. Tapi, saat bayangan kelam itu melintas di pikirannya, dia seketika itu pun terhenyak. Melepaskan diri dari pelukan pria itu. Namun tentu saja Yusuf tak membiarkannya lepas.
"Jangan menghindar lagi, ku mohon !" kembali memeluk lebih erat dari sebelumnya.
Andini menangis sesenggukan, "Aku, tidak pantas lagi untukmu." Ucapnya lirih.
"Tidak ! Jangan berkata begitu !"
"Tapi, aku....." tak sanggup melanjutkan perkataannya.
"Aku tidak akan pernah membiarkan mu pergi lagi. Aku berjanji akan menjagamu lebih baik dari sebelumnya. Aku sangat mencintaimu, apa kamu masih tidak paham ?" menyeka air mata dari wajah istrinya.
Andini mengalihkan pandangannya ke bawah. Wanita kotor sepertinya tidak pantas ditatap penuh cinta oleh suaminya.
"Sebaiknya kalian masuk dulu, selesaikan semuanya di dalam !" Saran Nino.
***
Willy dan Nino memilih tidak masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di teras depan, tak mau mengganggu pasangan itu.
Sedangkan di dalam sana, Andini duduk berdampingan dengan Yusuf. Pria itu tak mau melepaskan wanita yang baru saja dia temukan itu. Takut jika istrinya akan kembali menjauh.
Yusuf menggenggam erat tangan perempuan yang tengah menunduk itu. Sebelah tangannya mengusap lembut wajah sendu milik Andini. Sementara istrinya itu masih bercucuran air mata. Pertemuan ini yang selalu dia harapkan, tapi kenapa semuanya terasa begitu menyakitkan ? Cinta suaminya yang begitu besar semakin membuat dirinya ciut. Wanita kotor tidak pantas mendampingi pria yang baik, itulah yang ada di pikirannya !
Bu Vivian menghampiri. "Ada tamu rupanya," tersenyum ramah. Dia memanggil pembantunya untuk mengambil minuman. Saat pelayan itu sudah melakukan perintahnya kemudian kembali ke belakang, Bu Vivian kembali bicara, "Ibu mau ke kamar mandi sebentar, silahkan kalian berbicara dengan tenang. Anggap saja rumah sendiri."
__ADS_1
Andini menatapnya memelas, meminta agar ibu itu menemaninya. Namun Bu Vivian hanya tersenyum, seolah mengatakan jika ini adalah saatnya bagi Andini menyelesaikan masalahnya. Dia pun pergi.
Yusuf mendongakkan wajah Andini agar menatapnya. Dengan lembut, pria itu mengecup kening istrinya. Dini memejamkan matanya menikmati curahan kasih yang tulus dari suaminya itu. Hatinya berdesir dan dadanya berdebar hebat. Lagi-lagi air mata itu mengalir tanpa seijinnya.
"Sampai kapan kamu akan menangis, sayang ?" menyeka air mata Dini.
Wanita itu terdiam, malah wajahnya semakin banjir kesedihan. Bagaimana dia akan menjelaskan semuanya ? Harus mulai dari mana ?
Yusuf tak mengalihkan sedikitpun tatapannya dari Andini. "Tidak perlu bercerita. Aku sudah tahu semuanya. Bukan kamu yang salah, tapi akulah orang yang patut disalahkan atas kejadian buruk yang menimpamu."
Andini semakin menunduk. "Maaf," lirihnya.
"Jangan pernah meminta maaf ! Ini semua bukan salahmu, bukan keinginanmu. Mulai saat ini, lupakanlah semuanya ! Kamu jangan takut, mereka semua sudah aku beri pelajaran."
Andini menoleh, "Mereka, siapa maksudmu ?"
"Pria brengsek itu dan, saudari tirimu. Mereka dalang dari kejadian yang menimpamu pagi itu." Tak mau menyebut ataupun mendengar nama pasangan laknat itu.
"Yasmin ?" suaranya terdengar parau karena terlalu banyak menangis.
"Ya, perempuan gila itu bersama pacarnya telah merencanakan ini semua, agar kita berpisah. Tapi aku sedikit pun tidak akan terpengaruh. Rasa cintaku malah semakin bertambah. Apa kamu tahu, aku hampir gila karena memikirkan dimana keberadaanmu ?" Meraup wajah penuh air mata milik istrinya.
"Tapi, kamu pasti tahu sendiri jika kini aku sudah ternoda. Aku kotor dan hina !" menghempaskan tangan Yusuf.
"Aku tidak peduli ! Ini semua diluar kendalimu, bukan keinginanmu. Aku tidak marah padamu, An. Aku marah pada mereka dan terlebih pada diriku sendiri. Jika saja aku menjagamu dengan baik, maka mereka tidak akan punya kesempatan untuk mengusik kebahagiaan kita." Memeluk erat.
"Kamu adalah suami yang sangat baik. Tapi, aku tetap mera...." berhenti bicara karena mulutnya ditutup telapak tangan Yusuf.
"Diam, jangan berkata seperti itu lagi ! Kamu tahu ? Aku tidak suka ada yang merendahkan mu, termasuk dirimu sendiri."
Andini terpaku melihat kesungguhan dari kata-kata itu melalui mata sipit suaminya.
"Aku sangat mencintaimu, dan bukan hal yang sulit bagiku untuk menerima semua kekuranganmu. Satu hal yang aku minta, jangan pernah pergi kemanapun tanpa seijinku ! Tetaplah bersamaku dalam keadaan apapun ! Selamanya kamu adalah istriku, Andini !"
Sepasang suami istri itu saling berpelukan erat. Mencurahkan segala rasa dalam benak mereka.
Bu Vivian yang sedari tadi menguping dan mengintip, saat ini tengah tersenyum. Ikut bahagia menyaksikan kedua insan itu kembali bersatu.
***
"Bu, tuan Nino, terima kasih banyak sudah menjaga Andini di masa-masa terberatnya. Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian." Ucap Yusuf.
"Sama-sama. Saya senang Andini bisa tinggal di rumah ini, jadi tidak kesepian." Bu Vivian tersenyum.
"Saya ikut senang melihat kalian bisa bersama lagi. Andini, lain kali jangan lari dari masalah ! Hadapi dan selesaikan dengan cara yang baik !" Nino memberi petuah layaknya seorang kakak pada adiknya.
"Baik, pak. Terima kasih sudah membantu kami untuk bertemu." Jawab Andini.
Yusuf mengernyit, menoleh pada istrinya. Kenapa Andini memanggilnya Pak ? Bukankah pria itu belum terlalu tua ?
"Pak Nino adalah guru bahasa Jerman di sekolahku." Jelas Andini seolah mengerti kebingungan suaminya. Yusuf mengangguk pelan. Berarti jika mereka sudah saling mengenal sebelumnya, apa saat ini Andini dan Nino sudah semakin dekat ? Ahh, hati Yusuf sedikit terusik memikirkannya. Cemburu ? tentu saja ! Tapi dia tidak perlu ambil pusing, dia harus percaya sepenuhnya pada istrinya.
Mereka pun pamit pada pemilik rumah. Ada yang hilang saat Andini pergi meninggalkan rumah itu. Bu Vivian sebenarnya sudah mulai menyayangi Dini. Nino pun begitu, dia sudah senang saat ibunya tak lagi kesepian karena kehadiran Andini. Namun mereka tak boleh egois, Andini harus kembali pada suaminya.
***
Meta saat ini tengah menjenguk seseorang. Bukan ! Lebih tepatnya adalah menginterogasi pria bernama Alex. Dia menatap tajam pria di depannya itu.
Alex tersenyum sinis, "Kenapa kau mau repot-repot menjengukku, sayang ?"
"Jangan panggil aku sayang, brengsek ! Aku bukan ingin menjenguk, aku ke sini untuk mengajukan kesepakatan denganmu."
Alex mengernyit, "Kesepakatan ? Apa yang kau inginkan dariku, perempuan galak ?"
__ADS_1
"Ceritakan yang sebenarnya, apa yang terjadi setelah aku menendang bagian pusatmu, lalu aku tak sadarkan diri ?!"
"Apa imbalannya ?"
"Aku akan membantu mu agar bebas dari sini."
Alex tertawa, "Apa aku harus percaya ?"
"Harus ! Tidak akan ada yang mau membebaskan mu dari tempat ini, selain aku !"
Ekspresi Meta berhasil meyakinkannya. "Kepalamu dipukul dengan vase bunga oleh Yasmin. Sebenarnya pacarku itu datang ke rumah hanya ingin memastikan jika aku menjalankan perintahnya dengan baik. Yasmin ingin saudari tirinya yang bernama Andini itu, berpisah dengan suaminya. Caranya adalah, aku pura-pura menidurinya."
"Apa kau itu bodoh ? Kenapa mau menuruti permintaan konyol itu ?" Meta memelototinya.
"Aku terlalu mencintainya. Aku bahkan mendukungnya agar bisa memiliki Yusuf Hadi Wijaya."
"Itu suatu kebodohan, bukan cinta !" menggebrak meja.
"Tenanglah, aku belum selesai bicara !" bersandar pada kursi yang didudukinya dengan santai.
"Lanjutkan, jika kau bohong maka aku akan memastikan bahwa kau akan lebih lama berada di penjara !"
"Yasmin saat itu ingin memastikan jika aku tidak tergoda dengan Andini. Meski dia tertarik pada Yusuf, tapi cintanya hanya untukku. Dia tidak mau jika aku sampai kebablasan menyentuh saudari tirinya." Menjeda kalimatnya sejenak lalu kembali bicara. "Tapi saat melihatmu di rumahku, dia merasa rencananya akan gagal. Untuk itu, kau diserangnya. Setelah itu, kau dan sopir itu diamankan ke suatu tempat."
"Lalu ? Cepat selesaikan ceritamu ini !" tidak sabar lagi.
Alex terus bercerita lagi. Yang sebenarnya terjadi adalah:
Alex duduk di sofa bersama Yasmin setelah Meta diamankan. Perempuan itu menatapnya tajam dan penuh amarah. "Kau benar-benar mata keranjang ! Sudah ku bilang untuk hanya berpura-pura meniduri wanita sialan itu. Tapi kau malah ingin benar-benar menyentuhnya. Jika saja aku tidak kemari, kau pasti sudah mencicipi Andini."
"Maaf, sayang. Dia ternyata manis juga. Aku jadi ingin bermain-main dengannya. Tapi meskipun kamu tidak datang, rencanaku itu pasti tetap gagal. Perempuan tadi tiba-tiba datang di rumahku. Dia juga dengan beraninya menyerangku. Benar-benar wonder woman !"
"Alex, jangan pernah memuji wanita lain di depanku ! Bagaimana pun juga, kau itu hanyalah milikku ! Dan niatku untuk mendapatkan Yusuf hanyalah ingin membuat Andini menderita. Aku tidak sudi jika dia hidup bahagia." Memukul lengan kekasihnya dengan keras.
"Sakit, sayang. Maaf, tapi jangan takut. Cintaku hanya untukmu." Mengusap lengan yang tadi kena pukul.
"Baiklah, aku maafkan. Sebentar sayang, aku ambilkan minuman dulu untukmu."
Yasmin berlalu dan kembali dalam waktu singkat. Dia kembali duduk dan menyodorkan gelas. Alex mengambil minuman itu lalu menenggaknya hingga habis.
"Terima kasih, sayang. Tenggorokanku tidak kering lagi sekarang." Ucap Alex.
Yasmin tersenyum mencurigakan, "Sama-sama, sayang." Sekarang tidurlah yang nyenyak agar aku bisa menjalankan rencana ini dengan lancar !
Bermenit-menit kemudian, Alex tumbang. Yasmine memanggil bibi pelayan yang baru saja bangun dari pingsannya, untuk membantu memindahkan tubuh Alex ke atas tempat tidur. Mereka sengaja melucuti pakaian Andini dan Alex. Mengatur supaya posisi mereka seperti sudah melakukan hubungan badan. Dan di saat Andini terbangun, pasti mengira jika dirinya sudah disentuh oleh kekasih Yasmin. Itulah fakta sebenarnya.
"Jadi, kau sebenarnya tidak menyentuh Andini ?" Meta menatapnya geram. "Kalian sengaja melakukan itu agar Andini menjauh dari suaminya ? Benar-benar licik !"
Alex tergelak, "Benar ! Harusnya aku benar-benar bisa menyentuhnya jika kau dan Yasmin tidak datang. Tapi, kekasihku itu ternyata sangat mencintaiku. Dia tidak rela jika aku bermain-main dengan wanita lain. Benar, kan ?!"
"Ya, benar. Kalian adalah pasangan yang gila !"
"Terima kasih atas pujiannya, sayang. Aku sudah menceritakan semua. Jadi, tepati janjimu !"
"Aku pikir-pikir dulu. Apakah kau pantas untuk ku bantu atau tidak ?" menyeringai.
Alex menggebrak meja di depannya. "Kau, jangan main-main denganku !"
Meta tertawa, "Kau pun sudah bermain-main dengan kehidupan orang lain. Jadi, nikmati saja hari-harimu di tempat ini. Terima kasih atas kerja samanya." Beranjak dari duduknya lalu melangkah pergi.
Alex berteriak-teriak, "Wanita brengsek ! Kau penipu !"
Sedangkan Meta melenggang dengan puasnya. Dia lega setelah mengetahui kebenaran ini. Ternyata kecurigaannya pada Yasmin, memang benar. Wanita licik itu berkata padanya jika Andini memang telah dinodai oleh Alex. Tapi semua itu hanyalah trik liciknya.
__ADS_1
Jika Yasmin berani membohonginya, apalagi pada tuan Yusuf. Dia harus segera memberi tahukan kebenaran ini pada pria itu.