
Andini duduk di sofa kamarnya. Dia sedari tadi mengutak-atik ponsel pemberian Yusuf. Benar-benar baru kali ini dirinya menyentuh barang canggih itu. Sebelumnya saat di rumah ayahnya, jangankan menyentuh atau meminjam, melihatnya saja Yasmin tidak memperbolehkan.
"Yusuf selain tampan juga baik hati, tapi kenapa sikapnya kadang menyebalkan ?" menggerutu sendiri.
Ponsel yang ada di genggaman tangannya tiba-tiba bergetar. Gadis itu hampir meloncat karena kaget. Ada sebuah panggilan masuk atas nama Yusuf. Rupanya pria itu memang sudah mengatur semuanya dengan baik. Bukan hanya sekedar membelikan, tapi juga men-setting ponsel itu hingga Andini bisa langsung memakainya.
Andini perlahan menggeser layar ponsel bergambar telpon berwarna hijau. Agak ragu karena takut salah sentuh.
Panggilan terhubung.
"Hallo, Andini !" suara di seberang sana membuat jantung gadis itu memberontak ingin keluar.
"Ha...halo !" suaranya bergetar karena gugup.
"Apa kau suka dengan handphone yang ku berikan ?"
"Ya, suka. Terima kasih !"
"An, aku ingin minta maaf karena malam kemarin aku sudah lancang padamu. Aku tidak berniat melecehkan, sama sekali tidak ! itu semua adalah kesalahanku yang tidak dapat mengontrol diri."
Andini terdiam. Debaran jantungnya makin kacau. Mendengar suara pria itu saja sudah sangat menggetarkan hatinya, apalagi jika membahas dan kembali mengingat kejadian itu. Saat bibir mereka menempel dan beradu. Andini bahkan kesusahan bernafas saat ini.
"Entah kenapa akhir-akhir ini setiap melihatmu, pikiranku jadi agak kacau. Aku.....kadang suka berpikiran yang macam-macam. Wajahmu yang cantik telah membuatku jatuh cinta. Andini, mari kita menikah !"
"Ya, aku juga sama. Aku bersedia !" tapi itu hanya halu-nya Andini saja. Ahhhhh !
"Halo, An ! kamu kenapa ? bersedia apa ?" Yusuf bingung karena tiba-tiba gadis itu sangat bersemangat bicara. Tapi rasanya respon Andini tidak nyambung dengan permintaan maafnya.
Astaga, itu hanya imajinasiku ! kenapa aku berpikiran begitu ? memalukan !
"Maksudku, aku bersedia memaafkan kamu, Yusuf !" Andini memegang dadanya yang mendobrak dengan keras.
"Ok, terima kasih. Kalau begitu, sudah dulu. Sampai jumpa di ruang makan !"
"Ii....iya sampai jumpa !"
Panggilan berakhir.
Andini masih memegang dadanya. Nafasnya tidak beraturan seperti baru selesai olahraga berat. Dia malah semakin gugup setelah mendengar perkataan terakhir Yusuf.
"Apa itu artinya dia menunggu di bawah ?" mondar-mandir kesana-kemari.
"Ahhh, kenapa aku semakin gugup ? ayolah, ini bukan pertama kalinya aku makan dengannya. Tenanglah Andini, kau bukan makan berdua saja, di sana ada Oma."
Tok tok tok !! suara pintu kamar diketuk dari luar.
Itu pasti Oma !
"Ya, Oma. Sebentar lagi saya turun."
"Baiklah, cepat turun An. Jangan sampai Oma terlalu lama menunggu !"
Deggg ! suara itu suara tadi yang dia dengar di telpon. Ahhhh, lagi-lagi Andini dibuat serangan jantung. Dia tidak berani bersuara lagi.
***
Andini perlahan melangkah menuju ruang makan. Matanya terbelalak karena atmosfer di sana sangat berbeda dari malam kemarin. Suasana malam ini sangat ramai. Kedua adik Yusuf dan sepupunya baru pulang dari luar kota. Si kembar cantik Khesya dan Khaira duduk bersebelahan dengan sepupunya, Deby dan Arkan. Di hadapan mereka ada Oma Merly dan Yusuf.
Bu Merly mengenalkan Andini pada cucu-cucunya. "Ini Andini, teman dekat Yusuf." Gadis itu pun duduk di tengah-tengah Oma Merly dan Yusuf. Meski banyak orang di ruangan itu, tetap saja tidak mengurangi rasa gugup Andini saat kembali bertemu pria yang selalu membuatnya berdebar-debar. Apalagi saat ini mereka duduk bersebelahan.
__ADS_1
Suasana tambah riuh. Mereka semua sangat antusias mengetahui kakak pertama sudah punya teman seorang wanita. Bu Merly hanya senyum-senyum saja. Sementara Yusuf dan Andini sama-sama menundukkan wajah.
"Teman dekat, maksudnya pacar ?" Deby tertawa menggoda.
"Cieeee, kak Yusuf punya pacar !" Arkan ikut-ikutan.
"Syuttt ! teman dekat bukan berarti pacar. Lagipula pacaran itu dilarang oleh agama kita. Jangankan pacaran, saling tatap saja tidak boleh. Itu mendekati zinah. Nauzubillah...!" Khaira menasehati para adik sepupunya.
Deggg ! Yusuf merasa tersindir dengan perkataan adiknya. Dia semakin bersalah karena sudah menyentuh Andini yang bukan haknya. Perasaan Dini pun tak jauh beda dengan pria yang duduk di sebelahnya. Mulai saat ini, dirinya harus bisa menjaga diri dan berani menolak sentuhan seorang pria.
"Tapi aku senang. Tadinya ku pikir kak Yusuf itu bukan pria normal." Khesya tertawa lepas diikuti yang lain.
Yusuf berdehem keras dan menatap mereka satu persatu. Dalam sekejap suasana jadi hening. "Oh ya, kenapa kalian baru pulang ? pergi kemana dulu ?"
Tak ada yang berani menjawab. Mereka takut jika kakak pertama sudah menatap dengan tajam. Hanya Khesya yang berani angkat suara. Gadis galak dan agak nyablak itu memang yang paling berani berhadapan dengan Yusuf.
"Kami mampir dulu ke rumah Louis. Teman sekelas Khaira saat di SMP." Khesya bicara lantang sambil menyendokkan makanan ke piring.
"Apa ? Louis yang suka malakin Khai waktu di sekolah ? dia juga yang suka berantem denganmu bukan ?!" Yusuf setengah berteriak. Tatapannya makin tajam pada kedua adik kembarnya.
Khaira menunduk takut. Khesya bicara lagi dengan berani, "Tenang saja kak, Louis tidak seperti dulu. Dia sudah berubah jadi pria yang baik. Malah sangat alim dan kalem. Dia kan pernah mondok di pesantren." Usai bicara dia langsung melahap makanannya.
"Tetap saja kalian harus hati-hati ! jangan terlalu dekat dengan pria itu. Kakak takut terjadi sesuatu yang buruk pada kalian." Yusuf masih mengingat jelas kejadian hilangnya Khai. Dia tidak mau hal itu terulang kembali. Sebagai kakak tertua, sudah seharusnya Yusuf melindungi adik-adiknya.
"Ya, ok ! kami akan menurut kakak pertama !" ledek Khesya.
"Sya, aku sangat serius ! jangan pernah menganggap remeh apa yang tadi aku katakan ! jangan terlalu dekat dan percaya pada laki-laki ! aku tidak mau ada sesuatu yang buruk menimpa kalian. Ini juga berlaku untukmu, Deby !"
Arkan mengacungkan telunjuknya, "Aku, bagaimana ?"
"Karena kau seorang laki-laki, maka jangan pernah berbuat hal kasar pada perempuan !"
"Dan jangan pernah melecehkan seorang wanita ! jika nanti kau jatuh cinta pada seorang gadis, maka langsung saja ajak menikah, itu yang selalu dikatakan mama dan papa." Khesya bicara dengan mulutnya yang masih mengunyah. Namun, dapat terdengar jelas oleh semua pasang telinga.
Hal itu tentu seolah menampar pikiran Yusuf. Lagi-lagi merasa tersindir. Semakin merasa bersalah pada Andini. Pertanyaannya saat ini adalah, apakah dirinya menyukai gadis itu atau tidak ? jika pun benar-benar ada perasaan khusus di hatinya untuk Andini, apakah dia lebih baik menikahinya ? Yusuf belum bisa menyelami hatinya lebih dalam lagi. Dia harus lebih meyakinkan diri, sikapnya pada gadis itu bisa dibilang suka, cinta atau hanya sekedar tertarik ?
"Sudah, jangan terlalu banyak bicara ! ayo habiskan makanan kalian !" Oma Merly baru angkat suara. Senyum tipisnya terlihat jelas.
Dan semua orang pun fokus makan, kecuali Khesya. Gadis itu tetap saja bicara hal yang tidak perlu. Kadang orang yang mendengarnya cekikikan. Sementara Yusuf dan Andini sama-sama bungkam, terlarut dalam pikiran masing-masing.
***
Pagi ini Willy sudah ada di rumah bosnya. Kakinya yang panjang menaiki anak tangga dengan kokoh. Andini ada di hadapannya. Gadis itu sedikit nyengir so akrab. "Halo !" melambai-lambaikan tangan.
Willy tentu saja tidak akan pernah membalas dengan berkata HAI ! itu sama sekali bukan gayanya. Pria itu melanjutkan langkahnya yang terjeda. Andini mendelik kesal.
Dasar sombong ! baru jadi asisten saja gayanya sudah begitu ! harusnya Yusuf mencari asisten yang lebih ramah.
Dini menggerutu pelan sambil melangkah menuruni tangga, hingga fokusnya terganggu dan keseimbangannya roboh. Dia nyaris saja terjatuh jika tangan kekar Willy tidak sigap menangkap tubuhnya.
Yusuf melihat dengan jelas jika di pinggang Andini telah melingkar tangan lancang milik asistennya. Entah kenapa dadanya mendadak panas ? dia sama sekali tidak suka melihat gadis itu disentuh pria lain. Apalagi jarak mereka terlalu dekat.
Willy melepaskan tangannya dari tubuh Andini. Gadis itu mengelus dadanya, syukurlah dirinya tidak terjatuh. Si asisten itu ternyata baik juga. "Terima kasih sudah menolong !" ada sedikit senyuman yang dia tunjukkan lagi pada Willy.
Pria itu sama sekali tidak berniat merespon. Dia melangkah menghampiri Yusuf yang sedari tadi melemparkan tatapan tajam padanya.
Dasar sombong ! harusnya jangan mengucapkan terima kasih padanya !
Andini menoleh ke belakang. Astaga, sejak kapan dia berdiri di sana ? ehhh, kenapa dia menatapku penuh dengan amarah ? apa salahku ? bukannya baru saja semalam dia minta maaf ? tapi malah dia yang marah ?!
__ADS_1
Sejurus kemudian wajahnya menatap lagi ke depan. Secepat kilat kabur dari tatapan tidak mengenakkan dari Yusuf.
Saat di ruang makan. Semua orang sudah duduk di posisi masing-masing, menunggu kakak pertama hadir di sana. Tak lama berselang yang ditunggu pun datang. Yusuf menghampiri neneknya untuk pamit. Dia mencium punggung tangan Bu Merly.
"Mau berangkat sekarang juga ? kenapa tidak sarapan dulu ?"
"Tidak, Oma. Yusuf sedang tidak berselera."
"Harus dipaksakan, sarapan itu penting agar kamu konsentrasi dengan pekerjaan."
"Tidak, Oma. Nanti saja di kantor." Laki-laki itu secepat kilat melangkah meninggalkan tempat itu.
Suara riuh dari adik-adiknya yang memanggil dan menyapanya, tak dapat ditangkap oleh pendengaran Yusuf. Dia terlalu larut dalam kemarahan pada gadis yang saat ini tengah diam-diam menatapnya dengan heran.
Andini benar-benar keterlaluan. Dia harusnya jangan tersenyum sembarangan pada pria lain ! apa gadis itu merasa senang karena sudah dipeluk Willy ?
Yusuf mengepalkan tangannya dengan sekuat tenaga. Saat ini untuk pertama kalinya dia ingin menghancurkan wajah asistennya. Harusnya dia yang menolong Andini, bukan Willy !
***
Yusuf masih memasang wajah kusutnya. Api dalam dadanya masih menyala. Apalagi saat melihat asistennya yang sedang fokus mengemudi. Rasanya dia ingin melayangkan sebuah pukulan di wajah Willy. Dia benar-benar masih marah karena pria itu berani memeluk Andini.
"Kenapa kau berani memeluk Andini ?" tak tahan lagi, akhirnya keluar juga unek-uneknya.
"Saya tidak mungkin berani berbuat seperti itu, tuan. Tadi gadis itu akan jatuh, jadi saya menolongnya, bukan memeluknya dengan sengaja."
"Lain kali jangan lagi berani menyentuhnya ! kau juga tidak boleh menatapnya ! jika dia tersenyum, maka alihkan matamu ke arah lain !" bicaranya meledak-ledak.
"Baik, tuan. Saya mengerti." Saya juga paham kenapa anda sangat marah seperti ini.
"Bagus ! jika kau berani menyentuhnya lagi, maka aku akan mematahkan tanganmu !"
Untuk beberapa saat hening, tak ada suara yang keluar dari keduanya. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Willy sibuk menyimpulkan perasaan tuannya pada gadis mantan pembantu Pak Daniel. Sedangkan Yusuf pun sibuk mencari alasan kenapa dia bisa semarah ini melihat Andini disentuh pria lain.
"Will, cinta itu seperti apa ?" bicara sambil menatap ke arah luar.
Willy tercengang mendengar pertanyaan konyol tuannya, dia semakin yakin jika Yusuf menyukai gadis itu. Dengan masih fokus menyetir, dia berbicara. "Menurut orang berpengalaman, cinta itu adalah suatu perasaan yang hanya ditujukan pada seseorang. Di saat berdekatan, akan terasa deg-degan tapi bahagia. Jika berjauhan, maka ada rasa rindu ingin bertemu. Dan jika ada orang lain yang mendekatinya, maka akan timbul rasa cemburu, tidak rela ! ada perasaan ingin selalu melindungi dan melihat orang yang dicintai itu tersenyum."
Yusuf terdiam dan mencerna baik-baik apa yang dia dengar. Sepertinya ciri-ciri yang dia rasakan saat ini memang mengindikasi jika dia mempunyai perasaan itu pada Andini. Yusuf memang mencintai gadis itu !
Jantungnya kembali memacu cepat saat dirinya mengakui perasaan itu. Meski ada kegusaran saat ini, tapi juga ada rasa bahagia mengetahui dirinya jatuh cinta. Lalu setelah itu, apa yang harus dia lakukan ? segera melamar Andini ? tapi dia sendiri belum tahu bagaimana perasaan Dini padanya.
"Will, Andini itu cantik, bukan ?!" bertanya dengan raut wajah berseri, membayangkan wajah manis gadis tersebut.
"Ya, tuan. Dia memang gadis yang cantik dan manis." Willy sebenarnya tidak mempunyai penilaian apapun terhadap Andini. Dia hanya ingin membuat tuannya senang.
Yusuf kembali murka, dia menendang keras bagian belakang kursi yang diduduki asistennya. "Jangan bilang kau menyukainya !" dia berteriak lagi.
"Bukan seperti itu, tuan. Saya tidak bilang jika saya menyukai gadis itu." Bukankah anda sendiri yang menyukainya ?! gara-gara cinta, tuan jadi ribet dan suka membahas hal tidak penting !
"Awas jika kau bohong !"
"Saya tidak bohong, tuan. Kenapa anda sangat marah melihat Andini disentuh oleh saya ? padahal itu tidak sengaja saya lakukan." Willy sengaja memancing tuannya. Ingin melihat apa reaksi Yusuf.
"Itu....karena dia adalah gadis yang...kenapa bertanya begitu ? itu urusanku ! jangan ikut campur ! dan satu lagi, jangan pernah memanggil nama Andini. Mulutmu tidak cocok mengucapkannya. Panggil dia nona saja, mau di depannya atau pun tanpa sepengetahuannya. Sudah jangan banyak bicara lagi, fokus saja menyetir !"
"Baik, tuan." Memang itu yang dari tadi saya lakukan. Tetap berusaha fokus meski anda terus nyerocos banyak bicara !
Willy mulai saat ini harus lebih banyak memaklumi sikap Yusuf. Tuannya itu sedang mabuk asmara. Dan kau tahu, kadang cinta suka membuat orang menjadi konyol. Dan tugas Willy adalah memastikan juga mencegah tuan Yusuf berbuat hal yang tidak terkendali, atau bahkan memalukan !
__ADS_1