
Indah sudah duduk berhadapan dengan suaminya yang kini jadi tahanan salah satu lapas. Wanita yang sangat mencintai Toso ini, menatap nanar pria yang menunjukkan ekspresi tanpa dosa.
Indah tak henti menangis meski tanpa sesenggukan, tapi suaminya hanya cuek tak peduli sedikitpun. Toso menatap jengah, sesekali dia mengedarkan pandangannya ke arah lain.
Rasa sesak menyeruak di dada Indah. Tak pernah menyangka bahwa suaminya mempunyai akhlak lebih rendah daripada binatang. Saat ini perasaan cintanya tertutup oleh rasa benci.
Indah mengambil nafas panjang untuk menguatkan hatinya.
"Aku tidak menyangka ternyata sifat aslimu sungguh menjijikan mas. Selama ini aku sudah sangat bodoh, begitu percaya pada pria bejad sepertimu. Harusnya aku mendengar semua perkataan keluargaku." Indah mencoba berbicara dengan nada rendah.
Toso malas menjawab. Dia bahkan menghindari bersitatap dengan istrinya.
"Kenapa kamu melakukan semua ini ?" Indah menatap tajam.
Toso memutar bola matanya jengah. Dia membungkukkan badannya dan tangannya bertumpu pada meja yang menjadi pemisah antara dia dan istrinya.
"Semua ini salahmu ! kau tidak becus mengurus dirimu sendiri. Kau itu kucel, tidak sedap dipandang mata. Kau bahkan terlihat lebih tua dari kakakmu. Suci itu lebih cantik dan manis. Apalagi adiknya Riki, dia benar-benar menggoda. Jauh sekali denganmu." Toso dengan santainya menghina Indah.
Wanita itu seperti tersambar petir. Tubuhnya seakan dijatuhkan keras dari atas langit. Membuatnya semakin sadar bahwa dia sudah salah mencintai seorang pria. Dan parahnya pria itu sudah menikahi dan memberinya seorang anak.
"Sedikit....lagi, aku bisa berhasil melahap Raisya jika saja Suci dan pria brengsek itu tidak datang mengganggu." Tangan Toso terkepal kesal mengingat aksinya digagalkan. Ia tak peduli pada lawan bicaranya yang sudah semakin geram.
Indah menggebrak meja, dadanya naik turun dan tatapannya semakin menusuk. Ia tidak pernah bersikap seperti itu di depan suaminya. Tapi Toso sama sekali tidak terpengaruh. Pria itu cuek saja.
"Kau pria yang tidak waras. Aku sangat menyesal karena sudah mengenalmu. Aku menyesal menikah dengan pria mesum menjijikan sepertimu ! kau layak membusuk di tempat ini. Aku minta cerai ! aku tidak mau putraku mempunyai ayah tak punya akhlak sepertimu !" Indah berteriak-teriak dan menunjuk wajah santai milik Toso.
Indah lantas segera beranjak dari duduknya. Toso tersenyum sarkas.
"Aku tidak peduli ! aku dengan senang hati akan segera mentalakmu ! siapa juga yang mau hidup dengan wanita membosankan sepertimu ?" masih dengan tenangnya dia berbicara tanpa memandang pada wanita yang sudah menatapnya penuh kebencian.
Indah setengah berlari meninggalkan pria tidak waras itu. Air matanya bercucuran mewakili hatinya yang luluh lantak. Bukan ini yang dia harapkan dari Toso. Tadinya dia pikir, jika suaminya sadar, maka dia pun akan memaafkan. Namun malah penghinaan yang ia dapat.
Pernikahannya benar-benar sudah berakhir. Indah harus mengubur semua kenangan dengan suaminya. Perasaan menyesal menghantuinya. Menyesal sudah membela Toso dan menyesal sudah tidak mempercayai keluarganya, terutama Suci.
***
Di salah satu kamar Rumah Sakit, Raisya kini sudah terlelap setelah sebelumnya dia tak henti menangis. Suci dan Riki duduk bersebelahan di sofa yang berhadapan dengan ranjang tempat Raisya terbaring.
Riki menyugar rambutnya kasar. Dia benar-benar merasa tidak becus melindungi adik satu-satunya. Suci hafal benar apa yang dirasakan dan dipikirkan Riki.
Suci membenamkan wajah suaminya untuk bersandar di pangkuannya. Dia mengusap pelan punggung Riki dengan tangan kanannya.
"Mas, semua ini bukan salahmu. Mungkin sasaran Toso sebenarnya adalah aku. Tapi karena aku tidak ada di rumah, jadi dia melakukannya pada Raisya. Jika saja aku tahu bahwa semua ini akan terjadi, aku akan berusaha mencegahnya." Ada rasa bersalah dalam benak Suci.
Riki mengubah posisinya menjadi duduk. Dia memeluk dan membiarkan dadanya menjadi sandaran kepala Suci.
"Itu juga bukan salahmu. Toso memang pria gila. Aku sudah menganggapnya remeh. Setelah tahu gelagat buruknya, seharusnya aku menyiapkan keamanan di rumah. Dan juga menyuruh orang-orang profesional untuk menjaga kamu dan Raisya." Riki membelai lembut kepala Suci.
"Tapi untung saja kita belum terlambat untuk menyelamatkan kehormatan Raisya." Riki berbicara lagi.
Suci mengangguk. Tangannya melingkar di pinggang Riki.
"Apakah ini adalah sebuah karma, karena aku dulu pernah melecehkanmu ?" perkataan Riki membuat Suci mendongak.
"Tidak mas, jangan berkata begitu ! ini semua tidak ada hubungannya. Kamu bukan Toso. Kamu adalah laki-laki yang sangat baik. Sedangkan pria itu adalah pria tidak waras yang sangat berbahaya. Lagipula kamu juga sudah menyadarinya. Jangan membahasnya lagi." Suci kembali bersembunyi di dada suaminya.
"Aku hanya merasa bersalah pada Raisya. Meskipun dia berhasil diselamatkan, tapi kamu lihat sendiri bagaimana histerisnya dia. Sangat syok. Aku tahu meksipun selama ini adikku sering gonta-ganti pacar, tapi aku yakin Raisya tidak pernah membiarkan kehormatannya hilang. Wajar saja bila saat ini dia merasa terpukul." Riki menatap lekat wajah adiknya yang masih terpejam.
"Aku yakin Raisya bisa melewati semua ini dengan tegar. Dia akan kembali ceria seperti biasa."
__ADS_1
Riki mengangguk menyetujui perkataan istrinya.
Esoknya.
Raisya tengah duduk di ranjangnya. Suci menemani di tepi ranjang, sementara Riki berdiri di dekat istrinya.
Suci menyuapi makanan ke mulut Raisya.
"Sudah mbak. Aku sudah kenyang." Tatapan mata Raisya kosong.
Gadis itu baru saja makan beberapa suap, tapi sudah tidak mau melanjutkan. Dia tidak berselera makan. Hatinya sangat kacau tak karuan. Kejadian buruk kemarin masih segar di ingatannya.
"Mas suapi ya ?" Riki mengambil alih makanan Raisya yang ada di tangan Suci.
Suci menggeser posisi duduknya agar Riki bisa menyuapi adiknya lebih leluasa.
"Bilang saja kalau kamu mau disuapi oleh mas ?" Riki tersenyum sambil menyendokkan makanan, berniat menghibur Raisya.
Adiknya itu membuka mulut, ada sedikit senyum di bibir Raisya. Dia jadi teringat masa kecilnya. Riki memang selalu menyuapinya saat makan. Selalu mengajaknya bermain, menjaganya dengan tulus. Riki adalah sosok kakak terbaik bagi Raisya.
Akhirnya berkat sentuhan ajaib dari kakaknya, makanan itu pun bisa dilahap Raisya sampai habis.
"Maafkan mas karena belum bisa menjagamu dengan baik." Riki membelai kepala Raisya.
"Jangan berkata begitu mas. Mas adalah kakak terhebat. Terima kasih banyak." Raisya memeluk erat tubuh Riki dan menangis.
Suci ikut terharu melihat mereka. Ia semakin kagum pada sosok suaminya yang begitu bertanggung jawab.
"Mbak. Terima kasih karena mbak sudah menjagaku dengan tulus." Tatapan mata Raisya beralih pada kakak iparnya.
Suci hanya mengangguk dan tersenyum.
"Waalaikumussalam." Suci dan Riki menjawab bersamaan.
Waalaikumussalam. Syarif !
Raisya memandang lekat pria yang sangat ia rindukan itu. Bulir bening kembali menggenang di pelupuk matanya. Terlalu lama wajah pria itu tak ia pandang secara langsung.
Riki dan Suci menghampiri kedua orang yang baru datang itu. Keduanya sungkem pada Bu Ayu. Syarif melakukan hal yang sama pada kakak dan iparnya.
Suci dan Riki berdiri di samping kiri Raisya. Bu Ayu dan Syarif berdiri di samping kanannya.
"Maaf, kami baru menjenguk. Kamu yang sabar ya nak ! ini adalah ujian. Ibu senang karena kamu bisa selamat. Jangan berlarut dalam kesedihan. Ambil hikmahnya. Ibu yakin nak Raisya adalah gadis yang kuat." Bu Ayu menggenggam tangan Raisya.
Gadis itu hanya mengangguk mendengarkan nasehat Bu Ayu.
"Mbak harus tetap semangat. Jangan lagi bersedih karena pria itu sudah mendapat hukuman atas perbuatannya." Syarif menimpali.
Hati Raisya berdesir mendengar suara pria yang berdiri di dekatnya. Dia tidak sanggup lagi menahan perasaannya. Tanpa terduga, dia memeluk erat tubuh Syarif dan menangis sesenggukan.
Aku sangat merindukanmu Syarif ! saat kejadian mengerikan itu pun, yang kuharapkan datang menolongku selain mas Riki adalah kamu.
Suci dan Riki bersitatap. Mereka sudah bisa menebak bagaimana perasaan Raisya pada Syarif. Bu Ayu pun ikut bengong melihatnya. Tapi dia tak mau menerka-nerka.
Apa yang kamu lakukan mbak ?
Syarif terpaku di tempatnya. Dia tidak bisa menolak namun tidak membalas memeluk gadis itu. Dia membiarkan Raisya menumpahkan kesedihannya, tanpa tahu bahwa sebenarnya selain itu, Raisya ingin melepas kerinduannya pada Syarif.
Keadaan berubah hening saat itu, hanya tangisan Raisya yang terdengar. Semua orang larut dalam pikirannya masing-masing. Setelah beberapa lama, akhirnya Raisya tersadar dan melepas pelukannya pada Syarif.
__ADS_1
"Maaf !" Raisya menyeka air matanya. Sekarang dia sudah lebih tenang meski rasa malu menghinggapi.
Ketika keadaan sudah mencair, mereka mengobrol ringan.
***
Siang hari Raisya sudah pulang ke rumahnya. Dia menempati kamar lain karena masih trauma jika harus ada di kamarnya sendiri. Riki menemaninya. Sementara Suci masih ada di ruang keluarga bersama ibu dan adiknya.
"Kamu mencintai Syarif ?" Riki bertanya tanpa basa-basi. Dia duduk di tepi ranjang.
"Ya mas." Raisya mengakui tapi tidak berani menatap kakaknya.
"Bukannya mas tidak setuju. Mas tidak akan melarangmu untuk mencintainya. Mas juga tidak akan menyuruhmu untuk melupakan Syarif. Tapi kita belum tahu bagaimana perasaannya terhadapmu. Mungkin saja dia masih menutup hatinya untuk perempuan lain. Kamu pasti tahu bahwa dia pernah menikah. Tidak mudah untuk melupakan wanita yang dicintai apalagi wanita itu sudah tidak ada di dunia ini. Jangan berharap terlalu banyak. Biarkan waktu yang akan menjawab semuanya."
"Aku tahu mas."
"Berdoa saja jika kamu benar-benar menginginkan Syarif menjadi teman hidupmu, mintalah langsung pada Tuhan."
"Hemmm ya." Raisya mengangguk lagi namun kali ini dia berani bersitatap.
Di ruang keluarga.
Suci dan Bu Ayu menanyakan pada Syarif tentang hubungannya dengan Raisya.
"Kami tidak ada hubungan apapun. Aku hanya mengganggap mbak Raisya seperti kakakku sendiri." Syarif menjelaskan dengan tenang.
"Ibu tidak masalah jika kalian berjodoh. Mungkin sudah saatnya kamu berkeluarga lagi."
"Mbak sependapat dengan ibu. Tapi sepertinya Raisya memang menaruh perasaan khusus padamu. Mbak sarankan, jika kamu memang tidak punya perasaan yang sama, maka jangan beri dia harapan palsu." Suci menimpali perkataan ibunya.
"Aku merasa tidak pernah memberinya harapan. Dan untuk masalah hati, untuk saat ini aku belum ada perasaan apa-apa pada wanita manapun. Tapi jika Tuhan menyiapkan jodohku dalam waktu dekat, maka aku akan menerima."
Tiba-tiba muncul seorang wanita yang menghambur memeluk Bu Ayu. Dia menangis sesenggukan.
"Bu maafkan aku. Aku memang salah besar karena terlalu percaya pada pria gila itu. Aku sudah minta cerai pada mas Toso. Aku tidak mau lagi hidup dengannya. Biarkan saja dia membusuk di penjara."
"Tenang Indah. Ibu senang kamu bisa melihat kebenaran yang sesungguhnya."
Indah duduk di tengah-tengah ibu dan kakaknya. Kini giliran dia memeluk Suci.
"Maafkan aku mbak. Aku sudah banyak menyakiti hati mbak."
"Tidak apa-apa. Kamu hanya salah faham saja pada mbak."
Indah semakin sesenggukan ketika kakaknya mengelus rambutnya dengan lembut.
"Akhirnya mbak bisa tahu bahwa mas Toso memang pria brengsek. Mbak jangan takut, kami akan menjaga mbak dan anak mbak. Lebih baik sekarang mbak tinggal dengan aku dan ibu di rumah kita yang dulu." Syarif yang duduk di hadapan mereka mencoba menguatkan hati Indah.
***
Indah dengan ragu menghampiri Raisya yang masih duduk bersandar di tempat tidur.
"Aku ke sini bukan untuk meminta maaf atas perbuatan bejad mas Toso. Aku hanya merasa berempati padamu. Semoga kamu bisa secepatnya bangkit." Indah duduk di tepi ranjang.
Semua orang berdiri mengelilingi mereka. Tak ada yang bersuara kecuali Indah. Dia benar-benar malu atas perbuatan suaminya.
"Aku harap kamu mau memaafkan kebodohanku karena tidak bisa mencegah suamiku untuk berbuat jahat. Selama ini dia sudah banyak membohongiku. Bilang ada kerjaan di luar kota, tapi entahlah dia ada dimana sebenarnya. Yang terakhir pun sama, andai aku tahu bahwa dia datang ke rumah ini dengan niat buruk, pasti aku akan mencegahnya." Indah bercucuran air mata.
"Semua ini bukan salahmu. Mungkin aku juga seharusnya lebih berhati-hati dan bisa menjaga diri. Pria itu memang sudah gila. Kamu juga harus bisa bangkit. Aku tahu pasti perasaanmu jauh lebih hancur daripada aku." Raisya memeluk erat tubuh Indah.
__ADS_1
Semua orang yang menyaksikan ikut terlarut dalam keharuan. Mungkin kejadian mengerikan kemarin adalah hikmah bagi mereka. Ikatan kekeluargaan menjadi semakin kuat.