
Bismillah
"SUAMI DARI ALAM LAIN"
#part_34
#by: R.D.Lestari.
"Indri! jangan makan itu, Nak!"
"Ya Allah, Yah . Tengok ini Indri makan apa!"
Ayah yang sejak tadi sedang asyik berkebun tergopoh-gopoh berlari mendekati Ibu yang sejak tadi berteriak tak karuan menyebut nama anak semata wayangnya.
Nenek yang sibuk memberi makan ayam pun terseok-seok berjalan mendekati Ningrum, menantu kesayangannya itu.
Mata mereka terbelalak begitu mendapati Indri yang sedang mengunyah daging merah beserta darah yang masih menempel di sana. Ia seolah enggan melepas ayam yang sudah terkoyak di beberapa bagian dan mati dengan kondisi mengenaskan itu. Bulu-bulu ayam pun belum tercabut. Semua dalam keadaan utuh.
Ibu berusaha menarik bangkai ayam dari tangan Indri, tapi gadis itu tetap kekeh mempertahankan ayam tangkapannya itu. Ia begitu menikmati, seolah itu adalah ayam panggang kesukaannya.
"Bu, kenapa Indri begitu?"
"Mana Ibu tau, Yah. Tau-tau begitu keluar rumah Ibu lihat Indri amat lahap menyantap bangkai ayam itu," sahut Ibu sembari bergidik ngeri.
"Ningrum, anakmu kok jadi kayak mayat hidup gitu," Nenek menatap pias cucu kesayangannya yang saat ini kondisi nya amat sangat memprihatinkan.
Semenjak Indri sadar tempo hari, Indri jadi malas makan, mandi dan bersih-bersih. Ia lebih senang mengurung diri di kamar dan berbicara seorang diri.
Wajah Indri sekarang lusuh dan kotor. Ia suka berteriak dan menangis tanpa sebab, membuat Indri jarang di bawa keluar rumah. Seperti siang ini, Indri yang biasa di kamar kemungkinan bosan dan pergi keluar.
__ADS_1
"Kak, Indri makan apa, itu? hiii ... Indri kenapa jadi kayak orang gila begini?" Paman Hamid yang tiba-tiba muncul ikut menimpali.
"Iya, Mid. Kakakpun heran kenapa Indri berubah jadi begini," Ayah yang sedari tadi diam membuka suara. Ia dengan sabar menarik Indri menjauhi ayam yang sudah habis separuh itu. Bulu ayam sempat menempel di bibir dan wajah Indri, Ayah dengan telaten membersihkannya.
"Cepat bawa masuk, Indri. Sebelum ada yang tengok," Ayah memberi isyarat pada Ibu agar segera membawa anaknya masuk kerumah. Namun, sial. Tetangganya ada yang tak sengaja lewat dan mampir melihat kondisi Indri.
"Mbak Ningrum, kenapa wajah Indri banyak bercak darah begitu?"
"Eh, Maya. Iya ini, Mbak ga tau tiba-tiba Indri makan ayam begini," Ibu yang kadung malu berusaha jujur kepada tetangganya itu.
"Saya mau bawa Indri masuk dulu, ya," Ibu mengulas senyum getir.
"Tunggu Mbak, ada yang mau saya sampaikan. Ini tentang Indri," wanita itu berusaha menghentikan langkah Ibu. Ibu seketika berbalik dan menatapnya lesu.
"Ada apa, Maya?"
"Mbak, Indri pernah berpesan sesuatu padaku,"
"Pesan?" semua anggota keluarga Indri yang berada di situ serentak bertanya. Mereka penasaran dengan isi pesan yang akan di sampaikan. Wanita berkulit gelap itu kemudian mengajak ibunya Indri duduk berhadapan, sedangkan Indri di bawa masuk neneknya.
"Mbak, sebelum Indri sakit, ia sempat menitip pesan padaku. Ia berpesan jika suatu saat terjadi sesuatu padanya, ia minta tolong di antarkan ke hutan Uwentira," ujarnya.
Netra wanita paruh baya itu membesar. Nadinya berdetak tak beraturan. Peluhnya mulai mengucur di ujung keningnya yang mulai mengeriput karena usia.
"Uwentira? hutan penuh misteri itu? sahutnya yang diiringi anggukan pasti wanita yang duduk berhadapan dengannya.
Ibu dan Ayah saling berpandangan. Apa maksud Indri berpesan seperti itu? apa ada sesuatu di balik pesannya dulu?
***
__ADS_1
"Indri! jangan makan itu, Nak!"
Aku sempat menoleh wanita tua berjilbab ungu yang sedang berteriak di hadapanku ini.
Mau apa sebenarnya wanita ini? mengganggu kesenanganku saja. Sebenarnya apa yang salah? kenapa dia berteriak begitu?
Aku hanya melihat ayam panggang sedang makan beras di pekarangan belakang rumah. Aku bosan terus di kurung di dalam kamar. Sesekali lah aku keluar menghirup udara bebas.
Mungkin ayam itu belum mau mat\* waktu di panggang, sehingga masih bisa jalan-jalan dan makan. Lagian dimana letak keanehannya?
Ya, kebetulan pula perutku ini amat lapar. Ia pun tak berontak waktu aku tangkap. Rasanya pun teramat lezat saat ku gigit bagian lehernya dan mulai mengunyah. Ada rasa-rasa basah juga. Pokoknya nikmatlah.
Gara-gara teriakan wanita di hadapanku ini, orang-orang pad kumpul dan salah satu dari mereka menyebutku 'gila'. Siapa yang gil\*?
Ah, biarkan saja. Yang penting saat ini aku bisa makan enak. Dari kemarin semua yang aku makan rasanya hambar tak ada rasa, bikin mual dan tak selera. Beda dengan saat ini, makanan ini begitu nikmat dan sedap, membuatku ketagihan.
"Indri, lepaskan ini, Nak,"
Aku mendongak saat seorang lelaki tua mendekatiku dan mengambil ayam panggang dari genggamanku. Anehnya aku tak mampu menolak saat tangan kasarnya mengelap bibirku dan wajahku dengan pelan, penuh kasih sayang.
__ADS_1
Kurasakan kasih sayang terpancar di dua bola matanya . Sebenarnya siapa dia?