
Hati Suci berdegup tak karuan. Pikirannya kalang kabut. Matanya terus menyisir seluruh ruangan kamar yang ukurannya jauh lebih besar dibanding rumah kecilnya. Begitu panik ketika melihat sang ibu mertua sudah tak ada di tempat tidur.
Berbagai praduga memenuhi isi kepalanya. Antara bingung, cemas dan sekilas prasangka buruk pun muncul. Bagaimana bisa Bu Merly hilang begitu saja dari kamar itu, sementara dia dalam keadaan lumpuh karena stroke berat ? Tidak mungkin jika tidak ada yang memindahkannya. Apa mungkin dia sudah sembuh secara tiba-tiba ? atau sebenarnya dia memang sehat-sehat saja ? atau mama Merly sudah diculik secara diam-diam saat Suci sibuk di kamar mandi ? Suci segera menepis semua pikiran buruk dari otaknya.
Yang terpenting adalah secepatnya menemukan mama.
Itulah kini yang ada di pikiran Suci setelah lama bergelut sendiri.Dia kembali menelisik segala penjuru untuk mencari ibu mertua. Di seluruh sudut ruangan kamar tidak ada tanda keberadaan Bu Merly. Suci bergegas mencari ke kamarnya, kamar Raisya dan kamar-kamar lain yang ada di lantai atas. Turun ke dapur, siapa tahu ada di tempat itu.
"Bi Fatma, apa bibi melihat mama ?" nafasnya yang ngos-ngosan tak menghalangi untuk bertanya.
ART itu mengernyitkan keningnya tak mengerti kenapa Suci bertanya seperti itu. Sudah jelas jika nyonya besar sedang terbaring di tempat tidurnya.
"Ti..tidak, bukankah nyonya ada di kamarnya ? beliau sakit parah jadi mana mungkin bisa berjalan ke sini ?" bi Fatma tetap menjawab meski masih keheranan.
"Apa ada orang asing yang datang ke rumah ini ?" wajah panik Suci membuat pembantu rumah itu semakin bingung.
"Tidak ada, saya yakin tidak ada siapa-siapa."
Suci segera melangkahkan kakinya ke ruangan lain, setengah berlari membuat bi Fatma semakin pusing keheranan.
"Ada apa ini sebenarnya ?" Bi Fatma menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Nihil. Setelah di cari di seluruh ruangan atas dan bawah, termasuk taman dan juga ruang nge-gym privat pun, Bu Merly tetap belum terlihat. Suci bahkan tidak kepikiran meminta bantuan para pekerja di rumah itu untuk mencari ibu mertuanya. Pikirannya terlalu kalut.
Astagfirullah.....harus cari dimana lagi ini ?
Suci hampir menangis karena putus asa. Diusapnya kasar wajah merah penuh peluh keringat itu. Nafasnya masih tersengal-sengal.
Balkon ? apa mungkin mama ada di sana ?
Suci baru teringat bahwa tempat itu satu-satunya yang belum dia injak untuk mencari keberadaan mama mertua. Lagi-lagi karena panik tempat itu jadi terlewatkan dari penyisirannya.
Meski logikanya meragukan hal itu namun ada dorongan kuat dari hatinya untuk melangkah ke sana. Meski tubuhnya sudah lelah dan banjir air peluh, namun dengan pasti ia menyeret kakinya menuju ke atas.
Saat sampai di sana, Suci melihat seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Bu Merly. Ibu mertuanya itu kini tengah duduk sendirian, menangis sesenggukan. Sama sekali tak diseka olehnya, dibiarkan mengalir begitu saja membanjiri seluruh wajahnya. Suaranya sesekali berteriak mengutuki dirinya sendiri.
"Aku memang bodoh. Aku mertua yang kejam. Harusnya aku tidak melakukan kekonyolan ini." Bu Merly memeluk erat kedua lututnya.
Tangisnya semakin pecah. Suci terpaku melihat kenyataan ini. Ada rasa lega karena ternyata Bu Merly bisa bicara dan sebenarnya mungkin orang tua itu tidak pernah terkena stroke. Di lain sisi, Suci merasa sakit hati karena sudah dibohongi mentah-mentah oleh ibu mertuanya.
__ADS_1
Suci perlahan mendekati Bu Merly dan menepuk pundaknya pelan. Yang disentuh pun menoleh ke arah sisi kanannya. Dia begitu terkejut melihat Suci sudah berdiri di sampingnya.
"Ma..." suaranya terdengar lirih.
"Suci !" Bu Merly segera berdiri dan memeluk erat menantunya itu.
Suci membuntang masih bingung dengan semua yang terjadi. Bu Merly masih menangis.
"Maafkan mama." Suaranya tersendat menahan sesak di dadanya.
Suci masih membisu tak tahu harus berkata apa karena masih tak mengerti. Bu Merly melepas pelukannya dan mengajak duduk berdampingan.
Suci menatap lekat ibu mertuanya itu. Dia merasa tak perlu bertanya apapun karena sepertinya ibu mertua ingin menjelaskan banyak hal padanya.
Bu Merly yang kebanyakan berwajah datar itu kini begitu ekspresif. Ia terlihat mengatur nafasnya dan menetralkan perasaannya. Mencoba untuk bicara dengan jelas agar Suci mengerti apa yang ingin dia ungkapkan.
"Mama ingin menjelaskan banyak hal padamu. Tapi sebelumnya tolong maafkan mama yang selama ini sudah sangat melukai perasaanmu." Bu Merly menatap lekat menantunya.
"Pertama bertemu denganmu, jujur mama sangat kaget. Bagaimana bisa wanita yang terlihat begitu tertutup penampilannya, bisa ada di dalam kamar Riki ? dan saat mama tahu bahwa kalian sudah menikah, mama sangat syok." Pandangan Bu Merly beralih ke depan, ke arah gedung-gedung tinggi dan perumahan yang terlihat kecil dari atas balkon.
Suci tak bersuara, hanya mendengarkan dengan seksama setiap kata yang terucap dari bibir ibu mertua. Meski sebenarnya hatinya merasa gamang, namun ia mencoba menahan. Ingin memberi kesempatan kepada Bu Merly untuk menjelaskan apa yang sebenarnya sudah terjadi.
"Mama sebenarnya sama sekali tidak mempermasalahkan latar belakang seseorang, entah dari kalangan manapun akan mama terima, asalkan orang tersebut pribadinya baik. Tapi karena kamu benar-benar asing maka mama sengaja mencari tahu semua tentang keluarga dan juga kehidupanmu. Ingin memastikan sendiri bahwa mama mempunyai menantu yang baik. Meski sebenarnya mama pun percaya pada Riki, dia tidak akan memilih perempuan sembarangan apalagi untuk dijadikan seorang istri." Bu Merly sesekali menjeda kalimatnya untuk mengambil nafas.
Mata Suci mulai berair seiring hatinya yang teriris. Namun ia mencoba untuk menahannya.
"Tapi seperti yang mama bilang di awal, bahwa mama tidak mempermasalahkan latar belakang seseorang, mama mencoba untuk menerimamu meski ada kekecewaan di hati mama. Sebenarnya dari awal pun mama sudah banyak mengujimu. Ingin tahu bagaimana kualitasmu sebagai istri dari putra kesayangan mama." Bu Merly masih bicara tanpa menatap ke arah Suci.
Sementara menantunya itu terus setia menjadi pendengar yang baik, masih menatap lekat padanya.
"Ternyata kamu jauh lebih baik dari apa yang mama harapkan. Kamu adalah perempuan yang rajin, perhatian, tidak gampang tersulut emosi, tidak gegabah, sabar. Dan masih banyak lagi kebaikan yang ada padamu. Kamu adalah wanita yang terbaik untuk Riki. Mama memang menginginkan menantu yang tangguh untuk selalu mendampingi putra mama. Dan kamu sudah membuktikan bahwa kamu memang sangat layak untuk menjadi menantu mama." Bu Merly menatap Suci dan memegang erat tangannya. Wanita itu sudah kembali meneteskan air mata. Namun ada gurat kebanggaan yang tersirat dari senyum kelu nya.
Suci tak mampu berkata karena dia pun kini sudah tak mampu membendung bulir bening dari matanya. Ada rasa haru yang menyeruak di dadanya.
"Yang paling mama bangga darimu adalah kejujuran dan tekadmu yang sangat begitu kuat untuk mempertahankan Riki. Kamu bisa mengakui kebenaran yang pahit tentang masa lalumu, tapi kamu juga tidak menyerah sedikit pun untuk menyelamatkan pernikahanmu dengan Riki. Saat mama pura-pura terkena stroke pun, kamu masih dengan semangat merawat mama meskipun mama sudah banyak menyakitimu." Tangis Bu Merly pecah lagi.
"Hati mama benar-benar tersentuh oleh perlakuan baikmu. Mama sangat menyesal karena sudah membuatmu terluka. Tolong maafkan semua kesalahan mama."
Suci menatap nanar wanita di depannya yang masih menggenggam erat tangannya. Suci menyeka air mata yang membasahi wajah ibu mertua. Bu Merly kembali memeluk Suci dan mengusap kepalanya.
__ADS_1
"Mama benar-benar minta maaf Suci. Kamu adalah menantu kebanggaan mama. Tidak peduli bagaimana kehidupanmu dulu, yang jelas yang mama tahu saat ini adalah bahwa kamu wanita paling hebat untuk Riki."
Suci ikut sesenggukan dan membalas memeluk erat ibu mertuanya. Dia benar-benar lega karena ternyata semua yang dilakukan Bu Merly padanya hanyalah untuk mengujinya saja. Meski awalnya merasa sakit hati karena dibohongi, namun kini dia bahagia karena Bu Merly sudah benar-benar mengakuinya sebagai menantu.
"Maukah kamu memberi maaf untuk mama ?" mereka masih berpelukan.
"Ya ma....aku sangat bahagia karena mama sudah mau menerimaku menjadi bagian keluarga mama."
"Terima kasih banyak Suci, kamu benar-benar sangat baik. Mama menyayangimu." Bu Merly melepas pelukannya dan menyeka air mata Suci. Lalu dia mencium lembut kening menantunya itu.
Air mata terus keluar dari mata Suci dan Bu Merly. Mereka semakin terlarut dalam keharuan.
"Mama jangan menangis lagi." Suci tersenyum meski masih dalam tangis, ia menyeka air mata mama Merly.
"Kamu juga masih menangis." Bu Merly melakukan hal yang sama.
Lantas keduanya kembali berpelukan. Setelah merasa puas dan lebih tenang, mereka kembali ke kamar Bu Merly. Mereka duduk di sofa.
"Kalau begitu mama sekarang mandi dulu, aku mau membuat makanan untuk mama. Pasti selama pura-pura sakit, mama tersiksa karena aku selalu memberi bubur dan minuman herbal untuk mama." Ada senyum di bibir Suci saat bicara.
"Kamu benar, tapi mama jadi suka pada minuman herbal buatanmu, rasanya lumayanlah. Maafkan mama karena sudah banyak merepotkanmu." Bu Merly kembali menatap lekat pada menantunya.
"Jangan minta maaf lagi ma, lupakan saja. Mari kita mulai lagi dari awal." Senyum Suci membuat tenang yang melihatnya.
"Sekarang gantian saja. Mama akan masakin makanan kesukaanmu."
"Tidak ma, lebih baik kita melakukannya bersama biar lebih seru."
"Baiklah itu akan sangat menyenangkan." Bu Merly mengangguk dan matanya berbinar.
Bu Merly masuk ke kamar mandi sedangkan Suci membereskan tempat tidur dan kamar ibu mertuanya. Saat Bu Merly kembali, menantunya itu sudah tidak ada di sana.
Pasti Suci yang sudah melakukannya. Dia memang sangat rajin.
Bu Merly tersenyum dan segera berganti pakaian.
Sementara itu Suci kini tengah ada di kamarnya. Dia duduk di tepi ranjang.
Alhamdulillah.... akhirnya mama sepenuhnya sudah menerima ku sebagai menantunya. Benar-benar tidak ku sangka bahwa hari ini aku akan mendapat kabar bahagia.
__ADS_1
Senyum kembali menghiasi wajahnya. Hatinya seolah ditumbuhi bunga-bunga bermekaran. Meski awalnya ada rasa marah dan kecewa namun saat ini perasaan itu berganti menjadi kebahagiaan tak terkira untuknya. Membuat wajah sendunya berubah menjadi secerah mentari.
Ternyata dari awal ibu mertuanya memang sengaja banyak mengujinya. Hanya ingin melihat bagaimana sifat asli Suci. Ternyata Bu Merly membuktikan sendiri bahwa menantu perempuannya itu mempunyai karakter yang baik. Di matanya kini Suci adalah perempuan yang hebat, tangguh dan terbaik. Dia sangat bangga dan beruntung mendapatkan menantu seperti Suci.