
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#Part_86
# by: R.D.Lestari.
Aku memilih membenamkan wajah pada bantal kesayanganku. Baju yang basah sudah berganti dengan pakaian tidur. Aku lebih memilih berbaring dan memeluk guling beserta selimut untuk menghangatkan tubuhku yang sedari tadi bagai es karena kedinginan.
Di saat sedih dan sepi seperti ini, aku terbiasa menelpon Rena atau Indri, kedua sahabat sedari masa SMA, tapi itu tak mungkin kulakukan saat ini. Indri-- , akh, sudah teramat lama tak mendengar kabar sahabat karibku itu, semenjak telpon terakhir ia mengabari jika akan pulang kembali ke Uwentira dan meninggalkan Perusahaan kepada pamannya.
Dan, Rena? tak mungkin aku menelponnya. Aku masih sangat sakit hati padanya. Bukankah ia tau jika aku mencintai Pak Gio? bisa-bisanya Rena berusaha mencuri perhatiannya dan ya-- Gio menolakku pasti karena Rena. Itu pasti!
Teman itu cuma sebagai alasan! menyebalkan!
Dadaku kembali di cekam rasa sesak. Dingin menjalari seluruh tubuhku. Di saat seperti ini aku ingin ia datang. Menyentuhku dan membawaku dalam dekap tubuh hangatnya. Menyentuh setiap inci lekuk wajahnya. Mengendus wangi tubuhnya.
Akh, aku semakin gila akan pesonanya, tapi tidak! itu tidak akan terjadi lagi!
Aku-- aku akan berhenti memikirkan lelaki yang selama ini ada di pikiranku dan tertulis namanya di hatiku dan juga dalam ... diary.
Aku tak mau seperti ini terus. Memikirkan dan menyimpannya dalam memori hanya membuatku bertambah rapuh.
Aku terlalu gampang menilai kebaikannya. Ku kira itu cinta, tapi ternyata bukan. Ia hanya menganggapku teman. Akh, aku terlalu terlena akan kebaikan dan juga perhatiannya.
Atau, itu bukan perhatian, tapi sekedar rasa kasihan? kasihan karena ia tau siapa aku sebenarnya? hanya terlahir dari keluarga miskin dan haus ingin mengejar cita-cita dengan beasiswa? begitukah?
Semakin aku memikirkan, semakin sesak dan terasa beribu sembilu menghujam jantung dan dada. Jangan tanya bagaimana keadaan mataku sekarang, tentunya sudah sembab dan basah hingga ke bantal .
Kepalaku semakin pusing, apa ini efek dari hujan-hujanan dan mandi si sungai, tadi?
Huh, kenapa Pak Dosen tadi bisa datang? apa dia seorang 'Cenayang'?
Entahlah, kepalaku tiba-tiba terasa ringan dan duniaku menjadi gelap. Apa aku--aku....
__ADS_1
***
Ehmm, apa ini? hangat yang menjalari tubuhku, sentuhan lembut di pipiku dan nafas hangat yang menerpa tengkuk dan berpindah ke leherku. Wangi mint segar yang menyergap indra penciumanku.
Seperti ada-- seseorang yang memeluk erat tubuhku dari belakang. Ya, aku yakin itu. Apa ada seseorang di kamarku? bagaimana bi--sa!
"Jangan bangun, aku ingin terus seperti ini bersamamu, maafkan aku, Sri. Maafkan aku terlalu lambat menyadari cintaku padamu,"
Suara lirih lelaki terdengar jelas di telingaku. Anehnya, berulang kali ingin membuka mata, mataku seperti lengket tak bisa digerakkan. Berulang kali kucoba, nihil. Berontak pun tak ada guna. Tubuhku seperti terikat.
Aku seperti mengenal suara itu, tapi, suara siapa? lupa. Aku memilih pasrah dan menikmati setiap sentuhan di pipi dan leherku. Kecupan-kecupan kecil yang membuatku geli dan tubuhku bereaksi karenanya.
"Akh, geli! hentikan!" aku menggeliat saat ia semakin intens mengecup pipi, leher dan tengkukku dengan gemas.
Detik berikutnya ia benar-benar menghentikan aksinya. Dan ... aku bisa membuka mata! tubuhku pun bisa bergerak seperti semula.
Tentu saja aku langsung berbalik dan melihat siapa yang berani memeluk dan masuk ke kamarku tanpa izin? apa dia maling?
Bakk!
Hah? tak ada ? tak ada siapa pun di sampingku. Tanganku meraba mencarinya, netraku menyisir ke setiap sudut ruangan. Nihil. Tak ada siapa pun di kamarku.
***
Gio mondar-mandir di depan TV. James yang lagi asik nonton TV merasa amat terganggu dengan tingkah adiknya yang aneh itu. Wajahnya ia tekuk dan tangannya menyilang di dada dengan jari telunjuk yang ia ketuk-ketuk di dagu.
"Woy, kalau galau ke kamar sana! isi otakmu itu bikin konsentrasi nonton bola terganggu, tau!" sungut James .
Gio menatap James dengan galak. Ia lalu menghempaskan tubuhnya di sofa dan duduk di samping James. Menarik lengan kakaknya agar bisa bersitatap dengannya.
"Aku harus apa, James? kenapa wajah Sri selalu terngiang di pikiranku? kau pernah seperti itu?"
"Ha-ha-ha, kau lucu, Gio! apa kau tak pernah jatuh cinta?" James terkekeh.
"Nggak! selama ini memang aku di kelilingi banyak wanita, tapi tak pernah merasakan getaran aneh seperti saat-- bersama, Sri!" Gio tertunduk lesu begitu ia mengucap nama Sri, wanita yang berhasil membuatnya galau seperti saat ini.
__ADS_1
Glek!
James menelan salivanya. Ia tak menyangka jika Gio belum pernah merasakan jatuh cinta di usianya yang cukup matang seperti sekarang. Apa karena ia terbiasa tebar pesona kepada wanita yang memujanya?
"Jadi, aku harus bagaimana, James? Aku tak pernah mendekati wanita," Gio memandang kakaknya penuh harap.
"Kau mau tau apa yang aku lakukan untuk membuat Rena yang bawel, gemesin dan sedikit galak, eh memang galak banget, sih, bisa jatuh cinta padaku?" James tersenyum penuh arti dan juga mengedikkan matanya nakal ke arah Gio yang masih termangu. Membuat Gio sedikit bergidik.
"Ya, bolehlah kau ceritakan sedikit, meskipun aku sebenarnya tak minat," Gio menghela napas malas.
"Oh, kalau begitu, tak jadi kuceritakan," James menarik dirinya dan bersandar di sofa, pandangannya kembali ke arah TV.
Mendapat perlakuan James, Gio menjadi gusar.
"Ayolah , James, lanjutkan ceritamu," mohon Gio. James melirik sekilas," beneran mau tau?" Gio mengangguk penuh harap.
"Aku masuk ke kamarnya dan menjadikan diriku transparan. Dengan begitu aku bisa bebas menyentuh tubuhnya tanpa terlihat," James menaikkan sudut bibirnya, itu terlihat mengerikan bagi Gio. Ide yang aneh dan juga nyeleneh.
"Huh, aku kira ide briliant, ternyata ide mesum yang tak berguna," Gio membuang nafas kasar. Kesal dengan pikiran James.
"Apa? kau bilang tak berguna?"
"Kau pikir saja, wanita itu jinak-jinak merpati. Mau bilang tidak tapi di hati mau. Minta di manja tapi kita ga boleh dekat, ah, aku bisa baca pikiran Rena saat itu,"
"Ya, meski ujung-ujungnya aku seperti pergi darinya, padahal setiap saat aku ada di dekatnya. Membelai wajahnya dan ingat! aku bukan cowok mesum, Gio. Aku hanya ingin memastikan dia aman," James menepuk punggung Gio pelan. Membuat lelaki itu berpikir keras.
"Selama itu kau tak berbuat macam-macam?" tanya Gio seolah tak percaya.
"Tidak, he-he-he, sejujurnya sedikit. Aku suka sekali menciumnya. Dia itu ...,"
"Ah, sudah, aku tak mau mendengarkan kisah cinta lebaymu itu dengan Rena. Dasar bucin!" Gio beranjak dan melenggang pergi tanpa rasa bersalah.
"Hei, kau! enak aja ngatain aku bucin!" teriak James geram, tapi percuma. Gio sudah pergi dari rumahnya. Beserta motor sport kakaknya.
Brumm!
__ADS_1
***
Terima kasih sudah mampir.