
Yusuf turun ke ruang makan, di sana sudah ada Andini duduk di sebelah Oma Merly. Lagi-lagi Yusuf tak dapat mengontrol pandangannya dari gadis itu. Jantungnya berpacu sangat hebat.
Yusuf menarik kursi. Bluggg !!! bagian belakang Yusuf yang harusnya menempel pada kursi, saat ini malah terduduk di atas lantai. Itu karena kecerobohannya, mata dan otaknya hanya fokus pada gadis yang duduk menunduk di depannya. Tidak menyadari jika posisi tubuhnya belum pas saat akan didudukkan di kursi.
Oma Merly dan Andini sampai-sampai kaget dan langsung menghampirinya. Mereka terlihat mencemaskan Yusuf. Andini dan Bu Merly memang baik hati, mereka tidak menertawakan kekonyolan Yusuf. Tapi tetap saja saat ini laki-laki itu sudah kehilangan muka.
"Kamu kenapa tiba-tiba jatuh ? tidak biasanya kamu ceroboh. Apa kamu sakit ?" Bu Merly menempelkan tangannya di kening Yusuf.
"Tidak, Oma. Yusuf baik-baik saja. Barusan cuma kecelakaan ringan. Jangan khawatir !" berdiri bangkit dari duduknya.
Bu Merly dan Andini ikut berdiri.
"Yakin tidak ada yang sakit ? Oma takut tulang ekormu ada yang patah. Besok kita ke Dokter." Bu Merly mengusap rambut basah milik cucunya. Orang tua itu kadang lupa jika Yusuf bukan anak kecil lagi.
Yusuf merasa risih, malu pada gadis di sebelahnya. Takut dikira anak oma ! padahal Andini tidak berpikir begitu. Dia malah merasa bersedih karena dirinya sama sekali tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh neneknya. Yusuf beruntung karena mempunyai Oma yang sangat menyayanginya.
Oma dan Dini kembali duduk di posisi masing-masing. Setelah memperhitungkan bahwa posisi tubuhnya tepat, Yusuf ikut duduk di kursinya menghadap lurus dengan si gadis cantik.
Saat melahap makanan, laki-laki bermata sipit itu tak henti memandang wajah Andini. Selalu saja ada debaran kuat di dadanya. Kerongkongannya terasa kering melihat bibir gadis itu mengunyah. Dalam pandangannya, gerakan melahap makanan Andini terlihat sangat sensual. Mengalirkan gelenjar aneh di tubuhnya.
Yusuf masih saja kehausan meski sudah banyak minum. Satu-satunya yang dapat memuaskan dahaganya adalah bagian bawah hidung Andini. Jakun pria itu naik turun. Dia kesulitan menelan salivanya.
Pasti bibirnya sangat manis jika ku l*mat !
Yusuf menggertakkan giginya karena gemas. Andini benar-benar membuatnya kepanasan di ruangan ber-AC itu. Dia merasa berada di Gurun Sahara.
Makin lama Yusuf merasa dirinya makin tidak waras. Apa sebenarnya yang sudah gadis itu lakukan ? apakah Andini punya ilmu pelet ? atau memang Yusuf sebenarnya yang sudah gila ?!
Cukup ! berhenti memikirkan hal yang jorok ! mungkinkah aku harus konsultasi ke Psikiater ? gadis itu benar-benar meracuni otakku !
"Oma, aku permisi. Masih banyak kerjaan yang harus ku bereskan." Yusuf beranjak lalu pergi ke ruang kerjanya yang terhalang beberapa ruangan dari sana.
"Tapi makananmu belum habis." Oma Merly bicara di sela-sela makannya.
Tak ada jawaban dari cucunya yang sudah agak menjauh dari ruang makan. Kenapa anak itu ?
Andini menatap punggung Yusuf hingga tak lagi terlihat. Ada rasa bersalah dalam hatinya. Mungkinkah Yusuf merasa risih karena keberadaan Andini di ruang makan ? pria itu pasti tidak suka dengan cara makannya yang tidak anggun. Apa Yusuf merasa jijik padanya ?
"Oma, bagaimana cara makan yang sopan dan anggun ?"
Bu Merly tertawa kecil, "Lihat saja cara makan Oma, kemudian kamu praktekkan !"
Andini menuruti segala perkataan oma Merly. Dia ingin bisa melakukannya agar Yusuf tidak merasa risih lagi jika mereka makan bersama.
***
Tok tok tok !!!
__ADS_1
Pintu diketuk oleh seseorang dari luar ruang kerja Yusuf. "Siapa ? aku sedang sibuk !" padahal dia sedang tidak melakukan apa-apa, ya.....hanya sibuk melamun !
Terdengar suara perempuan yang agak bergetar, "Maaf jika sudah mengganggu ! permisi !" Andini berbalik ingin pergi.
Yusuf sontak berdiri, "Masuk saja !" sengaja berteriak agar gadis itu mendengar jelas dan tidak meninggalkan tempatnya.
Andini berbalik lagi dan membuka pintu. Hati-hati dia menutupnya kembali. Di tangannya ada nampan berisi potongan buah. Dengan perlahan Andini berjalan menghampiri meja kerja Yusuf lalu meletakkan nampan itu di sana. "Oma menyuruhku membawa ini. Beliau bilang biasanya setelah makan, kau selalu mengkonsumsi buah-buahan."
"Terima kasih !" bicara tapi pura-pura menatap pada dokumen yang ada di tangannya.
"Kalau begitu, aku permisi. Silahkan lanjutkan pekerjaanmu !" Andini berbalik. Belum sempat kakinya melangkah, Yusuf sudah menyuruhnya untuk kembali menghadap. "An, kemari !" dengan hati berdebar gadis itu membalikkan badannya.
Yusuf memindainya dari atas ke bawah. Andini merasa ditelanjangi hanya karena diperhatikan seperti itu. Kedua tangannya menempel menutupi dada. "Ada apa ?"
Yusuf tersenyum, "Berdiri di sebelahku dan masukkan buah itu ke dalam mulutku !"
Andini mendelik, "Memangnya kau tidak punya tangan untuk melakukannya sendiri ?"
"Aku sedang sibuk ! jadi tolonglah ! aku harus membaca dokumen ini dengan sangat teliti. Akan merepotkan jika harus membaca sambil tanganku bergerak mengambil buah."
"Kalau begitu, nanti saja makannya setelah beres membaca. Atau, makan dulu baru membaca. Mudah kan ?!" gadis itu nyengir tidak ikhlas.
"Aku ingin makan buahnya sekarang agar pikiranku segar. Dan dokumen ini juga harus dibaca detik ini juga, PENTING !!!" dia tidak mau kalah.
Andini membuang nafasnya kasar. Dia terpaksa harus meladeni pria di hadapannya. Bagaimana pun juga, Yusuf sudah berbaik hati membantunya. Tidak apa jika harus melakukan sedikit bantuan untuk laki-laki itu.
Yusuf menarik tangan Andini dan memasukkan buah ke mulutnya. Andini mencebik kesal, "Itu, kau barusan bisa melakukannya. Berarti tidak perlu aku suapi."
"Itu karena kau lelet. Aku dari tadi membuka mulut. Bagaimana jika mulutku tidak bisa tertutup karena terlalu lama menunggu buah yang ada di tanganmu ? sekarang suapi aku dengan benar !" dia kembali pura-pura membaca dokumen.
Kenapa saat ini kau kembali menyebalkan ? aku tahu jika saat ini kau hanya ingin mengerjai ku ! pake pura-pura baca dokumen lagi !
Andini kembali menyuapi pria yang tengah tertawa dalam hatinya. Dengan wajah kesal, dia menatap Yusuf yang sangat santai duduk bersandar di kursinya.
"Aaaaaaaaa, lama sekali mengunyahnya ! padahal kan buah itu sudah dipotong dalam ukuran kecil. Seperti sedang memakan semangka satu buah utuh saja !"
Yusuf tidak peduli jika gadis itu nyerocos sebal padanya. Dia malah sangat menikmati tingkah lucu Andini. Dia memang sengaja mengunyah dengan sangat lambat agar gadis itu bisa berlama-lama ada di dekatnya.
"Aduh, aduh....kakiku !" Andini tiba-tiba berteriak.
Yusuf menoleh dan segera mengambil mangkok dari tangan Dini, lalu menyimpannya di atas meja. Dia berdiri, "Kenapa kakimu ? kram ?"
Andini menggeleng, "Kesemutan. Dari tadi berdiri, kakiku tidak bergerak."
"Aku pikir kram. Ternyata hanya kesemutan, siapa suruh tidak bergerak ?" Yusuf terlihat kesal di mata Andini, padahal itu adalah ekspresi kekhawatiran pria itu.
"Tetap saja rasanya tidak enak. Mau digerakkan terasa berat. Jika tidak digerakkan malah tambah beku." Andini meringis sekaligus marah-marah.
__ADS_1
"Baiklah, jika kesemutan seperti ini memang harusnya dipaksakan bergerak." Yusuf berjongkok dan menggerak-gerakkan kaki Andini. Gadis itu tertawa geli. "Awww, geli !" setelah beberapa menit, akhirnya kakinya kembali normal.
"Sudah cukup, sudah tidak apa-apa. Terima kasih banyak !"
Yusuf berdiri dan menatap lekat pada gadis di depannya. "Sama-sama."
Andini kembali deg-degan karena dipandang seperti itu. Dia nyengir salah tingkah. "Lain kali, aku akan paksakan bergerak jika kesemutan lagi."
Yusuf tidak menggubris perkataan Andini. Dia kembali terhipnotis melihat wajah cantik gadis itu. Bibir pink Andini terlihat menggiurkan, sepertinya lebih manis daripada buah semangka yang dia makan tadi.
Ada apa dengannya ? kenapa sekarang dia jadi hobi melihatku ? apa wajahku memang aneh baginya ?
Andini menundukkan wajahnya. Jika sedang malu atau gugup, dia selalu meremas jemarinya sambil menggigit bibir bawahnya. Dan hal itu membuat otak Yusuf semakin kotor.
"An, kau cantik sekali !" kedua tangan itu meraup wajah Andini, memandangnya dengan dalam. Dadanya naik turun seiring debaran jantungnya yang semakin cepat.
Yusuf benar-benar melupakan petuah dari orangtuanya untuk tidak melakukan kontak fisik dengan lawan jenis. Saat ini dia sangat terbuai dengan keindahan gadis di depannya. Yusuf sudah tidak tahan lagi ingin mencicipi rasa dari bibir pink milik Andini.
Perlahan wajah mereka semakin mendekat, bibir Yusuf menempel tepat di bibir gadis itu. Mengecupnya sebentar namun mampu membuat keduanya gemetaran. Mata mereka sama-sama terpejam. Dada bergemuruh dan seakan ada sengatan listrik menjalar di sekujur tubuh.
Yusuf sedikit menjauhkan wajahnya, menatap lekat pada gadis yang masih belum membuka mata. Tangannya berpindah memegang tengkuk Andini. Sebelahnya lagi melingkar di pinggang ramping gadis itu.
Perasaannya memerintah agar Yusuf menempelkan tubuhnya dengan tubuh Andini. Bibirnya kecanduan ingin mampir lagi di bibir pink alami milik si gadis. Perlahan dia mengulang untuk mengecup bagian bawah hidung Andini. Tapi ternyata itu tidak cukup. Dia ingin lebih dari mengecup. Yusuf menggerakkan bibirnya mel***t dengan lembut berlanjut sedikit menggigitnya. Andini dibuat susah bernafas. Tanpa dia sadari, tangannya melingkar di leher pria yang terus menciumnya. Keduanya terhanyut dalam kehangatan yang sama-sama baru mereka rasakan.
Lima belas menit berlalu. Yusuf menghentikan aksinya, membiarkan gadis itu mengambil nafas dengan bebas. Dia pun masih tersengal-sengal. Dia tak menyangka jika barusan mereka berc***an.
Andini menundukkan wajahnya. Malu dan gugup bercampur dalam benaknya. Apa yang ku lakukan ? kenapa aku diam saja dan menikmati semua sentuhannya ?
Yusuf memeluk erat tubuh Andini. Berbisik di telinga gadis itu, "Maaf, ini semua di luar kendaliku !"
Andini tak mampu bicara. Dia semakin gugup. Apalagi nafas Yusuf yang berhembus di sekitar telinganya membuat Dini merinding. Mata gadis itu kembali terpejam. Dadanya masih naik turun.
Yusuf memegang kembali tengkuk Andini. Mata tertutup gadis itu seolah memancingnya untuk mengulang adegan tadi. Dan akhirnya bibir mereka kembali menempel, beradu dan saling memberi kehangatan. Begitu seterusnya hingga setengah jam berlalu.
"An, maaf ! aku sudah lancang !" Yusuf duduk di kursinya kembali. Dia tak berani menatap gadis yang masih mematung itu.
"Aku, permisi !" Andini buru-buru melangkah meninggalkan ruangan bersuhu panas itu. Dia sama sekali tidak berani menoleh ke belakang.
Yusuf mengusap wajahnya kasar. Apakah yang dia lakukan akan membuat gadis itu marah atau tersinggung ? saat ini dia benar-benar tidak dapat mengontrol diri. Semoga Andini bisa memaafkannya.
***
Andini berlari menuju kamarnya. Setelah pintu dikunci, gadis itu menempelkan punggungnya di sana. Tubuhnya melorot ke lantai. Andini terduduk lesu. Dia menutupi wajah merahnya dengan kedua tangan. Bayangan adegan mesumnya dengan si pria tampan, tak dapat dia usir dari pikirannya.
Andini berteriak dalam hati. Kenapa dia bisa lemah dan bodoh ? bagaimana jika Yusuf mengira jika dia adalah gadis yang gampangan ? padahal itu kali pertamanya berciuman dengan seorang pria.
"Aaaa, kenapa aku bisa begitu menikmati sentuhan pria itu ?"
__ADS_1
Dan malam ini baik Andini maupun Yusuf tak dapat tidur dengan nyenyak. Terus teringat kejadian manis dalam hidup mereka. Entah harus bersikap bagaimana nanti jika mereka saling bertemu ?