
Sore itu Yusuf baru pulang dari kantor. Langsung masuk ke kamarnya. Sosok yang pertama dia cari tentu saja adalah istrinya. Suara air dari dalam kamar mandi, jelas menunjukkan jika Andini berada di sana.
Perlahan Yusuf membuka pintu kamar mandi. Ceroboh sekali Andini, kenapa tidak mengunci pintunya ? aku kan jadi enak, bisa menerobos masuk ! Tersenyum menyeringai. Otak jahil dan mesumnya keluar secara bersamaan.
Di saat Andini sibuk mengguyur tubuhnya di bawah shower, Yusuf memeluknya dari belakang. Sontak wanita itu kaget, "Ahhh !" Dini menoleh lalu nyerocos memarahi suaminya. Yusuf hanya tertawa kecil.
"Kalau mau mandi, jangan lupa kunci pintunya terlebih dahulu !" berbisik di telinga, sambil menggerayang seenaknya.
Andini merinding, "Aku lupa."
Yusuf terus menggodanya saat di dalam kamar mandi. Andini dibuat menggila karena sentuhan hangat itu. Tubuhnya perlahan dibalikkan, berhadapan dengan makhluk indah yang tak henti menghujaninya dengan sentuhan. Gemericik air membuat mereka lebih terhanyut untuk saling membalas ci***n.
Foreplay cukup lama dilakukan. Namun, untuk adegan final tetap dilaksanakan di atas tempat tidur.
Baru juga akan menyelesaikan mandi, kini Andini malah harus pergi lagi ke kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa keringat perjuangannya sebagai seorang istri. Sungguh melelahkan ! tapi lain halnya dengan suaminya, sepertinya Yusuf terlihat lebih cerah dan bersemangat. Tak ada gurat kelelahan dari pria itu. Benar-benar hebat !
Setelah mandi lagi dan berganti baju, Andini duduk bersandar di tempat tidur. Tenaganya terkuras habis, wajahnya memucat. Tubuhnya serasa tak bertulang.
Yusuf yang juga sudah membersihkan badan dan ganti pakaian, duduk di tepi ranjang. Pria itu cengengesan sambil membelai rambut Andini. "Maaf, sayang. Salahmu sendiri tadi tidak mengunci pintu, jadi aku bisa masuk ke kamar mandi dan melihat hal yang indah dari dirimu. Jika sudah begitu, aku tidak akan bisa mengontrol diri."
Andini membisu. Dia terlalu lelah saat ini. Setiap hari dia selalu dikerjai oleh suaminya, paling tidak sebanyak tiga kali. Sebelum dan sesudah tidur, juga setelah suaminya pulang kerja. Andini sudah seperti obat penyemangat bagi Yusuf. Mungkin kali ini, tubuhnya mulai down.
"Mau makan sekarang ?" tanya Yusuf. Andini menggeleng. Yusuf membaringkannya dan menyelimuti seluruh tubuhnya. Mengecup kening dan mengusap kepalanya dengan lembut. "Kamu istirahat saja. Aku tidak akan lagi mengganggu." Setidaknya untuk saat ini.
Andini terlelap, sedangkan Yusuf masih terjaga. Dia mesem-mesem sendiri. Wajah Andini begitu menggemaskan saat tidur. Bibir istrinya selalu maju beberapa centi saat benar-benar sudah pulas.
Yusuf mengambil ponselnya dari nakas, sebuah panggilan dari seseorang langsung dia terima.
"Bagaimana untuk hari ini ?" tanya Yusuf.
"Tidak ada masalah. Semua baik-baik saja. Tidak ada yang mengganggu nona." Jawab seseorang di sebrang sana.
"Bagus. Jika ada yang berani mengganggunya, beri saja pelajaran ! aku ingin istriku belajar dengan fokus."
"Siap, tuan." Pembicaraan pun berakhir.
Ponsel disimpan kembali di tempat semula. Yusuf ikut berbaring di samping Andini.
Satu jam berlalu. Andini membuka matanya, menoleh pada pria yang sedari tadi memeluknya erat. Memperhatikan setiap gurat wajah tenang dan....tampan itu. Gara-gara wajah indah inilah Andini jadi menggila. Selalu terhipnotis olehnya. Bahkan di saat tubuhnya lelah pun, dia bisa menerima setiap sentuhan nakal dari tangan dan bibir suaminya.
Dini dengan lembut membelai kepala pria yang masih terlelap itu. Meski Yusuf sering membuatnya kewalahan, tapi dia adalah suami yang baik. Memperhatikan semua kebutuhan dan kebahagiaannya.
"Terima kasih, sayang. Jika aku tidak pernah bertemu denganmu, mungkin saat ini hidupku semakin menderita." Tersenyum lalu mengecup kening Yusuf.
Yang dikecup kini membuka matanya perlahan. Membalas tersenyum sambil mengeratkan pelukannya. "Ada apa ? kamu masih belum puas, ingin minta jatah lagi ?"
Andini mencebik, kesal karena dibuat malu. "Memangnya setiap aku menyentuhmu, itu artinya aku mau begituan ? Tidak ! aku tidak sepertimu, sayang !"
Yusuf terkekeh, "Aku hanya bercanda, tapi jika kamu menganggap serius, itu bagus. Aku masih kuat jika kamu ingin mengulangi yang tadi." Senyum menyeringai itu membuat yang melihatnya merinding.
Dini mendengus, "Tidak cape apa ? jangan-jangan kamu sudah tidak waras ! rambutku belum kering, tapi kamu masih ingin membasahinya ! kamu itu sadis, sayang !"
Yusuf mencium kedua pipi Andini, "Menggemaskan sekali jika kamu sedang kesal seperti ini." Pelukannya semakin kencang, terlalu geregetan pada istrinya.
Andini Bergerak-gerak ingin bebas, "Lepaskan ! kamu ingin aku mati karena tak bisa bernafas ?"
"Tentu tidak, maaf. Aku hanya greget padamu, sayang." Nyengir sembari melonggarkan pelukannya.
Andindi mengerucutkan bibirnya. Dasar ! doyan sekali menggerayangi tubuhku !
"Sayang, bagaimana hari pertamamu di sekolah ?" Tangannya mengelus-elus pipi Andini.
"Tadi hanya perkenalan saja. Belum ada kegiatan belajar. Orang-orang di sana juga baik."
"Sudah dapat teman ?"
"Belum," mendadak muram. Sedikitnya dia merasa takut jika masa-masa sekolah dulu, akan terulang lagi. Dimana tak ada seorang pun yang mau berteman dengannya. Meski kini penampilannya tidak kucel lagi, tetap saja sedikit pesimis.
Yusuf tersenyum dan membenamkan wajah Andini di dadanya. "Tidak apa-apa, nanti juga kamu akan mendapatkan teman di sana."
***
__ADS_1
Hari Minggu pagi di ruang makan. Yusuf dengan suka cita menyuapi istrinya. Sedangkan yang disuapi merasa risih dan malu. Cengiran kedua adik iparnya, dan Oma Merly yang ikut mesem, membuat Andini kehilangan muka. "Sayang, aku bisa sendiri." Bisik-bisik pada suaminya. Yusuf tak menggubris, hanya tersenyum secerah mentari pagi ini.
Oma Merly tersenyum menatap pasangan pengantin baru itu. "Oma jadi ingat mama dan papa kalian. Mereka persis seperti Yusuf dan Andini. Jika makan harus ada ritual suap-suapan. Yang satu malu-malu, yang satu lagi tak tahu malu." Usia bicara, langsung melahap makanan yang ada di piringnya. Senyum itu masih ada di bibir orang tua itu.
Andini nyengir pada Oma, tambah malu. Setelah itu melirik pada Yusuf yang sama sekali tak terusik dengan perkataan oma. Pantas saja, sifatnya ini ternyata turunan dari papanya.
Khaira berbisik-bisik. "Sudah ku bilang jika kakak itu kembarannya adalah papa. Hihi..." Khesya manggut-manggut sambil tertawa-tawa.
"Andini, bagaimana hari pertama kamu di sekolah ?" tanya Oma.
"Baik, Oma. Lancar dan tidak ada masalah. Kemarin hanya pengenalan dulu, dan mencatat jadwal pelajaran." Jawab Andini.
"Emmm, begitu."
Khesya ikut nimbrung, "Kak, seminggu berapa kali ke sekolah ?"
"Seminggu dua kali pertemuan, Sabtu dan Minggu. Kakak dapat kelas pagi, dari jam 8 sampai jam 1 siang." Jelas Andini.
Khaira menimpali, dia juga tertarik untuk bertanya. "Sekolah persamaan itu apakah sama seperti sekolah biasa ? tiga tahun baru lulus ?"
"Setahu kakak, itu tergantung umur. Jika masih dalam usia belajar, maka harus sekolah selama tiga tahun. Tapi jika sudah dewasa seperti kakak, hanya ditempuh selama dua tahun."
Khesya berbinar, "Tahu begitu, aku mendingan sekolah persamaan saja. Waktunya lebih sebentar dan santai."
Andini tersenyum, Ada-ada saja !
Usai sarapan, Yusuf pamit untuk mengantar sang istri tercinta ke sekolah. Dia sendiri yang membawa mobil. Sengaja ingin berduaan saja dengan Andini, tanpa ada yang menguping atau memata-matai.
Dalam perjalanan.
Yusuf sengaja melajukan kendaraannya dengan kecepatan rendah. Ingin mengulur waktu sebelum istrinya itu turun dari mobil.
Andini terus menatap jam di tangannya. "Sayang, tolong sedikit lebih cepat ! aku tidak mau terlambat." Agak merengek-rengek.
"Tenang saja, tempatnya tidak jauh. Tidak usah buru-buru."
"Tapi jika mobilnya merayap terus seperti ini, aku akan terlambat." Mulai panik.
Yusuf masih fokus ke depan, "Kiss dulu, baru aku akan menaikkan kecepatan mobil ini !"
"Ini namanya cerdik, sayang." Tersenyum menyeringai.
"Bukan cerdik, tapi licik !"
Yusuf tergelak, menoleh pada perempuan yang bibirnya sudah monyong itu. "Ayolah sayang, satu kiss dulu. Jika tidak, aku akan menghentikan mobil ini. Terserah kamu akan terlambat atau tidak." Mencari cara lain untuk mencapai tujuan mesumnya.
Andini mendelik tambah kesal, Dasar tukang modus !
Tapi setelah mobil benar-benar berhenti, dia terpaksa mengikuti keinginan nakal suaminya. Kecupan di kedua pipi, kening dan juga bibir. Lebih dari satu kiss, aku harap dia tidak lagi merengek minta yang aneh !
Yusuf tersenyum puas, lalu melajukan kembali kendaraan roda empat miliknya. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di depan gerbang sekolah itu. Andini mencium punggung tangan Yusuf, "Sayang, terima kasih sudah mengantar."
Yusuf mengecup keningnya, "Jangan berkata begitu, ini adalah tugasku ! nanti siang aku akan menjemputmu. Belajar yang benar, jangan lurak-lirik pada pria lain !"
"Ya, aku tahu ! assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
***
Jam sepuluh pagi saat jam istirahat. Andini duduk di kantin sendirian, hanya ditemani minuman dan camilan yang ada di atas meja. Seorang perempuan yang usianya beberapa tahun lebih tua dari Andini, menghampirinya. "Boleh ikut duduk ?"
Andini menoleh, lalu mengangguk. Wanita itu pun duduk di sampingnya. Dia mengulurkan tangannya, "Namaku Meta. Kita satu kelas, aku duduk di belakang mu tadi."
Dini menjabat tangan itu sambil tersenyum, "Namaku Andini, panggil saja Dini."
Meta adalah wanita yang ramah, itu membuat Andini merasa nyaman. Mereka juga nyambung saat berbincang. Baru kali ini Andini bisa akrab dengan teman sekolahnya. Rasanya sangat menyenangkan.
"Dilihat dari cincin yang kamu pakai, pasti kamu sudah menikah, benar ?!" Meta menduga-duga.
Andini tersenyum, "Ya, benar. Kamu ? sudah menikah atau masih gadis ? maaf hanya bertanya."
__ADS_1
Meta tersenyum, "Sudah, bahkan aku sudah punya dua anak."
Mata Andini berbinar, "Hebat ! bagaimana cara mengatur waktunya ?"
"Ada ibuku dan baby sitter yang mengasuh anak-anak." Bicara sambil mengunyah.
Andini manggut-manggut sembari menyeruput minumannya.
"Aku punya dua anak, yang satu laki-laki berumur delapan tahun, dan yang kecil masih lima tahun, laki-laki juga." Meta berbicara lagi.
"Senang sekali sudah punya dua jagoan."
"Dini, kamu sudah punya anak belum ?"
"Belum, baru juga menikah dua minggu." Cengir Andini.
Meta manggut-manggut mengerti. Tiba-tiba muncul seorang pria. "Maaf, boleh ikut duduk ? tempat lain sudah terisi."
Tak ada yang menjawab. Baik Meta maupun Dini merasa tidak nyaman jika ada laki-laki diantara mereka. Namun, si pria itu tetap duduk meski kedua wanita itu belum mengijinkan.
"Halo para gadis, atau ibu-ibu ? perkenalkan nama saya Bento, rumah real estate. Sekali lirik ok sajalah." Tertawa terbahak-bahak.
Sementara Andini dan Meta saling tatap. Kenapa ada model pria tak tahu malu seperti itu ?
Laki-laki itu berdehem, "Bercanda, nama saya Alvin. Siapa nama kalian ?" menatap dua wanita di depannya secara bergantian.
Meta berdiri, "Ayo, Dini. Sebaiknya kita jangan dekat dengan pria asing yang aneh ini !"
Andini beranjak dari duduknya, "I...iya. Ayo !"
Keduanya pun pergi meninggalkan pria yang berteriak-teriak itu. "Heyyy, aku bukan pria asing dan aneh ! aku teman sekelas kalian !"
Orang-orang di kantin melihat ke arahnya. Alvin memelototi mereka semua. "Apa lihat-lihat ? ini bukan urusan kalian !"
Alvin melahap makanannya. Tak peduli jika orang-orang itu masih menatapnya tidak suka.
Jam satu siang. Pembelajaran hari itu berakhir. Meta dan Andini berjalan bersama ke gerbang. Sebuah motor bebek berhenti di dekat mereka. "Halo, ladies ! mau ku antar ?"
Meta menjawab ketus, "Tidak perlu ! suami kami sebentar lagi menjemput."
Alvin tersenyum tak percaya, "Benarkah ? kalian terlihat seperti gadis yang belum menikah. Andini, sayang. Mau bang Alvin antar pulang ?" Si pria itu mengetahui nama Andini dari teman yang lain.
Meta menatapnya tajam, "Jangan berani mengganggu wanita yang sudah menikah !"
Alvin tertawa, "Galak sekali ! lihatlah, Andini saja tidak berkata apa-apa, itu berarti dia tidak keberatan."
"Diamlah, pria aneh ! aku tidak mau diantar olehmu, meski aku belum menikah sekalipun." Ucap Andini.
"Sayang, ada apa ini ?" suara itu mencuri perhatian ketiganya. Seorang pria bertubuh atletis, berjalan ke arah mereka. Kemeja biru seperempat yang ketat, menonjolkan otot lengannya. Kaca mata hitam kian menambah ketampanan pria itu.
Andini terpaku memperhatikan sosok indah yang semakin mendekat padanya. Dia sangat hapal dengan postur tubuh yang tegap itu. Tapi dia sama sekali tak menyangka jika suaminya itu berkali-kali lipat akan setampan ini.
Andini terkesiap ketika tubuh rampingnya dirangkul oleh tangan Yusuf. "Sayang, katakan. Siapa yang sudah berani mengganggu mu ! aku akan membuatnya tidak bisa lagi bicara." Tatapan runcing itu ditujukan pada pria yang kini tertunduk ketakutan.
"Ti...tidak ada, sayang. Ayo kita pulang !" berusaha mengamankan situasi. Dia tak mau suaminya ribut dengan si pria gila bernama Alvin.
Yusuf mengulurkan tangannya pada pria itu. "Yusuf, suami Andini !"
Alvin gemetaran menyambut tangan itu. "Sa...saya Alvin." Awwww, kenapa dia mencengkram tanganku dengan sangat kuat ? sepertinya tulang-tulangku akan remuk ! Mencoba tetap tenang meski sebenarnya ingin menjerit-jerit karena kesakitan.
"Alvin, jaga lidah dan otakmu ! jika tidak, aku tidak akan segan untuk mencabutnya dari tubuhmu !" Setelah puas meremukkan tangan pria itu, Yusuf melepasnya.
Tak tunggu lama, Alvin segera tancap gas untuk melarikan diri.
"Sayang, ayo kita pulang !" ucap Yusuf.
Andini menoleh kepada wanita yang berdiri di sebelahnya. "Meta, aku pulang duluan. Kamu tidak apa-apa ditinggal sendiri ?"
Meta tersenyum, "Jangan takut ! suamiku akan datang sebentar lagi."
Yusuf menoleh pada teman istrinya itu. Meta hanya membungkuk hormat. Andini dan Yusuf pun berjalan sedikit ke depan, dimana motor suaminya berdiri.
__ADS_1
Andini kegirangan. Dia senang saat mengetahui dirinya akan diantar pulang dengan motor gede itu.
Bersambung....