
Bismillah
"SUAMI DARI ALAM LAIN"
#part_10
# by: R.D. Lestari.
Dug-dag-dig-dug!
Irama detak jantungku bak musik yang tak beraturan nadanya. Wajah yang bersemu merah saat kami bertemu pandang. Bima, mengapa wajahmu bisa setampan ini?
Lagi-lagi pikiranku mengucap kata tampan itu entah untuk yang keberapa kali. Mungkinkah ia mendengar bisikan-bisikan itu?
"Indri, kamu jangan ngeliatin aku terus dong, inget tujuanmu datang kemari. Nyawa temanmu dalam bahaya," kata-kata Bima membuatku terperanjat. Benar katanya, aku harus sesegera mungkin mengembalikan barang ini.
"Oh--oh, maaf Kak Bima," aku mulai menundukkan pandangan dan berbalik untuk membuka pintu lemari. Malu sekali rasanya.
"Sini, biar aku yang buka," tangan kekarnya menelusup di antara lengan dan pinggangku, membuatku semakin salah tingkah karenanya.
Kriettt!
Pintu lemari terbuka perlahan dan ...
Blassss!
Tak ada apapun di dalam lemari itu. Hanya ruang kosong yang tak ada penghuninya satu pun. Aku bisa bernapas lega dan meletakkan bungkusan hitam itu di dalamnya. Misi sudah selesai.
Bima beranjak mundur menjauhiku. Ia kemudian mengambil jaket yang tergantung di belakang pintu. Jaket berwarna army, membuat dirinya tampak sangat maskulin.
__ADS_1
Aku hanya terpaku menatapnya dari depan lemari. Rasanya pesonanya bisa melumpuhkan hati hingga aku enggan beranjak barang sejengkal pun dari tempatku berdiri.
"In, kamu mau ku antar pulang pakai mobil atau kuda seperti tadi?" Bima mengambil kunci di atas nakas dan berjalan mendekatiku.
"Terserah Kak Bima saja, saya nurut," ucapku pelan. "Ya, mau di anterin kok banyak maunya," pikirku.
"Ya, ga apa banyak maunya, wanita kan memang harus di perlakukan sebagai ratu, apa pun itu, harus di turuti," Bima tersenyum melihatku. Lagi-lagi ia seperti tau apa yang ada di pikiranku.
"Ikut aku dulu, ya. Kita jalan-jalan di tempat kelahiranku," Bima mengulurkan tangannya. Aku mengangguk dan menggapai uluran tangannya.
Krietttt!
"Selamat pagi, Tuan," seseorang menyapa kami begitu kami keluar dari kamar. Mataku membulat sempurna melihat sosok itu, sosok yang sama ketika mengantarku makan malam waktu ini.
"Aku akan mengantar Indri pulang, tolong katakan pada pasukanku untuk meneruskan latihan hari ini tanpa kehadiranku," titah Bima yang di sambut anggukan pelayannya.
"Ayo, In. Kita jangan buang waktu," Bima kembali menarik tanganku dan berjalan bergegas dengan pikiranku yang penuh dengan tanda tanya. Sejak kapan pelayan itu berada di sana?
***
Suasana mendadak ramai bak pasar hanya berselang beberapa menit dari saat kedatanganku. Aku sempat di landa ketakutan. Sebenarnya aku di mana?
"Mau kemana, kau, Bima?" suara seorang wanita menghentikan langkah kami.
__ADS_1
Wanita berpakaian dokter dengan wajah yang memang cantik tapi terkesan angkuh dan sombong menatap ke arahku dengan pandangan tidak suka.
"Aku mau mengantar Indri pulang, Sil," jawab Bima datar. Wanita itu seperti menganggapku remeh dengan senyumannya yang tersungging seperti mengejek.
"Oh, Dia teman si pencuri itu, ya? sudah mat\*kah Dia?" wanita itu memandangiku dari kaki sampai ke kepala.
"Iya, Dia Indri. Dialah penyelamat bagi temannya, dan semoga saja belum terlambat," Bima menyahut pelan.
"Oh, penyelamat? tapi Dia manusia biasa, lemah! berbeda dengan kita yang ...,"
"Cukup Silva, aku kira sudah cukup pembicaraan kita. Aku harus segera mengantarnya pulang," Bima memotong ucapan wanita itu yang bernama Silva dengan cepat.
Aku sungguh tak mengerti apa maksud dari ucapan wanita bernama Silva ini. Mengapa ia begitu ketus dan sepertinya amat membenciku? apa salahku?
Bima kembali menarik tanganku dan aku sempat melirik wanita itu yang menatapku tajam seperti menyimpan dendam.
Drap-drap-drap!
Kami akhirnya sampai di halaman luar di sisi gedung yang berbed. Kaki ini di hadapan kami nampak danau yang airnya amat jernih. Di belakang danau berjejer bukit hijau sebagai background yang amat fantastis. Aku lagi-lagi berdecak kagum tanpa henti.
"Ayo, In," Bima mempersilahkanku naik ke dalam mobil lamborgini kuning miliknya yang juga terparkir di sana. Aku merasa bak ratu beserta rajanya. Bima benar-benar memperlakukanku amat baik dan sopan.
Setelah ia berada di kursi kemudi, mobilpun mulai melaju pelan. Jika ketika kami bersama dengan kedua temanku diantar pulang beberapa waktu yang lalu mobil berbelok ke arah kanan, tapi saat ini mobil berbelok ke kiri. Sebenarnya mau di bawa kemana aku?
__ADS_1