
Saat Teni pergi Suci pun ikut angkat kaki dari ruang Dirut namun berhasil dihentikan sang Bos.
"Duduk dulu saya mau bicara." Titah Riki.
Suci mengikuti perintahnya.
"Kamu baik-baik saja kan ?!"
"Saya tidak apa-apa...Apa bapak sudah tahu tentang hubungan Teni dan saya ?"
"Ya...saya tahu bahwa Teni adalah orang ketiga dalam rumah tangga kamu dengan Doni."
Tentu saja dia tahu karena Raisya pasti yang memberinya informasi.
"Raisya yang bercerita. Dia bukan mau mengadu tapi memang dia merasa sangat berempati padamu. Raisya sudah menganggapmu sebagai saudaranya sendiri."
"Sikap bapak tadi ke Teni ? apa karena..." ragu melanjutkan lagi perkataannya karena belum yakin dengan hipotesa nya.
"Saya memang tidak tertarik untuk bekerja sama dengan Teni meski dia tidak ada kaitannya dengan rumah tangga kamu."
Suci tak lagi berbicara.
"Suci apa kamu bersedia memaafkan semua kesalahan yang pernah aku lakukan padamu ?"
"Kenapa bapak mengungkit yang sudah lalu ? saya sekarang sudah melupakannya."
Lebih tepatnya tidak ingin mengingatnya lagi.
"Kamu mau memaafkanku ?" menatap penuh harap meski yang ditatap masih menunduk.
"Saya sudah memaafkan dan melupakannya. Tapi jika bapak terus membicarakannya maka luka itu akan kembali terbuka."
"Terima kasih karena sudah memberi maaf. Saya tidak akan membicarakan hal itu lagi."
Tetap saja aku merasa sangat bersalah padamu Suci.
"Jika sudah tidak ada lagi yang ingin bapak bicarakan maka saya permisi." Suci sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana kamu ?"
"Mau membuat kopi lagi kan yang tadi tumpah."
"Saya ikut. Saya penasaran bagaimana cara kamu membuat kopi susu seenak itu."
Suci mengernyitkan dahinya.
Mau apalagi dia sebenarnya ? bukankah seharusnya dia mengurus hal yang lebih penting daripada hanya mengawasi pekerjaan ku yang menurutnya sepele ?
"Memang bapak sedang tidak sibuk ? maaf tapi untuk apa bapak ingin mengetahuinya ?"
"Justru karena saya sedang santai, jadi daripada bosan mending saya belajar membuat kopi. Itu akan berguna kan ?!"
Apa dia bilang sedang santai ? lalu kenapa pagi-pagi sudah ada di tempat kerja ? aneh...
__ADS_1
"Baik terserah bapak saja."
Akhirnya Suci membiarkan Riki mengekor di belakangnya.
Saat di dalam lift Riki tidak berhenti tersenyum.
Apa alasanku tadi terdengar konyol ? tapi tidak masalah yang penting aku bisa sesering mungkin berdekatan dengannya.
Air muka Riki berubah jadi cool saat Suci dan karyawannya yang lain menoleh ke arahnya. Dia harus menjaga imej juga kan. Jangan sampai mereka semua menganggapnya tidak waras.
Sampai di tempat tujuan. Semua OB yang ada di sana terkejut dengan kehadiran Bos mereka. Untuk pertama kalinya hal itu terjadi. Mereka berkutat dengan pikirannya masing-masing.
Ada angin apa yang bisa membawa Bos kemari ? Arif.
Apa aku bermimpi atau berhalusinasi melihat Bos tampan ada di ruangan ini ? Barbi bahkan mencubit pipinya sendiri.
Keanehan apalagi yang kulihat dari Pak Riki setelah waktu itu dia kepergok senyum-senyum sendiri ? Irfan.
Keberuntungan atau kemalangan yang akan menimpa ku dan anak-anak OB ? mau apa Bos kemari ? Pak Juned.
"Selamat pagi !" Riki menyapa mereka.
"Selamat pagi Pak !" serentak menjawab.
Suci bergerak ke dapur diikuti Riki. Semua mata terbelalak. Arif dan Irfan saling bersitatap. Barbi dan Pak Juned juga saling pandang. Seolah saling bertanya karena sama-sama bingung.
"Ada apa ini ?" Arif penasaran.
Sementara itu Riki dengan fokus memperhatikan gerak-gerik tangan Suci yang tengah menyeduh kopi. Sebenarnya Riki penasaran juga bagaimana Suci bisa begitu pas membuatnya.
"Mmmm begitu ya....sepertinya sama saja seperti biasa."
"Memang tidak ada yang berbeda dengan cara membuatnya. Hanya takarannya saja yang harus diperkirakan sesuai selera." Bicara sambil mengaduk minuman.
"Bagaimana kamu bisa tahu persis selera saya ?"
"Hanya mengira-ngira saja. Ini pak silahkan diminum." Menyodorkan kopi.
"Terima kasih." Tersenyum sumringah.
Tiba-tiba Suci menutup mulutnya dengan kedua tangan. Berjalan cepat menuju kamar mandi. Perutnya terasa mual.
Melihatnya Riki pun tidak jadi menyesap kopi. Dia menyimpan cangkir itu di atas meja.
"Kamu sakit ? wajahmu pucat." Riki langsung bertanya ketika Suci keluar kamar mandi.
"Saya baik-baik saja." Tapi sebelah tangannya memegang perut dan sebelah lagi memegang pelipis.
"Kamu yakin ? perkataanmu tidak sejalan dengan apa yang terlihat." Riki semakin cemas.
Suci tak mengindahkan Riki, dia berjalan menghampiri teman-temannya, meninggalkan atasannya sendirian.
"Mbak pucat sekali. Apa gak enak badan ?" Barbi menyentuh kening Suci dengan telapak tangannya.
__ADS_1
"Gak apa-apa kok." Suci menjawab pelan dan kini pandangannya semakin kabur. Barbi seolah terlihat berputar-putar di matanya.
Brukkk ! Tubuh Suci akhirnya tumbang juga tepat di sebelah Barbi.
"Ahhh mbak Suci pingsan. Tolong !" berteriak.
Arif dan Irfan bergegas mendekat dan hendak mengangkat tubuh Suci.
"Hentikan ! jangan ada yang berani menyentuh Suci !" Riki menghampiri.
Ketiga karyawannya menurut saja.
"Awas minggir kalian biar saya saja yang melakukannya !" Riki segera mengangkat tubuh Suci dan membaringkannya di kursi panjang.
Arif, Irfan dan Barbi saling bertatapan. Mereka kembali dibuat heran dengan kelakuan si Bos.
"Kenapa kalian hanya diam saja ? ambilkan minyak kayu putih atau apapun yang bisa membuatnya sadar !!!"
Ketiga orang itu dibuat kaget oleh teriakan Riki. Barbi segera mengambil minyak kayu putih dari tasnya. Dia memang suka membawanya kemanapun untuk berjaga-jaga jika suatu saat dirinya digigit serangga. Kebiasaan sedari kecil.
Kayu putih langsung diberikan pada Riki. Dioleskannya minyak itu ke pelipis Suci sambil memijatnya pelan.
Sementara Irfan hanya bisa menyiapkan air hangat siapa tahu dibutuhkan. Dan Arif hanya menyumbang doa saja agar Suci segera sadar.
Setelah beberapa menit Suci membuka matanya perlahan. Langsung dibuat kaget dengan posisi Riki yang duduk di sebelahnya.
Akhirnya kamu sadar juga...
"Kenapa tadi bilang gak apa-apa padahal kamu jelas-jelas sedang sakit ?" gurat kecemasan tersirat di wajahnya.
"Saya tidak sakit, hanya sedikit pusing dan mual saja. Sekarang sudah sembuh."
"Bohong ! ayo kita ke dokter sekarang !" Riki sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Tidak usah pak." Suci segera bangun dan duduk.
"Baiklah kalau begitu saya antar saja kamu untuk pulang dan istirahat di rumah. Saya tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada karyawan-karyawan saya."
Terutama kamu Suci. Aku tidak mau kamu kenapa-napa.
"Saya masih kuat bekerja kok pak."
"Jangan membantah ! pokoknya kamu hanya punya dua pilihan. Mau diantar ke Rumah Sakit atau ke rumahmu ? jika tidak maka gajimu akan dipotong !" perhatian yang dibungkus dengan ancaman.
Apa ? kenapa memaksa sekali sih ? pake ancaman memotong gaji yang bahkan belum pernah ku terima.
"Baik pak. Saya lebih baik istirahat saja di rumah." Akhirnya pasrah saja.
"Hey Siti ! tolong bantu Suci berjalan ke depan."
"Baik Pak." Meski kepalanya dipenuhi tanda tanya namun Barbi segera sigap menuruti perintah sang Raja.
Arif dan Irfan hanya melongo menyaksikan ketiga orang itu meninggalkan ruangan.
__ADS_1