
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_73
#by: R.D.Lestari.
Indri pasrah dan menyerah, tapi baginya, Ikhsan tetap lelaki baik yang selalu ada untuknya. Semua hanya karena keluarga semata.
Indri menepis semua masa lalu yang tiba-tiba muncul. Ia sadar kini ia sudah bersuami. Ia kini hanya menganggap Ikhsan sebagai teman. Ia sudah mengubur masa lalunya dan berdamai dengan hatinya
"Mau apa, kamu ke sini, San?" Indri bertanya sambil menyender di sofa. Sakit kepalanya berangsur membaik.
"Aku ingin melamar pekerjaan, In, eh Ibu Indri," sahutnya seraya menundukkan wajahnya.
"Kau mau bekerja padaku? bukannya keluargamu kaya?" Indri menatap nyalang ke arah Ikhsan. Tabir kesedihan itu kembali menguak. Sinar kekecewaan terpancar dari wajah Indri yang ternyata tak bisa memungkiri masih terselip rasa dendam akibat di campakkan.
"Aku ...,"
"Aku sekarang hidup susah. Keluargaku mengalami kebangkrutan saat aku kuliah. Toko besar kepunyaan Bapakku habis terlalap api karena korsleting listrik,"
"Oh, aku turut berduka atas kebakaran tokomu," Indri menyungging senyum kecut. Seolah bahagia atas penderitaan yang di alami keluarga mantan pacar terindahnya itu.
"In, bolehkah aku bicara?" tanya Ikhsan menatap mata Indri lekat.
"Oh, boleh saja. Silahkan kamu duduk di situ," Indri menunjuk kursi di hadapannya. Ikhsan mengangguk. Indri akhirnya bangkit dari sofa dan kembali duduk di kursinya semula.
"Mau bicara apa, Kak, eh Ikhsan?" jujur Indri merasa kurang nyaman berhadapan dengan Ikhsan yang selalu menatapnya .
"In, aku mau minta maaf atas kejadian di masa lampau. Kau tau, betapa aku sangat mencintaimu saat itu, tapi aku juga tak boleh durhaka kepada orang tuaku," ia menunduk. Tangannya mencengkeram celana dasarnya.
Indri menatap kesal sosok lelaki di hadapannya. Lelaki tinggi dengan kulit tan, berambut hitam yang di sisir rapi ke samping , mata coklat dan alis tebal. Pesona Ikhsan masih sama seperti saat mereka jumpa.
Namun, semua kekaguman itu berubah saat Ikhsan kembali mengorek luka lama di hati Indri. Luka karena di campakkan dan ditinggalkan tanpa kabar dan berita.
"Hmmh, sudahlah. Itu sudah jadi kenangan lama," Indri menghela napas kasar. Ia tak ingin mengingat luka dulu yang sempat membuatnya frustasi dan patah hati.
Tok-tok-tok!
Pandangan mata Indri tertuju pada pintu yang sedang di ketuk dari luar. Paman Indri masuk membawa semangkuk sop dan nasi, juga secangkir jus strawberry untuk Indri.
"In, ini Paman bawain makanan dan jus, di makan, ya. Nanti kamu sakit. Ingat ada Stella nunggu di rumah," ujar pamannya.
"Iya, Paman. Terima kasih," sahut Indri.
Paman tersenyum dan meletakkan makanan yang di bawanya. Ia kemudian pamit dan melangkah keluar ruangan.
"Stella?" Ikhsan berucap lirih. Penasaran.
__ADS_1
"Ya, Stella anakku, umurnya satu tahun, kamu sudah punya anak juga?"
jawab Indri seraya menyuap sop ke mulutnya. Ia mengunyahnya secara perlahan.
"Aku... aku belum menikah. Malahan semenjak kita putus, aku tak pernah berpacaran,"
"Uhuk-uhuk," mendengar ucapan Ikhsan, makanan seolah nyangkut dan Indri terbatuk.
"In, In. Kamu ga kenapa-kenapa?" Ikhsan bersiap mendekati Indri yang terbatuk.
"Akh, ga kenapa-kenapa. Kamu ga perlu khawatir," Indri menepis perhatian Ikhsan.
"Suamimu pasti amat beruntung memilikimu, In. Sayang nya bukan aku ...,"
"Ya, aku juga beruntung memilikinya, ia tak memandang kasta dan bisa menerima kemiskinanku. Ia tampan dan juga kaya, melebihi harta kekayaanmu dulu," Indri berdecak sombong. Panas rasa hatinya saat harga dirinya diinjak-injak. Mengingat itu rasanya ia ingin mengacak wajah lelaki manis di hadapannya saat ini.
"Aku menyesal, In. Aku menyesal karena meninggalkanmu, saat kita terpisah, aku menyadari kalau hanya kamu yang bisa menjadikanku sempurna,"
"Saat aku pulang dan berusaha mencarimu, mereka bilang jika kamu sudah hilang dan tak pernah pulang. Hilang di telan hutan Uwentira,"
Degh!
Indri menatap Ikhsan lekat. "Kau mencariku?"
"Iya, In,"
Napas Indri memburu. Bayangan masa lalu menari begitu juga Bima dalam benaknya. Senyum Bima dan semua pengorbanan Bima untuknya. Indri mengusap wajahnya kasar.
"Terima kasih, Bu Indri," Ikhsan menunduk. Ia sempat melirik ke arah Indri, tapi Ibu muda itu seolah acuh dan tetap menyantap makanannya. Ikhsan melangkah pergi dengan goresan luka di hatinya.
***
Pov Ikhsan.
Sudah lima bulan aku tak bekerja. Pendapatan hanya dari ngojek di pinggir gang. Orang tuaku sudah lama tak berpenghasilan. Semua hanya dari pendapatanku dari ngojek yang tidak seberapa.
Tibalah suatu ketika saat mengojek aku membaca sebuah pengumuman lowongan kerja di sebuah pintu ruko saat mengantar pelanggan. Entah mengapa hatiku tertarik untuk mengadu nasib menjadi karyawannya.
Dibutuhkan segera!
Karyawan dan Karyawati
Untuk Stella Swalayan dengan syarat:
*Wanita /pria usia max. 34 thun.
*Mampu bekerja sebagai Tim.
*Berdedikasi tinggi
*Royal dalam tenaga
Berminat?
__ADS_1
Kirim lamaran ke sini dan segera!
Dan hari ini, mungkin sebuah keberuntungan berpihak kepadaku. Tak apa menunggu cukup lama untuk interview, yang penting aku bisa di terima bekerja dan bisa meninggalkan pekerjaanku sebagai tukang ojek.
"Bapak Ikhsan silahkan masuk,"
"Alhamdulillah," batinku. Akhirnya namaku di panggil untuk interview karena memang yang menunggu masih puluhan. Mungkin aku kloter terakhir untuk siang ini mengingat jam menunjukkan waktu hampir istirahat siang.
Tok-tok-tok!
"Masuk ...,"
Degh!
Suara itu ... suara yang amat aku kenal. Sedikit gemetar saat kutekan gagang pintu di hadapanku.
Kriettt!
Pintu terbuka perlahan. Dan .... benar saja seperti dugaanku. Dia ...
Wanita cantik berkulit putih bersih yang amat kukenal dan kucari bertahun-tahun lamanya. Mengisi relung hatiku yang paling dalam.
"Akhh!"
Wanita itu mencengkeram kepalanya kuat seperti amat kesakitan.
"In ... Indri ...," ucapku lirih. Kakiku semakin melangkah mendekatinya.
"Akhh, sakit...,"
Ia semakin menekan kepalanya. Ku lihat ia mulai limbung dan ...
"Indri ...!"
Beruntung aku sempat menangkap tubuhnya yang tiba-tiba ambruk dan melemah.
Wangi tubuhnya yang menguar dan wajahnya yang semakin cantik membuat hatiku bergetar hebat. Dia Indri ... mantan pacar terindah yang dulu kutinggalkan karena paksaan orang tua.
Aku menyesal. Jika saat itu aku tetap mempertahankan Indri. Saat ini aku pasti sudah bahagia bersamanya. Membangun rumah tangga dengan cinta dan kasih bersama.
Ku letakkan wanita yang saat ini masih memenuhi semua bagian hatiku. Di atas sofa ku baringkan ia.
Setelah kurasa ia nyaman, aku berlari keluar mencari bantuan. Seorang lelaki paruh baya masuk dan memberikan bantuan. Ia membawa air putih dan minyak kayu putih. Mengusap beberapa kali di pelipis dan hidung Indri, hingga tak lama mata Indri mengerjap.
Setelah siuman matanya tak sengaja beradu pandang dengan mataku.
"Ikh--Ikhsan?" lirihnya begitu melihat ke arahku. Aku tersenyum manis tapi ia tak membalas senyumku.
Hatiku seketika sakit. Rindu yang membuncah selama ini sirna dengan tatapan sinis darinya.
Berusaha meminta maaf saat ia sudah benar-benar sadar, tapi .... hanya kekecewaan yang ku dapat. Indri sepertinya masih punya rasa dendam padaku.
Indri ...
__ADS_1