
Makan malam yang menyenangkan bagi semua orang kecuali mama Merly. Ia belum merasa sepenuhnya nyaman dengan menantu perempuannya. Suci terlalu mendadak untuk berada di tengah-tengah keluarganya. Ditambah lagi dia tak tahu apapun mengenai latar belakang dan asal-usul kehidupan wanita yang dicintai putranya itu. Dia harus benar-benar memastikan apakah Suci memang wanita terbaik untuk anaknya.
Setelah mengetahui bahwa Riki sudah menikahi Suci yang notabenenya adalah orang asing bagi Bu Merly, ia pun menyuruh seseorang yang profesional untuk mencari tahu semua hal yang berhubungan dengan menantunya.
Sebenarnya Pak Hans dan Bu Merly adalah tipe orang yang bukan melihat seseorang dari latar belakangnya. Cukup hanya meyakini bahwa orang itu punya karakter yang baik, maka siapapun bisa dekat atau masuk ke keluarga mereka. Namun Bu Merly itu lebih teliti dalam memilih rekan, apalagi memilih seseorang untuk dijadikan menantu. Dia akan mencari informasi mendalam dan akurat agar mengetahui bagaimana kualitas seseorang.
Pak Hans sudah sangat percaya dan yakin bahwa Suci adalah menantu yang terbaik, tidak perlu lagi mencari tahu apapun darinya, terlebih Riki terlihat sangat mencintai dan bahagia bersama Suci. Beda dengan Bu Merly, tidak hanya cukup melihat cinta dan kebahagiaan putranya tapi juga harus memastikan bahwa wanita yang dinikahi Riki adalah wanita luar biasa.
"Bagaimana ? kapan saya bisa melihat hasil kerjamu ?" Bu Merly bercakap serius di telpon.
".........…..."
"Baik, berikan saya info yang akurat. Jangan sampai ada kesalahan."
Bu Merly mengakhiri pembicaraan itu. Dia duduk di tempat kerja milik Riki. Seraya mengetuk-ngetuk meja dengan jemarinya, beberapa pemikiran berseliweran di kepalanya.
Sejauh ini Suci memang baik. Dia pintar masak, rajin, tidak gegabah mengambil kesimpulan. Dia juga sangat tenang menghadapi masalah. Tapi aku masih belum yakin padanya. Masih ada beberapa hal yang ingin aku tahu tentang dia.
Sementara itu Riki dan Suci sudah berbaring di tempat tidur. Mereka seperti biasa mengobrol sambil saling tatap-menatap dan sentuh-menyentuh.
"Mas..apa kamu pernah memeluk perempuan lain ?"
"Jelas tidaklah ! kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu ?"
"Coba ingat-ingat lagi, apa kamu benar....tidak pernah berpelukan dengan siapapun ? secara sengaja atau tidak." Sebenarnya agak kesal Suci menanyakan itu. Tapi dia berhasil menutupinya dengan sikap tenang.
Riki terlihat sedang berpikir. Berputar-putar mengingat semuanya.
Aku yakin tidak pernah memeluk wanita manapun selain Suci, kecuali mama dan Raisya. Tapi mungkin....ya kemarin tapi itu bukan keinginanku.
"Mas...kamu ingat sesuatu ?"
"Kemarin aku tidak sengaja memeluk Lena. Dia tiba-tiba saja terjatuh di hadapanku. Jadi aku menolongnya." Agak ragu juga memberi tahu, takut istrinya murka. Tapi Riki memang hanya ingin jujur.
Jika dia melakukan hal yang macam-macam, pasti dia tidak akan mengatakan ini.
Meski percaya pada kesetiaan Riki, namun hatinya tak bisa dibohongi. Ada rasa tidak suka dan cemburu saat mendengarnya.
"Kenapa jadi diam begini ? kamu marah ? maaf ya, aku tidak sengaja melakukan itu. Jika aku tertarik pada Lena, maka sudah sejak lama aku akan mendekatinya. Tapi nyatanya aku cuma tertarik pada satu wanita, yaitu kamu. Seumur hidup, hanya kamu saja wanita yang hadir di hidupku dan mengisi hatiku. Yang lainnya aku tidak peduli."
__ADS_1
"Aku percaya pada mas. Tapi tetap saja aku tidak suka kamu dekat dengan perempuan lain. Jadi sebisa mungkin kamu harus menjaga hati, menjaga iman agar tidak tergoda oleh yang lain."
"Tidak perlu kamu ingatkan, aku pasti akan menjaga selalu hubungan kita."
Wajah Suci kini bersembunyi di balik pelukan hangat suaminya. Dibelai lembut hingga akhirnya keduanya terlelap.
Pembicaraan yang mungkin saja akan menguras emosi jika tidak diiringi ketenangan, berhasil menyelesaikan prasangka buruk yang sekilas menggerogoti kepercayaan Suci pada suaminya.
Masalah rumah tangga itu pasti akan selalu muncul, entah yang ringan atau yang berat. Hadapi semua dengan hati yang tenang, jangan sampai amarah menguasai, maka penyesalan akan dapat dihindari.
***
Minggu pagi yang cerah ini Riki sudah berada di tempat nge-gym pribadinya. Terletak di lantai bawah berhadapan dengan taman. Sehingga saat berpeluh keringat maka mata kita akan disuguhi pemandangan hijau yang akan membuat kita lebih bersemangat.
Dengan memakai kaos tanpa lengan dan celana pendek selutut, membuatnya terlihat sangat macho. Apalagi dada bidangnya tergurat jelas dan tangan berototnya menambah pria itu semakin menarik saja.
"Mas..." Suci menghampiri Riki yang sedang asik menggoyangkan ototnya dengan mengangkat barbel.
Entah kenapa melihat pemandangan itu membuat hati Suci berdesir dan deg-degan. Keringat yang mengucur di seluruh wajah Riki malah membuat suaminya itu terlihat menggemaskan.
"Ada apa sayang ?" Riki menghentikan dulu aktivitasnya lalu mengelap peluhnya.
"Kenapa bengong ? terkesima melihat suamimu yang sexy ini ?" Riki tersenyum menggoda dan kembali melanjutkan mengayun barbel.
Dia menggemaskan sekali. Aku tahu kamu dari tadi terus memperhatikan aku.
Mesemnya Riki masih terlihat meski tangannya memegang barbel.
"Aku mau minta ijin jalan-jalan dengan mama hari ini." Akhirnya Suci ingat juga misi sebenarnya dia menemui Riki.
"Pergi saja biar kalian semakin dekat. Tapi jangan terlalu lama, aku juga mau kamu temani. Dan jangan biarkan ada laki-laki manapun yang menatapmu apalagi mendekatimu."
"Akan aku usahakan untuk pulang cepat. Tapi aku tidak bisa mengontrol pria manapun untuk tidak melihatku. Yang jelas aku sudah berusaha untuk menutup semua auratku dan tidak berdandan berlebihan. Tapi aku yakin tidak akan ada yang tertarik mendekatiku."
"Kamu itu cantik dan manis. Semua pria pasti akan terkesima olehmu."
Dia terlalu berlebihan, aku tidak secantik itu di mata mereka.
"Aku kan pergi dengan mama, tidak usah cemas." Suci tersenyum sangat cerah.
__ADS_1
"Cium dulu, biar aku tenang melepasmu pergi." Riki menaruh barbel dan memeluk Suci.
Suci sudah nyengir dengan terpaksa. Malu jika dia yang harus duluan nyosor.
"Memangnya aku mau pergi ke luar negeri ya, sampai-sampai kamu minta cium dulu. Paling telat nanti sore aku juga pulang lagi ke rumah." Masih cengengesan terpaksa.
Ahh lama, malu tapi mau. Kalau tidak mau cium duluan tidak masalah, aku yang akan memulainya jika begitu.
Dan benar saja, Riki yang memulainya terlebih dahulu. Menyerobot tanpa jeda semua area yang dia mau. Akhirnya adegan itu berlanjut ke babak final.
Kalau sudah begitu maka Riki akan tenang melepas istrinya jalan keluar rumah. Padahal Suci pergi dengan mama Merly jadi harusnya dia tidak usah cemas. Tidak akan ada laki-laki yang berani mengganggu wanita miliknya.
***
Suci berada di sebuah toko perhiasan untuk menemani ibu mertua. Bu Merly melihat-lihat begitu banyak perhiasaan dengan berbagai model yang ditawarkan oleh pemiliknya. Mereka sudah duduk di sebuah sofa di sebuah ruangan khusus untuk Bu Merly jika mampir ke sana.
"Nah ini adalah model terbaru, sangat cocok untuk wanita elegan seperti anda." Rayu Bu Syiva sambil menyodorkan satu set perhiasan.
"Bagaimana menurutmu Suci, apa ini bagus ?" Bu Merly memberikan perhiasan itu agar menantunya memberi pendapat.
"Bagus ma...sederhana tapi elegan sangat cocok untuk mama." Setelah memperhatikan maka perhiasan itu dikembalikan pada Bu Merly.
"Kamu pilih saja mau yang mana, biar saya beli sekalian."
"Tidak ma, saya tidak perlu. Mama saja yang beli."
"Kalau begitu saya mau semuanya."
"Wahhh Bu Merly memang pelanggan saya yang paling the best. Ngomong-ngomong, gadis ini siapa ya ?" Bu Syiva menatap ke arah Suci sekilas.
"Dia adalah...anak saya. Sudah saya anggap seperti anak." Bu Merly bicara tanpa ekspresi.
Mama menganggapku sebagai putrinya ? apa aku tidak salah dengar ? apa dia sudah menerimaku sebagai menantunya ?
Suci tersentuh dengan ucapan mertuanya. Rasa bahagia pun muncul membuat bibirnya melengkung indah.
Namun sebenarnya maksud mama Merly berkata begitu karena menurutnya akan merepotkan jika dia memberi tahu orang lain bahwa Suci adalah menantunya.
Pernikahan mereka tidak pernah didengar oleh relasi ku, jadi lebih aman jika menyebutnya anak daripada harus menyebutnya menantu.
__ADS_1
Sebelum mendeklarasikan bahwa Suci adalah menantunya maka harus ada beberapa tahap yang masih harus dilewati oleh Suci.