
Willy melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah. Dia tak mau momen indah bersama Khesya segera berakhir.
Sepanjang perjalanan tak ada yang bicara sepatah katapun. Keduanya sama-sama gugup saat ini. Willy berusaha untuk tenang dan fokus mengemudi meski hatinya kini tengah berjingkrak riang. Dan Khesya, untuk pertama kalinya dia bisa sekalem ini. Biasanya selalu saja ada celotehnya yang rame dan berisik. Tapi sekarang mulutnya seolah terkunci. Jangankan untuk berbicara, untuk bernafas pun dia melakukannya dengan hati-hati.
Mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah keluarga Hadi Wijaya.
"Terima kasih sudah mengajakku nonton. Aku....emmm, apa kamu mau ke dalam dulu ?" tanya Khesya gugup.
"Untuk saat ini, saya akan langsung pulang. Banyak hal yang harus saya persiapkan untuk melamar anda, nona."
Khesya terbelalak, "Apa kamu seserius itu ?"
"Saya sangat serius dan tidak pernah main-main jika menyangkut anda. Saya akan bicara pada tuan Yusuf mengenai rencana kita." Menatap lekat.
"Baiklah, itu bagus." Tersipu malu. "Tapi, bisakah tolong jangan seformal ini jika sedang bicara padaku ? Masa sama calon istri manggilnya nona, anda ! Tidak enak didengar."
"Harus panggil apa ?" tak ada ekspresi sama sekali.
"Ihh, kamu datar sekali. Panggil saja Khesya !"
"Tidak, itu tidak sopan."
"Kalau begitu panggil saja aku, sa-yang !"
Willy menatapnya lebih dalam. "Bolehkah jika saya memanggil nona seperti itu ?"
"Harus ! Mulai detik ini jangan panggil nona lagi !"
"Tapi jika di depan orang lain, bagaimana ?"
"Selama hubungan kita belum resmi, maka di depan orang lain panggil saja....ya baiklah, panggil saja nona !" Maunya dipanggil sayang juga meski di hadapan orang, tapi karena tidak mau membuat pria itu malu, maka tidak masalah tetap dipanggil nona pun.
"Baiklah, nona sayang."
Khesya terpingkal-pingkal, "Heyyy, kenapa kamu kaku sekali ? Jika ingin memanggil sayang, maka jangan panggil nona !"
"Ya, sayang." Masih datar.
"Wajahmu kurang senam, ya ?! Setidaknya tunjukkan jika kamu memang bahagia saat ini !"
Bukan tidak pandai berekspresi, tapi pria itu sebenarnya malu jika terlalu menunjukkan bagaimana perasaannya. Cukup berkata aku menyukaimu saja, baginya itu adalah suatu pengumuman yang besar. Tapi bagi seorang perempuan secuek Khesya pun, masih butuh rasa gemas dalam berekspresi.
Willy tersenyum manis, senyuman paling indah yang dia tunjukkan pada orang lain. Baru gadis itu yang beruntung melihatnya.
"Baik, sayang. Lihatlah, aku begitu bahagia karena kamu pun ternyata menyukai aku !"
Khesya melihat kembang api yang indah meletup-letup di dekatnya. Betapa perkataan dan ekspresi pria itu telah melelahkan hatinya. Willy benar-benar jauh berlipat-lipat lebih tampan saat ini. Rasanya dia ingin mencubit kedua pipi pria itu saking gemasnya.
"Sayang, kamu tidak mau masuk ke rumah ?" pertanyaan itu menyadarkan Khesya. "Ahhhh, aku masuk sekarang. Sampai jumpa nanti, sayang !" Cepat-cepat keluar dari mobil lalu berlari. Dia benar-benar malu karena sudah mengatakan itu pada seorang pria.
Eaaaa, eaaaaa ! Akhirnya aku punya pasangan juga ! Sebentar lagi aku kawin, yeeee ! Khaira sepertinya akan keduluan olehku !
Betapa riang dan girangnya gadis itu. Mesem-mesem sendiri sampai tiba di kamarnya. Untung saja tak ada yang melihat kekonyolannya itu.
***
Malam ini di ruang kerja Yusuf.
Willy berdiri di hadapan tuannya.
"Duduklah, Will ! Jangan terlalu tegang begitu !" ucap Yusuf.
Willy mengangguk dan menuruti perintahnya.
"Katakan, ada masalah apa sampai kamu terlihat tegang ?!"
Willy masih menunduk, "Maaf, tuan. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada anda dan keluarga besar ini, saya ingin mengutarakan sesuatu."
"Cepatlah bicara, jangan berbelit-belit !" wajah penasaran itu muncul.
"Saya sebenarnya sudah lama menyukai nona Khesya. Bolehkah jika saya ingin menjadikannya sebagai pendamping hidup ?"
Yusuf tertawa, "Sudah aku duga, kamu memang menyukai adikku. Tapi, apakah kamu benar-benar serius dengan niatmu ini ? Apa kamu yakin dapat membahagiakannya ?" menatap tajam dengan serius.
Willy mendongak, "Saya sangat serius, tuan. Saya memang bukan pria yang paling hebat, tapi saya akan selalu berusaha membuat nona Khesya tersenyum."
Yusuf manggut-manggut pertanda jika ia puas dengan jawaban dari asistennya. "Aku sangat percaya padamu, Willy. Tapi, kamu harus melamar adikku secara langsung pada kedua orang tua kami."
"Saya siap, tuan !"
Yusuf tersenyum puas melihat kemantapan dari pria itu. Tak ada sedikitpun keraguan untuk menyetujui hubungan mereka.
"Aku sangat setuju jika kamu ingin melamar Khesya. Tapi, apa kamu yakin jika adikku juga mau menikah denganmu ? Jangan sampai setelah kamu cape mempersiapkan segalanya, tapi ternyata wanita yang ingin kamu nikahi malah menolak."
"Kebetulan nona Khesya juga menyukai saya. Jadi saya rasa, hanya tinggal meminta restu dari semua keluarga."
Yusuf tersenyum bahagia. "Syukurlah. Kamu benar-benar mantap ingin menikahinya. Aku jadi lega. Aku akan menghubungi mama dan papa. Nanti aku kabari lagi, kapan mereka bisa ke Indonesia."
Willy mengangguk hormat. "Terima kasih banyak, tuan."
__ADS_1
"Ayolah calon adik ipar, jangan terlalu formal pada kakakmu ini !"
Willy hanya tersenyum kaku. Rasanya dia masih gugup jika harus bersikap lebih santai pada tuannya itu.
***
Yusuf menghampiri istrinya yang baru saja berbaring di tempat tidur. Ia memeluknya dari belakang.
"Sayang, belum tidur ?" bisiknya.
Andini membalikkan tubuhnya agar menghadap Yusuf. "Belum, mas. Aku menunggumu."
Pria itu tersenyum nakal, "Kenapa menungguku ? Apa kamu menginginkan itu ?"
Andini nyengir, "Aku penasaran, kenapa Willy menemuimu ?"
"Bukankah hal itu sudah biasa ? Dia memang kadang menemuiku di ruang kerja jika ada hal yang penting."
"Tapi entah kenapa, aku sangat penasaran kali ini ? Kamu tidak sedang ada masalah, kan sayang ?!"
"Willy tadi meminta ijin untuk melamar Khesya."
Andini terbelalak, "Benarkah ? Emmm, berarti feelingku selama ini memang benar. Asistenmu itu menyukai Khesya."
"Tahu dari mana ?"
"Dari sorot matanya saat menatap Khesya. Meskipun tidak ada ekspresi di wajahnya, tapi mata itu tak dapat berbohong. Hanya saja aku tidak pernah membahas ini padamu karena aku tidak mau so tahu, nanti malah salah. Tapi setelah mendengar kabar ini, aku jadi ikut senang. Semoga saja mereka benar-benar berjodoh."
"Aku juga berharap begitu. Aku yakin bahwa Willy adalah pria yang baik untuk Khesya. Aku tahu persis bagaimana karakternya."
Andini manggut-manggut.
Yusuf menggerakkan tangannya kesana-kemari. Menjelajah pada setiap area dari istrinya. "Sayang, ayo kita bermain !" Itulah kodenya.
Andini mengerucutkan bibirnya, "Aku pikir kita masih akan mengobrol. Ehhh, tetap saja pikiranmu berakhir ke arah sana."
"Sayang, jangan menolak jika kamu tidak mau berdosa !"
"Ahh, mas memang pintar modus !"
"Yes, i am ! " Usai bicara, dia beraksi. Tidak sedikitpun memberi celah pada istrinya untuk bebas. Dan malam itu berakhir dengan pergulatan hebat yang begitu seru.
***
Pagi-pagi sekali Khaira mengetuk pintu kamar kakaknya. Tak lama berselang, pintu terbuka. Khaira masuk lalu duduk di sofa bersama Andini.
"Kak, aku mau bicara penting. Tapi jangan marah, ini tentang Louis."
"Kenapa laki-laki itu ? Dia mengganggumu ?"
"Jangan marah, kak ! Aku jadi takut untuk bercerita."
"Bukan marah, aku cemas ! Katakan, ada apa dengan pria itu ?!" duduk di sebelah istrinya.
"Kak, Louis dan aku memutuskan untuk menikah. Tapi sebelum itu, dia ingin meminta restu dari semua keluarga kita."
"Apa dia serius ?"
"Serius, kak. Jika tidak, mana mungkin dia mengatakan ini. Louis dan keluarganya akan datang menemui mama dan papa jika keluarga kita sudah siap. Maksudnya, dia menunggu orang tua kita pulang ke sini."
Andini dan Yusuf saling tatap. Kenapa bisa berbarengan seperti ini ? Gadis kembar itu sama-sama akan dilamar dalam waktu dekat.
"Baiklah, kakak akan mengurusnya. Bilang padanya agar mempersiapkan diri untuk mengambil hati mama dan papa !" Ucap Yusuf.
Khaira berbinar, "Terima kasih banyak, kak !" beranjak dari duduknya dan memeluk Yusuf. "Kakakku ini memang yang paling hebat !"
"Ya, kakak tahu. Jangan modus !"
"Bukan modus, ini memang fakta. Kak Yusuf memang kakak yang baik." Melepas pelukannya.
"Semoga kalian berjodoh dan mendapat kebahagiaan." Yusuf tersenyum.
"Aamiin !! Aku mau ke kamar dulu, mau menelpon, memberi tahu Louis tentang kabar ini." Segera pergi dari sana.
"Kebetulan sekali adik kembarmu sama-sama ada yang ingin melamar. Pasti lucu jika mereka menikah pada waktu bersamaan." Ucap Andini.
"Kita lihat saja nanti. Sayang......bisa ya sekarang ?" tiba-tiba mengelus pipi istrinya.
"Apa lagi sih ? Ini masih pagi dan kamu seharusnya siap-siap pergi ke kantor !" Mulai ngeres.....!
Yusuf tersenyum nakal sambil merayap ke area bawah hidung yang manis itu. "Aku bosnya, aku bebas mau ke kantor atau tidak. Lagipula ini tidak akan memakan waktu lama, sebentar saja. Istri yang baik harus bisa menjadi penyemangat untuk suaminya. Benar kan ?!"
Andini memutar bola matanya malas, "Selalu saja begini. Kenapa kamu tidak ada cape-capenya ? Sebelum kerja, pulang kerja, sebelum tidur, maunya begitu terus."
"Kamu tahu sayang, semakin cape aku malah semakin bersemangat jika sudah melihatmu ?! Entahlah, kamu semakin menggemaskan saja. Setelah punya anak, kamu malah terlihat lebih s*xy. Aku kan jadi ingin terus bermain denganmu." Usai bicara, dia mengunci istrinya agar tidak kabur.
Dasar kebiasaan, sukanya nyosor ! Aku benar-benar tidak paham, kenapa dia punya stamina yang sekuat ini ? Aku yang selalu kena jadinya.
Pagi yang penuh semangat untuk Yusuf. Dan pagi yang melelahkan untuk Andini. Kadang kesal tapi itu tetaplah kewajibannya sebagai seorang istri. Jadi, mohon bersabarlah nyonya Yusuf !
__ADS_1
***
Dua bulan berlalu.
Setelah acara lamaran sebulan ke belakang, kini saatnya hari pernikahan itu tiba.
Willy berdiri mematut diri di depan cermin setelah selesai dirias. Bukan untuk mengagumi ketampanannya. Dia melihat sosoknya yang hanya datang sendiri ke acara pernikahannya. Tidak ada orang tua ataupun saudara yang mendampinginya. Dia hidup sebatang kara setelah kepergian ayah ibunya. Itulah yang membuatnya bersedih. Di hari yang paling sakral ini, tidak ada orang yang bisa diajaknya berbagi kebahagiaan.
"Will, kamu sudah siap ?" suara tuannya membuyarkan semua yang ada dalam pikirannya.
Yusuf berjalan menghampiri. Dia menepuk pundak pria itu, "Aku dan Andini akan berdiri sebagai perwakilan dari keluargamu." Dia tahu betul apa yang tengah dirasakan asistennya.
Willy berbalik menghadap Yusuf. "Terima kasih banyak, tuan." Menangis sambil memeluk erat.
"Jangan berterima kasih ! Aku memang sudah menganggapmu sebagai saudara. Jadi, bergembiralah dan nikmati hari ini ! Jangan biarkan kesedihan mengganggu konsentrasimu saat ijab kabul nanti !"
Willy melepas pelukannya. Dia berdiri tegap dan mengatur nafasnya. Yusuf membantu merapikan tampilan pria itu. "Ayo adikku, tunjukkan pesonamu !" Mereka pun bergerak menuju ball room hotel tempat acara berlangsung.
***
Khaira dan Khesya berjalan bersama memasuki ball room hotel. Keduanya memakai baju pengantin berwarna merah dengan model yang sama. Riasan mereka pun tidak berbeda. Kedua perempuan itu benar-benar mirip, kembar identik.
"Lucu sekali, mereka cantik."
"Ini yang mana Khaira, yang mana Khesya ? Nanti suami mereka apa bisa membedakan ? Awas nanti ketukar !"
"Aku jadi ingin punya anak kembar juga. Lucu sekali !"
Berbagai celotehan dari para tamu saat melihat kedua mempelai wanita muncul. Semuanya terpana dengan keindahan si kembar. Tak terkecuali Louis dan Willy. Meski mungkin mereka bingung yang mana calon istrinya, tapi jelas keduanya sama-sama terpesona.
Khaira dan Khesya duduk di samping calon imamnya. Acara demi acara pun berlangsung. Saat ijab kabul, dilakukan pertama kali oleh Louis. SAH !
Ijab kabul selanjutnya diucap oleh Willy. Tanpa keraguan dan kesalahan, dia merapalkan kalimat pengesah hubungan itu. SAH !
Kini kedua pasang insan itu telah resmi menjadi suami-istri. Tangis haru dan bahagia menyelimuti semua orang yang ada di sana.
***
Hari yang melelahkan telah berlalu. Semua tamu undangan sudah meninggalkan pesta pernikahan. Kedua pasang pengantin telah memasuki kamar mereka, masih di hotel tempat resepsi digelar.
Willy berada di kamar mandi. Sedangkan Khesya pergi menemui kembarannya. Saat itu Louis pergi ke luar sebentar. Di kamar itu hanya ada Khaira dan Khesya.
"Aduh, bagaimana ini ? Aku sangat gugup !" ucap Khaira.
"Kamu pikir aku tidak gugup ? Sama saja !" imbuh Khesya.
"Sya, apa aku pura-pura tidur saja ya ? Ini sangat menakutkan bagiku !"
"Malah si Louis keenakan kalau kamu tiduran. Eh, ngomong-ngomong kenapa kamu menyuruhku kemari ?"
"Aku ingin ditemani, aku sangat gugup !"
"Bukannya tidak mau, tapi ini kan malam pertama kalian dan aku tentunya bersama suamiku. Masa aku harus terus berada di kamarmu ?"
"Sebentar saja. Aduhhh, Sya. Aku sakit perut saking gugupnya. Sebentar ya, jangan dulu kemana-mana ! Kalau suamiku keburu kemari, bilang saja aku ada di kamar mandi !" Khaira cepat-cepat pergi.
"Jangan lama-lama Khai ! Aku kan juga harus ke kamarku. Kasihan Willy-ku jika harus ditinggal sendiri." Agak teriak.
Khesya mengambil majalah yang ada di atas meja. Dengan santainya dia membaca sambil ongkang-ongkang kaki di sofa.
Ceklek ! Pintu terbuka, Louis menghampiri perempuan yang sedang asik membolak-balik halaman majalah.
"Sayang, kamu serius sekali membacanya." Memeluk erat.
Khesya menghempas tangan nakal itu dari tubuhnya. Dia segera berdiri, "Louis, kurang ajar ! Jangan sembarangan peluk-peluk !" memukul pria itu dengan majalah yang dipegangnya.
"Sya ? Sedang apa kamu di kamarku ? Mana Khaira ? Jangan bilang jika kalian ingin tukar posisi !" mulai marah.
"Siapa yang punya pikiran begitu ? Aku masih waras. Mana mungkin aku mau menukar suamiku yang tampan dengan pria sepertimu !" berteriak-teriak.
Khaira menghampiri, "Kenapa kalian bertengkar ?"
"Khai, suamimu seenaknya memelukku."
"Enak saja, kamu yang tiba-tiba ada di sini. Jangan salahkan aku jika aku kira kamu adalah Khaira !"
"Ini semua salah paham. Maaf, ini semua salahku. Aku yang meminta Khesya kemari." Jelas Khaira. Dia tidak menyangka akan seperti ini. Benar-benar menyesal.
"Tuh kan, aku tidak nyelonong seenaknya ke kamar ini. Khai, aku balik ke kamarku." Ucap Khesya.
"Iya, maaf !" ucap Khaira.
"Aku juga minta maaf, Sya !" Louis menimpali.
"Heemm." Masih kesal. Dia buru-buru pergi ke kamarnya.
Sungguh sial nasib Khesya. Harusnya yang pertama kali memeluknya adalah Willy, suaminya. Tapi karena salah paham, pria pertama yang menyentuhnya adalah iparnya sendiri. Untuk pertama kalinya, dia merasa tidak beruntung mempunyai saudara kembar.
Masih ada extra bab, tunggu saja 😁
__ADS_1