
Bismillah
"SUAMI DARI ALAM LAIN"
#part_20
#by: R.D.Lestari.
"Auuuuuuuu!" lolongan srigala memekakkan telinga Indri. Indri terduduk di sudut ruangan gelap dengan seberkas sinar dari jendela yang hanya berukuran 30x30 cm. Cukup kecil untuk ukuran jendela rumah. Ya, ini memang bukan rumah. Melainkan sebuah bangunan tua yang sudah lama tak di huni. Mirip seperti menara.
Indri dengan tubuh gemetar memeluk kakinya. Airmatanya tumpah. Bekas cakaran werewolf sewaktu menculiknya masih terasa amat pedih dan menyakitkan. Dalam lubuk hatinya terselip penyesalan yang teramat sangat. Seandainya ia mau menerima ajakan Bima, tentu saat ini ia tak akan berada di cengkraman makhluk-makhluk mengerikan yang kini menjaga nya di luar menara.
Bima, seketika Indri rindu kehadirannya. Lelaki baik itu tak semestinya merasa sakit hati karena perlakuannya.
"Bima ..., tolong aku ...," lirihnya.
Drap-drap-drap!
Derap langkah kaki menghentak terdengar cukup nyaring di telinga Indri. Ia mendongak. Berharap jika Bima yang datang menolongnya.
Samar Indri melihat siluet bayangan tinggi ramping di hadapannya. Jarak mereka cukup jauh dan terhalang jeruji besi yang kokoh.
Indri yakin itu bukan Bima. Postur tubuh dan rambutnya yang panjang tergerai menunjukkan jika yang di hadapannya itu seorang wanita.
"Ha-ha-ha, tamat riwayatmu, gadis bod*h! siapa suruh kau mencuri calon suamiku," ia terkekeh mengejek Indri yang dalam keadaan lemah tak berdaya.
Perlahan Indri bangkit dan mendekati wanita itu dengan tertatih, tangan dan kakinya masih terasa amat perih. Meski dengan terpincang, Indri tetap melangkah hingga kini ia bisa lebih dekat dengan wanita itu. Walau hanya terkena sinar yang memantul dan suasana yang remang-remang, lekak lekuk garis wajah wanita itu jelas terlihat. Ia menatap Indri dengan congkak.
__ADS_1
"A--apa salahku? aku tak merebut siapa pun!" Indri berusaha meyakinkannya. Sayangnya, bukan berempati, wanita itu malah makin tertawa kencang.
"Ha-ha-ha, aku tak habis pikir, apa yang Bima cari darimu? wajah pun pas-pasan, manusia biasa lagi, bod*hnya Bima,"
"Bima? jadi yang kau maksud, Bima?"
"Ya, Bima! Bima itu calon suamiku!"
"Tapi, Bima tak pernah bilang ia punya seorang kekasih," Indri mencengkeram dadanya yang terasa nyeri karena ucapan Silva, wanita yang kini ada dihadapan Indri. Ia sungguh tak menyangka jika Bima masih punya kekasih.
"Ya, gara-gara kamu, Bima meninggalkanku!" Silva meninggikan suaranya.
"Tapi-- aku ...,"
"Diam! aku tak butuh penjelasanmu! kupastikan kau akan tewas kelaparan dan membusuk di sini!"
"Pengawal! jaga wanita ini! jangan sampai dia lepas dan jangan berani-berani kalian memberinya makan!"
Drap-drap-drap!
***
Drap-drap-drap!
Indri berusaha menaikkan kepalanya. Kini tubuhnya sudah sangat susah untuk digerakkan. Tak ada energi sedikitpun. Kini ia hanya bisa pasrah menerima apapun perlakuan makhluk-makhluk itu padanya.
"Heh, kau masih hidup , 'kan?" suara berat lelaki berbisik di dekat Indri. Indri menajamkan mata nya. Di hadapannya bersimpuh seorang lelaki tampan dengan rambut berwarna pirang. Ia tersenyum manis padanya.
__ADS_1
"Si--siapa anda?"
"Aku Deren, hussst, kamu jangan banyak bicara. Buka mulutmu , aku membawamu susu murni dan makanan. Cepat kau makan sebelum Silva datang. Setidaknya kau bisa bertahan sampai Bima datang menjemputmu ,"
Indri berusaha membuka mulutnya dan ...
Currrrr!
Glek! Glek! Glek!
Deren menuangkan susu ke mulut Indri yang kini sudah terbuka. Indri merasa lega ketika tenggorokannya tak lagi kering dan lepas dari dahaga. Perlahan Indri bangkit dan duduk berhadapan dengan Deren, mereka masih terpisah jeruji besi.
"Te--terima kasih, Deren ,"
"Sama-sama. Aku pergi dulu. Ingat pesanku, makanlah sebelum Silva tau. Aku tak ingin dia tau jika aku datang menolongmu,"
Deren lalu bangkit dan melangkah meninggalkan Indri yang kini sedang lahap menyantap makanan yang di bawa Deren. Sekilas Deren sempat menatap Indri, ia merasa amat kasihan kepada gadis itu hingga ia berjanji akan segera memberi tahu Bima agar menolongnya.
***
Di atas bukit Bima duduk mematung seorang diri. Sayapnya yang terbentang ia biarkan tertiup angin malam. Tubuhnya yang kini polos dingin sedingin hatinya yang juga beku. Ia terluka dan patah hati.
Namun, di balik kesedihannya, terselip rasa gusar yang tiba-tiba datang melanda. Entah kenapa ia teringat pada Indri dan hatinya berkata jika saat ini Indri dalam bahaya.
Ia memfokuskan pikirannya . Telunjuk kedua tangan menempel di keningnya . Dengan mata terpejam ia mencoba mencari keberadaan Indri. Nihil. Indri tak di temukan.
__ADS_1
"Hah, bagaimana bisa! apa kekuatanku hilang karena mencintai manusia ," gumamnya.
"Bima ... tolong aku ...,"