
Suasana rumah begitu ramai dan riweh karena kehadiran Suci dan Riki beserta Tante Raisya. Namun itu justru menambah kehangatan mereka.
Semuanya membantu Andini menjaga anak kembarnya. Membantu menggendong, memberi susu dan mengganti popok. Bahkan Khaira dan Khesya pun ikut andil menimang-nimang si kembar. Anggap saja ini adalah latihan untuk keduanya, agar nanti tidak kaku saat sudah menikah dan menjadi seorang ibu.
Pagi ini Suci dan Raisya, memandikan Safa dan Marwah. Mereka tidak membiarkan perawat melakukannya.
Andini baru selesai mandi dan berganti pakaian, dibantu Khaira dan Khesya. Meski sudah menolak, tapi kedua iparnya itu terus memaksa. "Terima kasih, adik-adikku yang cantik dan baik. Nanti besok jangan lagi memaksa untuk membantu kakak mandi dan ganti pakaian. Kakak bisa melakukannya sendiri !" ucap Andini. Malu juga aku ! Kenapa kalian tidak peka ?
"Tidak apa-apa, kak. Santai saja !" ucap Khesya.
Tapi aku risih, Khesya ! Andini nyengir dengan terpaksa.
"Kak, duduk dulu. Aku akan ambilkan sarapan untuk kakak." Khaira memapah Andini menuju sofa. Setelah kakak iparnya duduk, barulah dia bergegas ke lantai bawah. Saat itu Khai berpapasan dengan Yusuf.
"Andini sedang apa ?" tanya kakak pertama.
"Kak Dini baru selesai mandi, aku sekarang mau membawa sarapan untuknya."
"Tidak usah, biar kakak saja yang melakukannya !" pinta Yusuf.
"Baiklah, aku tahu kakak merindukan kakak ipar." Khai tersenyum dan kembali ke kamar Andini.
Yusuf mesem, ternyata adiknya yang satu ini cukup pengertian. Dia memang merindukan istrinya. Selain itu, dia juga ingin melihat kedua bidadari kecilnya sebelum berangkat ke kantor.
***
"Khai, katanya mau ambil sarapan untuk kak Dini. Tapi kenapa kembali dengan tangan kosong ?" tanya Khesya.
"Ada yang dengan senang hati menggantikan tugasku pagi ini." Jawab Khaira.
Khesya manggut-manggut. Dia bisa menebak siapa orang itu. Jika bukan kakak pertama, pasti Oma yang akan melakukannya.
Tak lama kemudian, Yusuf muncul dengan membawa berbagai macam makanan. Dia duduk di sebelah istrinya.
Aduhhhh, Andini cantik sekali ! Aku tambah greget melihatnya ! Yusuf terpana menatap wajah istrinya yang begitu bersinar. Itu membuat denyut jantungnya tidak normal. Dengan agak gemetaran, dia menyuapi Andini.
Khaira dan Khesya cekikikan memperhatikan tingkah Yusuf. "Lihatlah, Khai ! Kakak pertama terlihat gugup saat ini."
"Seperti baru pertama kali menyuapi kak Andini." Khaira menimpali.
Suci dan Raisya menghampiri mereka. Masing-masing menggendong si bayi kembar.
"Lihatlah, Safa dan Marwah sudah cantik dan wangi !" ucap Raisya.
Khaira dan Khesya berdiri untuk melihat kedua bayi itu. "Gemasnya....Apa kami juga seperti ini saat masih bayi ?" tanya Khaira.
"Ya, sama-sama cantik dan imut !" Jawab Suci.
"Aku ingin menggendong mereka..." rengek Khesya.
"Gendong Safa saja, Marwah sepertinya ingin mimi !" ucap Raisya sambil memberikan salah satu bayi kepada Andini.
Marwah yang berada di pangkuan ibunya, terus saja mencari-cari sumber makanannya. Bibirnya bergerak-gerak ingin segera diberi ASI.
Yusuf mengusap kepala anak itu, "Sayang, lapar ya ?"
Andini tersenyum, "Dia sudah tidak sabar lagi." Tangannya bergerak melepas tiga kancing bajunya, lalu mengeluarkan salah satu bagian sensitifnya agar Marwah bisa segera meny*s*.
Yusuf terbelalak, Astaga ! Jantungku rasanya mau meledak ! Kenapa perasaan, bagian yang itu terlihat lebih besar ?
Raisya tergelak, "Yusuf, kenapa bengong ?"
Yusuf beranjak dari duduknya dan menghampiri mama Suci. "Ma, biar aku yang gendong Safa !" Anak itu kini telah berpindah tangan. Yusuf menimang sambil mengajaknya bicara. Safa anteng dalam gendongan ayahnya, hingga tertidur. Setelah membaringkannya di tempat tidur, dia menghampiri Andini untuk pamit berangkat ke kantor.
Istrinya itu belum selesai memberi ASI pada anaknya. Mau tidak mau, Yusuf melihat lagi pemandangan segar itu. Gundukan salah satu bukit yang m*l*s dan mont*k, membuat dia kesusahan menelan salivanya sendiri.
"Sa.....sayang, aku berangkat sekarang." Mengulurkan tangannya.
"Ya, mas. Hati-hati !" Andini sungkem.
Dada Yusuf makin mengamuk ketika tangannya disentuh Andini. Entah kenapa setrum itu semakin kuat ? Padahal ini bukan pertama kalinya diperlakukan seperti itu.
***
Dua bulan berlalu.
Usai mengantar Andini ke sekolah, Yusuf fokus mengasuh kedua bayi kembarnya. Tentu saja dengan bantuan Oma dan adik-adik. Dia begitu lihai mengganti popok dan juga mengajak anak-anaknya bermain.
Siang hari, Yusuf meluncur lagi ke sekolah untuk menjemput istrinya.
"Assalamualaikum, mas." Andini sungkem setelah duduk di samping suaminya di dalam mobil. Setelah itu segera memakai sabuk pengaman.
"Waalaikumussalam, sayang." Melajukan kembali kendaraannya.
"Mas, maaf. Aku sudah banyak merepotkan kamu dan juga keluargamu. Kalian harus menjaga anak-anak selama aku di sekolah."
__ADS_1
"Tidak masalah, kenapa kamu mengatakannya ?"
"Ya, sebenarnya dari awal pun aku merasa tidak enak pada kalian semua." Andini menundukkan kepalanya.
Yusuf menoleh sekilas, "Jangan dipikirkan ! Toh kamu hanya seminggu dua kali pergi ke sekolah. Dan sebentar lagi kamu juga akan lulus. Anak-anak tidak ada masalah. Oh, ya. Apa kamu sudah memilih mau melanjutkan ke universitas mana setelah lulus ?"
"Belum, mas. Aku maunya istirahat dulu. Aku mau fokus membesarkan anak-anak. Nanti setelah mereka sudah agak besar, aku akan melanjutkan lagi pendidikanku."
Yusuf tersenyum, "Aku akan mendukung apapun keputusanmu. Sayang, kapan kita pindah ke apartemenku ? Sayang sekali jika tempat itu harus selalu dikosongkan."
"Entahlah, aku tidak mau meninggalkan Oma. Beliau pasti akan merasa kesepian jika kita pindah."
"Sayang, bagaimana kalau kita....ke sana sekarang ?"
Andini menoleh, "Tapi aku mau langsung pulang dan menemui anak-anak. Mereka pasti merindukan ibunya." Mau apa dia mengajakku ke apartemen ?
"Sebentar saja, please...."
"Kasihan Safa dan Marwah, mas."
"Kamu tidak kasihan juga pada suamimu ini ? Sudah lama sekali aku tidak bermain-main denganmu. Sebentar saja, ok ?!" memasang wajah memelas dan menggemaskan.
Akhirnya Andini menyetujuinya. "Tapi jangan lama-lama, aku takut anak-anak menangis !"
"Baik, sayang !" Yusuf tancap gas menuju apartemennya.
***
Andini gemetaran ketika kakinya melangkah ke apartemen suaminya. Jantungnya meletup-letup. Sungguh saat ini dia bagaikan akan masuk ke ruang persidangan.
Yusuf menggiringnya ke dalam kamar. Mengajaknya duduk berdua di bibir ranjang. Dia hampir pingsan saat tangannya dipegang suaminya.
"Kenapa tanganmu dingin sekali ? Apa kamu gugup ?"
"Tidak, biasa saja. Mungkin AC-nya terlalu dingin." Nyengir menutupi rasa malu.
"Kalau begitu, aku akan menghangatkan mu !" menatap lekat Andini yang wajahnya sudah memerah.
Deg deg deg ! Jantungnya makin berguncang. Apakah Yusuf akan mengunjunginya saat ini juga ? Apakah itu tidak apa-apa ? Ada berbagai kecemasan dalam benaknya. Memang ini sudah lewat waktu nifasnya, tapi tetap saja ada rasa takut yang menghantui.
Yusuf tadinya ingin puasa selama tiga bulan penuh. Namun, dia tidak sekuat ayahnya dulu. Dan lagi, dia punya kesempatan untuk curi-curi waktu bersama Andini. Sudah dua bulan istrinya melahirkan, berarti harusnya itu tidak jadi masalah, bukan ?!
Yusuf meraup wajah Andini dan menatapnya dalam-dalam. "Bolehkah jika saat ini aku menyentuhmu ? Aku janji tidak akan bermain kasar !"
Yusuf perlahan membuka kerudung yang dipakai Andini. Menyimpannya di atas nakas. Lalu kembali fokus menatap keindahan wajah istrinya itu. Perlahan mengec*p kening, kelopak mata dan kedua pipi merah itu. Berlanjut ke dagu dan bibir merah Dini.
Setelah sekian lama, akhirnya dia dapat merasakan lagi kenikm*t*n dan manisnya bagian itu. Yusuf memeluknya erat tanpa melepas pagutannya. Dan tanpa mereka sadari, kini keduanya sudah berbaring di atas tempat tidur dalam keadaan sama-sama p*los. Untuk pertama kalinya setelah punya anak, mereka kembali memadu kasih.
***
Yusuf menggandeng tangan Andini saat turun dari mobil. Berjalan pelan ke dalam rumah.
"Apa sakit, sayang ?" bisik Yusuf.
"Hem, sedikit." Jawab Andini dengan berbisik juga.
"Maaf, aku tidak akan sering-sering melakukannya."
"Syuttt, jangan bahas lagi ! Aku malu !" bisik-bisik sambil memukul pelan lengan suaminya.
Yusuf mesem-mesem. Baginya pukulan itu adalah tanda cinta dari Andini.
Sampai di kamar.
"Kalian kenapa terlambat, memangnya dari mana dulu ?" tanya Oma.
"Tadi kami ada urusan penting, Oma. Makanya sedikit terlambat. Ini Oma, Yusuf bawakan kue basah kesukaan Oma." Menyodorkan beberapa box makanan.
"Wahh, terima kasih. Oma memang sudah lama tidak memakannya." Mengambil kotak-kotak itu. Lupa sudah dengan misinya untuk mengintrogasi Yusuf.
Khaira dan Khesya ikut nimbrung.
"Kak, apa kami juga boleh nyicip ?"
"Tentu saja, makanya kakak beli banyak. Kue-kue itu memang untuk kalian dan Oma." Jelas Yusuf. Sebagai tanda terima kasih karena sudah membantu menjaga anak-anak dan juga agar kalian tidak banyak bertanya, kemana kami pergi tadi !
Yusuf tertawa dalam hati. Modusnya ternyata berhasil.
***
Sebulan berlalu.
Hari ini adalah hari perpisahan sekolah bagi Andini. Dia ditemani suaminya, duduk di kursi paling depan. Acara demi acara berlangsung khidmat. Kini saatnya Yusuf sebagai pendiri yayasan, untuk memberi sambutan.
Dengan tegap dia melangkah ke atas panggung. Menyisir seluruh tempat dengan pesonanya. Pria itu semakin tampan dengan jas berwarna navy yang melekat di tubuhnya. Membuat wajahnya semakin berkilauan.
__ADS_1
"Selamat pagi semua ! Saya hanya ingin menyampaikan sedikit apa yang ada dalam benak saya saat ini. Jujur, saya merasa bangga pada anda semua. Di sela-sela kesibukan kalian, entah itu sebagai seorang istri ataupun suami, entah sebagai anak yang juga harus bekerja menafkahi keluarga. Kalian masih sanggup berbagi waktu untuk melanjutkan pendidikan. Menyisihkan tenaga, pikiran dan biaya untuk meraih cita-cita. Itu semua bukanlah hal yang mudah. Untuk itu, saya ucapkan selamat pada semuanya. Kalian telah berhasil berjuang menyelesaikan pendidikan di sekolah ini. Semoga ke depannya kesuksesan ada di tangan kalian !" Yusuf turun dari panggung dan kembali duduk di tempat semula. Tepuk tangan tak henti membahana bagi sosok penuh kharisma itu.
Andini menatapnya kagum. Suaminya itu memang benar-benar sosok luar biasa. Tampan, cerdas dan...pokoknya tidak akan ada yang bisa mengalahkannya.
"Kenapa ? Kamu semakin terpesona dan cinta padaku ?" Yusuf tersenyum puas.
Andini menggenggam tangannya, "Aku memang semakin mencintaimu, mas."
"Aku juga !" menepuk-nepuk punggung tangan Andini.
Seluruh acara pun telah selesai digelar. Semua orang satu per satu meninggalkan tempat itu. Andini dan Meta saling berpelukan sebelum mereka pulang.
"Meta, terima kasih kamu sudah selalu menemaniku belajar. Menjadi teman yang baik untukku."
"Sama-sama. Aku sangat senang bisa mengenalmu, Andini."
"Sering-sering main ke rumah. Aku pasti akan merindukanmu." Andini mulai meneteskan air mata.
"Aku juga." Meta ikut berlinang meski tidak menangis separah temannya.
Setelah peluk cium, mereka pun berpisah. Meta pulang bersama suaminya. Andini pergi bersama Yusuf, tentu saja.
"Mas, maaf. Aku sama sekali tidak membanggakan, prestasiku tidak bagus."
"Tidak apa-apa, yang penting kamu sudah berusaha dengan keras untuk meraihnya. Aku bangga padamu, sangat bangga. Meski kamu sehari-hari sibuk dan lelah karena harus mengurus dua anak sekaligus, tapi kamu tetap semangat untuk belajar." Yusuf adalah saksi bagaimana istrinya serius belajar setiap malam. Bahkan Andini sering tidur tengah malam saat akan menghadapi ujian. Kerja kerasnya harus diapresiasi dengan baik.
***
Willy dan Khesya saat ini tengah nonton di bioskop. Sebenarnya sudah beberapa bulan ini, mereka sering jalan bareng. Tentu saja dengan diam-diam.
"Wah, Will. Filmnya benar-benar keren. Aku suka film action seperti ini." Ucap Khesya sambil makan popcorn.
Willy menatapnya tak berkedip. "Dan saya sangat menyukai anda, nona."
Khesya menoleh, "Ngomong apa kamu ?"
"Tidak, tidak penting !" Untung saja dia tidak mendengar apa yang aku katakan !
Gadis itu anteng lagi menonton. Sementara Willy, tidak terlalu fokus menghadap ke layar lebar di depannya. Adegan nakal dari pasangan yang duduk tepat di sebelahnya, sukses membuatnya merasa risih.
Willy mendecih kesal, "Benar-benar tidak punya sopan santun. Bisa-bisanya mereka berbuat tidak senonoh di tempat umum."
Jika saja Khesya tidak menyukai film yang sedang diputar, maka Willy akan mengajaknya pergi dari sana. Tapi demi kesenangan Khesya, dia rela bertahan untuk duduk di samping pasangan gila itu.
Film telah selesai. Willy buru-buru menyeret Khesya untuk meninggalkan gedung bioskop.
"Sebentar, Will. Kenapa buru-buru sekali ? Memang kamu ada kerjaan ?"
"Bukan, aku hanya tidak nyaman berada di ruangan itu terlalu lama."
"Will, terima kasih karena sudah mengajakku nonton. Ternyata kamu asik juga untuk diajak main." Khesya nyengir.
"Sama-sama."
Keduanya pun pergi ke parkiran. Segera menaiki mobil.
"Nona, bolehkah saya bertanya ?" Willy memberanikan diri.
"Mau tanya apa ?"
"Apakah nona sudah punya calon suami ?"
Khesya tertawa, "Aku ? Siapa yang mau menikahi gadis sepertiku ? Aku ini bukan gadis yang elegan dan pintar."
"Tapi saya mau."
Khesya berhenti tertawa, "Will, jangan bercanda !"
"Saya sangat serius. Sudah lama saya menyukai anda, nona. Saya sebenarnya ingin melamar anda. Tentu saja jika anda tidak keberatan." Willy akhirnya mengungkap perasaan yang telah lama dia pendam. Dia sama sekali tidak takut ditolak. Yang penting perasannya bisa lega.
"A...aku..." Mendadak mulutnya gelagapan. Khesya benar-benar gugup. Sama sekali tidak menyangka jika Willy akan mengatakan hal itu.
"Jujur saja, nona. Saya akan menerima apapun keputusan anda."
Khesya menoleh, "Aku...juga sebenarnya menyukaimu Willy, tapi entah kapan perasaan itu muncul. Dan aku tidak pernah mengharap bahwa kamu juga punya perasaan yang sama."
Willy tersenyum bahagia, "Benarkah itu ? Jika nona pun menyukai saya, maka saya secepatnya akan melamar anda."
Khesya tertawa, "Kamu semangat sekali. Apa kamu yakin ingin menikahi gadis sepertiku ?"
Willy mengangguk mantap. "Saya tidak pernah ragu akan perasaan saya."
Khesya menunduk malu saat mata itu menatapnya begitu dalam. Ini adalah pengalaman pertamanya ditembak seorang pria. Sebelum-sebelumnya dia tidak pernah memberi kesempatan pada laki-laki untuk dekat dengannya.
Masih akan ada extra bab lagi !
__ADS_1