
Bismillah
"SUAMI DARI ALAM LAIN"
#part_18
#by: R.D.Lestari.
Nenek menatapku lekat. Ia menyentuh tanganku dan menutup matanya lekat. Keningnya mengkerut seperti sedang berpikir keras.
"Hmmmh," ia melenguh panjang.
"Nak?" neneknya Sri membuka mata dan menatapku sendu.
"Seseorang itu jatuh cinta padamu, dan kurasa kamu pun mencintai nya. Namun, cinta kalian sulit untuk bersatu karena dimensi yang berbeda antara kamu dan dia," ucapnya lembut.
"Dimensi? apa itu maksudnya, Bima?" hatiku langsung tertuju padanya.
"Kamu harus segera menjauhinya atau kamu akan masuk ke dunianya, seperti ...,"
"Seperti apa, Nek?" aku dan Sri serentak bertanya.
"Seperti Nenek dulu yang hampir saja terjebak di sana. Kota Uwentira. Nenek sempat hampir di nikahi penduduk sana, pemuda tampan dan sangat mempesona,"Nenek bicara sambil senyum-senyum, seperti mengingat hal bahagia.
"Pasti yang di maksud Nenek itu ... Bima!" Sri tiba-tiba nyeletuk.
Mataku melotot. Kenapa tiba-tiba Sri ngomongin Kak Bima. Meskipun aku juga merasa ada yang aneh dengan dirinya.
"Siapa pun yang dekat denganmu saat ini, berhati-hatilah, karena bisa saja dia inginkan dirimu dan cintamu, kamu bisa saja dalam bahaya. Karena jika sudah terikat kamu tak akan bisa lepas dan tak akan bisa kembali ke dunia kita ini," ucap Nenek serius.
Aku hanya terdiam. Bingung mau jawab apa karena terus terang sampai saat ini Bima tidak pernah berbuat buruk padaku, dan ia pun belum berucap apa pun. Namun, kata-kata Nenek hari ini benar-benar membuka mataku. Cukup takut jika itu terjadi kepada diriku.
***
Dari balik pohon, dua mata biru dengan seringai di bibirnya menatap seorang wanita, ya, wanita itu Indri yang saat ini baru saja keluar dan berbincang dengan Nenek Sri. Ia berpamitan dan sekarang duduk di boncengan motor teman nya, Sri.
Sosok di balik pohon itu dengan sigap melesat mendekati Nenek yang saat itu hendak menutup pintu saat Sri dan Indri sudah pergi dari rumahnya.
__ADS_1
"Nek," sahutnya. Seketika Nenek menoleh, sedari tadi ia sudah tau jika ada sepasang mata yang selalu memperhatikan gerak-gerik Indri.
"Kamu pasti penduduk Uwentira, 'kan? mau apa kamu menemuiku," selidik Nenek.
"Sebelumnya saya mohon maaf, Nek. Saya memang jatuh cinta padanya," lelaki itu dengan sopan menjawab pertanyaan Nenek.
"Bukankah kau tau dunia kami berbeda dengan duniamu? carilah yang sebangsa denganmu," hardik Nenek.
"Nenek, aku tau persis cerita tentangmu. Wajahmu pernah masuk ke dalam berita di kotaku dahulu, bukankah Nenek hampir saja menikah dengan anak dari raja kami? kenapa Nenek malah pergi?" lelaki itu balik bertanya.
"Karena aku tau di sana hanya sementara, beruntung orang tuaku membuat diriku sadar. Itulah kenapa aku tak ingin Indri seperti diriku dulu," tegas Nenek. Mata pemuda itu berubah merah dan dari punggungnya kelebatan sayap berwarna hitam mengepak keras.
"Jangan coba-coba menganggu hubungan kami jika tak ingin nyawa kalian dalam bahaya," ancam pemuda itu, tubuhnya kini mulai melayang di ikuti kepakan sayap yang amat kuat hingga membuat debu dan daun-daun kering seketika berterbangan. Nenek memicingkan matanya. Tubuhnya gemetaran menahan ngeri yang tak tertahankan. Pemuda yang tampan itu berubah menjadi mengerikan karena amarah. Nenek hanya terdiam mematung sampai akhirnya pemuda itu hilang di tengah gelapnya malam.
***
Indri melangkah gontai masuk ke dalam kamarnya, tubuhnya ia banting keras ke atas kasur, matanya berair karena sejak tadi di perjalanan pulang Sri tak hentinya memberi sugesti untuk menjauhi Bima.
Walaupun antara Indri dan Bima belum ada ucapan saling cinta, tapi Indri tak mampu menyembunyikan rasa cinta yang kini mulai tumbuh di hatinya.
Tok-tok-tok!
Indri menajamkan telinganya, suara itu berasal dari jendela kamarnya.
Tok-tok-tok!
Lagi suara itu terdengar lebih keras dari sebelumnya . Sedikit penasaran Indri bangkit dari tidur nya dan berjalan perlahan menuju jendela kamarnya.
__ADS_1
Dug-dug-dug!
Suara jantung Indri berdegub cepat. Sedikit terpejam Indri perlahan membuka tirai jendela dan ...
Sretttttttt!
Tak ada suara. Perlahan pula Indri membuka matanya. Netranya menatap sosok tampan berdiri tegak di luar jendelanya. Terlalu tampan hingga di bawah temaram lampu pun wajahnya masih bercahaya. Dan itu, apa? sayap? dia bersayap?
"Bi--Bima?" lidah Indri rasanya kaku karena tak percaya ada Bima di hadapannya .
Kriettt!
Indri segera membuka jendela kamarnya. Bima pun perlahan mendekat. Ia mengelus rambut Indri pelan.
Ada getaran aneh yang Indri rasakan. Mata nya terpejam perlahan seolah ia tak ingin moment ini berakhir.
"Kau mau ikut denganku , In? akan kutunjukkan betapa indahnya suasana malam di atas langit," Bima mengulurkan tangannya .
Indri terdiam. Pikirannya mencerna ucapan neneknya Sri tadi. Ya, Bima bukan orang biasa. Dan malam ini Bima menunjukkan jati dirinya. Ia nampak berbeda dengan sayap yang kini ada di belakangnya.
"Kenapa , In? kau takut padaku?" Bima menunduk lesu.
"A--aku ...,"
__ADS_1