
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_65
#by: R.D.Lestari.
"Kak Bima ... sudah berangsur membaik, tapi ia harus istirahat lebih lama, darah keabadian yang ia berikan untuk Kakak, membuat Kak Bima harus menerima rasa sakit yang lumayan lama,"Anima tersenyum getir menatapku.
"Sampai kapan aku harus memendam rasa kangen pada suamiku?" batinku. Kupandangi bayi mungil cantik yang sedang menyusu padaku.
"Nak, sabar ya, Papa pasti segera sembuh, dan Mama yakin, setelah ini kita akan bahagia," aku mengecup bayi kecil itu sayang. Seperti tau akan lara di hatiku, bayi kecil itu mengerjapkan mata cantiknya padaku.
"Kak, sabar ya, saat ini Kak Bima harus memulihkan tenaganya, kalau tidak ...," Anima seolah enggan melanjutkan ucapannya padaku. Membuat rasa penasaranku membuncah.
"Kalau tidak , apa Dek?"
"Kalau tidak Kak Bima akan tidur abadi selama beberapa tahun hingga tenaga dalam tubuhnya pulih kembali,"
Ucapan Anima sontak membuatku tertegun. Apa sebegitu parahnya luka Bima hingga ia harus tertidur abadi?
"Kak Bima sudah menyerahkan dua kali darah keabadiannya pada Kakak. Itu berbahaya bagi makhluk seperti kami, jika sampai tiga kali, Kak Bima akan tidur abadi, tak akan pernah kembali. Ia akan hancur dalam keabadiannya,"
"An ... demi kakak... Bima," kali ini kata-kata Anima sangat menusuk hatiku. Bagaimana jika Bima tak bisa kembali sehat dan kondisi nya semakin memburuk? itu berarti aku akan berpisah dengannya bertahun-tahun lamanya. Apa aku sanggup kehilangan dirinya?
Drap-drap-drap!
Aku dan Anima serentak melihat ke arah pintu, suara derap langkah kaki bersahut-sahutan membuat hatiku was-was. Jangan-jangan...
Samar kulihat Ibu berlari di ikuti Ayah dari belakang menuju ke arah kamarku. Ada apa gerangan membuat mereka seperti dalam kondisi kalut seperti itu?
"Indri... In ...,"
"Hiks ...hiks ..., Indri...," Ibu segera memeluk tubuhku ia sudah mendekat padaku.
"I--Ibu ..., ada apa , Ibu?"
__ADS_1
Saat Ibu memeluk diriku, Anima lantas mengambil bayiku dan membawa dalam gendongannya .
"In, Ibu minta maaf, In. Ibu sudah berusaha keras, beberapa jam yang lalu kondisi Bima mulai membaik, tapi seketika harapan itu kandas, kondisi Bima semakin memburuk," tangis Ibu pecah saat ia mengutarakan keadaan Bima.
"Ibu ... jadi Kak Bima ...," aku tak bisa lagi membendung bulir bening yang sejak tadi sudah ingin tumpah. Airmataku luruh seketika seiring tangisan semua orang yang berada di ruangan.
"Iya, In ... Bima ... akan tidur abadi,"
***
Hujan di pagi hari, udara dingin dan gemeritik air hujan yang cukup deras, serta jalanan yang di genangi air, membuat Rena enggan beranjak dari peraduannya.
Tatapannya kosong ke arah luar jendela. Menatap daun-daun yang basah dan bunga-bunga yang merunduk karena air hujan.
Matanya sembab, sedari semalam ia hanya duduk dengan memeluk kakinya sembari terisak. Entah berapa banyak tetes airmatanya yang tumpah.
Ia rindu akan kehadiran James dalam hidupnya. James seolah menghilang dan menepati janjinya. Tak sedetikpun James datang menemui nya dan menghapus rindu dalam hati Rena yang kian membuncah.
Sesal kian menyelimuti batinnya. Seminggu sudah Rena dalam kebimbangan, benda pipih yang selama ini jadi temannya, kini hanya menjadi seonggok barang rongsokan yang tak pernah tersentuh olehnya.
"James ... tega sekali kamu, sudah membuatku jatuh cinta karena sikap dan ketampananmu, sekarang kamu pergi begitu saja, tega kamu James! tega !"
"Rena..., berhentilah bersedih, Sayang. Sudah waktunya kamu bangkit. Sudah seminggu kamu mengurung diri di kamar, apa kamu sudah tau kondisi Sri, sahabatmu?" tiba-tiba suara Mama terdengar lirih di telinga Rena.
"Sri ... ada apa dengan Sri, Ma?" Rena mendongakkan wajahnya, matanya yang sembab membuat Mama iba. Ia membelai rambut Rena dengan sayang.
"Sri kemarin menghubungi Mama, ia bilang jika sudah beberapa hari ini hape mu ga aktif. Ia khawatir padamu, dan kabar terakhir saat sehari yang lalu, Sri masuk rumah sakit karena asmanya kambuh," tutur Mama.
"Ya, ampun, Ma. Kasian Sri, Rena mau jenguk Sri, Ma. Apa boleh?" pinta Rena.
"Boleh, Sayang. Sudah saatnya kamu melihat dunia luar. Jangan sedih terus, dong, Ren," Mama mengecup kening Rena pelan. Rena mengangguk . Ia berusaha menepis rasa sedih di hatinya. Mama benar, ia harusnya bisa kembali bangkit. Seminggu sudah ia bersedih, cukup. Toh, James juga tak perduli sedikitpun padanya.
Rena beringsut dari duduknya, menjejakkan kaki mungilnya di lantai dan berjalan pelan menuju kamar mandi. Menepis rasa sakit dan sedih karena patah hati.
Guyuran air dari shower seolah menjadi penyejuk bagi dirinya. Sedikit menggigil karena di luar hujan belum juga reda. Dingin yang menelusup hingga ke tulang tak ia indahkan. Semua tak sebanding dengan luka yang saat ini ia derita. Luka karena cinta.
***
__ADS_1
Sri merasakan bau obat begitu menyengat memasuki hidungnya hingga membuat napasnya terasa semakin sesak.
Berulang kali ia terbatuk dan memegangi dadanya. Ia ingin membuka mata, tapi rasanya amat berat. Kepalanya pun terasa sakit.
Mata Sri kemudian mengerjap pelan saat kepala nya tak lagi nyut-nyutan dan napasnya kembali normal.
Samar ia melihat ruangan serba putih. Berulang kali ia mengucek matanya dan pandangannya menyisir setiap sudut ruangan. Di mana sekarang ia berada?
Tap-tap-tap!
Suara hentakan langkah kaki terdengar nyaring hingga di kamar Sri. Cewek tomboy itu menajamkan pendengarannya saat langkah kaki menghilang tepat di pintu kamarnya.
Krietttt!
Pintu kamarnya terbuka perlahan. Wajah seseorang menyembul dari balik pintu, menatapnya tajam hingga menyentuh hatinya.
Tap-tap-tap!
Netra Sri seolah enggan menutup, hatinya bergetar melihat sosok yang mendekat padanya. Tampak angkuh tapi berkarisma. Benar-benar sosok yang diimpikannya. Tinggi,berbadan atletis dan ... tampan!
"Apa kamu sudah baikan?" suara serak nan menggetarkan itu membuat Sri terkesiap. Ia kikuk saat pemuda itu berdiri tepat di sampingnya. Wangi parfum menguar dari tubuhnya. Wangi yang menenangkan.
"I--iya, kalau boleh tau, kenapa saya bisa berada di sini?" tanyanya.
"Asmamu kambuh, mungkin kamu terlampau stress dan capek. Lain kali jika terlambat, kamu bisa langsung temui saya, jangan sungkan,"
"A--anda siapa?" Sri semakin penasaran saat ia mendengar ucapan Pria di hadapannya itu.
"Aku dosenmu, dosen pengganti," kali ini pria itu tersenyum ramah pada Sri. Ada kehangatan menjalari hati Sri. Terpesona saat ia menatapnya teduh dan kesombongan yang sempat terselip di hati Sri tentang pria itu hilang seketika.
"Apa kamu tak punya keluarga? sedari tadi aku berusaha menghubungi keluargamu, tapi nihil. Tak ada sahutan,"
"Iya, Pak. Saya hanya tinggal bersama Nenek di rumah. Mungkin Nenek sedang menyulam hingga ia tak mendengar telpon masuk," sahut Sri. Pria yang belum ia ketahui namanya itu mengangguk pelan.
"Kata dokter, kamu butuh tinggal di sini selama beberapa hari. Dan aku akan kembali menelpon nenekmu. Sekarang kamu bisa istirahat," kembali senyum terulas di wajah tampannya.
Pria itu kemudian membalikkan tubuhnya dan langkahnya terhenti saat Sri berucap.
__ADS_1
"Nama anda siapa, Pak, terima kasih sudah menolongku,"
"Aku ...,"