
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_119
#by: R.D.Lestari.
"Jangan sentuh aku! aku ingin pulang sekarang juga!" air mata Rena menganak sungai.
Hati James sakit melihat penolakan Rena, begitupun Sri dan juga Gio. Sri melepaskan pelukannya dan berlari mendekati Rena yang masih histeris.
"Rena ...,"
"Aku ingin pulang Sri, pulang!"
"Rena ...,"
Gadis itu berbalik dan berlari lintang pukang, menangis tersedu-sedu di sela kakinya yang terseok di antara rerumputan.
Ia sungguh tak menyangka kejadian mengerikan ini akan terjadi pada dirinya, di saat ia sudah terlanjur cinta dan akan menikah dengan pria impiannya.
"Aaaaa!" teriak James frustasi sembari menjambak rambutnya sendiri. Lelaki berotot itu luruh di rerumputan dengan wajah yang tertunduk diiringi isak tangis yang menggema.
Sri iba. Ia menatap ke arah Gio yang saat ini sudah berubah kembali menjadi seperti semula. Dosen tampan yang selalu mempesona.
Gio mengangguk seolah mengiyakan keinginan Sri. Gadis itu kemudian merengkuh James dan memeluk James cukup erat. Ia ingin James bisa tegar, bagaimanapun ia akan menjadi kakak iparnya, dan ia ingin bisa menjadi tempat James mengadu sama seperti Gio.
James merasa sedikit tenang saat tangan Sri meraih kepalanya dan memeluk tubuhnya. Ia bagai berada dalam pelukan seorang Ibu yang amat dirinduinya. Apakah ini rasanya punya keluarga? merasa dilindungi dan diperhatikan. Rasa yang jarang tercipta di keluarganya yang broken home.
Gio pun mendekat dan ikut memeluk James yang juga sudah berubah seperti James yang biasanya. Setelah cukup tenang mereka meraih pakaian yang tadi mereka buang dan berjalan beriringan menuju mobil di mana Rena sudah menunggu.
Rena membelakangi Sri dan membuang wajahnya ke arah luar jendela tanpa mengucap sepatah katapun. Ia kecewa akan kebohongan James. Menipunya dengan wajah tampan rupawan di balik sosok mengerikan.
"Rena...," Sri mengulurkan tangannya hendak menyentuh punggung Rena, tapi gadis itu malah menghindar.
"Jangan banyak bicara, Sri. Aku hanya ingin pulang ke rumah saat ini," ucap Rena dingin.
Suasana begitu hening. Tak ada canda dan tawa. Mereka diam seribu bahasa.
James hanya melihat sekilas wajah Rena yang ditekuk ke dalam. Matanya sembab dan berair. Sepanjang perjalanan pun ia selalu menyeka matanya yang basah.
"Ren...," lirih James, tapi gadis itu seolah tak mendengar panggilan James. Acuh dan tetap menatap ke luar jendela.
__ADS_1
Hati James sakit melihat perlakuan Rena. Berbeda dengan Sri yang lembut dan bisa menerima Gio apa adanya, Rena boro-boro mau menerima, melihatpun ia ogah.
Perjalanan menuju dunia Rena terasa amat lama. Sri dan Gio pun berada dalam posisi canggung. Ingin berbicara pun mereka enggan karena melihat Rena dalam keadaan marah besar.
Suasana kota Uwentira yang megah tak sedikitpun membuat suasana hati Rena membaik. Ia tetap emosi dan terbakar api amarah. Kecewa dan tertampar.
Ckitttt!
Mobil menepi di tepi jalan rumah Rena. Gadis itu keluar dari mobil dan turun sesegera mungkin tanpa berucap ataupun menoleh ke arah kekasih dan sahabatnya.
James hanya dapat mengelus dada mendapat perlakuan Rena. Ia tahu Rena kecewa dan ini mungkin akhir kisah cinta mereka.
James menatap Rena dengan raut wajah murung dan sedih hingga gadis itu hilang di balik pintu rumahnya. Ia kecewa dan juga terluka. Sama halnya dengan Rena, tapi ia tak mampu berbuat apa-apa. Rena berhak bahagia dan menentukan jalan hidupnya.
***
James memutuskan untuk kembali ke Uwentira saat mereka sudah mengantar Sri kembali ke rumahnya dengan selamat.
"Hayoklah, James, yang kuat," Gio berusaha menghibur kakaknya, tapi James tak menggubrisnya. Ia tetap terdiam membisu.
Hanya sorot matanya yang bicara betapa hatinya amat terluka saat ini.
Bibirnya pun gemetar menahan sesak di dadanya. James, patah hati.
***
Sebagian ruang dihatinya menyesalkan kejadian malam ini. Punya pacar ganteng dan mapan memang impiannya, tapi di balik itu...
wajah dan tubuh James yang mengerikan?
Rena bergidik ngeri. Ia tak habis pikir dengan Sri yang nampak tenang dan bisa menerima Gio yang berubah seperti monster, begitupun Indri.
Memikirkan saja Rena sudah enggan. Ia merasa tak mungkin untuk kembali menjalin hubungan dengan James. Seketika itu pula hatinya berkata,' apa aku tak mencintai James setulus Sri mencintai Gio?'
***
James beranjak dari tempat tidurnya, mandi dan bersiap. Ia tak ingin semakin larut dalam kesedihan. Sepertinya ngopi di cafe bisa meredakan sedikit lara dihatinya untuk saat ini.
"Mau ke mana kau, James?" tanya Gio saat melihat kakaknya sudah rapi walaupun matanya masih bengkak.
"Ngopi yok," ajak James, tapi Gio menggeleng cepat.
"Aku mau pulang, James. Mau ketemu sama Nenek Sri,"
__ADS_1
"Mau ikut?" ajak Gio.
Kali ini James yang menggeleng. "Aku ingin menikmati suasana Uwentira dulu, pulang sekarang hanya akan membuat diriku teringat Rena. Aku amat yakin ia tak ingin bertemu denganku lagi,"
"Kau jangan berpikiran buruk dulu, James,"
"Aku tau Rena, Gi. Aku mengenal dirinya. Ah, sudahlah. Aku pergi dulu," James memakai kaca mata hitamnya dan melenggang pergi ke garasi. Motor sportnya setia menemani James membelah jalanan padat kendaraan.
Motor menepi di depan sebuah cafe yang cukup ramai pengunjung. James masuk dan memilih duduk disudut.
Ia memanggil pelayan dan memesan secangkir kopi latte yang memang jadi favoritnya.
Menyeruput kopi yang membuat hatinya sedikit tenang. Harus ia akui, kejadian tadi malam bak cambuk baginya. Bukan hanya tubuhnya yang sakit, hati dan jiwanya juga.
Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang menatapnya dengan kagum semenjak ia turun dari motor dan masuk ke dalam cafe.
Dengan malu-malu gadis pemilik sepasang mata berwarna biru itu beranjak dari duduknya dan melangkah mendekati James yang berulang kali menghela nafas kasar.
"Kak James?" sapanya ramah.
James terhenyak mendengar suara merdu memanggil namanya. Ia mengangkat wajahnya dan menatap dalam wajah gadis cantik berhijab pink yang sedang tersenyum manis di sampingnya.
"Siapa?" sahut James. Ia lupa siapa gadis di hadapannya itu.
"Aku Anima, Kak. Adiknya Bima, suaminya Kak Indri," jawabnya.
"Oh, ya. Bukankah kemarin kita makan bersama? maaf aku lupa,"
"Ayo, duduk di sini. Kita ngopi bareng," ajak James ramah. Gadis berlesung pipit itu mengangguk sembari melayangkan senyum manisnya, tapi di sambut datar oleh James.
"Mau minum apa?"
"Kopi latte," jawabnya singkat.
"Latte? ternyata selera kita sama,"
"Oh, ya? kebetulan yang menyenangkan," Anima menyahut dengan ramah. Siapa yang tau bagaimana debaran hati Anima saat ini? tentu saja James tau. Ia bisa membaca pujian dalam hati Anima tentang dirinya. Pipinya yang bersemu merah saat mata mereka tak sengaja bertemu. James sadar dan tau itu.
Namun, saat ini ia sudah punya Rena, dan gadisnya itu sedang dalam keadaan galau. Mampukah Rena tetap bertahan ataukah posisinya akan diganti dengan Anima?
...
...
__ADS_1