Seperti Sampah

Seperti Sampah
Bab 38.


__ADS_3

Di rumah keluarga Yusuf.


Semua orang menyambut haru kepulangan Andini. Mereka bergantian memeluknya, kecuali para pria. Oma bahkan menciumi wajah istri cucunya itu, benar-benar bahagia bisa melihat kembali Andini.


"Oma bahagia karena akhirnya kamu kembali lagi ke rumah ini. Bukan hanya Yusuf yang merindukan kamu, tapi kami semua merasa kehilangan. Andini, jangan lagi main petak umpet !" tersenyum meski bercucuran air mata.


Semua adik dan sepupu juga menyambutnya dengan hangat. Mereka sudah menganggap Andini sebagai kakak kandung.


"Kak Andini, kakak terlihat cantik memakai baju seperti itu. Malah mirip Khaira dan mama, sederhana dan anggun." Ucap Khesya.


Andini tersipu malu. Benarkah jika dirinya cocok memakai gamis dan kerudung itu ?


"Ini, pemberian Bu Vivian. Orang yang sudah menolong ku."


"Bagus, kak. Aku suka warnanya soft. Modelnya juga tidak terlalu rame." Khaira ikut berkoar.


"Kami permisi, Andini harus istirahat dulu." Malah membahas baju ! Yusuf merangkul pinggang istrinya dan melangkah ke lantai atas.


***


Andini duduk di atas sofa. Tentu saja suaminya berada di sebelahnya. Mata mereka bersirobok.


"Apa mereka tidak tahu apa yang sudah menimpaku ?" tanya Andini.


"Tentu saja tidak. Aku ingin kamu tetap merasa nyaman berada di sini."


"Tapi, kamu sudah tahu semuanya. Kenapa masih mau menerimaku ?" mulai berkaca-kaca.


"Kamu itu pikun, sudah ku bilang jika aku sangat mencintaimu. Aku akan tetap berada di sisimu, apapun yang terjadi. Mulai detik ini, jangan lagi membahasnya. Fokus saja pada kebahagiaan kita !" Tersenyum sambil memegang tangan.


"Terima kasih banyak." Meneteskan air mata haru.


"Jangan menangis lagi, matamu semakin bengkak ! Tunggu di sini, aku ambilkan makanan untuk kita." Yusuf beranjak dari duduknya dan melangkah pergi. Setelah beberapa menit, dia muncul dan duduk kembali.


Dengan sigap, pria itu menyuapkan makanan ke mulutnya dan Andini secara bergantian. Dia sangat bersemangat hingga menghabiskan banyak makanan. Sedangkan Andini, masih banjir air mata di sela-sela makannya. Sungguh dirinya terharu melihat ketulusan hati suaminya.


"Kenapa, kamu terlalu bahagia karena aku suapi ?" menghapus cairan kristal dari pipi Andini.


Wanita itu tertunduk, "Aku sangat beruntung memiliki suami yang baik sepertimu."


Yusuf memeluknya dengan sebelah tangan. Mengecup kepala Andini yang bersandar di bahunya. "Aku juga sangat beruntung karena bisa bersama dengan wanita yang aku sayangi."


Pintu diketuk. Suara seorang pria terdengar seiring ketukan pintu. Yusuf membuka pintu dan mempersilahkan mertuanya masuk.


"Maaf, saya mengganggu. Saya hanya ingin bertemu putri saya." Ucapnya.


Yusuf terdiam. Jika saja pria itu bukan ayah kandung istrinya, maka sudah pasti Pak Daniel akan dia usir.


Pak Daniel perlahan menghampiri Andini dan duduk di sampingnya. Menatap dalam-dalam wajah putrinya itu. Mata dan bibir Andini benar-benar mirip dengannya. Baru kali ini dia menyadari jika Andini adalah darah dagingnya. Entah kenapa pria itu kini berpikir begitu ? Kemana saja dia selama ini ?


Pak Daniel mengusap pipi anaknya dengan lembut. Tak terasa air matanya mengalir. "Apa kabar, nak ? Ayah ikut mencemaskan mu. Kemana saja kamu selama ini ?" Memang benar, Pak Daniel khawatir dan bahkan ikut mencari keberadaan Andini tanpa sepengetahuan menantunya.


"Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mau mencemaskan ku."


"Nak, maafkan ayah. Selama ini ayah sudah banyak berdosa padamu dan mendiang ibumu."


Yusuf yang berdiri di sebelah sofa, mengernyitkan keningnya. Apa laki-laki tua ini benar-benar tulus mengatakannya ?


Andini terus menatap sepasang bola mata ayahnya. Namun, yang dia lihat hanyalah kejujuran dan ketulusan. Untuk pertama kalinya dia merasakan kehangatan seorang ayah.


Pak Daniel menunduk dan masih terisak-isak. "Ayah sudah banyak berdosa, tidak pantas diberi maaf. Andini, ayah tidak layak menjadi orangtua bagi anak baik sepertimu."


"Ayah, aku senang akhirnya ayah sadar. Aku telah memaafkan sebelum ayah mengatakannya sekalipun. Aku sangat merindukan ayah !" Ayah dan anak itu saling berpelukan dengan berlinang air mata.


Yusuf ikut terharu meski ada sedikit keraguan dalam dirinya atas ketulusan Pak Daniel.


***


Bu Rahma duduk berhadapan dengan putri satu-satunya. Ini pertama kalinya dia menjenguk Yasmin.


"Kenapa ibu baru menemuiku ? Mana ayah, kenapa tidak ikut ?" ketus.


"Maaf, sayang. Ibu sebenarnya ingin menemui mu dari kemarin, tapi ayahmu melarang. Dia tidak mau berurusan dengan anak yang sudah mencoreng nama baiknya." Marah dan sedih.

__ADS_1


Yasmin mengepalkan tangannya. "Lalu, apakah ayah sudah tidak lagi peduli padaku, putri kesayangannya ?"


"Putri kesayangannya saat ini adalah si anak haram itu. Apa kamu tahu, sayang ? Ayahmu itu kemarin-kemarin kelimpungan ikut mencari si Andini. Ibu juga heran, kenapa mendadak ayahmu berubah ?"


"Mungkin ayah cuma pura-pura seperti biasanya."


"Tidak, ibu bisa melihat sendiri jika ayahmu benar-benar mencemaskan Andini. Dia bahkan saat ini ijin dari kantor hanya untuk menemui putrinya itu."


"Jadi dia sudah kembali ? Wanita itu, selalu mengambil apa yang harusnya jadi milikku. Harusnya aku melenyapkan jasadnya sekalian. Arggghhh !" Berteriak frustasi sambil membenturkan jidatnya ke pinggir meja.


Bu Rahma menghampiri dan memeluknya. "Sayang, tenanglah. Ibu akan membalasnya."


"Bu, jika ingin menyentuh wanita sialan itu, maka ibu harus hati-hati ! Saat ini ada seseorang yang turut menjaganya. Dia adalah teman Andini. Meskipun hanya perempuan, tapi dia nyaris saja menggagalkan rencanaku." Mendongak, menatap tajam ke depan.


"Siapa yang kamu maksud ?"


"Mungkin bodyguard yang dipersiapkan Yusuf untuk istrinya, atau...intinya dia bisa menjadi penghalang untuk semua rencana kita menghancurkan Andini. Ibu tahu ? Tadi wanita itu datang ke sini. Bertanya banyak hal tentang apa yang aku lakukan pada Andini."


"Lalu, apa kamu mengatakan semuanya dengan jujur ?"


"Aku tidak sebodoh itu. Aku bilang padanya bahwa Alex sudah berhasil menodai Andini. Tapi sepertinya dia tidak percaya begitu saja."


"Bagaimana jika wanita itu bertanya pada Alex ?"


"Mungkin saja. Tapi pria itu begitu mencintaiku. Dia tidak akan mungkin membocorkan rahasia ini."


Bu Rahma kembali duduk. "Sudah ibu bilang jika rencana ini terlalu beresiko. Kamu itu bodoh, Yasmin. Alex akan memberi tahu kebenarannya atau tidak, Yusuf nyatanya masih saja menerima Andini."


"Ibu benar, mungkin kita harus cari cara lain untuk menghancurkan hidup wanita rendahan itu."


Ibu dan anak itu masih belum menyerah. Mereka akan menunggu waktu yang tepat untuk balas dendam.


***


Setelah kepergian Pak Daniel, Yusuf duduk kembali di sebelah istrinya. "Apa pria itu benar-benar tulus menyadari kesalahannya ?"


"Sepertinya, ya. Aku tidak melihat keraguan dalam matanya. Baru tadi aku melihatnya setulus itu. Aku bisa merasakan jika ayah benar-benar menyesali perbuatannya."


"Jika memang begitu, aku ikut senang. Tapi aku akan terus mengawasinya, termasuk istrinya !"


Yusuf tersenyum lalu memeluk tubuh Andini. Wanita itu kembali merasakan ketenangan dalam benaknya ketika wajahnya menempel pada dada suaminya. Belaian lembut di kepalanya berhasil membuatnya mengantuk. Dalam waktu singkat, dia sudah tertidur.


Yusuf terus berbicara ini-itu meskipun istrinya tak berkomentar. Membahas hal-hal ringan dan tentang rencana masa depan. Tangannya tidak berhenti mengusap kepala Andini.


"Sayang, apa kamu dengar ? Aku ingin punya banyak anak biar rame. Semoga saja kita bisa punya anak kembar seperti adik-adikku."


Masih hening, tidak mungkin istrinya itu tidak tertarik untuk berpendapat. Jangan bilang jika Andini menangis lagi ! Yusuf sedikit memiringkan kepalanya ke bawah. Seketika itu juga dia tersenyum melihat istrinya itu memejamkan mata. Syukurlah, ternyata dia tidur !


Yusuf memindahkannya ke atas tempat tidur. Ikut berbaring di sana dan memakai selimut untuk mereka berdua. Mengecup semua area wajah Dini lalu memeluknya erat. Selang beberapa menit, Yusuf ikut terlelap. Keduanya memang harus beristirahat setelah tenaga dan pikiran terkuras karena masalah kemarin.


Satu jam berlalu. Andini bangun dari tidurnya. Menatap wajah yang selalu membuatnya tenang. Membelai-belai pipi suaminya dengan lembut.


Terima kasih banyak karena sudah mau menerima segala kekuranganku. Aku janji tidak akan lagi membuatmu susah dan bersedih.


Usai mengecup kening Yusuf, wanita itu segera mandi dan pergi ke ruang ganti.


Yusuf membuka matanya dan langsung terbangun saat mendapati istrinya tak ada di tempat tidur. "Andini, dimana dia ?" bergumam sendiri sambil melangkah ke kamar mandi. Dia tak menemukan sosok yang dia cari. Yusuf bergegas ke ruang ganti. Langkahnya terhenti ketika Andini berada tepat di hadapannya.


"Sayang, ternyata kamu di sini. Aku takut kamu pergi lagi." Memeluk erat.


"Aku tidak akan menjauh lagi. Aku janji !"


"Aku percaya, tapi tetap saja rasa takut itu masih ada. Jika ingin kemana pun tolong beritahu aku !" memegang wajah Andini.


"Ya, tapi barusan aku kan tidak kemana-mana. Masa ke kamar mandi saja harus minta ijin. Jangan terlalu berlebihan, sayang. Aku tidak akan mengulangi kesalahan lagi !" tersenyum manis.


Lagi-lagi pintu diketuk. Kali ini suara bibi pelayan yang terdengar. "Tuan, maaf mengganggu. Di bawah ada yang menunggu anda, katanya penting."


"Siapa bi ?" Yusuf setengah teriak.


"Tidak tahu tuan, pria itu tidak menyebut namanya."


"Baiklah, saya ke sana sebentar lagi."

__ADS_1


"Baik, tuan. Saya permisi." Berlalu pergi.


Yusuf memeluk istrinya sebelum turun ke bawah. "Sayang, aku menemui orang itu sebentar. Kamu tunggu di sini, jangan kemana-mana !"


Andini tersenyum, "Siap, sayang."


Setelah mengecup kening Andini, dia pun pergi ke ruang tamu.


Si tamu itu berdiri ketika melihat kedatangan orang yang dia tunggu. Dengan tatapan penuh kemarahan, pria itu menghampiri Yusuf. Tangannya mencengkram erat baju bagian leher si pria bermata sipit.


"Hey, jaga sopan santunmu ! Kau mau bertamu atau menyerangku ?" Menghempaskan tangan lancang pria itu. Namun si tamu kurang ajar itu tak mau melepaskan.


"Aku mau kau bertanggung jawab atas keselamatan istriku. Semenjak kau menjadikannya pengasuh istrimu, selalu saja ada bahaya yang mengintainya." Berteriak-teriak.


"Maksudmu, apa yang terjadi dengan Meta ?" mulai panik.


"Dia saat ini ada di Rumah Sakit. Meta kecelakaan saat dalam perjalanan ke rumah ini." Menangis dan tubuhnya melorot, bertumpu pada lututnya. "Istriku, dia harus terbaring lemah di sana. Jika saja dia tidak buru-buru pergi kemari, mungkin saat ini dia masih berkumpul bersamaku dan anak-anak."


Yusuf berjongkok menepuk bahu pria itu, "Maaf, aku sungguh tidak bermaksud untuk membuat Meta celaka. Aku akan bertanggung jawab untuk kesembuhan istrimu."


Ketika itu muncul Oma, si kembar dan juga Andini. Wajah mereka semua penuh tanda tanya. Siapakah gerangan tamu pembuat keributan di rumah itu ? Kenapa dia marah-marah pada Yusuf ?


"Jika istriku tidak bisa tertolong, maka kau harus bertanggung jawab !" berdiri dan menunjuk-nunjuk Yusuf.


Andini mendekat dan membantu suaminya berdiri. "Siapa anda ? Kenapa bersikap kasar pada suami saya ?"


Pria itu menatap Andini dengan tajam. "Jadi wanita ini penyebab semua hal buruk yang menimpa istriku ?"


"Galang, diam ! Jangan pernah menyalahkan Andini ! Istriku tidak tahu apa-apa. Aku yang akan bertanggung jawab. Sekarang beri tahu, Meta ada di Rumah Sakit mana ?!"


"Ikut aku !" Galang menatap semua orang di rumah itu dengan penuh kebencian. Di matanya, Yusuf dan seluruh keluarganya sama-sama bersalah. Dia melenggang pergi diikuti Yusuf.


Andini menyusul suaminya, "Aku ikut !" penasaran dan khawatir.


Yusuf awalnya menolak, namun karena Andini terus memaksa dia pun mengijinkan.


Dalam perjalanan, Yusuf menjelaskan semua yang terjadi pada Meta. Sekalian memberi tahu jika wanita itu adalah orang suruhannya untuk menjaga dan menemani Andini. Kini keduanya merasa begitu bersalah akan nasib Meta. Semoga saja perempuan baik itu segera pulih.


***


Meta terbaring lemas di atas ranjang Rumah Sakit. Banyak sekali alat medis yang menempel di tubuhnya. Semua orang yang ingin menjenguknya, hanya bisa menatap dari luar melalui kaca.


Andini dan Yusuf menatapnya sedih sekaligus merasa bersalah. Galang duduk di kursi seraya menangis frustasi. "Istriku, apa yang harus ku katakan pada anak-anak ? Mereka pasti sedih melihat ibunya menderita."


Andini menangis tersedu. Dia ikut merasakan kepedihan hati Galang. Selain itu, dia juga merasa bersalah pada Meta dan keluarganya.


Galang beranjak dari duduknya lalu menghampiri Yusuf. "Kau sudah lihat, istriku koma. Tidak tahu kapan akan sadar. Sekarang apa yang akan kau lakukan, tuan Yusuf Hadi Wijaya ?"


"Maaf, aku tidak bisa mencegah semua ini. Tapi aku akan bertanggung jawab sepenuhnya. Administrasi dan lainnya, itu adalah urusanku."


Galang tersenyum kelu, "Ku harap kau menepati janji !"


"Aku akan memastikan jika Meta mendapat perawatan yang terbaik, jika perlu aku akan membawanya ke luar negri. Kau bisa pegang kata-kataku !"


Galang terdiam, tapi dia berusaha untuk mempercayai Yusuf. Bagaimana pun juga, hanya Yusuflah yang mampu mengurus semua ini. Dirinya yang hanya seorang karyawan biasa di suatu perusahaan, tidak akan mampu menanggung biaya perawatan istrinya.


Saat itu Willy baru saja tiba. "Maaf, tuan. Saya terlambat." Membungkuk hormat.


"Tidak masalah." Ucap Yusuf.


Saat Willy mendengar kabar kecelakaan Meta, dia langsung pergi ke rumah Yusuf untuk memberi laporan. Namun, tuannya itu sudah lebih dulu mengetahui dan berangkat ke Rumah Sakit ini.


Galang terduduk lesu bersandar pada tembok, tangisnya semakin pecah. "Meta, cepat bangun sayang. Aku dan anak-anak membutuhkan mu."


Semua orang terdiam, ikut merasakan kepedihan hati pria itu.


"Yusuf, kau dan istrimu harus bertanggung jawab jika Meta-ku tidak selamat !" Bangkit dan kembali mencengkram baju Yusuf.


Willy memegang kuat tangan Galang, menatapnya murka. "Jaga sikapmu ! Ini semua bukan salah tuan Yusuf dan istrinya."


Yusuf menatap asistennya sambil menggeleng. "Dia sedang bersedih dan frustasi. Aku bisa memahaminya."


Galang melepaskan Yusuf dan kembali terduduk, masih menangis.

__ADS_1


"Will, tolong cari tahu mengenai apa yang terjadi pada Meta, apa itu kecelakaan murni atau disengaja ?!" berkata pelan agar tak terdengar oleh Galang.


Asisten itu hanya mengangguk, pertanda dia akan melaksanakan perintah itu.


__ADS_2