SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_97


__ADS_3

Bismillah


SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_97


#by: R.D.Lestari.


"Kenapa Bapak bisa masuk ke kamarku tanpa bisa ku lihat?"


Kulihat sorot mata Pak Gio berubah tajam. Keningnya mengernyit dan alisnya menyatu. Seolah ada yang ia sembunyikan dariku. Aku benar-benar penasaran siapa sebenarnya sosok lelaki yang kucintai ini?


Ia sangat misterius, aku yakin apa yang ia ucapkan itu bukan bualan semata. Aku merasakannya, saat bersama dengan Pak Hantu punya rasa yang sama seperti saat bersama Pak Gio.


"Aku ... memang bukan manusia biasa. Aku keturunan jin dari Uwentira,"


Degh!


Bagai di lempar dari lantai dua puluh dan jatuh terjerembab di dasar, tubuhku rasanya remuk seketika.


"U--Uwentira? berarti sama seperti, Bima?" gumamku.


" Ya, benar. Kami satu kampung, dan Bima adalah atasan dari James, kakakku,"


"Akh, aku harus masuk ke kelas, sekarang. Sebelum Bapak terlambat," aku mengurai dekapannya dan beringsut mundur.


"Sri, ada apa? aku susah membaca pikiranmu. Terlalu rumit, pikiranmu berkabut," Pak Gio memainkan jarinya di keningku, menyingkirkan rambut-rambut nakal dan menyelipkannya di belakang telingaku.


Aku tergugup dan berusaha mengendalikan perasaanku. Memaksakan bibir ini tersenyum walau sebetulnya aku tak ingin.


"Aku harus kembali ke kelas, Pak. Bapak juga bisa terlambat," ingatku.


"Ya, kau benar. Aku harus mengajar. Tapi, bagaimana dengan hubungan kita? kita pacaran atau langsung menikah?"


"Apa? menikah?"


Mulutku seketika terkunci rapat. Tiba-tiba ucapan Nenek terngiang-ngiang dalam benakku.


Siapa itu orang Uwentira, apa saja kebiasaan mereka, pantangan yang bisa membuat gila dan peraturan jika harus tinggal di sana dan tak bisa pulang. Jika ia menikah dengan Pak Gio, berati ia harus ikut ke alamnya dan tinggal di sana seperti sahabatnya, Indri?


"Hiii, aku tak mau," batinku seraya bergidik ngeri.

__ADS_1


"Sri...,"


Aku menampik tangannya yang akan menyentuh bahuku. Jujur, aku shock dan bingung. Baru saja aku bisa memaafkannya, tapi fakta lain membuat nyaliku ciut.


Uwentira, kota gaib yang selalu di ceritakan Nenek, kota dengan sejuta keindahan, berwarna emas dengan aksen dan interior super mewah. Gedung-gedung pencakar langit dan semua barang yang berwarna emas dan bertabur berlian.


Kota gaib yang juga mengambil Indri, sahabat kami yang sampai saat ini tak tau kabar beritanya.


Kota metropolitan yang serupa Las Vegas dan Itali juga Turki. Sangat menakjubkan dengan kendaraan super mewah, dan yang lebih mencengangkan roda kendaraan tidak menyentuh alias melayang!


Ada kengerian terselip dari cerita-cerita Nenek yang membuat bulu kudukku merinding karenanya. Di mana para penduduk Uwentira sengaja masuk ke dunia manusia hanya untuk mencari istri dan membawa mereka selamanya tanpa bisa pulang kembali ke dunia.


"Sri, aku bisa jelaskan semua pertanyaanmu itu. Semua, hingga tak ada waktu untukmu ragu sedikit pun padaku,"


"Aku bukan monster, Sri. Aku sama sepertimu, hanya berbeda dimensi saja, percayalah, Sri...,"


Kutatap garis keras di wajah tampannya. Aku bergeming. Tatapan mata penuh misteri dan daya tarik membuat hatiku goyah.


Aku di selimuti kabut kebingungan. Kabut ragu dan juga cinta teramat besar.


Namun, kenyataan ini membuatku sulit untuk bertahan. Goyah, hilang arah, tak punya pijakan.


"A--aku butuh waktu untuk mencerna semua ini. Aku tau itu nyata, tapi yang amat kusayangkan, kenyataan ini harus ku ketahui saat semua sudah mulai merasuk. Cinta ini, rasa ini... terlalu dalam, tapi kenyataan ini juga sangat menghancurkanku,"


"Sri...," ia memanggil namaku lirih. Aku tetap tak bergeming. Aku shock. Kehilangan beasiswa saja itu sudah sangat memukulku, apalagi harus menikah dengan makhluk dunia lain? sedikitpun tak pernah terpikir olehku.


Aku selalu benci dengan tingkah Indri yang rela meninggalkan orang tuanya demi cintanya pada Bima. Mengecam dirinya yang bisa dengan mudah jatuh cinta hanya karena tampang, membutakannya dari semua kenyataan di depan mata.


Kini aku merasakan semua yang Indri rasakan, cinta yang menusuk hingga menghujam jantungku. Sesak jika ia terluka dan gelisah saat ia jauh. Rasa indah dan gejolak asmara yang baru aku rasa.


"Hmmh," aku melenguh keras. Gegas kulangkahkan kaki, tapi aku tak pergi ke kelas. Aku memilih pulang ke rumah. Aku tak sanggup melihat wajah Pak Gio. Ia terlalu sempurna di balik rahasia yang ia simpan.


Berjalan di antara rimbunnya pepohonan disertai gemersik dedaunan dan angin yang menghembus pelan memanjakan tubuh juga rambutku.


Jangan ditanya bagaimana hatiku saat ini. Hancur, remuk redam dan luluh lantak.


Cairan bening menetes di sudut mata, bergulir hingga jatuh ke pipi. Berjalan di bawah pohon dengan rintik hujan menambah syahdu suasana.


Derrrt-derrt-derrrt!


Benda pipih dikantongku bergetar. Ku rogoh dan melihat nama seseorang yang menelpon di ujung sana.

__ADS_1


Tep!


Aku mematikan telpon dan terus melangkah. Pak Gio berulang kali menelpon. Ah, entahlah. Aku hanya ingin meredakan gejolak jiwa yang kini melanda.


Sampai rumah, ternyata Hans sedang berbincang dengan Nenek di ruang tamu. Mereka serentak menatap ke arahku. Hans langsung berdiri dan menghampiriku, senyumnya merekah membuatku merasa terhibur.


"Sri, kok pulang? kamu sakit?" tanyanya.


Aku menggeleng pelan. Ia menatapku penuh rasa khawatir. Seolah tau ada sesuatu yang mengganjal hatiku, Hans menarik tanganku.


"Nenek, Hans ajak Sri jalan-jalan sebentar,"


"Ya, Hans. Hati-hati," sahut Nenek.


Hans membawaku ke arah teras. Di sana sudah terparkir sepeda onthel legend milik kakeknya yang masih amat terawat.


"Ayo, kita mengenang masa lalu kita. Kamu pasti kangen masa-masa itu," Hans menepuk pelan boncengan sepeda.


Aku mengangguk cepat dan duduk di boncengan Hans.


"Pegangan cantik, nanti jatuh," Hans menarik tanganku dan meningkatkannya di pinggang. Aku menurut saja dan perlahan senyum mulai terulas.


Sepeda mulai berjalan pelan, membelah jalan yang banyak lalu lalang kendaraan. Di bawah terik sinar matahari yang menyengat kulit, dan hembusan angin sepoi-sepoi, perlahan hatiku mulai terobati. Aku semakin hanyut pada suasana yang seakan menggali kembali kenangan indah masa sekolah bersama Hans.


"Keadaan banyak berubah, ya, Sri. Sudah tak asri seperti dulu," seru Hans di antara dayungan kakinya.


"Heem," aku berdehem.


"Tapi, ada yang tak pernah berubah. Kamu masih cantik dan lebih cantik dari yang dulu,"


"Hans, jangan mulai. Aku sedang tak ingin bercanda," jawabku. Aku merunduk. Ketika bersama Hans pun, pikiranku menerawang jauh. Masih tentang Pak Gio.


"Kau kenapa, Sri? aku lihat kau murung sekali. Apa masih dengan topik patah hati kemarin?"


Aku tak menjawab, kerinduanku semakin dalam padanya. Huh, aku benci perasaanku yang seperti ini. Terlalu bucin.


"Sri," Hans menghentikan laju sepedanya. Ia memiringkan tubuh nya dan menatapku dalam.


"Untuk hari ini, aku mohon, lupakan dia. Aku berjanji akan membuatmu tertawa dan melepas semua lara, kamu percaya, 'kan?" Hans menepuk pelan dan aku mengangguk.


Hans kembali mengayuh sepedanya hingga ia membawaku ke suatu tempat.

__ADS_1


"Hans ...ya ampun...,"


****


__ADS_2