
Andini membuka matanya perlahan. Pandangannya menelisik ke langit-langit kamar, ke depan dan sisi kiri kanannya. Dia yakin saat ini tidak ada di dalam kamarnya sendiri. Lantas dimanakah dia kini ?
Tubuhnya terasa berbeda. Perlahan dia mengecek, tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh polosnya. Bahkan selimut pun hanya menutupi sebagian tubuhnya saja.
Semakin panik ketika melihat sebelah tangan kekar yang memeluk pinggangnya. Tidak, itu bukan tangan yang biasa menggerayanginya. Tangan milik suaminya sangat putih dan bersih, sedangkan tangan nakal ini berkulit coklat dan sedikit berbulu.
Tubuh Andini gemetaran, dadanya terasa sesak. Perlahan dia menoleh, tangan jahil itu ternyata milik pria asing yang keserempet mamang sopir.
Dini begitu shock, air matanya mengalir deras. Dia segera bangkit dan mencari pakaian yang terakhir dia kenakan. Dengan tangis tanpa suara, dia memungut bajunya yang berserakan di atas lantai. Cepat-cepat Andini berpakaian. Sesegera mungkin dirinya pergi dari tempat terkutuk itu.
Dengan bertelanjang kaki, Andini berlari dari sana. Selama itu pula, bayangan kejadian tadi pagi berkelebatan di kepalanya. Pak Yadi, entah dimana dan bagaimana nasib sopirnya itu ? Jangankan untuk menyelamatkan Pak Yadi, dia bahkan tak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Dan Meta, dia tak tahu temannya saat ini ada dimana. Semoga saja kedua orang itu selamat.
Andini terus berlari sejauh mungkin. Tak peduli teriknya matahari siang itu yang menembus kulitnya. Air mata masih menemani kepedihannya. Hancur, jiwanya hancur berkeping-keping. Dia merasa berdosa karena tak mampu menjaga kehormatan sebagai seorang istri. Bagaimana perasaan Yusuf jika mengetahui bahwa dirinya sudah dinodai pria asing ? Andini benar-benar merasa kotor.
"Maafkan aku, aku bukan istri yang baik untukmu. Aku terlalu bodoh dan lemah !" Air mata semakin menganak sungai. Tubuhnya sudah tak mampu lagi berdiri. Akhirnya Andini tergeletak begitu saja di pinggir jalan.
Cittt ! mobil berhenti tepat di dekat Andini pingsan. Seorang wanita paruh baya turun bersama sopirnya. Mereka membawa Andini ke dalam mobil.
***
Saat Andini sadar dari pingsannya, dia melihat seorang wanita seumuran ibunya, tengah duduk di tepi ranjang. Wanita itu menatapnya lekat dan tersenyum, "Kamu sudah sadar nak ?"
"Maaf, saya ada dimana ?"
"Kamu ada di rumah ibu. Tanpa sengaja ibu melihat kamu pingsan di pinggir jalan. Kamu tidak membawa identitas, ibu tidak tahu alamat rumahmu, jadi ibu bawa saja kamu ke sini."
"Maaf, saya sudah merepotkan. Terima kasih banyak sudah menolong saya."
"Sesama manusia harus saling menolong. Kamu mau makan ?"
Andini menggeleng. Mana mungkin dia bernafsu untuk melahap makanan, dalam situasi seperti ini.
"Atau kamu ingin membersihkan badan ? Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri !"
"Terima kasih, Bu." Andini bangkit menuju kamar mandi. Wanita itu ingin membantu memapahnya, tapi Andini menolak. Tak enak hati jika terus merepotkan.
Di dalam kamar mandi.
Andini terduduk lesu memeluk lututnya, di balik pintu. Air mata kembali mengalir deras ke wajahnya. Peristiwa kelam itu menghantui hati dan pikirannya.
Dia berteriak-teriak frustasi. Mengutuki dirinya sendiri yang tak becus menjaga harga dirinya sebagai seorang istri. "Aku wanita kotor ! aku tidak pantas lagi mendampinginya !"
Dia menangis histeris menggosok-gosok tubuhnya dengan kasar. Membuka baju lalu merobeknya. Terus bercucuran air mata ketika membersihkan badannya. Sudah satu jam dia melakukan itu, tapi noda dalam tubuhnya masih saja tak mau hilang. Andini merasa benar-benar kotor dan jijik pada dirinya sendiri.
Ketukan pintu dari luar menyadarkannya. "Nak, keluarlah ! Jangan terlalu berlarut-larut dalam kesedihan ! Semua pasti ada jalan keluarnya."
Entah mengapa suara lembut itu mampu meluluhkan hatinya ? Andini perlahan keluar dari kamar mandi.
"Ibu bersedia mendengarkan keluh kesahmu." Meraup wajah sendu itu.
Andini tak kuasa lagi menahan beban itu sendirian. Dia memeluk erat ibu yang menolongnya itu. Menangis sesenggukan di bahunya. Menumpahkan segala kepedihan dan kegusaran yang dia rasakan. Tanpa ragu, Dini menceritakan semua yang dia alami pada ibu itu.
Bu Vivian menyeka air mata dari wajah Andini. Dia mengajaknya duduk di tepi ranjang. "Nak, jika suamimu sangat mencintaimu, maka dia akan menerima dengan lapang dada. Dia tidak akan membiarkan mu melewati masalah ini sendirian."
"Dia adalah pria yang paling baik, dia bisa saja menerima ku dengan tangan terbuka. Tapi, justru itu. Aku wanita yang kotor, tidak pantas lagi mendampinginya." Masih berderai air mata.
"Kamu salah ! Cinta yang murni itu akan mampu menerima apapun kekurangan pasangan."
Andini menggelengkan kepalanya lalu menunduk. "Tidak, Bu ! Aku sudah kotor, tercemar oleh sentuhan pria lain. Aku tidak mau mengecewakannya."
"Ini semua di luar keinginanmu. Mungkin kamu butuh waktu untuk menenangkan diri. Nanti saat waktunya tepat, ceritakanlah semua padanya. Suamimu berhak tahu tentang ini."
Andini terdiam. Dia belum tahu apa yang akan dia lakukan ke depannya. Bu Vivian berdiri untuk mengambil baju dari lemari, lalu memberikannya pada Andini. "Sepertinya pas di tubuhmu. Tapi, maaf. Ibu cuma punya baju gamis seperti ini. Cepat ganti baju, temani ibu makan !" tersenyum ramah.
Andini tersenyum sambil berderai air mata. Dia masih beruntung karena bertemu orang baik di saat dirinya terkena musibah.
***
Beberapa orang berbadan besar, membawa Pak Yadi dan Meta ke dalam mobil. Kedua orang itu dibuang di tempat berbeda. Mang sopir ditelantarkan di pinggir jalan perbatasan luar kota. Sedangkan Meta dibuang di semak-semak agak jauh dari posisi Pak Yadi.
Baik Pak Yadi maupun Meta, meski belum sadarkan diri, tapi nyawa mereka masih menempel di jasad. Tujuan orang-orang itu bukanlah menghabisi keduanya, melainkan Andini. Perempuan itu harus dipastikan tidur bersama Alex, itu saja !
__ADS_1
Pak Yadi ditemukan oleh warga sekitar, langsung dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Sementara itu, Meta tanpa sengaja ditemukan oleh sepasang muda-mudi yang tengah asik pacaran. Dia pun dibawa ke Rumah Sakit yang sama.
***
Sore itu, seluruh keluarga panik. Andini belum juga pulang dari sekolah, tak ada kabar apapun darinya. Tak dapat menghubungi ponselnya ataupun ponsel milik mang sopir.
Kekhawatiran bertambah besar ketika istri Pak Yadi menelpon. Dia memberitahu jika suaminya dirawat di salah satu Rumah Sakit yang jaraknya jauh dari sini. Dia dapat kabar itu dari salah satu warga yang menemukan Pak Yadi di pinggir jalan.
Oma terduduk lesu di ruang tamu. "Jika Pak Yadi kecelakaan, maka Andini pun pasti ikut menjadi korban."
"Oma, jangan cemas ! Kak Andini pasti baik-baik saja, kita harus banyak berdoa !" ucap Khaira.
"Ma, aku akan pergi ke sana bersama mas Syarif." Ucap Raisya.
"Benar, mama jangan khawatir. Anak-anak, jaga Oma dengan baik !" Perintah Syarif.
Keduanya pun meluncur ke sana.
***
Pak Yadi terbaring lemas di ranjang Rumah Sakit. Tapi pria itu masih sanggup berbicara dan menjelaskan apa yang telah terjadi tadi pagi. "Setelah itu, saya tidak tahu apa yang terjadi dengan nona. Saat saya sadar, saya sudah ada di sini."
Raisya dan Syarif sangat shock. Mereka pikir, apa yang menimpa Andini dan Pak Yadi adalah kecelakaan biasa. Tapi ternyata ini adalah suatu kasus kejahatan.
"Kita harus melaporkan ini ke pihak berwajib. Tapi, kita harus bergerak sendiri untuk mencari Andini. Aku tidak mau hal buruk menimpanya." Ucap Raisya sambil menangis.
"Baiklah, aku akan menyuruh orang untuk mencarinya."
"Tuan, tolong cari juga nona Meta. Dia adalah teman nona Andini. Saya rasa dia juga datang ke rumah itu."
"Baik." Syarif menyanggupi.
***
Yusuf tak dapat duduk dengan tenang saat di dalam mobil. Dia sangat gusar karena sudah beberapa kali menghubungi nomor Andini, tetap tak tersambung. "Kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi ? Ada apa ini sebenarnya ?" makin tak enak hati.
"Meta, aku harus menelponnya. Tadi banyak sekali panggilan dari nomornya, mungkin dia ingin memberi kabar mengenai Andini."
"Tuan, kenapa tidak menelpon orang rumah saja ?" ucap Willy.
"Ya, benar. Kenapa aku tidak berpikir ke sana ?"
Yusuf memutuskan untuk menghubungi nomor Oma. Dalam beberapa saat, panggilan terhubung.
"Oma, kenapa Andini tidak bisa ku telpon ? Dimana dia saat ini ? Andini ada di rumah, kan ?!" tak dapat menyembunyikan kecemasannya.
"Yusuf, sebenarnya....Andini belum pulang. Kami juga sedang mencarinya saat ini." Suara Oma terdengar parau.
"Apa ? Oma jangan bercanda !"
"Oma tidak bercanda, nak."
"Kenapa tidak ada yang memberi tahu ku ?" berteriak-teriak.
"Kami juga awalnya mengira Andini pergi bersama temannya, tapi sampai saat ini tak ada kabar darinya. Ponselnya susah dihubungi, bahkan ponsel Pak Yadi pun tidak aktif. Dan kami sangat shock saat dapat kabar bahwa Pak Yadi ada di Rumah Sakit. Mungkin Andini juga ada di sana. Om dan tantemu sedang mengecek ke Rumah Sakit itu."
"Oma, tolong bantu aku mencarinya. Aku tidak mau Andini kenapa-napa." Yusuf mengakhiri pembicaraan.
"Ada apa, tuan ? Apa ada masalah dengan nona ?" Willy ikut panik.
Yusuf memijit pangkal hidungnya. "Will, kita harus pulang sekarang juga. Terserah dengan pekerjaan di sini, harusnya aku tidak usah pergi kemari dan meninggalkan Andini. Aku harus segera menemukan istriku. Suruh anak buahmu mencarinya juga. Lebih banyak orang yang bergerak, itu lebih baik. Jika perlu, cek semua rekaman CCTV di seluruh penjuru kota ! Segera temukan Andini ! Aku tidak mau istriku terluka sedikitpun." Suaranya semakin meninggi seiring amarahnya yang memuncak.
"Baik, tuan." Hanya itu yang mampu Willy ucapkan.
***
Andini memaksakan diri untuk mengunyah makanan, meskipun mulutnya tak mau menerima. Bu Vivian terus membujuknya hingga Dini bersedia makan.
Baru sesuap nasi yang masuk ke mulutnya, dia sudah enggan untuk melanjutkan. Dadanya masih sesak, mengingat kepahitan yang menimpanya. Seberapa kuat pun dia menahan, bulir bening itu tetap keluar dari pelupuk matanya.
Andini tak henti menyeka air matanya. Dia tak mau menangis lagi di hadapan Bu Vivian. Tapi wajah sendunya tak kunjung kering. "Maaf, Bu. Saya malah mengganggu ketenangan ibu saat makan."
__ADS_1
"Tidak masalah. Jika ingin menangis, menangis saja. Tumpahkan semua kesedihanmu, agar hatimu sedikit lega."
Andini mengambil lagi tissue dari atas meja makan. Sudah berlembar-lembar yang dia pakai untuk mengusap wajahnya.
"Maaf, Bu. Saya menghabiskan tissue punya ibu."
Bu Vivian tergelak, "Kamu ini polos sekali, jangan pikirkan masalah tissue ! Lebih baik sekarang kamu makan yang banyak agar kamu tidak sakit !"
"Baik, Bu." Andini mencoba lagi mengisi perutnya. Bu Vivian benar, dia harus menjaga kesehatan, jangan sampai jatuh sakit dan menyusahkan orang lagi.
***
Andini membersihkan peralatan makan yang kotor. Meskipun Bu Vivian melarangnya, dia tetap bersikukuh.
"Nak, jangan melakukan pekerjaan rumah ! Di sini kan ada pembantu yang biasa mengerjakannya."
"Tidak apa-apa, Bu. Saya hanya ingin menyibukkan diri saja." Membasuh piring-piring kotor.
"Kamu memang baik. Kalau begitu, ibu mau ke kamar mandi dulu." Bu Vivian berlalu.
Andini anteng dengan pekerjaannya. Dia baru selesai cuci tangan dan mengeringkannya. Seorang pria mengendap-endap berjalan menghampiri. Ibu ini bandel sekali, sudah ku bilang agar jangan mengerjakan pekerjaan rumah, tetap saja tidak mau menurut.
Pria itu memeluk Andini dari belakang, "Untuk apa aku mengerjakan seorang pembantu di rumah ini, jika ibu masih saja berkutat di dapur ?"
Andini menoleh sambil berteriak-teriak. "Aahhh !!!" memegangi dadanya yang serasa ingin loncat.
Sontak pria itu melepas pelukannya. "Maaf, aku pikir ibuku." Dia menatap lekat wanita di depannya.
"Bapak ?" Andini tak menyangka sama sekali akan bertemu pria itu di sini.
"Andini ? Bukankah ini kamu ? maaf, aku tidak tahu jika kamu ada di rumahku." Rupanya pria itu bisa mengenali Andini meski perempuan itu memakai kerudung.
Bu Vivian muncul, "Nino ? kamu sudah pulang ? Apa kamu mengenal Andini ?"
"Ya, Bu. Andini adalah salah satu muridku di sekolah persamaan. Ibu bagaimana bisa mengenalnya ?"
"Kebetulan saja kami bertemu. Andini sedang terkena musibah, kamu tidak keberatan kan, jika dia tinggal di sini selama beberapa hari ?"
"Terserah ibu saja. Permisi, aku mau ke kamarku." Buru-buru pergi. Kenapa bisa sampai bertemu dengan Andini di sini ? Aku juga ceroboh sudah memeluknya tadi. Benar-benar memalukan !
"Nak, ibu tahu jika kamu belum siap untuk bertemu suamimu dan menceritakan semua yang terjadi. Kamu bisa tinggal di rumah ini sampai kamu yakin untuk pulang." Ucap Bu Vivian.
Andini mengangguk. Wanita paruh baya itu seolah mengerti apa yang dia rasakan saat ini. Andini memang butuh waktu untuk menenangkan diri.
***
Malam ini Yusuf sudah ada di rumah keluarganya. Sedari kedatangannya, pria itu bicara dengan berteriak-teriak. Amarahnya kian menggunung. Dia benar-benar mencemaskan istrinya. Pikirannya sangat kalut. Jika dia tidak mempedulikan Oma dan keluarganya, maka saat ini semua barang-barang yang dia temui, pasti akan hancur.
"Andini, kamu ada dimana ?" Yusuf meneteskan air mata, baru kali ini dia menunjukkan kelemahannya di hadapan orang lain.
Dia duduk dengan menyondongkan tubuhnya ke depan. Kedua siku tangannya bertumpu pada paha. Jemarinya memegang kepalanya yang terasa ingin pecah.
"Andini, aku tidak mau kehilangan kamu. Aku sangat mencintaimu, sayang !" Tangisnya makin menjadi. Oma duduk di sampingnya dan mengelus punggungnya. "Yusuf, kita harus banyak berdoa. Semoga saja istrimu segera ditemukan."
Yusuf menatap asistennya dengan runcing. "Willy, apa kau sudah melakukan apa yang ku perintahkan ?"
"Sudah, tuan." Menundukkan kepalanya.
Yusuf berdiri, "Lalu mana hasil kerja mereka ? Apa mereka tidak becus mencari satu orang perempuan saja ? Sepertinya aku yang harus turun tangan secara langsung." Berteriak-teriak lalu pergi.
Di depan pintu utama, Yusuf berpapasan dengan pamannya. Syarif beserta Raisya baru datang dari Rumah Sakit.
"Yusuf, Pak Yadi menceritakan semua yang telah terjadi padanya dan Andini pagi tadi. Bla..bla..bla..." menceritakan semua sesuai yang dia dengar dari mang sopir.
Yusuf tambah frustasi. Ternyata masalahnya lebih rumit dari yang dia bayangkan. Tapi sesulit apapun itu, dia harus secepatnya menemukan Andini.
"Orang-orang suruhan om telah mengecek ke alamat yang diberikan Pak Yadi, tapi di sana tidak ada siapa-siapa. Mereka akan terus melacak dimana keberadaan pemilik rumah itu. Mungkin Andini dan Meta dibawa olehnya."
Yusuf mengembuskan napasnya berat. Apa yang terjadi sebenarnya ? Dia benar-benar takut hal buruk akan menimpa istrinya. Dan Meta, dia juga akan merasa bersalah jika adik temannya itu kenapa-napa.
Yusuf berlari menuju mobilnya. Segera masuk ke sana dan meluncur dengan kecepatan tinggi. Willy tak tinggal diam, dia segera menyusul tuannya. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada Yusuf.
__ADS_1