Seperti Sampah

Seperti Sampah
Extra part (3)


__ADS_3

Di kehamilan yang kedua ini, Suci merasakan mual dan muntah, membuatnya irit bicara. Selalu merasakan kedinginan meski saat cuaca panas hingga dia jarang mandi, hanya dua hari sekali. Itu pun dilakukan saat tengah hari menggunakan air hangat.


Tiap kali melihat nasi, dia merasa jijik. Perutnya juga agak rewel ketika dimasuki makanan. Hanya buah dan biskuit yang berhasil masuk ke tenggorokannya. Namun itu juga hanya mampir sebentar, karena tak lama berselang semuanya akan dikeluarkan kembali. Alhasil sekarang tubuhnya lemas. Berat badannya juga malah turun.


Pagi ini, Suci baru keluar dari kamar mandi. Riki selalu menemaninya meski hanya sekedar memijit tengkuk istrinya saat muntah-muntah.


"Sayang, kamu pucat sekali !" Riki memegangi wajah Suci.


Tak ada kata yang keluar dari mulut wanita hamil itu. Perutnya terlalu mual, membuatnya enggan bicara. Bahkan kini kepalanya terasa berputar. Pandangannya juga kabur. Beberapa detik kemudian, tubuh lemas itu pun tumbang. Untung saja Riki dengan cepat menangkap tubuh itu, hingga tak menyentuh lantai.


Riki yang sangat panik saat itu langsung menghubungi Dokter Lia, setelah merebahkan tubuh Suci di tempat tidur. Saat menunggu dokter tiba, dia duduk di sebelah istrinya. Mengoleskan minyak di pelipis Suci sambil memijatnya pelan.


Tak ada reaksi dari wanita yang masih terbaring itu. Riki memegang erat tangan lemas milik istrinya, lalu menciuminya. Berharap Suci akan segera membuka mata. Namun, sampai dokter datang pun, Suci belum sadarkan diri.


Riki berdiri agar dokter bisa memeriksa keadaan istrinya. Usai cek di sana sini, Dokter Lia berucap, "Kadar gula darahnya sangat rendah. Apakah selama ini istrimu jarang makan ?"


"Ya Dok. Suci memang susah makan. Sekalinya ada makanan yang masuk pun, selalu keluar lagi."


"Pantas saja. Itu memang sering juga dialami perempuan hamil lainnya. Biasanya gejala seperti itu akan hilang setelah usia kandungan 4 atau 5 bulan. Meski ada juga yang mengalaminya sampai sembilan bulan penuh selama hamil."


Riki menghembuskan nafasnya berat, dia menatap lekat pada istrinya yang masih terkulai lemas. Tidak tega rasanya melihat Suci harus menderita. Meski hal itu juga dialami sebagian besar kaum hawa lainnya, tetap saja Riki merasa gusar dan sangat cemas. Mungkinkah ini adalah salahnya karena terlalu sering mengajak istrinya memproduksi anak ?


Tentu saja tidak ! dia istriku dan aku suaminya. Hubungan badan tidak dilarang bukan ?!


Riki menepis pikiran buruk itu. Yang bisa dia lakukan sekarang adalah menjaga dengan sebaik mungkin, agar istri dan anak-anaknya selalu sehat walafiat dan juga bahagia sejahtera.


Dokter Lia kembali berkata, "Karena Suci kekurangan asupan makanan, kadar gula dalam darahnya menjadi rendah. Saya akan memberinya cairan infus dan vitamin. Tapi tenang saja, karena kondisi janinnya tidak ada masalah, jadi tidak perlu dibawa ke Rumah Sakit. Saya akan menugaskan asisten saya untuk merawat istrimu di rumah."


"Asisten dokter itu laki-laki atau perempuan ?"


"Asistenku adalah seorang pria tampan dan masih single." Dokter Lia tersenyum menjahili.


Riki menatap tajam dokter itu dengan sebal. Yang ditatap hanya tertawa kecil.


"Aku hanya bercanda boy. Tentu saja asistenku itu adalah seorang perempuan ASLI !"


Dokter apa dia ? malah mengerjai begitu.


Riki nyengir tak suka. Dokter Lia masih tersenyum sampai meninggalkan rumah itu. Sikap suami dari pasiennya itu sedikit menghiburnya. Jarang sekali dia menemukan pria macam Riki.


***


Suci merasa ada yang lain di tangannya saat dia terbangun. Tidak bisa bergerak leluasa karena ada selang infus yang terpasang di sana. Di sebelahnya, Riki tertidur dengan masih memeluk pinggangnya.


Seorang tenaga medis juga tengah berdiri memeriksanya. Dia tersenyum ketika melihat pasien sudah membuka mata.


"Syukurlah anda sudah sadar."


"Jam berapa sekarang ?" Suci berbicara dengan suara rendah.


"Jam sembilan pagi." Menjawab sopan sambil tersenyum.


Suci mengernyit. Dia ingat terakhir kali sadar, saat keluar dari kamar mandi. Dia yakin ketika itu pingsan dan tentu saja siapa lagi jika bukan suaminya yang membawa ke atas ranjang.


Berarti sudah beberapa jam aku tidak sadarkan diri. Lama sekali ! dan mas Riki, dia masih ada di sini, tidak pergi ke kantor.


Suci menoleh pada pria di sebelahnya.


"Bapak sedari tadi menjaga anda sampai akhirnya tertidur." Asisten dokter Lia bernama Ve, seolah tahu isi pikiran Suci. Dia dengan senang hati menjelaskan.


"Anda beruntung sekali punya suami sebaik bapak." Ve kembali tersenyum.


Saat itu Riki terbangun. Ketika matanya menangkap sosok istrinya sudah membuka mata, hatinya pun menjadi lega. Dia segera mengecup kening Suci dan mengusap kepalanya.


"Sayang, aku senang kamu sudah sadar. Aku sangat khawatir."


Ve pura-pura tidak melihat kedua orang itu. Berakting tidak peduli meski sebenarnya ikut baper. Maklum, dia belum menikah dan masih jomblo.


Riki kini duduk bersila. Dia masih memegang erat tangan Suci.


"Bagaimana keadaan istri saya ?" matanya masih tertuju pada wanita di sampingnya.


"Istri anda masih harus diopname. Gula darahnya masih belum stabil. Tapi anda jangan khawatir, saya yakin ibu akan cepat pulih."


"Mas, kenapa tidak ke kantor ?" Suci buka suara.


"Aku ingin menjagamu di sini. Untuk apa ke kantor jika pikiranku hanya tertuju pada istriku di rumah. Aku tidak akan tenang jika meninggalkanmu di sini, apalagi sekarang mama dan Raisya sedang tidak ada di rumah. Mereka membawa Yusuf jalan-jalan. Aku juga belum memberi tahu mereka tentang keadaanmu."


"Tapi sekarang ada perawat yang akan menjagaku. Mas jangan cemas."


"Tidak, aku tidak mau jauh darimu saat keadaanmu seperti ini. Aku tidak akan tenang. Masalah kerjaan sudah aku serahkan pada orang yang tepat. Jangan takut !" Riki mencium lagi tangan yang dipegangnya.


Suci hanya mengangguk sembari tersenyum sedikit. Dia senang Riki bisa menemaninya, membuat hatinya tenang.


Ve diam-diam mesem melihat adegan romantis di depannya. Dia jadi ngiler, membayangkan hal yang sama akan dia rasakan. Semoga saja asisten dokter Lia itu segera mendapatkan jodoh yang sebaik Riki. Itulah yang ada dalam pikirannya saat ini.


***


Setelah sehari semalam diopname, kini Suci sudah bisa bergerak bebas tanpa selang infus di tangannya. Ve sudah tidak lagi datang untuk menjaganya, lebih tepatnya mengganti infus dan mengecek kondisi pasien. Yang telaten menjaga Suci tentu saja hanyalah suaminya.


Riki tidak membiarkan seorang pun menggantikan tugasnya merawat Suci, termasuk Ve. Bahkan ibu dan adiknya sekalipun dilarang untuk membantunya. Dia benar-benar fokus dan tulus ingin menjaga istrinya.


Karena pagi ini Suci sudah terlihat tidak pucat lagi, raut wajahnya juga sudah lebih cerah, maka Riki bisa kembali ke kantor. Meski sebenarnya masih enggan dan ingin selalu menjaga Suci, tapi dia berangkat juga. Dia memang harus membereskan urusan perusahaan. Dan untuk Suci, ada mama Merly dan juga Raisya yang pasti akan menjaganya.


Waktu terus berputar. Tak terasa kini usia kandungan Suci sudah masuk 5 bulan. Tubuhnya sudah bersahabat kembali. Tidak ada mual lagi. Perutnya pun sudah bisa menerima semua makanan. Rasanya Suci seperti baru sembuh dari sakit.


Saat sarapan, Riki dengan sigap menyuapi istrinya itu. Suci merasa tambah malu karena dia kalah oleh anaknya. Yusuf sudah pintar makan sendiri, sementara dirinya yang sudah memasuki usia kepala tiga masih saja disuapi.


Tentu saja itu karena paksaan dari sang suami. Riki mengancam akan mogok makan dan tidak akan bekerja jika Suci tidak mau disuapi olehnya. Sepertinya pria itu yang paling manja dan merepotkan Suci dibanding anaknya.


"Tidak sayang, aku tidak manja. Justru karena aku adalah suami yang baik dan pengertian, makanya aku akan memanjakanmu." Riki nyengir.


Kenapa dia seolah mengerti apa yang sedang ku pikirkan ?


"Karena aku suamimu, makanya aku mengerti apa yang ada dalam otakmu."


Suci nyengir. Ya sudahlah jangan dipikirkan, yang penting apapun yang Riki lakukan itu hanyalah ungkapan rasa sayangnya.


"Bagus, jangan dipikirkan. Semua yang aku lakukan hanya karena aku cinta dan sayang padamu." Riki mesem sambil menyuapkan makanan ke mulut Suci.


Lahhhh apa dia benar-benar bisa membaca pikiranku ?


Riki masih tersenyum nakal dan angguk-angguk kepala.

__ADS_1


Jangan pikirkan apapun !


Riki sebenarnya tertawa dalam hatinya. Dia hanya mencoba menebak saja isi kepala istrinya. Tapi ternyata prediksinya tepat sasaran. Bertahun-tahun hidup bersama membuatnya mengerti jalan pikiran Suci.


***


Esok paginya Riki bersiap pergi ke luar kota untuk urusan bisnis. Meski berat hati, tapi dia harus melakukan perjalanan ini.


Suci duduk di tepi ranjang memperhatikan setiap inchi dari tubuh suaminya. Riki berdiri di hadapannya dengan tatapan lekat. Nafasnya terdengar kasar. Pria itu ikut duduk di sebelah istrinya.


Mereka saling menatap dalam-dalam. Terasa berat untuk melepas kebersamaan mereka meski hanya untuk dua hari saja. Sebenarnya bukan kali pertama Suci ditinggal ke luar kota, tapi karena kondisinya yang tengah hamil membuatnya merasa ingin selalu dekat dengan ayah anaknya. Dia lebih membutuhkan suaminya saat ini. Jika bisa, Suci ingin sekali ikut dengan Riki.


"Jangan menangis ! nanti aku tidak bisa pergi dengan tenang." Riki mengusap air mata dari pipi istrinya.


Tangis Suci malah makin menjadi. Dia seperti bocah yang kehilangan mainan kesayangannya.


"Cup cup cup ! aku juga tidak mau jauh darimu. Tapi ini sangat penting. Jangan bersedih, kan cuma dua hari !" mengelus kepala Suci dengan lembut.


Sebenarnya perkataan itu juga untuk menghibur dirinya sendiri. Dua hari adalah waktu yang sangat panjang jika dia lalui tanpa istrinya.


Saat itu Bu Merly muncul bersama Yusuf. Anak itu menghambur ke pelukan ayahnya. Dia mencium pipi dan kening Riki karena tahu bahwa ayahnya itu akan segera berangkat.


"Jagoan, tolong jaga mama dan dede bayi !" Riki tersenyum pada putranya.


"Baik papa !"


"Hati-hati Rik. Jangan cemas, Suci dan anak-anak mu akan mama jaga dengan baik." Bu Merly menepuk pundak anaknya.


Setelah peluk cium dengan semua orang, Riki pun berpamitan. Kini rumah itu terasa kurang hangat tanpa kehadirannya.


Satu hari berlalu. Saat ini Suci sedang ada di Rumah Sakit ditemani ibu mertua. Sedangkan Yusuf bersama tante Raisya.


Suci sedang menatap hasil USG 4D janinnya. Dia baru melakukannya karena kemarin-kemarin merasa malas untuk ke Rumah Sakit.


Bu Merly juga ikut memperhatikan gambar calon cucunya. Ada senyum cerah pada wajah keduanya. Gambar itu menunjukkan dua janin, artinya Suci sedang mengandung anak kembar. Dan berjenis kelamin perempuan.


"Alhamdulillah ! sayang, kamu membuat mama sangat bahagia. Dulu mama ingin sekali punya bayi kembar tapi tidak terwujud. Dan sekarang kamu akan memberikan cucu kembar untuk mama. Itu sangat menggembirakan. Riki dan semua keluarga pasti akan bahagia." Bu Merly menempelkan kepalanya pada kepala Suci. Dia mengelusnya dengan lembut.


"Alhamdulillah ! Tuhan sudah berbaik hati mempercayakan mereka untuk tumbuh bersama keluarga kita." Suci memegang tangan ibu mertuanya.


Keduanya larut dalam keharuan.


***


Malam hari di kamar. Suci melakukan video call dengan suaminya. Dia duduk bersandar di ranjang.


"Sayang, kamu baik-baik saja kan selama aku di sini ? bagaimana hasil USG nya ?" di seberang sana Riki menatap lekat pada wajah istrinya.


"Bagus mas. Ini lihat !" Suci memamerkan foto calon anaknya yang masih ada di dalam perut.


Riki memperhatikan dengan jeli. Matanya berbinar dan senyum merekah dari bibirnya. Bahkan sudut matanya berair karena haru.


"Anak kita kembar ?"


Suci mengangguk. Riki sudah bercucuran air mata. Sebelum kembali bicara, dia menarik nafasnya panjang.


"Alhamdulillah. Tuhan sangat baik pada kita. Yusuf diberi dua adik sekaligus."


"Benar mas. Adik yang cantik-cantik."


"Sabar ya anak-anak, papa akan segera pulang ke rumah dan menyapa kalian setelah urusan papa selesai. Jangan nakal !" Riki memberi petuah pada bayi-bayi yang masih ada di dalam perut Suci. Istrinya itu hanya tersenyum.


Setelah puas saling menatap dan berbincang, panggilan pun ditutup. Riki merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur di sebuah hotel tempatnya menginap. Pikirannya masih terpatri pada istri dan anak-anaknya.


"Pantas saja Suci terlihat lebih gemuk daripada kehamilannya yang pertama. Perutnya lebih besar. Ternyata ada dua nyawa di dalam sana." Riki tertawa kecil.


Dia kembali berceloteh, "Untung saja tadi aku tidak keceplosan mengatakan bahwa Suci sekarang lebih gemuk. Jika ku katakan, maka sudah pasti dia akan ngambek dan langsung menutup telpon."


"Tapi meskipun badannya lebih bulat dan pipinya tembem, dia malah terlihat jauh lebih sexy. Mmmm montok ! bohayyy ! aku jadi ingin cepat-cepat pulang !"


Dan begitulah akhirnya, pikiran ngeresnya selalu hadir menemani.


***


Dua bulan kemudian.


Hari ini pak Hans sudah berada di Indonesia. Dia sengaja pulang karena ada pertemuan keluarga. Ada seorang pria yang akan melamar putri satu-satunya.


Semua orang sudah berkumpul di ruang tamu. Raisya duduk di tengah-tengah orangtuanya. Mereka berhadapan dengan si pria itu dan ibunya. Riki dan Suci duduk di sebelah tamu. Karena yang akan melamar itu adalah keluarga dari Suci, Syarif.


Suasana sangat menegangkan bagi Raisya dan Syarif. Keduanya tidak pernah menyangka hubungan mereka akan berujung ke status yang lebih serius. Terlebih Raisya, memang dia mengharapkan pria itu, namun karena sikap cuek Syarif, dia tidak terlalu berharap cintanya akan dibalas.


Syarif pun begitu. Awalnya memang tidak memiliki perasaan apapun tapi lama-lama sosok Raisya terasa lekat di benaknya. Akhirnya dia memutuskan untuk menjadikan gadis yang lebih tua darinya itu, sebagai pendamping hidup.


"Saya berniat untuk melamar putri anda. Saya ingin menjadikannya sebagai istri. Inshaa Allah saya akan berusaha membuatnya selalu bahagia." Syarif mencoba bicara meski suaranya agak bergetar.


Pak Hans menatapnya lekat. Dia memang menyukai sosok pria itu yang menurutnya sangat kalem dan dewasa. Usia Syarif yang lebih muda dari anaknya, sepertinya tidak akan jadi masalah. Pak Hans yakin bahwa adik dari Suci ini akan bisa membimbing putrinya. Bu Merly pun berpikiran sama.


"Sepertinya saya tidak perlu berbasa-basi lagi. Semua orang juga bisa melihat sendiri bahwa putri kami sangat menyukaimu Syarif. Kami sebagai orangtua hanya bisa mendukung saja keputusan Raisya." Pak Hans bicara dengan tenang.


Raisya yang mendengarnya, tentu saja sangat girang. Jika tidak malu, maka kali ini juga dia ingin melompat-lompat saking bahagianya.


Dengan senyum merekah, dia berkata, "Aku mau menikah dengan Syarif !" suaranya lantang dan terdengar menggebu-gebu.


Semua orang hanya tersenyum kecuali Syarif. Pria itu memang senang, tapi dia menutupinya dengan baik. Hanya tertunduk malu-malu, debaran jantungnya semakin kencang. Jemarinya diremas kuat agar tidak terlihat gemetaran.


Setelah banyak berunding, akhirnya diputuskan bahwa mereka akan menikah dua bulan lagi. Semua menyetujui, tapi Raisya masih saja protes.


"Dua bulan itu terlalu lama. Kenapa tidak besok saja hari pernikahan dilakukan ?" tanpa tahu malu gadis itu berbicara. Ya, selama beberapa tahun ini dia telah menunggu Syarif, wajar jika dia ingin cepat-cepat menikah.


"Hey Raisya. Tidak malu apa pada calon suamimu ? lihatlah, Syarif saja kalem begitu sebagai seorang laki-laki." Riki sengaja menggodanya.


Sementara yang dibicarakan hanya tertunduk malu. Raisya pun nyengir. Setelah menatap ke arah Syarif, barulah dia sadar bahwa telah melakukan hal konyol yang sangat memalukan. Dan sesuai rencana awal, pernikahan itu akan dilakukan dua bulan lagi.


***


Setelah lama bersabar, akhirnya dua bulan penantiannya terbayar. Hari ini Raisya telah resmi menikah dengan Syarif. Keduanya tengah berdiri menyambut para tamu undangan. Rona kebahagiaan terpancar jelas di wajah mereka.


Sesekali Raisya bergelayut manja pada suaminya. Syarif hanya diam saja, bukan karena tidak suka, melainkan dirinya malu dan gugup. Tapi dapat dipastikan bahwa mereka berbahagia saat ini.


Sementara di tempat lain. Riki tengah asik berbincang dengan Doni. Mereka duduk bersama di kursi pojok.


"Hey, Don ! mana pacarmu ? jangan bilang kau masih jomblo !" Riki berbicara setelah menenggak minumannya.

__ADS_1


"Memang kenapa kalau aku masih single ? apa urusanmu ?" Doni berkata sambil mengutak-atik ponsel.


"Jangan-jangan kau masih mengharapakan Suci ?" mendelik ke lawan bicaranya.


"Ehemmm Suci, ku tunggu jandamu !" Doni terbahak.


"Tidak lucu ! aku tidak akan pernah melepaskan Suci !" nada bicaranya sudah meninggi.


"Bagus ! aku juga berharap kau tidak akan pernah membuatnya menjadi janda. Kau harus selalu membuatnya bahagia ! setidaknya lakukan itu selama kau masih bernafas." Doni mesem lalu menyesap minumannya.


"Hey apa maksudku kawan ? jika aku mati pun aku tidak akan biarkan siapapun mendekati istriku ! apalagi dirimu ! aku akan selalu gentayangan menghantuimu Doni." Matanya merah menyala tertuju pada pria yang ada di hadapannya.


Doni tertawa terbahak-bahak. Telunjuknya mengarah pada Riki. "Kau kekanak-kanakan sekali ! aku hanya bercanda. Lagipula aku tidak benar-benar jomblo. Aku sedang dekat dengan seorang gadis. Janda beranak satu tapi masih cantik." ada senyum dari bibirnya.


"Bagus ! cepat nikahi dia ! agar aku bisa tenang."


"Kenapa kau yang bersemangat ? tenang saja bro. Aku sedang mencari momen yang pas untuk melamarnya."


Ketika itu Suci muncul dan duduk di sebelah Riki. Keringat dingin mengucur di keningnya.


"Kenapa sayang ? kau baik-baik saja ? dari tadi kerjamu ke kamar mandi terus." Riki mengusap keringat itu.


"Sakit perut mas. Ahhh ini juga masih mulas. Aku ke toilet lagi." Suci berdiri dibantu suaminya.


"Kali ini aku antar, jangan menolak terus ! aku benar-benar cemas melihatmu bolak-balik ke kamar mandi."


"Rik, apa mungkin itu tanda-tanda Suci akan segera melahirkan ? bawa saja ke Rumah Sakit." Doni ikut berdiri. Dia juga merasa panik.


"Ahhh mas, semakin sakit perutku !" Suci memegang perutnya yang buncit.


Akhirnya Riki membawanya ke mobil. Untung saja Suci masih mampu berjalan ke parkiran. Doni ikut juga untuk membawa mobil Riki. Dia tidak ingin sahabatnya menyetir dalam keadaan panik. Keluarga yang lain pun ingin ikut ke sana namun Riki melarang dan menyuruh mereka tetap di hotel tempat acara nikahan adiknya digelar.


***


Ternyata benar saja apa yang diperkirakan Doni. Suci akan segera melahirkan. Kini dia sudah ada di ruangan bersalin. Riki ada di sana untuk menemani.


"Mas ingat, jangan banyak bicara dan mengganggu Dokter Lia ! jika kamu melakukannya, maka siap-siaplah diusir dari ruangan ini seperti waktu dulu." Suci mencoba bicara meski perutnya semakin sakit.


Riki mengangguk. Dokter Lia memeriksa Suci.


"Sebentar lagi. Tetaplah tenang dan berdoa !"


Suci mengangguk. Dalam hatinya dia merapalkan dzikir, shalawat dan doa sebelum melahirkan. Sesekali meringis kesakitan dengan suara tertahan.


"Dokter, cepat selesaikan tugas anda ! kasihan istriku dari tadi kesakitan." Riki semakin panik. Dia mengelus perut besar istrinya.


"Sabar boy ! belum saatnya. Kita tunggu sebentar lagi." Dokter Lia mulai kesal. Dia sudah menduga hal ini akan terjadi lagi. Saat pertama kali menangani Suci, justru Riki lah yang bersikap tidak tenang dan membuat risih. Terus berceloteh dan protes.


Seharusnya aku tidak mengizinkan Riki berada di tempat ini. Dia akan menggangu konsentrasiku !


"Ingat Dok, jika terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan anak-anakku, aku akan menuntun anda !" Riki semakin tidak bisa mengontrol emosi. Terlalu panik.


"Riki ! saya ini dokter, saya lebih tahu daripada anda. Dan saya sudah pasti akan melakukan yang terbaik bagi pasien. Jika anda tidak bisa tutup mulut dan masih saja mengoceh, silahkan keluar dari ruangan ini !" Dokter Lia menunjuk pintu keluar dengan matanya yang melotot.


Riki langsung diam. Bukan karena takut pada wanita itu, dia benar-benar ingin berada di sana untuk menemani istrinya. Suci semakin meringis. Ada cairan merembes keluar dari organ intinya.


"Sayang, kamu ngompol ?" Riki bertanya dengan polosnya.


Dokter Lia mengecek, "Minggir boy. Ini adalah air ketuban. Suci, bersiaplah ! anak-anakmu ingin segera melihat dunia."


Dokter Lia dan asistennya segera menangani persalinan dengan cara normal itu. Riki berada di samping istrinya sebagai pegangan Suci. Tangannya sampai merah karena cengkraman kuat istrinya.


"Oaaa....oaaaa !" bayi pertama telah lahir dan langsung dibawa oleh asisten dokter.


"Kenapa bayinya hanya satu ? anakku kembar, mana satunya lagi ?" Riki berteriak sambil menangis.


Dokter Lia berteriak juga, "Diam boy ! istrimu masih berusaha mengeluarkannya. Berdoa saja !"


"Kau juga harus berusaha dokter, bantu istriku !" Riki semakin marah.


"Aku juga sedang melakukannya !" Dokter Lia tak kalah murka.


Sementara itu, Suci masih fokus pada persalinannya. Beberapa detik kemudian, terdengar lagi suara tangisan bayi. Riki menangis lagi. Dia lalu mencium lama kening istrinya yang penuh peluh.


Dan begitulah akhirnya bayi kembar yang cantik itu lahir dengan normal. Sehat dan tidak kurang suatu apapun.



***


Enam bulan kemudian. Seluruh keluarga kembali berkumpul saat acara selamatan empat bulanan kehamilan Raisya. Suci dan Riki menggendong si kembar. Khaira dipangku ibunya, dan Khesya dipangku ayahnya. Si sulung Yusuf masih anteng bersama oma Merly.


Suasana sangat ramai karena Indah juga hadir bersama suami barunya. Dan yang paling menggembirakan adalah, saat ini dia juga tengah sama-sama hamil empat bulan. Jadi sekalian acara itu ditujukan bagi keselamatan Indah dan bayinya.


Doni pun hadir di sana membawa istri baru beserta anak sambungnya. Semua menjalani hidup sesuai takdirnya.


Saat acara selesai, mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Berbincang dengan hangat.


"Dengar semua. Yusuf ingin punya sepuluh adik. Karena aku pikir Suci akan kewalahan, maka aku meminta bantuan pada adik-adik." Riki buka suara.


Semuanya mengernyitkan dahi.


"Begini. Ini berlaku untuk Raisya dan juga Indah. Yusuf minta adik sepuluh. Suci baru memberinya dua adik. Sisanya berarti delapan lagi. Kalian mau sumbang berapa anak ?"


Semua orang tertawa.


"Heyyy aku serius !" Riki berteriak. Suci tidak memperdulikan ocehan suaminya. Terserah saja apa maunya Riki.


"Begini mas. Indah sudah punya dua anak dengan yang akan lahir. Sisanya mas saja yang cari." Budi, suami baru Indah mengemukakan pendapat.


Riki mengangguk.


"Mas, aku tidak mau memberi anakku pada mas. Mas buat saja lagi !" Raisya protes.


"Kau ini, aku bukan mau mengambil anakmu. Aku hanya ingin kamu memproduksi anak yang agak banyak agar Yusuf punya adik lebih banyak. Anakmu kan berarti adiknya anakku. Saudara Yusuf."


Raisya manggut-manggut, "Baiklah, nanti setelah melahirkan anak ini, aku akan menyuruh suamiku membuat lagi anak. Aku akan menyumbang empat anak !"


Syarif hanya tertunduk malu karena ucapan istrinya yang sangat antusias itu.


"Bagus ! berarti sisanya....dua lagi. Itu biarkan menjadi tugasku. Tentu saja setelah si kembar sudah agak besar. Ok sayang !" Riki mengedipkan sebelah matanya. Tatapan dan senyum nakal itu membuat Suci merinding dan juga malu.


Dasar mesum ! tidak puaskah selama ini dia selalu mempermalukan istrinya ?

__ADS_1


Dan kesepakatan itu benar-benar dilakukan. Mereka kakak beradik dan ipar beripar, sangat kompak untuk memberi adik bagi Yusuf. Apakah target mereka akan terlaksana ? semoga saja !


__ADS_2