Seperti Sampah

Seperti Sampah
Melamar kerja.


__ADS_3

Kemarin Riki baru pulang dari luar kota untuk urusan bisnis. Dan di hari itu juga Raisya menceritakan tentang semua yang terjadi pada Suci.


"Brengsek Doni ! dia harus mendapat pelajaran !" darah Riki terasa mendidih membayangkan wanita yang ia sukai kini tengah terpuruk.


"Ya mas aku juga kesel banget sama mas Doni. Kasihan mbak Suci harus pergi gara-gara Teni. Padahal mbak Suci itu wanita yang baik."


"Mas mau menemui Doni dulu."


"Jangan mas ! nanti malah mas dibilang ikut campur urusan rumah tangga mereka. Aku takut kemarahan mas malah akan membuat lebih runyam. Mbak Suci yang kena imbasnya nanti."


"Kalau begitu mas minta alamat Suci."


"Jangan sekarang. Mbak Suci pasti gak akan suka. Mendingan sekarang biarin mbak Suci untuk menenangkan diri dulu. Aku yakin dia akan mampu menjalani semua dangan tabah."


Mbak Suci itu wanita yang kuat meskipun sebenarnya aku tahu hatinya sangat terluka saat ini. Waktu meninggalkan rumah mas Doni saja dia masih mampu tersenyum. Padahal ku lihat matanya masih sembab. Aku tahu bahwa tidak mudah bersikap tenang seperti itu di saat sebenarnya perasaannya hancur.


Riki terlihat semakin gusar. Sebenarnya jika bisa dia ingin segera membenamkan wajah Suci di dadanya. Membiarkan seluruh dukanya mengalir sampai tak bersisa.


"Apa perasaan mas sedalam itu pada mbak Suci ? baru kali ini aku melihat mas begitu mempedulikan seorang perempuan. Biasanya mas selalu cuek dan tak pernah tertarik pada perempuan manapun. Mas hanya sibuk mengurus bisnis saja selama ini. Tapi sekarang aku lihat sikap mas sangat berbeda pada mbak Suci."


"Dia memang wanita yang berbeda. Suci sangat spesial bagi mas."


Sudah ku duga. Mas Riki bukan hanya menyukai dia bahkan sudah jatuh cinta pada mbak Suci. Jika aku laki-laki mungkin aku juga akan mudah untuk memberi hatiku padanya. Mbak Suci itu wanita yang sederhana dan baik.


"Aku juga menganggap mbak Suci itu spesial. Aku senang saat menghabiskan waktu dengannya."


***


Pagi-pagi sekali Suci dan Syarif pergi bersama untuk mencari pekerjaan. Mereka naik motor berboncengan. Masuk tempat satu ke tempat lain. Dari mulai toko, pabrik, rumah makan dan bengkel sudah didatangi.Tak ada satupun tempat yang menerima mereka untuk bekerja. Bahkan sekedar menyimpan surat lamaran pun tidak diperbolehkan.


Sampai siang hari amplop coklat itu masih ada di tangan mereka. Motor dihentikan dulu di pinggir jalan karena bingung harus kemana.

__ADS_1


"Mbak laper. Kita makan dulu yuk itu di depan ada warteg." Suci menunjuk ke sebuah tempat makan yang tak jauh dari mereka berada.


Setelah memarkirkan motor mereka masuk ke warteg tersebut dan memesan makanan.


"Mbak saya mau nasi sama cah kangkung dan telor ceplok aja. Syarif kamu lauknya mau pake apa ?" mereka berdiri di depan etalase.


"Bentar mbak." Syarif menyisir semua makanan satu persatu.


"Aku mau nasi pake sambel, lalap sama ikan asin aja." Syarif berbicara sambil membayangkan betapa lezatnya makanan itu. Bahkan sudah sejak sedari tadi memilih makanan dia menelan keras salivanya. Ikan asin cumi seolah melambai-lambai ingin segera masuk perutnya.


Suci dan adiknya sudah duduk di sebuah bangku. Dengan segera makanan itu mereka santap tanpa sisa. Tak lupa secangkir teh hangat diteguk untuk membasahi kerongkongan mereka.


"Gimana makanan di tempat kami ? apa enak ?" seorang wanita berumur 40 an menghampiri mereka.


"Enak sekali Bu. Apa ibu pemilik warteg ini ?" tanya Suci.


"Alhamdulilah kalau kalian suka. Saya pemilik warteg ini. Panggil saja saya Bu Rahmi. Hari ini hari pertama warteg ini dibuka dan kalian pelanggan pertama saya. Jadi untuk kali ini kalian gak usah bayar GRATIS !!!" senyum sejuta Watt.


"Ahhh Bu justru karena kami pelanggan pertama ibu jadi kami harus bayar. Ibu kan juga pasti keluar modal yang cukup banyak untuk usaha ini." Suci membalas senyum.


"Ehh gak apa-apa ibu ikhlas kok sekalian itung-itung promosi. Nanti kapan-kapan mampir lagi ke warteg ibu ya...!"


"Terima kasih banyak kalau begitu. Semoga usaha ibu sukses."


"Aamiin...ngomong-ngomong kalian mau kemana ini ?" menatap Suci dan Syarif bergantian.


"Saya Suci dan ini adik saya Syarif. Kami habis nyari kerjaan dari pagi ngelamar kesana-kemari tapi belum dapet. Sekarang mau pulang aja mungkin nanti besok nyoba lagi."


Dari tadi Bu Rahmi hanya ditemani ngobrol oleh Suci. Sementara Syarif hanya menjadi pendengar saja, kadang-kadang dia menganggukan kepala sambil tersenyum saat pemilik warteg menatapnya.


"Nyari kerja jaman sekarang memang susah. Jangankan yang berpendidikan rendah, yang sarjana saja harus mengusap dada. Persaingan sangat ketat dan yang lebih dibutuhkan itu adalah yang punya skill dan berpengalaman. Tapi kalau tidak salah di Perusahaan XZ sedang membutuhkan karyawan. Coba saja besok ke sana siapa tahu ada rejekinya."

__ADS_1


"Dimana alamatnya Bu ?" kali ini Syarif buka suara.


"Kalau dari sini lurus aja kurang lebih setengah jam nyampe. Tapi kalau naik kendaraan umum sih bisa lebih."


"Makasih informasinya dan juga makanannya Bu." Syarif kembali berbicara dan tidak lupa memberi senyum manis pada Bu Rahmi.


Setelah banyak lagi obrolan basa-basi dengan pemilik warteg akhirnya mereka pulang. Namun sebelum itu Suci membungkus dulu makanan untuk ibunya. Dan kali ini tidak gratis. Kasihan Bu Rahmi kalau terus-terusan kasih gratis pada mereka.


Suci masih bersyukur meskipun belum dapat kerja tapi hari itu dia mendapat rejeki tak terduga. Selain itu juga bisa berkenalan dengan Bu Rahmi yang sangat ramah. Dan memberi Suci informasi tentang tempat kerja yang belum dia ketahui.


***


Esok paginya Suci dan Syarif meluncur ke Perusahaan XZ. Banyak juga pelamar lain yang sudah datang di sana. Syarif belum beruntung karena dia belum diterima bekerja. Sementara itu Suci sedikit beruntung karena dia diberi kesempatan.


"Kalau kamu bisa membuatkan kopi yang disukai oleh Bos berarti kamu hari ini juga bisa langsung kerja. Selain itu kamu juga harus membuat ruang kerjanya senyaman mungkin. Orang yang biasa melakukan pekerjaan itu sudah meninggal sebulan yang lalu. Dan selama itu belum ada yang bisa menggantikannya. Setiap OB yang baru selalu gagal membuat Bos terkesan. Sudah lebih dari lima belas orang yang mengecewakan Bos kami."


Suci mengernyitkan dahinya.


Memang ada ya Bos yang seperti itu ? tapi aku harus berusaha agar mendapat pekerjaan ini !


"Memangnya kopi seperti apa dan suasana ruang kerja yang bagaimana yang disukai Bos ?" mencoba bertanya pada atasannya.


"Mana saya tahu ! orang dia gak pernah bilang juga. Sekarang lebih baik kamu siap-siap sebelum Bos Direktur utama datang. Kamu harus membersihkan ruangannya dan menyediakan kopi sebelum jam 7."


"Ruangannya sebelah mana Pak ?"


"Di lantai Z."


"Baik pak saya akan berusaha semaksimal mungkin."


Bismillahirrahmanirrahim semoga aku bisa membuat Bos terkesan. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini.

__ADS_1


__ADS_2