Seperti Sampah

Seperti Sampah
Happy and happy.


__ADS_3

Jam 10 pagi.


Suci membuka matanya perlahan. Disampingnya masih tertidur pulas pria yang kini berstatus suami barunya. Riki masih menutup mata meski tangannya tetap setia memeluk tubuh Suci. Tarikan nafasnya yang lembut membuat dadanya bergerak tenang begitu jelas terdengar.


Hati-hati Suci bergerak agar tak menganggu tidur suaminya. Dihempaskan perlahan sekali tangan yang bertengger di pinggangnya. Dia pun duduk sambil menatap lekat pada Riki.


Jodoh adalah takdir yang tak bisa ditebak. Bertahun lalu kamu datang membawa kehancuran dan sekarang kamu pun datang kembali namun justru membangkitkan ku dari kehancuran. Membawa cinta dan ketulusan yang tidak pernah aku harapkan. Kamu sama sekali tidak pernah ada dalam rencana hidupku. Namun Tuhan sudah merencanakan kamu untuk hadir dalam hidupku. Aku harap kamu benar-benar jodohku mas.


"Suci ! keluar ! apa kamu ada di dalam sana ?" seseorang berteriak-teriak dari luar kamar sambil menggedor pintu.


Tak lama berselang pintu itu terbuka karena memang tidak dikunci.


"Mas Doni ?" Suci kaget bukan main melihat mantan suaminya itu tiba-tiba muncul. Suci beranjak dari tempat tidur dan berdiri di samping ranjang.


"Heyyy ada apa ini ribut-ribut ?" Riki mengucek matanya.


Dada Doni terasa terbakar melihat Suci berada satu ranjang dengan Riki. Lagi-lagi tangannya terkepal.


"Heyyy Don, sedang apa kau disini ? sudah tidak waras ya ? sudah lupa caranya bersopan santun ? menganggu saja." Riki sudah duduk. Ia membalas tatapan tajam rivalnya itu.


"Suci kamu baik-baik saja ? Dia tidak menyakitimu kan ?! kalian tidak melakukan apa-apa kan ?!" Doni memegang kedua bahu Suci.


"Heyyy singkirkan tanganmu dari istriku ! tidak sopan sekali !" Riki turun dari tempat tidur. Dia mengusir tangan nakal Doni dan menghalangi Suci dengan tubuhnya agar tak terlihat oleh pria menyebalkan itu.


"Suci, Riki tidak berbuat mesum padamu kan ?!" Doni masih mencari celah.


"Sudah gila ya ? kami ini pengantin baru, jadi wajar saja jika kami melakukan itu. Masa kau tidak mengerti sih ? kau kan sudah dua kali menikah. Pasti jauh lebih tahu juga." Riki terus memanas-manasi.


"Apa kalian sudah melakukan.....nya ?"


"Ohhh jadi kau ke sini hanya untuk mencari tahu tentang malam pertama kami ? akan ku beri info yang akurat. Langsung aku praktekan saja, bagaimana ?" Riki tersenyum bangga.


Bodoh sekali kau Doni ! dasar pria plin-plan !


"Mas !" Suci menggoyangkan bahu Riki berharap agar suaminya berhenti mengompori Doni.


"Apa sayang ? kamu mau mengulangi lagi adegan kita yang tadi ya ?" Riki berbalik dan memeluk tubuh Suci lalu menghujaninya dengan ciuman di seluruh area wajah.


Mas...bukan itu ! memalukan sekali ! lagipula kita tidak melakukan apapun kan.


Wajah Suci sudah merah padam. Meski berusaha dihalangi namun Riki tetap menyerangnya dengan kecupan mesra.


Doni hampir tidak bisa mengendalikan diri jika saja Teni tidak datang saat itu.


"Mas Doni kenapa kamu ada di sini ? woww ayo kita pergi sekarang mas. Jangan menganggu pengantin baru. Ayooo !" Teni menggusur paksa suaminya.


Setelah di luar kamar.


"Mas kamu seperti orang bego ! kamu senang ya menonton adegan seperti itu secara langsung ?" Teni habis-habisan menertawakan kelakuan suaminya.


"Diam kau !" Doni berjalan cepat meninggalkan Teni.


"Tunggu mas !"


Sementara itu pengantin baru yang masih ada di dalam kamar tengah asik beradu mulut, beradu argumen !


"Mas kenapa berlebihan sekali di depan mas Doni ? apa mas tidak malu ?" Suci protes.


"Aku hanya ingin memberinya pelajaran saja. Dia kan juga pernah melakukan hal yang lebih jahat padamu."


"Mas, tapi aku sudah memaafkan mereka. Jadi jangan sampai ada dendam."


"Kamu masih mencintai Doni ?" agak kesal.

__ADS_1


"Tidak mas. Aku sudah melupakan dia. Aku hanya ingin hidup tenang." Suci berbicara penuh keyakinan.


"Baiklah. Bagus itu !" masih cemberut.


"Mas marah ?"


"Tidak !"


Suci tersenyum.


Seperti anak kecil saja.


"Maaf jika aku pernah berbuat salah pada mas."


"Aku merasa bahwa kamu tidak pernah punya salah padaku." Riki sudah kembali serius.


Setelah lama saling tatap, Riki kembali memeluk erat tubuh istrinya. Mengecup puncak kepala Suci dengan lembut meresap hingga masuk ke hati. Membuat yang dipeluk merasa nyaman.


Esoknya Riki sengaja tidak ke kantor. Dia membawa Suci ke toko perhiasan untuk memilih cincin. Sepasang cincin emas putih yang desainnya sederhana namun tetap elegan sudah mencuri perhatian Suci. Cincin itulah yang dipilih sebagai simbol ikatan suci hubungan pernikahan mereka.


Usai menyematkan cincin itu mereka makan di sebuah restoran.


"Aku akan mengurus pernikahan kita agar bisa tercatat di hukum negara. Tapi sebelum itu aku harus menghubungi kedua orangtuaku dulu agar mereka bisa menyaksikan peristiwa paling penting anak mereka. Kamu setuju ?"


"Aku setuju mas." Suci tersenyum meski sebenarnya hatinya agak gusar.


Aku harap orangtua mas Riki akan menyetujui hubungan kami.


"Aku yakin orangtuaku akan menyukaimu. Jadi tenang saja." Riki memegang erat tangan Suci.


Aku tahu kamu pasti takut jika hubungan kita tidak direstui orangtuaku. Aku akan tetap memastikan bahwa kita akan selalu bersama meski hubungan kita ditentang. Aku akan menunjukkan bahwa kamulah satu-satunya perempuan yang mampu membuatku bahagia.


"Cepat habiskan makananmu. Kita pulang sekarang. Aku ada kejutan untukmu."


"Kejutan apa mas ?"


Mencurigakan sekali. Jangan-jangan dia mau mengurungku di kamarnya.


Suci sengaja memperlambat makannya. Tidak mau buru-buru pulang.


"Sini biar aku suapi saja ! cepat buka mulut !" Memaksa sekali hingga akhirnya Suci mengalah saja.


Selesai makan mereka meluncur ke rumah.


Riki mengangkat tubuh Suci menuju kamarnya.


"Mas turunkan aku ! malu !" Suci memukul pelan dada suaminya.


"Malu sama siapa ? tidak ada orang lain selain kita berdua."


Itu tadi para ART kamu anggap apa ? mereka bukan hanya memperhatikan tapi juga menertawakan kita. Memalukan sekali !


Suci dibaringkan di atas sofa.


"Mau apa mas ? aku masih belum beres datang bulan." Suci langsung duduk.


"Heyyy kenapa kamu selalu berpikiran ke arah situ ? apa jangan-jangan memang kamu sebenarnya yang mau ?" Riki tersenyum nakal. Dia ikut duduk di samping Suci.


"Tidak seperti itu !" Suci nyengir.


"Tutup matamu ! aku mau kasih surprise !"


Suci menutup matanya dengan kedua tangan.

__ADS_1


"Awas jangan ngintip !" Riki mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya.


"Sebelum kusuruh maka kamu jangan buka mata dulu ! dan jangan protes ! satu kata keluar maka kamu ku cium."


"Apa ?"


"Mmmuahhh satu kata satu ciuman." Riki mengecup pipi kanan Suci.


Apa ? dia benar-benar melakukannya. Maksudnya apa sih sebenarnya ? memang surprise apa sampai aku harus melakukan apa yang dia mau.


Akhirnya hanya protes dalam hati saja agar lebih aman.


"Apapun yang terjadi tetap diam, tutup mata dan jangan bicara !" Riki melepas kedua tangan Suci dari matanya.


Perlahan dia membuka kerudung yang selama ini menutupi kepala Suci.


Degg ! jantung Suci sudah berdegup kencang lagi, sama seperti jantung Riki yang seolah ingin keluar.


Mas apa yang sedang kau lakukan ? kenapa malah membuka kerudungku ? jangan bilang surprise mu hanya ingin membuatku jantungan.


Riki menyimpan penutup kepala itu di sebelahnya. Kini terlihat jelas rambut hitam lurus yang terikat sembarang milik Suci. Menambah manis wajahnya.


Riki membuka kotak kecil tadi.


Dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Suci. Semakin dekat dan membuat Suci gemetaran.


Mau apa kamu sebenarnya mas ?


Riki melingkarkan kalung berlian di leher jenjang milik Suci.


"Buka matamu sekarang !"


Perlahan mata coklat milik Suci terbuka.


Tidak terjadi apa-apa dan dia tidak menunjukkan apapun. Apa tadi dia hanya mengerjai ku saja ?


"Itu ! indah sekali kan ?!" Riki menunjuk ke arah leher Suci namun istrinya itu salah tanggap. Dia kira Riki menunjuk ke arah dadanya.


Otomatis Suci melindungi bagian dadanya itu dengan kedua tangannya.


"Indah apa maksud mas ?"


"Haha ! hey berhentilah berpikiran konyol ! aku bukan menunjuk itu, tapi lehermu ! lihatlah apa kamu menyukainya ? jangan bilang tadi kamu tidak sadar selama aku memakaikan nya. Apa senikmat itu berdekatan dengan suamimu yang tampan ini ?"


Ahhh memalukan sekali ! heyyy otak kenapa kau jadi ngeres begini !


"Kalung ? mas Riki membelikan ku kalung ini ?" Suci sudah menyadari bahwa lehernya kini dihiasi benda mewah itu.


"Kamu suka ?"


"Suka, tapi pasti ini mahal kan ?!"


"Tidak usah pikirkan harga ! yang penting kamu suka."


"Suka sekali mas. Terima kasih !" tersenyum manis.


"Jangan katakan itu, lebih baik berterima kasih lewat tindakan nyata." Riki menempelkan jari telunjuk di bibirnya.


Suci hanya nyengir kuda tak berani melakukan perintah sang suami.


"Ahh susah sekali padahal kamu sudah pengalaman. Seperti ini !" Riki memberi pelajaran praktek langsung. Disosornya sebentar bibir mungil itu. Namun berhasil melelehkan hati Suci.


"Pakai kembali kerudung mu !" Riki bergegas ke kamar mandi meninggalkan Suci yang masih terpaku.

__ADS_1


Yessss hari ini sangat menyenangkan sekali !!! ahhh istriku, i love you !!!


Inginnya berteriak namun Riki tentu saja hanya melakukanya di dalam hati. Hari ini membuatnya lebih dan lebih bersemangat lagi.


__ADS_2