SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_64


__ADS_3

Bismillah


SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_64


#by: R.D.Lestari.


Rena berulang kali menyebut namanya. Dalam pikiran Rena, James adalah pria terbaik yang ia temui, dan hatinya sudah bergetar saat pertama bertemu dengannya.


James merasa iba. Hatinya terlanjur sakit dengan ucapan Rena yang selalu menyudutkannya. Ia hanya ingin Rena sadar akan ucapannya, dan bisa berubah.


Bagaimana pun James adalah seorang lelaki. Ia lah yang akan menjadi pemimpin dalam istana cintanya kelak. Dan Rena harus bisa menuruti perintahnya. Sedangkan sekarang, Rena selalu mengucap hal buruk tentangnya. Ia tak menyangka jika gadis yang di cintainya itu punya sifat yang menurutnya buruk.


Seorang gadis baginya harus punya jiwa keibuan, berkata lembut dan penyayang. Itu sangat berbeda dengan karakter Rena yang barbar dan suka mengumpat.


Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia amat menyayangi Rena. Sungguh. Pesona mata cantik Rena saat mereka beradu pandang membuat James mabuk kepayang.


James mengecup pelan dahi Rena, menorehkan bukti cintanya yang tulus pada Rena. Ia ingin membuktikan jika cinta mampu membuat Rena menjadi gadis yang ia inginkan.


Gadis itu menggeliat saat ia merasakan kecupan lembut James di sisi kiri dahinya. Ia terkesiap memaksa netranya untuk terbuka, mengerjap berulangkali berharap jika itu bukan mimpi. Samar dan berputar saat ia memaksakan netranya bekerja lebih keras.


Nihil. Hati Rena kecewa karena ia tak menangkap kehadiran James di sekitar kamarnya. Berbeda dengan hatinya, ia amat yakin jika James ada di dekatnya saat ini.


"James... apa kamu ada di sini? aku yakin jika aku tak bermimpi. Aku butuh bicara padamu, James," dalam posisi terduduk dengan rambut awut-awutan di atas tempat tidurnya, manik mata Rena menyisir setiap sudut ruangan mencari keberadaan James.


"James ...," tak ada jawaban. Yang ada hanya suara gemerisik daun di luar kamarnya. Sepi dan sunyi. Bagai hatinya yang merindu akan kehadiran James di hidup nya.


***


Seperti biasa, pagi itu Sri bersiap-siap untuk pergi ke kampusnya. Ia sudah lupa akan kejadian saat Rena di culik oleh pria tampan misterius yang sempat membuatnya terpana. Ya, James pun bisa menghilangkan ingatan seseorang dengan kekuatannya.


James datang di waktu malam sewaktu Sri sedang terlelap. Menyentuh dahi Sri dan mengambil ingatan tentang kejadian Rena saat itu.


Sri menuju ke dapur dan menemui neneknya yang asik menyulam seperti biasanya. Gadis itu mengulurkan tangan dan bersimpuh tepat di hadapan neneknya . Walaupun Sri terkesan tomboy, tapi ia amat menghormati dan menyayangi neneknya yang telah merawatnya setelah Ibu dan Bapaknya merantau menjadi TKI, demi membiayai kuliahnya.

__ADS_1


"Nek ... Sri berangkat kuliah dulu, ya," Sri menyentuh punggung tangan Nenek. Nenek sedikit tersentak karena tak mengetahui kehadiran Sri, terlalu fokus pada sulaman di tangannya.


Nenek mengernyitkan dahi. Alisnya terpaut seperti memikirkan sesuatu. Tak lama ia mengendus.


"Aku mencium ada warga Uwentira yang datang menemuimu. Berhati-hatilah, atau kau harus siap-siap memilih aku dan lelaki itu seperti Indri, sahabatmu,"


Mata Sri membulat sempurna, reaksi yang susah susah di ungkapkan antara heran dan tak percaya.


Bagaimana bisa ada warga Uwentira yang mendekatinya, sedangkan selama ini ia tak pernah dekat dengan pria manapun.


"Nenek... Sri tak pernah dekat dengan pria manapun, Sri janji tak akan pernah meninggalkan Nenek,"


Sri tau Nenek mampu mencium bau kehadiran warga Uwentira, tapi yang tak habis ia pikirkan, selama ini ia memang tak pernah dekat dengan lelaki manapun, kecuali Aldi. Teman sekampusnya yang kadang-kadang menemaninya saat belajar dan makan di kantin kampus.


Namun, Sri amat yakin jika Aldi bukan warga Uwentira. Terbukti saat ia pernah mengunjungi temannya itu saat Aldi sakit DBD, ia yang merasa sering mengerjakan tugas bareng merasa jika dirinya harus datang dan memberikan support demi kesembuhan Aldi saat itu.


"Ya, Nenek harap kamu lebih bijak dalam memilih jika nanti suatu saat hatimu terpikat dengan warga Uwentira. Ingat itu bukan mitos. Nenek dan temanmu, Indri adalah saksi hidup bukti adanya warga Uwentira di sekitar kita. Kami pun sudah pernah di bawa ke alam mereka, ingat itu?" Nenek menatap Sri penuh arti. Harapan jika Sri bisa menepati ucapannya saat ini.


"Iya, Nek. Sri ingat semua petuah Nenek. Sri pamit ya, Nek. Takut terlambat ke kampus," Sri mencium punggung tangan Nenek dan segera beranjak dari tempat neneknya. Melangkah tergesa sembari memburu waktu untuk mengejar ketertinggalannya saat itu. Ia tak ingin sampai terlambat, sebab hari ini dosen pengganti datang. Dosen lama meninggal karena terkena virus corona.


Ckitttt!


Motor matic putihnya ia sandarkan di parkiran khusus kampus.


Ia menatap jam tangannya dan bola matanya membulat sempurna. Secepat kilat ia turun dari motornya dan berlari menuju kelas tanpa memperdulikan orang-orang sekitar.


"Hosh... hoshh!"


Drap-drap-drap !


Napas Sri memburu, dadanya naik turun saat sesekali ia menghentikan derap langkah kakinya untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya dan kembali berlari memacu waktu.


Ia benar-benar terlambat. Akibat dari obrolan panjang nya bersama Nenek, ia harus menerima konsekuensi terlambat di hari pertama bertemu dosen baru.


Tok! tok! tok!

__ADS_1


Sri mengetuk pintu keras, membuat seisi kelas menatap tajam padanya.


Glek!


Sri menelan salivanya dengan susah payah. Napasnya tercekat. Mata nya tiba-tiba memburam. Ia lupa jika selama ini ia mengidap asma dan saat itu karena terburu-buru dan stress , asmanya kambuh.


Brukk!


Sri luruh ke lantai. Mendadak seisi kelas gempar karenanya. Pandangan Sri menggelap karena oksigen yang terbatas masuk ke paru-parunya. Napasnya satu-satu. Sempat ia dengar keributan dan suara yang memanggil namanya untuk beberapa detik, setelahnya ia benar-benar tak bisa merasakan apa-apa. Hanya gelap dan kesunyian.


***


Nguing! nguing! nguing!


Bunyi suara ambulans nyaring memekakkan telinga. Semua siswa di kampus mendadak kepo, mencari tau ada apa gerangan ambulans memasuki area kampus.


Sri akhir nya di bawa mobil ambulans dengan di antar dosen dan beberapa temannya. Kelas seketika bubar akibat Sri yang di anggap kondisinya cukup memprihatinkan.


Saat di bawa petugas, Sri sudah tak sadarkan diri dan tubuhnya lemah. Dosen tak ingin keadaan Sri memburuk. Itulah mengapa ia dengan sigap menghubungi rumah sakit dan segera membawanya ke sana dengan bantuan petugas dan mobil ambulans.


***


Indri sedang menyusui anaknya, saat Anima datang membawa semangkuk sop dan nasi hangat untuk Indri beserta susu sebagai penunjang ASI untuk bayinya.


Anima tersenyum penuh arti melihat kakak iparnya yang sudah baikan dan terlihat lebih segar.


"Kakak, ini makanannya, dihabiskan, ya Kak. Biar air susunya banyak dan keponakanku kenyang," ucapnya pelan.


Indri mengangguk dan tersenyum tipis pada adik iparnya.


"An, bagaimana keadaan suamiku? apakah lebih membaik?"tanya Indri penuh harap.


Anima menghela napas dalam. Ia menatap Indri dengan tatapan sulit di artikan.


"Kak Bima ...,"

__ADS_1


__ADS_2