SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_103


__ADS_3

Bismillah


        SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_103


#by: R.D. lestari.


     Shuiiitt!


    Shoniaaa!


    Gio bersiul saat kami sudah berada di atas dan di ambang hutan. Ia memanggil sebuah nama, yang aku tak tau itu siapa. Ia mencari sekeliling. Dan tak lama terdengar hentakan kaki yang cukup menggetarkan tempatku berdiri.


    Ktepak-ktepak!


    Derap langkah kaki terdengar semakin mendekat. Samar kulihat sekelebat bayangan dari balik pepohonan. Bayangan itu semakin dekat dan menampakkan tubuh besar dan tinggi dengan ekor yang panjang.


    Makhluk itu meringkik dan mengusap sayang wajah Pak Gio.


   "Halo, Sonia? apa kabar, cantik?"


   "So... Sonia seekor kuda?" ucapku tak percaya.


   "Ya, benar. Dan kuda cantik ini akan membawa kita masuk ke gerbang Uwentira. Ayolah, kamu jangan takut," sahutnya.


    Ia kemudian menggendong tubuhku untuk naik ke punggung kuda dan ia pun duduk di belakang.


   Tangannya menyusup di samping pinggangku dan mencengkeram tali di leher Sonia. Aku sempat tersentak, tapi akhirnya aku menikmati duduk di atas kuda Sonia yang kini berlari kencang.


   Sonia berlari memasuki hutan lebat tanpa cahaya, ia melaju tanpa ragu seolah sudah paham rintangan yang sedang di laluinya. Menaiki bukit dan melewati barisan pepohonan rindang.


    Semakin masuk ke dalam hutan, suasana semakin gelap dan mencekam. Rasa takut tak dapat dipungkiri kian menyengat diri.


   "Tak usah takut, Sonia kuda pintar dan punya insting kuat. Kami hanya perlu berdoa dan percaya padamu," bisik Pak Gio di telingaku.


   Sejurus kemudian mataku menangkap sinar di tengah hutan. Sinar yang awalnya kecil menjadi semakin besar ketika Sonia mendekatinya.


    Sonia meringkik panjang dan berhenti di ambang sinar yang berbentuk bulatan.


    Gio turun terlebih dahulu dan kembali membantuku turun. Ia mengajakku masuk ke dalam lingkaran cahaya yang menurutku amat indah. Rasa ragu sempat menggelayuti hatiku, tapi detik kemudian Pak Gio sukses membawaku masuk ke dalam pintu gerbang gaib alias portal tersembunyi ke dalam kota Uwentira.


    Ternyata di dalam portal tak begitu menakutkan. Cahaya putih dan hanya dalam kedipan mata kamu sudah berada di dunia berbeda.


    Gio kembali mengepakkan sayapnya dan menarik tubuhku untuk mendekat padanya. Jangan tanya bagaimana jantungku saat ini. Sudah pasti berdebar amat kencang karena ini kali kedua aku menatap tubuh indahnya persis didepan mataku. Tubuh wangi dan kulit yang bersinar diterpa pendar cahaya bulan.

__ADS_1


    Kakiku tak lagi menjejak di tanah dan kini melayang bersama dengan Gio yang masih kencang memeluk tubuhku. Aku yang kini sudah mulai terbiasa, membuka mata dan menikmati pemandangan alam yang terhampar. Begitu indah dan mengagumkan.


    Air danau yang memantulkan cahaya bulan beserta pohon-pohon pinus berjejer rapi yang jadi backgroundnya. Cahaya bulan full dan kilauan bintang. Beserta kepakkan sayap Gio yang terkadang terbang rendah membuat air menyibak dan menyebabkan gelombang.


    Kami seolah menari di udara, Gio memang pandai membuat hatiku berbunga-bunga. Bak dalam negeri dongeng, ia dengan senyum rupawannya membawaku mengelilingi dunia orang tua kandungnya.


    Slapsss!


    Aku mencengkeram bahu Gio saat ia melesat turun dari ketinggian, benar-benar menguji nyali dan adrenalin.


   "Aaaa,"


   "Jangan takut, cantik. Aku ada di sini dan menjagamu,"


    Tap!


    Kaki Gio menjejak, begitupun kakiku . Jantungku masih berdebar tak karuan. Aku memeluk tubuh Gio erat. Namun, detik berikutnya netraku membeliak.


    Padang rumput di tengah malam bersinar, bunga berwarna warni juga menambah keindahan alam dengan danau dan bukit hijau di baliknya.


    Kunang-kunang menari dalam jumlah banyak dan bergerombol. Seperti lentera yang berterbangan di udara. Sebuah panorama malam yang amat memanjakan mata.


    "Bagaimana, apa kamu suka, Ratuku?"


    Klik!


    Aku benar-benar terperangah dengan apa yang di perbuat Pak Gio.


    Pak Gio membungkukkan tubuhnya dan mengulurkan tangannya.


   "A... Aku tak bisa berdansa. Maklum, aku orang desa," tolak Sri lembut.


   "Aku ajari," Gio menarik pelan tanganku. Kaki rampingku mulai mengikuti gerakan kaki Gio. Kami mulai terbawa suasana, menari di bawah pendar cahaya bulan yang bersinar terang, diiringi musik romantis yang menyejukkan hati.


   Tangan kiri Gio melingkar di pinggangku, tangan kanannya menggenggam tanganku, kaki kami bergerak sesuai nada dan irama.


    Aku terbuai dalam hangatnya suasana yang amat romantis, langit gelap  ditemani kunang-kunang dan wangi bunga. Semua bagai di alam mimpi. Tiba-tiba ...


   Tes-tes-tes!


   Tetesan air mulai jatuh dari langit. Hujan rintik-rintik menemani suasana syahdu nan romantis. Gio menangkupkan sayapnya melindungi tubuhku dari guyuran hujan yang semakin deras.


   Tubuh kami semakin rapat, tak ada tempat berlindung selain berada di dekat Gio. Aku mulai menggigil kedinginan, sedangkan Pak Gio terlihat biasa saja.


    "Dasar cowok ga peka, peluk kek. Dingin begini," batinku.

__ADS_1


    Sattt!


    "Astaga," ucapku. Aku tercengang saat tiba-tiba tangan Gio menarik pinggangku dan memeluknya tubuhku erat. Wajah tampannya semakin memancarkan pesona, apalagi deru nafasnya yang tak beraturan. Sama seperti apa yang kurasa saat ini.


     Kami saling menatap. Melihat jauh ke dalam mata masing-masing. Saling mengagumi di bawah derasnya air hujan.


    "Sri... boleh minta ijin?"


    "Apa?"


     "Aku ingin menjalani hubungan serius denganmu,"


     Degh!


     "A... apa, Pak? bagaimana dengan karier Bapak? beasiswaku?"


    "Aku bisa membiayai semua, Sri. Asal kamu mau menikah denganku,"


    "Ga, Pak. Aku ingin lulus dengan usahaku sendiri," tolakku lembut.


    "Kalau begitu, aku harus menunggu," ada nada kecewa dalam ucapannya.


    Aku memberanikan diri menyentuh wajah tampannya dengan tangan gemetar. Untuk pertama kalinya jemari ini menyentuh wajah mulusnya.


    "Sri, kamu mau menunggu? apa aku harus bersaing dengan Hans untuk memenangkan hatimu,"


    "Apa aku masih belum pantas untuk membahagiakanmu, Sri. Lihatlah aku, Sri. Aku di sini ada untukmu,"


    Mata Pak Gio berkaca-kaca sembari menggenggam tanganku erat.


     Astaga, sebegitu cintanyakah ia padaku? apa aku pantas untuk air mata dan semua ketulusannya. Lantas, bagaimana dengan Hans?apa aku mampu menolak perasaannya?


    "Sri ... apapun yang ada di otakmu, aku yakin kamu bisa memilih di antara kami. Seandainya aku mengakui perasaanku sedari dulu, aku yakin saat ini kita sudah bahagia dan tak perlu dirimu memilih antara aku dan dia, kamu hanya punya aku,"


   Aku merasakan bulir hangat menetes di jemariku. Pak Gio menangis? Ia menangis untukku?


   "Pak ... maafkan, maaf kan perasanku yang saat ini goyah, maafkan ," aku tak dapat menahan sesak di dalam dada. Melihat Pak Gio terluka, hatikupun ikut sakit karenanya.


    Tanpa terasa bulir bening pun meluruh dari pelupuk mata. Tetesan demi tetesan mengalir membasahi pipi.


   Pak Gio menyadari kesedihanku, jemarinya yang kekar menyeka airmataku dan kedua tangannya membingkai wajahku. Wajahnya mendekat dan ia pun mendaratkan sebuah kecupan indah. Aku ....


    


   

__ADS_1


 


__ADS_2