SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_129


__ADS_3

Bismillah


SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_129


#by: R.D.Lestari


"Dia ... Anima ...,"


"Anima? maksudmu Anima adiknya Bima?"


James mengangguk. Kemudian melanjutkan ucapannya.


"Anima adalah ...,"


"Sahabatku," desis James.


"Sahabat? tapi kau tak pernah bicara denganku tentang Anima," Rena menekuk wajahnya, kecewa.


"Percayalah, Ren. Aku tak mungkin berkhianat denganmu. Kau tau aku sangat mencintaimu," James meraih punggung tangan Rena dan mengecupnya berulang kali.


Gadis itu membelai pipi James. Ia terperangah dan menatap dalam kekasihnya yang terlihat tampan malam ini.


"James? kau menangis?" lirih Rena. Ia bingung melihat James yang begitu bersedih.


James terdiam dan menatap Rena sendu. Pria itu menarik tengkuk Rena dan meraup dengan lahap bibir gadis yang amat ia cinta. Rasanya ia tak ingin melepas kecupan demi kecupan cinta dari Rena. Ia takut jika ini adalah hari terakhirnya bersama Rena, karena jika gadis itu tau status James sekarang, pasti ia akan pergi dan cerita mereka usai.


Rena tertegun saat James memeluknya erat. Pria itu tak pernah serapuh ini. Batin Rena bergejolak, ada sesuatu yang tak beres dengan prianya.


"Aku ingin bersamamu malam ini, besok baru aku pulang," James menyenderkan kepalanya di bahu Rena.


"Kenapa?"


"Aku hanya rindu padamu, Sayang. Dan malam ini aku ingin bercerita tentang masa depan denganmu,"


Rena tak banyak berucap. Ia hanya menikmati kemanjaan James malam itu. Menepis semua pikiran buruk yang bersemayam dalam hatinya.


***


Acara pesta Anima


Anima terlihat muram karena prosesi paling penting James tak kelihatan batang hidungnnya. Lelaki berjas hitam itu hilang tanpa jejak.

__ADS_1


Wanita berpakaian pengantin itu putih itu mencari lelakinya hingga putus asa. Semua tamu pun jengah dan meninggalkan acara resepsi pernikahan yang terkesan penuh keanehan. Tak ada aura cinta dan bahagia.


Sembari menahan tangis gadis itu berlari menuju kamarnya dan mengurung diri.


Indri yang melihatnya hanya bisa menghela nafas frustasi. Ia sudah tau ini pasti terjadi. Anima akan terluka dan merasa di abaikan karena James memang tak mencintainya. Ia amat yakin saat ini James berada di sisi Rena, gadis yang ia cinta.


Ibu muda itu mendekati suaminya, Bima yang sedang duduk termenung seorang diri di balkon atas rumahnya. Sembari meminum jus jeruk kesukaannya, Bima menatap pemandangan luar dengan wajah yang tertekuk kedalam.


"Sayang ...," Indri menyentuh bahu Bima. Lelaki bertubuh atletis itu sedikit tersentak dan mengalihkan pandangannya pada istri yang sudah menemaninya lama.


"Iya, Ma,"


"Pa, jadi bagaimana nasib Anima? apa pertukaran darah sesama makhluk uwentira itu akan berpengaruh pada pernikahannya?"


"Hmmmh," Bima mendengus kesal.


"Tentu sangat berpengaruh. Walaupun tetap sah, tapi jika James mengucap pisah, atau Anima, maka mereka bisa langsung berpisah. Tak ada ikatan apa pun lagi di antara mereka,"


"Darah sangat berarti. Itu yang jadi pengikat. Jika salah satu berkhianat akan gil*. Maka kami sangat setia pada pasangan,"


"Jadi, James bisa saja meninggalkan Anima begitu saja?"


"Ya, tergantung pada mereka nantinya, aku tak ingin ikut campur," Bima melenggang masuk ke dalam dan merebahkan tubuhnya di sofa. Ia melambai pada istrinya yang masih berdiri diluar ruangan.


"Sinilah, Sayang. Kamu tampak cantik dengan gaun merah dan bibir merah yang sensual itu," Bima menatap istrinya dengan senyum smirk yang membuat bulu kuduk Indri meremang. Kode alam.


***


Semalaman Rena menangis. Pagi hari saat ia terbangun, James sudah berada di kamarnya walau tak tidur disampingnya. Pria tampan itu tidur di sofa.


Wanita muda itu bergegas turun dari ranjang pengantinnya dan mendekati James dengan tergesa. Matanya merah menahan amarah. Baju pengantin masih ia pakai. Akibat terlalu lelah menangis ia lupa mengganti pakaiannya.


"James!" sentaknya.


James tak bergeming. Ia masih tertidur membelakangi Anima yang bersiap menumpahkan unek-uneknya .


"James!" pekiknya.


James membalikkan tubuhnya dan menatap Anima datar tanpa ekspresi.


"Ada apa? aku lapar cepat buat kan sarapan," perintah James yang membuat gadis itu bertambah berang.


"Kau kemana saja! tadi malam prosesi pernikahan kita belum selesai dan kau malah menghilang!" Anima menggeram. Tangannya mengepal sebagai tanda bahwa dirinya benar-benar di ambang kesabaran.

__ADS_1


"Prosesi pertukaran darah? jangan mimpi! aku tak pernah menyukai apa lagi mencintaimu!" sergah James. Ia terlampau muak pada Anima yang membuat hidupnya masuk dalam masalah besar.


Anima tertegun, matanya menatap nyalang ke arah James. Ia menggigit bibirnya menahan nyeri dan sesak dalam dadanya. Bisa-bisanya James menyudutkan dirinya seperti itu. Ia bagai tak ada harganya.


Berulangkali ia mengembuskan nafas perlahan. Sadar jika ia terbawa emosi akan membuat James semakin jauh, Anima memilih membalikkan tubuhnya dan menuju kamar mandi. Ia ingin menangis, tapi bukan di hadapan James.


James menatap cuek. Ia kembali melanjutkan tidurnya. Ia begitu rindu Rena. Rasanya tak sabar menunggu malam dan kembali menemui kekasihnya.


Bau wangi bunga menyeruak di ruangan, membuat James kembali terbangun dan menatap ke arah Anima yang datang dengan handuk yang melilit tubuhnya.


Ia sengaja melepas penutup kepalanya dan menyibak rambut panjangnya. Di hadapan James Anima sengaja menggoda dengan menanggalkan handuknya dan melemparkannya ke sembarang tempat.


Netra James menangkap keindahan tubuh Anima yang putih bersih, mulus dan tiada noda.


James menelan ludah susah payah. Sebagai seorang lelaki normal pastilah James tergoda, tapi bayangan Rena tiba-tiba singgah dan tersenyum melihatnya. Seketika itu pula James tersentak dan berdiri menjauh saat Anima hendak mendekatinya.


Anima yang sigap serta merta menarik tangan James agar tetap di tempat.


James menyentak tangan itu dan berusaha mengalihkan pandangannya agar tak tergoda dengan tubuh indah wanita di sampingnya itu.


"Kau hendak menolakku? aku istrimu, James," rayu Anima.


"Aku tak mencintaimu, Anima. Aku ingin sarapan dulu,"


James berjalan meninggalkan Anima dengan tubuh polosnya. Kali ini wanita itu tak dapat menahan kesedihannya. Air mata itu tumpah dan menganak sungai. Tubuhnya meluruh di lantai. Ia terus menangis, tak menyangka begitu kerasnya tembok pertahanan James hingga membuat sosok itu menjadi dingin padanya.


Gadis itu memeluk lututnya. Udara dingin yang menyengat kulit tak ia hiraukan. Pandangannya mengabur dan detik berikutnya ia kembali tertidur dengan tubuh polos berselimut kesedihan.


Kriettt!


Setelah sarapan bersama keluarga lainnya, James pamit kembali ke kamar dan membuka pintu kamarnya Anima. Sembari menghela nafas dalam ia berdoa agar tak tergoda dengan rayuan gadis cantik yang kini bersamanya.


Degh!


Pria itu tertegun melihat gadis yang tadi ia tolak sedang berbaring tanpa sehelai benang pun.


Perasaan iba kian menyergap relung hatinya, membuat James yang semula beku sedikit mencair karenanya. James yang gentleman bergegas meraih selimut guna menutupi tubuh polos wanita yang bersikukuh ingin memilikinya.


Ia menyelimuti tubuh gadis itu dan meraihnya dalam gendongan. Membawanya ke atas ranjang dan meletakkan Anima yang saat itu sudah mendengkur dengan pelan.


James menatapnya dengan hati yang terenyuh. Gadis itu ...


****

__ADS_1


Hai readers tersayang. maaf jika cerita receh saya terkadang bikin kalian kecewa. InsyaAllah 3 bab lagi tamat. stay tune yaaa 😘😘😘


__ADS_2