
Suci sudah berada di dalam mobil Riki. Mereka dalam perjalanan menuju rumah Suci.
"Kamu beneran cuma masuk angin dan anemia ? Dokter cuma bilang itu ?" Riki masih khawatir.
"Sebenarnya Dokter tadi menyuruh saya untuk cek kehamilan."
Upss ! kenapa keceplosan ? harusnya tidak usah memberi tahu dia.
"Apa...kamu hamil ?" berbicara pelan sambil masih fokus menyetir.
"Saya....Dokter bilang saya sedang hamil dan usia kandungan sudah empat minggu." Entah kenapa tiba-tiba muncul ide konyol mengerjai Riki.
Cittt ! mobil seketika berhenti setelah di pinggirkan. Riki menatap lekat pada wanita yang duduk bersamanya. Sebelum bersuara dia menenangkan hatinya dengan menarik nafas panjang.
"Lantas apa yang akan kamu lakukan sekarang ? memberi tahu Doni ?"
"Mmmm mungkin aku memang harus memberi tahu mas Doni karena ini adalah anak kandungnya."
"Apa ada kemungkinan kalian kembali bersama lagi ?"
"Tidak pernah terpikir ke situ setelah saya memutuskan untuk meninggalkan rumahnya." Sesaat Suci tenggelam dalam perkataannya.
Tidak ada niatan kembali lagi pada mas Doni meski dalam mimpi sekalipun.
"Suci...biarkan aku yang menjadi ayah dari anakmu.Aku akan menyayangi kalian berdua dengan sepenuh hati." Respon yang diluar dugaan.
Melihat mimik muka pria itu, Suci merasa geli. Ingin tertawa namun dia tahan. Tapi di sudut hatinya yang lain dia merasa tersentuh dengan perkataan Riki.
"Apa yang anda katakan ?"
"Menikahlah denganku. Aku yang akan bertanggung jawab menjaga mu dan calon anakmu." Seketika mata mereka bertemu.
Suci tak mampu berkata-kata lagi. Dia memilih untuk mengedarkan pandangannya ke arah luar. Dan Riki kembali menghidupkan mobilnya.
Apa dia merasa tidak nyaman dengan perkataan ku barusan ? Suci...aku bukan mau mencari kesempatan dalam hal ini. Tapi aku memang ingin membuatmu bahagia. Aku ingin jadi pelindungmu.
"Ehemmm kita jalannya pelan saja ya. Biar bayi dalam perutmu tidak merasa terganggu."
"Bapak tidak perlu seperti itu. Jalankan saja mobil bapak seperti biasa. Saya tidak akan kenapa-napa."
"Tapi kasihan nanti bayimu terguncang."
Dia sampai memperhatikan sedetail itu. Lucu sekali melihat ekspresinya.
Mobil tetap merayap hingga akhirnya sampai di sebuah restoran yang baru saja buka.
"Kenapa kita ke sini ?"
"Jangan banyak tanya, ikut saja !" Riki melepas sabuk pengaman dan segera turun.
__ADS_1
"Ayooo cepat turun." Riki membukakan pintu untuk Suci.
Keduanya masuk ke dalam restoran dan duduk berhadapan. Seorang pelayan datang membawa daftar menu.
"Aku saja yang pilih menunya. Aku akan memilih menu empat sehat lima sempurna." Riki bicara sambil melihat-lihat buku menu itu.
Setelah beberapa waktu makanan yang dipesan sudah memenuhi meja mereka.
"Kenapa cuma ambil sedikit ? ini tambahin lagi. Makan yang banyak biar anakmu juga tumbuh sehat." Memasukkan ayam dan sayuran ke dalam piring Suci hingga menumpuk.
"Tapi ini terlalu banyak pak. Saya tidak akan sanggup menghabiskannya."
"Habiskan saja kamu kan harus mengkonsumsi makanan dua kali lipat karena sedang hamil."
Tapi tidak sebanyak ini juga....aku yakin meskipun benar sedang hamil, aku tidak mungkin menghabiskannya.
Riki sudah selesai makan.
"Hey kenapa masih menumpuk begitu makananmu ?"
"Sudah saya makan sebagian kok pak." Berusaha memasukan makanan lagi ke dalam mulut meski sudah malas.
"Ahh masa ? itu masih banyak begitu."
Bapak sih tadi kasih makanan ke piring saya sampai menggunung.
"Sini biar ku bantu. Buka mulutmu ! aaaaaaaaa." Riki menghampiri dan berdiri di sebelah Suci. Dia mengambil alih menyendokkan makanan dan menyuapkannya pada Suci.
"Aaaaaaaaa !!!" bersikeras menyuapi.
Akhirnya makanan itu mendarat juga di lidahnya hingga beberapa suapan.
"Sudah pak...saya benar-benar tidak sanggup lagi mengunyahnya. Nanti perut saya bisa pecah jika terus dipaksa makan lagi." Menutup mulut dengan kedua tangannya.
Salahku juga kenapa harus mengerjainya dengan pura-pura hamil. Malah aku sendiri yang kena batunya. Perutku rasanya mau meledak.
Mendengar kata perut pecah membuat Riki membayangkan balon yang pecah. Merinding setelah imajinasinya beralih ke perut Suci yang benar-benar pecah.
Tidakk !! itu tidak boleh terjadi. Aku harus menyelamatkan Suci dan anaknya.
Kekhawatiran berlebih membuat IQ nya anjlok melahirkan kekonyolan.
"Aku tidak akan memaksamu lagi untuk makan." Kembali duduk di tempatnya.
Setelah melakukan pembayaran mereka pun kembali masuk mobil. Seperti tadi, mobil sengaja berjalan merayap sangat lambat.
Kalau seperti ini terus mungkin besok baru sampai di rumah. Kenapa dia berlebihan sekali ?
"Suci apa kamu berniat untuk memikirkan kembali keinginanku untuk menikahimu ?" setelah beberapa saat hening akhirnya Riki membuka suara.
__ADS_1
"Ahhh itu.."
"Jangan dijawab sekarang ! nanti saja saat kamu siap." Fokus menyetir.
Dia lucu sekali ! begitu serius padahal aku sebenarnya hanya ingin bermain-main saja. Tidak kuduga reaksinya akan berlebihan seperti ini.
Suci menutup mulutnya yang mesem-mesem mengingat semua kekonyolan pria yang ada di sebelahnya.
Mobil jalan merayap, mengajak menikah, menumpuk makanan di piring, dan memaksa menyuapi. Itu terlalu berlebihan tapi dia terlihat sangat menggemaskan.
Akhirnya Suci tertawa lebar tak kuat menahan lagi. Mobil pun berhenti karena sopirnya kaget melihat wanita yang dibawanya tiba-tiba tertawa tanpa tahu sebabnya.
"Heyyy kamu kenapa ? jangan membuatku takut ! kamu tidak kesurupan kan ?!"
"Pak...sebenarnya...saya tidak hamil." Masih menahan tawa.
"Apa ? kamu tidak hamil ? kamu sengaja mengerjai saya ?" kesal juga Riki.
Namun kekesalannya berubah jadi senyum saat melihat Suci tertawa lebih keras dari tadi.
"Bapak lucu juga ya..." Suci memegang perutnya saking asik tertawa.
Baru kali ini aku melihat Suci tertawa lepas seperti itu. Seolah tanpa beban.
"Aku konyol ya ?!" Riki ikut nyengir sambil garuk-garuk kepala.
"Maaf pak saya sudah lancang mengerjai bapak." Kembali formal.
"Tidak masalah. Saya senang melihatmu seperti barusan."
Ya..aku tadi tertawa sangat lepas di depannya. Entahlah saat ini aku sudah merasa agak nyaman bersamanya. Dia orangnya ternyata baik dan perhatian meski kadang berlebihan.
"Suci...seandainya kamu benar-benar hamil dan saya bersikeras ingin menikahimu, apa kamu akan bersedia menerima ?" kembali menyetir.
"Saya tidak akan memikirkan hal yang belum pasti." Suci menundukkan kepalanya.
Setelah di depan rumah Suci.
"Mulai besok kamu jangan lagi menampakkan wajahmu di kantor saya."
"Kenapa pak ? saya tidak dipecat kan ?!"
"Kamu istirahat saja di rumah. Nanti hari senin baru masuk kerja lagi."
"Tapi apa tidak kelamaan ? saya kuat kok pak jika harus bekerja besok pun."
"Ini perintah, Senin masuk jam 8 ok !!"
"Baik pak."
__ADS_1
Kenapa dia terlalu baik padaku ? apa sebenarnya dia masih merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan di masa lalu ?
Suci sama sekali tidak berpikir bahwa Riki menyukainya. Lebih tepatnya dia sudah kehilangan kepercayaan diri untuk mengharapkan kasih dari seorang pria.