Seperti Sampah

Seperti Sampah
Bab 43.


__ADS_3

Pagi buta, Andini mengerjapkan mata. Dilihatnya Yusuf masih tertidur dengan menggenggam tangannya atau lebih tepatnya, suaminya itu baru saja terlelap. Sepertinya meski tidur dalam posisi duduk dengan kepala bersandar di bibir ranjang, sama sekali tak mempengaruhi Yusuf untuk pulas. Mungkin karena dia terlalu lelah dan ngantuk setelah menjaga Andini semalaman. Ditambah lagi pikirannya kalut setelah mendengar kabar meninggalnya Pak Daniel.


Kamu pasti cape, mas. Andini menatapnya lekat dan mengusap lembut kepalanya. Tangannya berpindah ke atas perutnya sendiri. Mengelusnya perlahan sambil berurai air mata. Kini calon anaknya sudah tidak lagi bersemayam di sana.


Anakku, Maafkan mama ! Mama tidak bisa menjagamu dengan baik. Mama adalah ibu yang buruk ! Mama terlalu lemah dan bodoh. Maafkan mama, sayang !


Sebelah tangannya menutup mulutnya rapat-rapat, agar tak mengeluarkan suara. Dia tidak boleh menggangu tidur suaminya.


Anakku, kenapa kamu pergi meninggalkan mama dan papa ? Andini masih mengusap-usap perutnya. Hatinya begitu pedih. Belum sempat merasakan denyut dan gerakan bayi pada perutnya, dia harus kehilangan calon buah hatinya itu. Impiannya terkubur untuk dapat menyaksikan anaknya tumbuh besar.


Apakah ini adalah suatu hukuman karena Andini sempat membenci janinnya ? Rasa sesal dan sesak semakin bertumpuk. Dini sangat merasa bersalah pada anaknya yang sudah tiada. Kata maaf terus terucap baik dari mulut atau pun hatinya.


"Maafkan mama, nak !" lirihnya. Tanpa terkontrol lagi, tangisnya makin pecah. Dan berhasil memanggil suaminya yang sedang ada di alam mimpi.


Yusuf perlahan bangkit dan membetulkan posisi duduknya. Mengucek sedikit matanya yang masih rapet.


"Sayang, kamu menangis lagi ?" menggenggam erat tangan Andini.


Andini menggeleng mencoba menyangkal. Namun, kristal bening yang terus menetes ke pipinya membuktikan jika jawabannya memang benar.


"Aku juga sangat terpukul, tapi ini semua adalah takdir. Kita tidak bisa menghindarinya." Mengusap kepala Andini.


Wanita itu terdiam meski tangisnya masih berlanjut. Memang benar jika kepergian calon anaknya itu memang atas kehendak Tuhan. Tidak ada yang bisa mencegah hal itu.


Yusuf merogoh saku jasnya karena benda di sana bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari asistennya. Dia mengerutkan keningnya saat membaca pesan tersebut. Sejurus kemudian sorot matanya berubah merah menyala. Sepertinya pesan itu sudah sangat mengusiknya. Dengan cepat dia segera memberi balasan.


[Cepat cari wanita licik itu, aku yakin dia belum pergi terlalu jauh. Setelah berhasil ditemukan, seret dia ke kantor polisi ! Dia harus mempertanggung jawabkan semua kejahatannya]


Pesan terkirim, benda itu dimasukan lagi ke saku jas.


Andini sama sekali tidak memperhatikan suaminya. Dia hanya bisa menangis meratapi kepergian sang calon bayi.


Yusuf menghembuskan nafasnya berat. Bagaimana caranya memberi tahu Andini jika Pak Daniel sudah meninggal ? Di satu sisi, dia tidak tega untuk menyampaikan berita ini. Di sisi lain, dia juga tidak mau menyembunyikan hal ini dari istrinya. Jika Andini mengetahui berita duka ini dari orang lain, maka wanita itu akan lebih terpukul.


"Andini, ayahmu sudah meninggal." Akhirnya memberanikan diri untuk bicara.


"Diam, mas. Ini bukan cara yang tepat untuk mengalihkan kesedihanku !"


"Sayang, ini adalah fakta. Ayah kandungmu meninggal dunia waktu malam tadi." Kedua pasang mata itu bertemu. Wanita itu tahu jika suaminya sedang sangat serius.


Andini menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak ! Kenapa ayah juga pergi ? Ayah...!" Wajah yang belum sempat kering itu pun, kembali banjir air mata.


Yusuf memeluknya erat, "Sayang, kamu harus kuat ! Ingatlah, masih ada aku di sini."


"Aku ingin melihat ayah, mas. Aku ingin melihat wajahnya !"


***


Andini perlahan turun dari kursi roda tepat di samping ranjang dimana jenazah mendiang ayahnya terbaring. Dengan pelan-pelan dia membuka kain yang menutupi seluruh tubuh Pak Daniel. Hanya menyibak bagian wajahnya saja.


Andini menangis memeluk tubuh kaku milik ayahnya. Baru sebentar dia merasakan kasih sayang seorang ayah, kini semuanya harus sirna karena sosok itu tak lagi bernyawa.


Kenapa dia harus kehilangan dua orang sekaligus dalam hidupnya ? Cobaan ini sungguh berat bagi Andini.


"Ayah....apa ayah ingin menyusul cucu ayah ke alam sana ? Kenapa kalian begitu kompak meninggalkan aku ?" tersenyum pilu.


"Kenapa kalian pergi secepat ini ?" semakin histeris.


Yusuf menepuk-nepuk punggung istrinya. Memberi tahu jika masih ada dirinya yang akan selalu menemani. Tapi dia tidak menyuruh Andini berhenti menangis, biarlah istrinya itu mengeluarkan uneg-uneg sampai hatinya sedikit plong.


Di pemakaman.


Tadinya Yusuf ragu untuk membawa istrinya ke sana, takut wanita itu tidak akan sanggup melihat jasad ayahnya dimasukkan ke liang lahat. Tapi Andini terus memaksa, ingin melihat Pak Daniel untuk yang terakhir kalinya sekaligus mengucapkan selamat tinggal.


Satu persatu orang-orang meninggalkan tempat itu. Hanya tersisa neneknya Andini yang telah sepuh. Untuk pertama kalinya dia memeluk cucu yang tidak pernah dia harapkan itu.


"Nak, maafkan ayahmu ! Seburuk apapun perlakuannya dulu, tapi dia tetap saja ayah kandungmu. Berilah dia doa agar tenang di alam sana !"


Andini mengangguk-anggukan kepalanya tanpa bicara. Air mata itu masih setia mengalir di wajahnya.


"Terima kasih, nak. Kamu adalah anak yang baik." Mengusap kepala cucunya itu. Tak lama kemudian, ibu dari mendiang Pak Daniel pun pergi.


Andini masih anteng menatap tempat peristirahatan terakhir ayahnya yang bersebelahan dengan makam ibunya. Kini dia telah menjadi anak yatim piatu.

__ADS_1


"Sayang, ayo kita pulang. Kamu harus istirahat !" bisik suaminya.


Andini diam saja.


"Tidak baik terlalu berlarut-larut menangisi keluarga kita yang telah tiada."


Akhirnya Andini berdiri dibantu oleh Yusuf. Berjalan perlahan keluar dari makam. Namun saat baru beberapa langkah, tubuhnya ambruk dalam pelukan suaminya. Yusuf segera membawanya ke dalam mobil.


***


Andini terbaring di atas ranjang kamarnya. Sudah beberapa kali dia tidak sadarkan diri sepulang dari pemakaman. Dengan sigap Yusuf memijit pelipisnya menggunakan minyak aromaterapi.


"Mas...." Andini berseru tapi matanya masih tertutup.


"Ya, sayang. Aku di sini." Menggenggam tangan.


"Mas, anak kita sedang bermain bersama kakek dan neneknya. Lihatlah, mereka tersenyum pada kita !"


Yusuf menempelkan telapak tangannya di kening Andini. Pantas saja istrinya itu meracau tak jelas, dia demam tinggi.


Yusuf mengambil alat kompres sebelum Dokter datang. "Sayang, cepat sembuh ! Aku sangat khawatir." Pria itu bercucuran air mata.


Setengah jam kemudian Dokter Lia muncul dan langsung mengecek kondisi tubuh Andini. Setelah memberi suntikan dan beberapa vitamin, dia pun berlalu.


***


Yusuf dan Oma Merly duduk di sisi kanan dan kiri Andini. Wanita yang masih menutup mata itu, belum sadarkan diri meski demamnya sudah turun.


Suaminya itu tak henti menggenggam tangannya sambil menangis. Sayang, bangunlah ! Aku tidak mau kamu menderita seperti ini.


"Nak, Andini masih sangat terpukul atas kepergian ayah dan juga calon anak kalian. Itu pasti yang menyebabkan istrimu demam. Tapi Oma yakin setelah berjalannya waktu, Andini bisa menerima semuanya dengan lapang dada." Ucap Oma sembari menepuk pundak cucunya.


Tak lama berselang, neneknya itu pun pergi dari sana.


"Mas...." suara Andini terdengar lagi. Kali ini matanya sudah terbuka.


"Sayang, kamu sudah bangun. Aku sangat bersyukur." Mengecup kening.


"Tidak masalah. Sayang, aku ambilkan makanan dulu, ya ?!" beranjak dari duduknya.


"Tidak, mas. Aku belum mau makan."


"Makan meskipun sedikit, jangan sampai perutmu kosong. Setelah itu minum obat agar kamu cepat sehat lagi. Lakukan demi aku, please !" bujuknya.


Andini mengangguk. Yusuf beranjak dari duduknya lalu melangkah ke lantai bawah. Selang beberapa menit dia sudah kembali.


Dengan telaten, tangan Yusuf menyuapkan makanan pada istrinya. Meski hanya habis beberapa sendok, tapi setidaknya Andini mau makan. Setelah minum obat, dia dibaringkan lagi di atas tempat tidur. Begitu seterusnya sampai Dini kembali pulih.


***


Bu Rahma saat ini berada di dalam taxi. Wanita itu hendak pergi ke Bandara. Dia akan kabur ke luar pulau agar bebas dari hukuman. Tapi baru saja setengah perjalanan, taxi yang ia tumpangi mogok. Terpaksa Bu Rahma turun untuk mencari taxi lain.


"Sial, kenapa mobilnya harus mogok ? Di daerah sini jarang ada taxi lewat, aku harus memesannya melalui aplikasi." Utak-atik ponsel sebentar.


Wanita itu celingukan memperhatikan situasi. Maklumlah, jika orang yang punya salah, dirinya pasti tidak akan tenang berada di manapun. Serasa ada yang mengintai dan memata-matai.


Matanya terbelalak dan mulutnya menganga. Tepat di tembok belakangnya, berjejer foto Bu Rahma dengan tulisan orang yang dicari. Tubuhnya gemetaran karena ternyata dia benar-benar telah menjadi buronan.


Dalam hatinya dia mengutuki diri sendiri. Kenapa waktu itu malah kabur dari rumah ? Padahal dia seharusnya pura-pura tenang dan selalu mendampingi suaminya. Pantas saja jika orang-orang akan mencurigainya. Dia tiba-tiba menghilang saat Pak Daniel meninggal. Ditambah lagi dia sama sekali tidak muncul di Rumah Sakit maupun di pemakaman.


Terlihat ada beberapa petugas kepolisian yang sedang bertanya pada seseorang. Meskipun Bu Rahma tidak tahu jelas apa yang ditanyakan polisi-polisi itu, tapi dia mengira jika mereka sedang mencarinya. Alhasil, tubuhnya makin panas dingin. Dia harus segera kabur dari sana !


Bu Rahma setengah berlari menjauh dari sana. Meski tidak ada yang mengejar atau membuntutinya, wanita itu tetap ketakutan.


"Taxi !" dia menghampiri mobil yang terparkir di tepi jalan dan langsung bergegas masuk.


Si sopir taxi agak kaget. "Maaf, Bu. Saya sedang menunggu penumpang saya. Dia sedang berbelanja di toko bunga."


"Aku tidak peduli ! Antar aku ke Bandara secepatnya, aku akan memberi ongkos dua kali lipat dari biasanya !" panik.


"Tapi, Bu."


"Tiga kali lipat !"

__ADS_1


"Baiklah, saya antar anda ke Bandara !" mobil pun melaju.


Bu Rahma menggerutu sendiri, "Dasar mata duitan ! Tapi tidak masalah, yang penting aku bisa segera pergi dari sini."


Mobil bergerak dalam kecepatan normal. Tapi itu membuat Bu Rahma tidak tenang, bagaimana jika ada yang berhasil mengikutinya ?


"Pak, tolong lebih cepat ! Saya sedang buru-buru." Bentaknya.


Sang sopir pun menurut. Tapi dia memilih jalan lain untuk sampai ke tempat tujuan.


"Kenapa jalannya berbeda ? Aku mau ke Bandara ?" protesnya.


"Di sana ada kecelakaan lalu lintas tadi, ada banyak polisi, pasti macet Bu."


Polisi ? Dia memang harus menghindari semua jenis polisi.


"Baiklah, cepat ! Aku tidak mau terlambat."


Si sopir taxi membawa mobil itu untuk berlari kencang sesuai perintah penumpang. Setelah beberapa menit, mobil pun berhenti karena sudah sampai di tempat tujuan.


"Kita sudah sampai, Bu." Ucap sopir.


"Benarkah ? Ini ongkosnya !" menyodorkan sejumlah uang. Tidak sia-sia aku membayar lebih mahal.


"Terima kasih, Bu."


"Heyyy, dimana ini ? Kita bukan di Bandara !" dia baru sadar karena fokusnya tadi terganggu oleh kecemasannya yang berlebihan.


"Saya sudah melaksanakan tugas saya untuk membawa ibu kemari." Jawab sopir.


"Jangan bercanda ! Bukankah ini kantor polisi ? Kenapa membawaku ke sini ? Jangan main-main, aku sudah membayar ongkosnya dengan mahal !"


"Saya sudah membawa anda ke tempat yang semestinya." Nada bicaranya berubah datar dan terkesan menakutkan.


Bu Rahma makin tidak enak hati. Apakah jangan-jangan sopir taxi itu adalah polisi yang menyamar ? Dia harus segera melarikan diri !


Wanita paruh baya itu pun segera membuka pintu mobil. Saat dirinya keluar, beberapa orang polisi sudah berdiri menyambutnya. "Selamat datang, nyonya ! Akhirnya anda sendiri yang datang kemari." Salah seorang dari mereka tersenyum sinis.


"Kalian salah sangka, aaa..aku bukan orang yang kalian cari." Berusaha melarikan diri, tapi mau bagaimana ? Dia sudah benar-benar terkepung.


Kini kedua tangan Bu Rahma sudah diborgol. Dia digiring masuk ke sana untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya.


"Aku tidak bersalah pak polisi, aku tidak sengaja mencelakakan suamiku ! Aku harus dibebaskan !" berontak.


"Jelaskan itu nanti di dalam !"


"Aku tidak sengaja melakukan itu, mana mungkin aku tega melenyapkan suamiku sendiri. Lepaskan aku, biarkan aku bebas. Aku ingin melihat kuburan suamiku, pak polisi !" merengek-rengek.


"Anda jangan banyak beralasan, nyonya ! Jika memang benar begitu, maka anda tidak akan melarikan diri seperti ini. Walaupun tidak sengaja, anda tetap harus ikut kami untuk memberi keterangan."


"Aku tidak mau dipenjara !" berteriak histeris.


Para polisi itu tak lagi menggubris. Bu Rahma tetap diseret ke tempat itu. Meski Pak Daniel meninggal karena ketidaksengajaan, tapi wanita itu tetap harus bertanggung jawab karena sudah melarikan diri. Selain itu, dia juga dituntut untuk menebus kejahatannya karena sudah mengunci Andini di ruangan gelap sehingga menyebabkan keguguran.


***


Andini menatap tajam wanita paruh baya yang kini duduk di depannya. Wanita itu sesekali menunduk, kadang mengedarkan pandangannya ke arah lain. Tapi kini dia menatap Andini dengan penuh kebencian.


"Semua ini gara-gara kau, anak haram ! Jika saja kau tidak pernah ada di dunia ini, maka hidupku akan tetap bahagia bersama suami dan putriku."


"Cukup, anda tidak berhak menghina saya lagi ! Sudah terlalu banyak kejahatan yang anda lakukan pada saya. Anda memang pantas berada di tempat ini !" ucap Andini.


"Harusnya kau yang menderita, Andini !" agak berteriak.


"Kenapa anda tega melenyapkan ayah saya ?"


"Ayahmu itu adalah suamiku, mana mungkin aku tega menghabisinya ! Aku tidak sengaja melakukannya." Terdengar penyesalan dari perkataannya, tapi sejurus kemudian wanita itu terbahak. "Tapi mungkin Daniel memang pantas mati ! Dia bukan suamiku lagi, dia sudah berubah. Dia menyayangi anak haramnya." Tawanya berubah jadi tangis. "Dia lebih sayang Andini daripada aku dan Yasmin."


Andini menatapnya lekat. Apakah dia mulai sakit jiwa ?


"Bu, berusahalah untuk berlapang dada menerima semua yang terjadi ! Aku harap ibu dan Yasmin bisa menjadi orang yang lebih baik lagi !" Andini beranjak dari duduknya. Dia segera pergi meninggalkan Bu Rahma yang masih menggerutu sendiri. Kadang wanita itu tertawa, kadang menangis histeris. Mungkin benar jika kini Bu Rahma sudah tidak waras.


(Siap-siap para readers, ini telah memasuki episode akhir. Terima kasih banyak sudah support 🤗)

__ADS_1


__ADS_2