
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_122
#by: R.D.Lestari.
Semenjak kejadian penolakan terhadap James, Rena melakukan aktifitasnya seperti biasa. Berangkat ke kampus, belajar dan pulang. Begitu terus menerus. Kegiatan yang membosankan, tapi tetap ia jalani sebaik mungkin mengingat kelulusannya sebentar lagi.
Seperti hari ini, gadis berhidung minimalis itu datang ke kampus pagi-pagi sekali, di saat keadaan kampus masih sepi. Ia sengaja menghindari pertanyaan mamanya tentang James.
Apa yang akan ia katakan prihal James? putus cintakah?
Sedangkan belum terucap dibibir mungilnya kata-kata putus atau perpisahan.
Rena memang kecewa dengan kenyataan yang James suguhkan. James yang ia kenal tampan dan punya mata biru sebiru lautan, ternyata mempunyai wajah asli yang mengerikan pun mata yang menakutkan.
Rena akui awalnya ia sangat shock dengan keadaan James. Namun, begitu ia pulang ke rumah dan merenung, ia tak dapat memungkiri ternyata James sangat berarti bagi dirinya.
Ia sadar jika Jameslah yang bisa membuat hari-harinya berwarna. Di balik sosok mengerikan, ia sangat romantis, jahil dan amat menyayangi Rena.
Rena tertegun dan diam seribu bahasa. Netranya mulai berembun. Beberapa hari ini jika ia rindu pada James, ia hanya bisa menangis dalam kesendirian. Ia tak ingin semua orang tau, termasuk Sri, sahabatnya.
Berulangkali Sri menyuruh Rena untuk menahan diri dan menemui James, tapi gadis itu pun berulang kali menolaknya.
Ia merasa sebagai wanita pantang untuk menjatuhkan harga dirinya. Bukankah James yang salah? saat kejadian itu James berubah menjadi dingin dan pendiam, mengacuhkan Rena juga meragukan perasaannya.
Ke mana James di saat ia rindu? kedatangan James yang selalu Rena tunggu. Semenjak kejadian itu, James menghilang. Rena pun tak pernah ingin mencarinya. Dia ingin James yang datang dan mempertahankan cintanya.
Dulu, James mat*-mat*an mempertahankan cinta mereka. Ia datang ketika Rena terpuruk dan butuh dia. Sekarang dia di mana? lenyap seolah tertelan bumi.
Rena hanya bisa mendengus kesal. 'Dasar laki-laki tak peka!' batinnya.
Gio pun jadi sasaran. Kekesalannya pada James ia tumpahkan pada kembar identiknya itu. Rena sengaja tak pernah menegur Gio dan bersikap acuh pada dosennya itu.
Namun, hari ini ia merasa amat terpuruk. Kerinduannya pada James kian membuncah, tak mampu ia tahan. Terhitung sudah seminggu lamanya mereka terpisah tanpa ucapan.
__ADS_1
Rena menyeka air matanya yang tumpah. Bagaimana caranya ia bisa bertemu dengan James? apakah James merindukannya sama seperti dirinya saat ini?
Ke mana sifat pantang menyerah James yang selalu ada saat bertengkar dengannya?
James seolah merelakan cinta mereka hanyut di telan badai prasangka. Apa memang ia sudah lelah bersama gadis pemarah dan tempramen seperti dirinya?
Lagi-lagi Rena merutuki dirinya sendiri. Mengapa mudah emosi dan melihat seseorang hanya dari rupa dan harta. Harusnya ia mampu bercermin dari semua kesalahannya di waktu dulu. Bukankah ia pernah hampir mat* karena perbuatan buruknya? mencuri tas branded di Kota Uwentira?
Ia pun sudah berulangkali bertengkar dengan James dan lelaki itu selalu mengalah, apa saat ini ia sudah jengah?
"Arggh!" Rena menjambak dan mengacak sendiri rambutnya. Kesal dan sesal jadi satu. Apa ia akan terus menuruti egonya atau ia harus mengalah demi cintanya? dan bagaimana jika James menyerah dan melupakannya?
Rena tersentak dan segera merapikan rambut juga wajahnya saat teman-temannya satu persatu mulai memasuki kelas. Begitu juga Sri, sahabatnya.
Gadis berpostur tinggi itu mengulas senyum saat melihat Rena yang menatapnya sendu.
"Hai, Ren," sapanya.
"Hai, Sri, boleh nanti aku bicara sama Gio?" lirih Rena.
"Tentu aja, Ren. Itu yang Gio tunggu. Sudah seminggu ini kamu mendiamkan aku juga Pak Gio. Apa James juga?" selidik Sri.
"Ren, buang egomu sebelum James benar-benar pergi darimu. Terimalah James apa adanya. Ia sangat mencintaimu, Ren," desak Rena.
"Sriiii!" Rena memeluk Sri kencang. Bulir bening yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga.
Sri amat paham dengan kondisi Rena saat ini yang diliput bimbang dan ego yang tinggi.
"Kenapa James tak datang kembali padaku, Sri? kenapa James seolah acuh dan tak perduli pada hubungan kami?" ucap Rena disela isakannya. Dadanya naik turun meredam amarah.
"Karena ia merasa terpuruk, ia buruk dan kau membuangnya, Rena! James amat terluka dengan penolakan yang kau lakukan!" emosi Sri akhirnya meluap begitu saja. Ya, ia sebenarnya kesal dengan sikap Rena yang kekanak-kanakan.
Setelah marah-marah dan mendiamkan semua orang, Rena dengan mudah berucap jika ia merasa ditinggalkan. Bukankah sikapnya sendiri yang membuat semua orang pergi?
"Aku... aku... saat itu aku benar-benar shock, Sri! dan saat ini aku menyadari jika James sangat berarti, aku lemah tanpa James, Sri. Lemah. Aku butuh dia," Rena sesenggukan.
"Sudah, Ren. Semua orang menatap ke arahmu saat ini. Tahan emosimu, Ren. Nanti kita ke rumah James. Gio bilang hari ini ia akan pulang," Sri berusaha menenangkan sahabatnya yang bersimbah air mata.
__ADS_1
Rena mengusap wajahnya yang basah. Ia berusaha menetralkan emosi dan menenangkan dirinya. Benar kata Sri, semua orang menatap ke arahnya.
Bertepatan dengan itu, Gio datang dan memandang heran. Anggukan dari Sri menjadi kode dan Gio bisa membaca semua yang ada di pikiran pacarnya. Ia hanya menghela nafas dan melanjutkan mengajar seperti biasa.
***
Rena Beserta Sri sejak tadi sudah menunggu Gio di prakiraan kampus, sebelum akhirnya Dosen tampan itu datang dengan senyum khasnya. Tangan kekarnya mengusap kepala Sri dengan sayang. Kedua insan yang di mabuk asmara itu menimbulkan perasaan iri pada diri Rena.
Gadis itu mengatup mulutnya rapat. Srilah sebagai juru bicara baginya. Sri mengungkapkan perasaan Rena saat ini. Gio mendengarkan dengan seksama.
"Aku tak bisa banyak berkomentar, Rena. Kau harus menyelesaikan masalahmu sendiri. Kau sudah dewasa," Gio menanggapi cerita Sri.
"Tapi, aku tak tau harus mulai dari mana," desah Sri. Hatinya pedih mendengar ucapan Gio yang terkesan tak ingin membantunya.
"Hari ini katanya James pulang. Kamu bisa tunggu di rumah. Kebetulan aku ada tugas. Datanglah bersama Sri agar kau tak merasa sendiri," titah Gio.
Rena mengangguk dan menatap temannya penuh harap. "Ya, Ren. Sebenarnya aku masih kesal padamu, tapi demi temanku yang baik ini, aku pasti mau," Sri berucap mantap.
"Terima kasih, kawan," sahut Rena dengan menyunggingkan senyum lega.
Kedua gadis cantik itu begitu riang melangkahkan kaki menuju ambang gerbang kampus. Mereka berdiri di pinggir jalan dan menyetop angkot untuk bisa tiba di rumah Gio sesegera mungkin.
Senyum seolah tak pernah sirna dari bibir Rena. Gadis itu merasa lega karena Sri mau membantunya.
Mereka akhirnya tiba di rumah pemuda. Dan seperti biasa, pelayan ramah datang menyambut kedatangan mereka.
"Apa Tuan James ada?" tanya Rena.
"Ada, Nona. Baru saja dia sampai," sahut pelayan dan mempersilahkan mereka masuk.
"Tuan James ada di taman belakang, Nona,"
"Ya, terima kasih, Bi. Kami sudah tau tempatnya," sahut Rena sembari menarik tangan Sri.
"Tapi, Nona...,"
Rena menepis ucapan Bibi dan tetap melangkah riang bersama Sri menuju taman belakang rumah Gio yang megah.
__ADS_1
Kaki Rena terhenti saat ia melihat ....