
Bismillah
"SUAMI DARI ALAM LAIN"
#part_108
#by: R.D. Lestari.
Pov James.
Tengah malam buta saat langit masih gelap, aku sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kota Uwentira. Bermaksud menemui Ayah dan mengungkapkan perasaanku untuk segera melamar Rena, gadis cantik dan cerewet pilihan hatiku.
Aku sempatkan mampir ke kamar Ibu, wanita yang kini tengah mengalami gangguan jiwa karena telah melanggar janjinya pada ayahku.
Wanita yang masih sangat cantik itu tertidur pulas dengan wajah yang tenang. Betapa cantik dan manisnya. Aku yakin itulah yang membuat Ayah tergila-gila padanya. Sayangnya, Ibu tak bisa menahan diri dan mendua. Sungguh ibuku yang malang.
Pluk!
"James?"
Aku tersentak saat kurasakan seseorang seperti menepuk pundakku pelan. Suaranya pun amat aku kenal.
"Gi?"
Aku menoleh dan netraku menangkap sosok Gio yang berwajah lesu sedang menatapku.
"Kau mau ke mana malam-malam begini?" tanyanya.
"Hmmh, aku mau ke Uwentira. Ketemu Ayah," jawabku.
"Aku ikut, James. Sepertinya aku mau menetap di sana saja," Gio berjalan malas ke arah sofa di ruang tengah.
Ia merebahkan tubuhnya dan menghela nafas dalam.
"Lantas, bagaimana dengan karirmu? Ibu?"
"Aku akan melepas semua karirku dan hidup menjadi orang kantoran biasa di sana. Ibu, kau saja yang urus, ya, James," Gio menatapku penuh harap.
"Hei, apa yang membuatmu seperti ini? kau tampak buruk, Bro!" Aku menepuk pundaknya pelan.
"Ya, biasalah. Putus cinta," lirihnya.
"Putus? kau dan Sri, putus? bukankah kemarin kau bilang Sri memilihmu?"
"Dia bimbang. Gadis itu berada dalam kebimbangan. Bagaimanapun Hans itu masa lalu terindahnya,"
"Aku tadi memergokinya sedang mencari Hans, dan mereka berpelukan di tempat ramai," Gio semakin murung. Matanya berkaca-kaca. Raut kesedihan jelas terpancar di wajahnya.
"Seharusnya kau bicara padanya, siapa tau itu tak seperti yang kau lihat. Aku yakin Sri gadis yang baik, ia tak mungkin mendua," aku berusaha menghiburnya.
__ADS_1
"Ah, sudahlah. Memikirkan dirinya membuat hatiku semakin sakit," kilahnya.
"Kau tunggu aku, James. Aku akan bersiap," titahnya. Aku tak dapat menolak, Gio keras kepala, sama seperti aku. Jika berkehendak harus segera di laksanakan.
Aku menunggu Gio sembari mengetik pesan di hapeku, memberi tahu gadis pujaanku yang sebentar lagi akan menyelesaikan studinya.
Aku sudah tak sabar untuk melamarnya. Membina hidup berumah tangga bersama Rena, wanita cantik yang punya bakat ngomel luar biasa, tapi untungnya aku cinta dirinya apa adanya.
Ah, seketika itu pula rasa rindu menyelusup relung hatiku. Rindu dirinya, rindu masakannya, dan tentu saja aku rindu semua yang ada pada dirinya.
"James... James!" lagi-lagi suara Gio menyentakku.
"Ah, kau Gi, bikin aku jantungan," aku mencebik.
Aku memperhatikan Gio dengan seksama. Nampaknya ia serius dengan ucapannya.
"Sebanyak ini bawaanmu, Gio? apa kau serius?" tanyaku tak percaya.
"Ya, aku serius, James. Mungkin nanti di sana aku bisa bertemu dengan gadis yang bisa membuat hatiku sedikit terhibur dan melupakan segala rasa nyeri di dada,"
"Gio, aku mengerti perasaanmu. Akupun pernah merasakannya bersama Rena dulu,"
"Ya, putus cinta memang menyakitkan,"
"Ayo, James. Nanti hari keburu pagi, dan portal tertutup. Kita harus bergegas," ajak Gio. Ia berjalan mendahuluiku dan aku membantunya membawa salah satu kopernya.
***
Dari kemarin Pak Gio amat susah dihubungi. Nomornya selalu di luar jangkauan.
Di kampuspun ia tak terlihat. Beberapa kali kami terpaksa libur karena Pak Dosen tak jua muncul.
Aku ingin bertanya pada Rena, tapi aku ragu. Aku takut Rena curiga kami bertengkar, padahal sama sekali enggak. Sebelum dua hari ini hubunganku dengan Gio baik-baik saja, malah terkesan dalam masa hangat-hangatnya.
"Ren ...,"lirihku saat melihat Rena berjalan ke arahku.
"Apa, Sri?" sahutnya.
"Kau tahu kemana Gio? kok ga nampak dua hari ini," tanyaku khawatir.
"Mm, aku ga tau ya, yang aku tau James pulang ke Uwentira. Dia mau minta ijin ayahnya untuk segera melamarku, Sri," wajah Rena tiba-tiba berubah sumringah.
"Alhamdulillah, Ren. Aku ikut senang. Gio, apakah Gio ikut?"
"Kalau Gio aku ga tau, ya. Apa dia ga kasih tau kamu, Sri. Kalian kan sudah jadian," tanya Rena curiga.
"Ga, Ren. Pak Dosen ga ngabarin aku,"
"Apa kalian bertengkar?"
__ADS_1
"Ga, Ren. Kami baik-baik aja," kilahku.
"Hhm, kita ke rumah James aja, yuk. Mungkin Gio sakit jadi ga masuk ngajar," Rena menarik pelan tanganku. Aku beranjak dari dudukku dan mengikuti langkah kakinya.
Ya, mungkin memang benar Gio sakit hingga ia tak sempat mengabariku. Namun, kenapa perasaanku jadi tidak enak? seolah ia pergi jauh dan tak mungkin kembali.
Ah, semoga itu hanya perasaanku saja. Gio tak mungkin meninggalkanku dalam kesendirian. Dia amat mencintaiku, begitu juga diriku.
Brummm!
Rena mengendarai motor dengan kencang. Menembus jalanan padat kendaraan, menyalip mobil-mobil besar tanpa rasa takut. Rena memang sangat lihai. Diantara aku, Indri dan Rena, cuma Indri yang terkenal feminim dan manis. Sedangkan aku dan Rena, memang berjiwa petualang dan suka dengan tantangan.
Ckiiit!
Rena berhenti tepat di sebuah gerbang besi besar yang amat tinggi. Pagar besi yang berukir wajah singa jantan yang amat menyeramkan.
Trang-trang-trang!
Rena mengetuk pintu gerbang dengan ketukan khusus, hingga mengeluarkan suara yang sangat memekakkan telinga.
Pintu gerbang di buka. Muncullah seorang wanita berumur sekitar empat puluh tahunan dengan seragam pelayan datang menemui kami.
Ia tersenyum amat ramah dan menyambut kami dengan baik.
"Masuk Nona Rena," ucapnya mempersilahkan Rena masuk. Kawanku itu mengangguk dan berjalan masuk ke dalam sambil menggandeng tanganku.
"Mana Mama, Bi?" tanya Rena. Mama? sebegitu dekatnyakah hubungan James dan Rena, hingga ia memanggil Mama?
"Aaaaaa!"
Suara teriakan wanita yang amat menyayay hati terdengar amat kencang dari arah salah satu kamar.
"Ren?" aku mencengkeram tangan Rena takut.
"Jangan takut, Sri. Itu Mamanya James dan juga Gio. Ia mengalami gangguan jiwa saat ia selingkuh. Kau tau, Sri? Jika kita menikah dengan orang Uwentira, kita tak boleh selingkuh. Atau kita bisa jadi gila,"
Aku terdiam. Kata-kata Rena semakin membuatku ragu pada hubunganku dan Gio.
"Ini, Nona Rena, silahkan di minum," pelayan tadi menyodorkan dua jus jeruk beserta kentang goreng bertabur boncabe dan saos yang nampaknya amat lezat.
"Terima kasih, Bi. Oia, Bi. Pak Gio ke mana? kok ga keliatan," tanya Rena.
"Pak Gio ikut dengan Pak James ke Uwentira, tapi ia menitipkan ini untuk Nona Sri, apa Nona Rena kenal?" pelayan itu menyerahkan selembar surat yang sudah dilipat. Rena segera menerimanya dan memberikannya kepadaku.
Dengan tangan gemetar aku membuka surat berwarna pink dan beraroma teh melati itu.
Satu bait, dua bait, aku masih bisa menahan perih di hati. Saat membaca bait ketiga, kepalaku terasa membawa beban berat. Tubuhku limbung dan ..
Brakk!
__ADS_1