Seperti Sampah

Seperti Sampah
Berkunjung ke rumah Riki.


__ADS_3

Hari ini hari terakhir mas Doni cuti. Kalo aku...setelah lamaran itu, mas Doni menyuruhku resign. Jadi sekarang pekerjaanku hanya menjadi istri yang baik untuk suamiku.


Mas Doni mengajakku berkunjung ke rumah temannya, Riki. Aku sebenarnya agak malas untuk ikut, namun suamiku ingin sekali jika aku menemaninya. Fuhhhh, jadi ya sudahlah aku tidak boleh menolak permintaannya selama tidak menyalahi aturan.


Saat ini aku sudah memakai gamis berwarna krem dengan hijab yang senada. Ku poles seusap wajahku dengan bedak. Lipstik yang berwana pink soft pun telah menempel pada bibirku. Sudah itu saja cukup, aku tak mau terlalu berlebihan. Penampilan terbaikku hanya ditampakkan untuk mas Doni.


"Udah siap ? kita berangkat sekarang." Mas Doni menghampiriku yang masih duduk menghadap cermin.


"Ya mas. Gak apa-apa aku berpenampilan seperti ini ?" aku berdiri.


"Ya gak dong, bagus malah kamu menutup auratmu seperti itu. Cukup aku aja yang tahu." Mas Doni dengan nakalnya memeluk dan mencium pipiku.


"Apa aku boleh memakai make up seperti ini kalo keluar rumah dan ketemu temenmu ?"


"Kalo segini sih ya gak masalah. Udah ayo kita berangkat sekarang biar Riki gak nunggu kita terlalu lama." Mas Doni melingkarkan tangannya di bahuku.


Kami pun melangkah beriringan. Sebelum ke luar, kami pamit dulu pada ibu. Setelah itu barulah aku dan mas Doni masuk mobil.


Setelah satu jam perjalanan, kami sampai di sebuah kompleks perumahan elite. Kami berhenti di sebuah rumah mewah milik Riki.


Entah kenapa setiap mengingat namanya aku merasa malas. Mungkin karena waktu pertama kali bertemu, pria itu memang sudah membuatku tak nyaman. Mudah-mudahan saja kali ini tidak.


Saat masuk ke dalam rumahnya kami disambut hangat oleh Riki dan seorang wanita sepertinya seumuranku, mungkin istrinya.


"Halo kenalin, saya Raisya adik satu-satunya mas Riki."


"Saya Suci."


Kami pun berjabat tangan dan saling melempar senyuman.


Ternyata Raisya adiknya....berarti pria itu belum menikah karena ku lihat tak ada siapa-siapa lagi di rumah ini.


Kami semua kini sudah berada di ruang makan. Di sana sudah tertata cantik berbagai jenis makanan.


"Jadi aku sengaja minta mas Riki buat undang kalian makan di sini, karena aku pengen kenal sama istri mas Doni. Waktu pernikahan kalian aku gak bisa dateng soalnya masih sibuk dengan kerjaan. Maaf ya." Raisya memang terlihat ramah dan menyenangkan.


"Mas Doni sudah kuanggap seperti kakak kandungku sendiri. Mbak Suci jangan cemburu ya." Raisya nyengir.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum padanya.


"Mana pacarmu ? mas juga pengen kenal." Ucap mas Doni.


"Ntar juga tahu." Jawab Raisya.


"Bentar lagi Raisya nikah. Ya kan ?!" pertanyaan Riki seolah menegaskan bahwa adiknya memang harus segera melepas masa lajangnya.


"Nanti aja kalo mas Riki udah nikah, baru aku juga akan menikah."


"Kamu itu perempuan, tidak baik menikah terlalu tua." Ucap Riki.


"Ahhh baru juga 30 tahun, kalem aja."


Ohhh Raisya ternyata lebih tua lima tahun dariku, tapi wajahnya terlihat masih seperti seumuranku.


"Kapan makannya ini ? udah laper nih." Mas Doni dan keluarga Riki sepertinya memang sudah sangat akrab, tak canggung sama sekali.


"Maaf mas, mbak, silahkan dinikmati masakan spesial buatan Raisya hehe."


Kami pun mulai menyantap makanan itu.


"Kamu yang bikin semua masakan ini ?" tanya ku pada Raisya.


"Mbak percaya aja sama omonganku tadi, sebenarnya ini masakan bi Fatma. Aku malah anti dapur." Raisya nyengir kuda.


Aku pun tersenyum.Ternyata....tapi tetap saja Raisya itu memang wanita yang sangat menarik. Penampilannya yang modis dan elegan akan mampu menyihir setiap pria yang melihatnya.


Tanpa sengaja netraku mengarah pada Riki yang saat itu tengah menatapku. Segera ku palingkan pandanganku dan fokus lagi makan.


Karena Riki tepat duduk di hadapanku, maka aku pun tahu bahwa pria itu masih selalu memperhatikanku. Aku tak berani membalas tatapannya. Dia bukan muhrimku, lagipula aku benar-benar tak nyaman olehnya.


Mas Doni sepertinya tak menyadari sikap Riki terhadapku. Dari tadi suamiku itu fokus makan meski sesekali bercanda dengan Raisya.


Acara makan pun selesai. Tadinya mas Doni masih mau menghabiskan waktu di rumah itu, namun aku memintanya untuk segera pulang.


Rumah ini memang sudah seperti rumah kedua mas Doni karena dia sudah dianggap seperti anak kandung oleh orangtuanya Riki. Itulah yang pernah suamiku bilang.

__ADS_1


"Yaa kok pulang sih, padahal aku seneng kalian dateng, rumah ini jadi gak sepi." Ucap Raisya.


"Kapan-kapan kita ke sini lagi. Ok ?!" ucap mas Doni.


"Suci, kamu boleh kok sering main ke rumah ini." Lagi-lagi Riki menatapku seperti itu.


"Maksudnya kalo kamu mau ketemu Raisya, jangan sungkan. Dateng aja." Tambah Riki.


"Ini shaa Allah." Jawabku ragu.


"Kita pamit, makasih makanannya enak." Ucap mas Doni.


Akhirnya....kami pun meninggalkan rumah itu. Sekarang aku bisa bernafas lega. Berada satu ruangan dan menghirup udara yang sama dengan pria bernama Riki, membuatku benar-benar sesak. Untung saja aku bisa segera keluar dari rumah itu.


Note:


Tadinya author tidak berniat memberikan visual, namun karena ada pembaca yang request, jadi author berusaha mencari sosok yang sesuai dengan karakter tokoh-tokoh novel ini.



Suci.


Gadis sederhana berhijab.



Riki.


Setia meski kadang konyol.



Doni.


Sebenarnya baik, namun kadang egois dan mudah terpengaruh.


Semoga visual dari author tidak menghancurkan imajinasi kalian. Terima kasih banyak sudah menyimak dan support karya author.

__ADS_1


__ADS_2