SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
season 2 part 98


__ADS_3

Bismillah


    


         SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_98


#by: R.D.Lestari.


Hans's Pov


    Sulawesi, akhirnya aku kembali menjejakkan kakiku di tanah Sulawesi  Tengah setelah bertahun-tahun meninggalkannya. Beruntung sekarang keuanganku sudah stabil.


   Aku Hans, seorang bos pemilik rumah makan khas Sulawesi, masakan yang biasa ku jual di resto sederhanaku diantaranya Palumara, Uta Dada dan Milu siram.


    Saat ini aku memang sedang liburan, bertandang ke rumah Paman dan Bibi. Kota di mana aku dilahirkan


dan tumbuh remaja. Sayangnya karena urusan keluarga dan keuangan, aku terpaksa ikut ke kota lain bersama kedua orang tua untuk mengadu nasib. Ibu dan Ayah memulai dari warung kecil-kecilan hingga jadi resto yang lumayan besar dan punya sekitar tujuh karyawan.


    Pertama kali menjejakkan kaki di tanah kelahiranku ini, aku langsung teringat gadis tomboy yang selalu menemani hari-hariku. Gadis berkulit sawo matang bahkan terkesan kusam itu punya raut wajah manis di balik kulit gelapnya. Aku paling suka melihat bibirnya yang penuh dan mungil.


    Dia, sahabatku. Seseorang yang menangis tersedu saat aku terpaksa pergi untuk mengadu nasib ke kota lain.


    Hingga saat ini, aku masih menjalin komunikasi meski sudah bertahun-tahun lamanya kami tak bersua.


    Drrrt-drrrrt-drrrt!


   Berulang kali aku menelponnya untuk memberi kabar. Sayangnya, ia tak mengangkat telpon dariku. Hingga ku kirim sms dan berjalan pelan ke rumahnya yang jaraknya hanya beberapa rumah dari rumah Paman.


    Sesampai di rumahnya, aku di sambut oleh neneknya yang masih sehat dan bugar. Meski harus menunggu lama untuk Nenek ingat padaku, aku tak merasa bosan sedikitpun.


    Drap-drap-drap!


    Saat sedang berbincang dengan Nenek, seorang gadis setengah berlari mendekati kami. Aku sempat melirik ke arah Nenek dan ia mengangguk. Ya, aku tak percaya jika gadis yang kini ada di hadapanku adalah Sri, sahabat kecilku yang amat aku kangeni.


   Gadis itu terdiam terpaku menatap ke arahku. Aku amat yakin jika ia terpana karena lama tak bertemu diriku. Ia memang begitu, tubuhnya selalu gemetar jika berada dekat denganku.


   "Hei, gadis tomboy, apa kau tak rindu padaku?" aku merentangkan tanganku untuk menyambut pelukan dari nya. Ia masih tak bergeming.


   Nenek menatapku dan Sri secara bergantian. Ia pun beranjak dan pergi masuk ke dalam kamar hingga kini hanya ada kami berdua dalam ruangan sederhana.


   "Hans!" gadis cantik itu berlari dan berhambur dalam pelukanku. Ia memelukku erat. Ada gelanyar aneh saat tubuhnya menempel, padahal aku sudah menganggapnya sebagai sahabat sejatiku, tapi kenapa rasanya jadi begitu?


   "Hans," rintihnya berurai airmata.


   "Kau datang, Hans. Setelah sekian lama kita berpisah," terisak dan tak berdaya.

__ADS_1


  


    "Hei, aku kan selalu memberi kabar padamu, bocil," aku dengan gemas mengacak rambutnya.


    "Hans, sembilan tahun tanpa bersua sedikitpun. Ku kira aku tak akan pernah bertemu padamu lagi," ia sesenggukan, hingga suaranya rasa tercekat di kerongkongan.


    "Aku baru punya rezeki saat ini, Sri. Kau tau betapa susahnya aku dulu hingga kedua orang tuaku terpaksa membawaku pergi untuk mengubah nasib,"


    Aku merangkulnya dan menarik tangan gadis manis hingga mendekat ke tubuhku.


   "Sri, apa yang terjadi padamu hingga dirimu serapuh ini selama aku pergi? aku tak pernah melihatmu sedramatis ini," Aku membingkai wajahnya dan menatap dalam mata gadis itu. Manik coklat bak batu pualam itu melihatku teduh.


   "Banyak Hans. Waktu sudah merubahku menjadi gadis yang rapuh dan hilang arah,"


   "Sudahlah, Sri. Sekarang ada aku, dan aku akan menghapus sedihmu," buku-buku jemariku mengusap lembut air mata yang masih menggenangi pipi dan pelupuk matanya. Ketenangan segera menghinggapi relung hatiku. Hanya sekedar usapan kecil tapi mampu menghilangkan laranya, itu inginku.


    "Kau sudah makan, Sri. Aku amat lapar, tapi pinginnya makan di luar. Kita cari makan, yok. Rindu makan bareng Mie Ayam sama kamu," Aku menarik paksa tangannya tanpa menunggu persetujuan.


     Ia hanya menurut ketika ku bawa berkeliling mencari mie ayam kesukaanku. Ia masih saja tertunduk, seolah ada beban yang menghimpit dadanya. Berulang kali ia menghela nafas.


    Di dalam kedaipun ia tak banyak bicara. Jari jemari lentiknya bermain di pipet, terkadang ia menyeruput es tebu pelan.


  " Kau sedang patah hati, Sri?" tanyaku padanya. Rasa penasaran menyergap diriku.


   "Ya, aku baru saja patah hati," sahutnya jujur.


   "Patah hati untuk kedua kali,"


   "Kau, Hans,"


   "Aku?" Aku terkesiap mendengar ucapan Sri barusan. Aku? kenapa aku?


   Tiba-tiba keheningan menerkam kami berdua. Terjebak dalam rasa dan kenangan.


   "Ah, sudahlah. Jangan di bahas. Itu cerita lama," ia mengalihkan pandanganku pada es tebu di hadapannya, memilin pipet dan menyeruput isinya pelan.


   "Sri, aku minta maaf ya, aku tak pernah tau perasaanmu, tapi kalau seandainya dulu aku jujur, mungkin saat ini kita ... sudah ...," aku tak melanjutkan ucapanku. Sri, gadis hitam manis yang dulu sempat menggetarkan hatiku. Ia cantik, cerdas dan baik hati. Jujur, sejak dulu aku menyukainya, tapi sayangnya aku terlalu pemalu untuk mengungkapkan rasa yang bergejolak.


  "Akh, sudahlah, Hans. Jangan lagi kita ingat hal itu, itu kisah lama dan mungkin kita sudah seharusnya melupakan," ia memotong ucapanku.


   "Ya, Kau benar, Sri. 9 tahun bukan waktu yang singkat," aku tersenyum getir.


   "Ayo, makan, Sri,"


 ***


   Esoknya aku memberanikan diri mengantarnya pergi ke kampus. Bagai melihat bidadari, aku terpana melihat penampilannya yang lebih segar dan bersinar dari hari kemarin. Nampaknya suasana hatinya sudah kembali stabil.

__ADS_1


    Ia naik di boncengan dengan lincah.  Wangi tubuhnya menguar memanjakan indra penciumanku. Sangat menarik jiwa kelelakianku.


   Di jalan kami hanya bercerita tentang masa remaja yang indah, tanpa menyentil sedikitpun obrolan sore yang sempat membuatku susah tidur.


    Aku menepikan motor di pinggir jalan dekat gerbang kampusnya. Baru saja turun, netraku menangkap pergerakan Sri yang tak biasa. Manik hitam berkilau itu menatap ke arah mobil yang melaju pelan memasuki kampusnya. Aku memalingkan wajahku dan melihat sekilas pengendara mobil yang memang tampan dan berkarisma. Mungkin kan itu lelaki yang telah membuat Sri payah hati?


    Masih dengan pertanyaan yang  mengusik pikiranku, samar kulihat seseorang berlari ke arah Sri. Gadis dengan perawakan cantik dan bertubuh ramping itu tak nampak asing bagiku.


    "Hei, Rena. Apa kabarmu?"


    Sontak gadis itu menoleh ke arahku yang memang sedari tadi masih duduk di motor dan mendengarkan percakapan antara Rena dan Sri.


    "Hans! ya ampun, ternyata memang kamu!" Rena menatapku sumringah.


    "Kalian?"


   "Em, em, enggak Ren! kita masih temen," sela Sri.


    "Tapi, ga tau kedepannya, Ren," aku mengerling ke arah Sri. Ia sempat tersipu, dan aku semakin gemas melihatnya begitu.


    Sri akhirnya menarik tangan Rena menjauh. Aku mengangguk dan berpamitan pulang dengan hati yang hangat dan berdesir penuh semangat.


   Jujur kuakui rasa itu kembali muncul dan membawa sejuta kenangan indah bersamanya. Apalagi perubahan sikap dan tingkah laku serta kecantikannya yang bersinar sempurna di mataku. Ia sukses merenggut kembali hatiku. Sri, sepertinya aku kembali jatuh cinta padamu.


***


   Setelah mengantar Sri, aku kembali berkunjung ke kediaman Sri, mengobrol dengan neneknya yang sendirian. Nenek, wanita tua itu masih sangat lincah dan asyik di ajak berbincang.


   Saat sedang asik mengobrol, ku dengar suara kaki mendekati kami. Benar saja, begitu menoleh, kulihat gadis cantik itu sedang tertegun melihatku dengan mata yang sembab. Aku gegas mendekatinya dan meminta izin pada Nenek untuk membawanya pergi.


   Beruntung aku membawa sepeda onthel legend milik kakekku dan ia pun mau naik ke boncengan tanpa penolakan.


    Aku tahu saat ini perasaannya sedang tak baik, dan aku ada di sisinya saat ini untuk sedikit menghapus lara di hatinya. Mengajaknya mengobrol walau jawabannya hanya sekedarnya saja.


    Sambil mengayuh dayungan sepeda, pikiranku tiba-tiba tertuju pada suatu tempat, tempat rahasia kecilku saat dulu bermain bersama Sri sepulang sekolah. Saat baru tiba, aku sempat mampir ke sana dan tempatnya masih seperti semula. Belum tersentuh oleh pembangunan.


   Sepeda ku tepikan di pinggir jalan setapak. Sri turun dan matanya berbinar.


   "Hans... astaga...," Sri menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.  Ia melangkah pelan ke arah tanah lapang yang dulu jadi tempat bermain kami berdua.


   "Hans, ayo kita ke sana!" Sri menunjuk ke arah tanah lapang. Kaki mulusnya berlari sembari menyinjit menghindari tajam nya rumput ilalang. Tanah lapang yang masih asri, banyak pepohonan , terdapat sawah dan aliran air jernih di sekitarnya.


    Gadis itu menari dan berlarian, persis seperti kelakuannya dulu saat ku ajak pertama kali kemari, waktu aku ada pertandingan sepak bola bersama teman-temanku yang lain. Dari situ aku tahu jika Sri amat menyukai alam.


    "Hans, terima kasih karena kamu sudah menghilangkan laraku hari ini," ucap Sri saat kami berjalan beriringan di bawah terik sinar matahari menuju salah satu pohon rindang di pinggir lapangan. Angin sepoi-sepoi membelai rambutnya yang pendek tapi tetap nampak feminim.


   Aku mengangguk dan tanpa sadar menggandeng tangannya. Kurasakan sentakan kecil darinya, tapi detik kemudian ia membiarkan jemari kekarku mengikat jemari lentiknya dalam genggamanku. Aku tau saat ini ia sedang rapuh, dan aku berjanji akan membuatnya kembali tegar seperti dulu. Ia temanku untuk saat ini, tapi kedepannya aku mau ia yang mengisi relung hati dan juga kekosongan di jiwaku saat ini. Sri, jangan menangis lagi, karena ada aku di sini, aku yang akan setia mencintai sampai mat*.

__ADS_1


***


   


__ADS_2