
Bismillah
"SUAMI DARI ALAM LAIN"
#Part_37
# by: R.D.Lestari.
"Mari, Pak, Ibu, duduk di sini," Ibu Bima dengan ramah mempersilahkan kedua orang tua Indri untuk duduk di dekat mereka.
Ayah yang semula emosi perlahan meredam amarahnya dan berusaha untuk tenang. Ia merasa tak semestinya berkata kasar karena orang rumah bersikap amat baik dan sopan.
Drap-drap-drap!
Dari arah dalam, Bima datang dengan tergesa. Pemuda tampan itu merunduk dan duduk dengan sopan. Meski nampak sedikit gelisah, ia berusaha untuk bisa mencairkan suasana. Ia berucap sopan membuat Ayah terberat hatinya dan mulai bisa menerima keadaan.
"Ayah, Ibu, saya mohon maaf sudah membuat Ayah dan Ibu kecewa. Sungguh saya tidak punya niat jahat sedikitpun. Saat Indri hilang tempo hari bukan saya yang menculik, tapi sekumpulan manusia serigala yang di urus oleh wanita yang dulu pacarku. Ia cemburu dengan Indri, tapi saya beruntung karena kakaknya mau membantu mencari keberadaan Indri,"
Ibu dan Ayah saling berpandangan, mereka ingin bertanya lebih dalam, tapi Ibu memilih mendengarkan hingga tuntas. Ayah akhirnya mengikuti kemauan Ibu, iapun ikut diam.
"Dan prihal pernikahan kami, itu karena Indri sudah meminum darah abadi saya, saya terpaksa memberikan darah saya karena saat itu Indri dalam keadaan kritis dan hampir saja mat*. Dalam dunia kami, jika darah kami sudah terminum oleh pasangan itu berarti kami sudah sah menjadi suami istri. Pernikahan memakai penghulu itu hanya sekedar simbolis saja karena seutuhnya kami sudah menjadi suami istri sejak darah kami menyatu,"
"Saya mohon maaf karena keegoisan saya, Indri jadi seperti ini, tapi itu saya lakukan semata-mata untuk menyelamatkan jiwa Indri,"
Netra kedua orang tua Indri mengembun. Mereka amat menyesal sudah berpikiran buruk dengan Bima dan keluarganya.
"Dan kenapa Indri malah jadi seperti ini?" Ibu sesenggukan mengingat kondisi anaknya saat ini.
"Indri begini karena melanggar pantangan dari dunia kami. Jika sudah menjadi suami istri kami tak boleh menikah lagi dengan siapa pun diluar dari bangsa kami. Indri sudah menjadi bagian dari bangsa kami," Ibu Bima menyahut dengan nada bicara setenang mungkin. Ia tak ingin memperkeruh suasana.
"Tapi, Indri belum menikah, Bu,"
"Memang, tapi dia sudah menerima pinangan dari lelaki lain, itu sama saja,"
"Ya Allah, saya benar-benar menyesal. Bagaimana bisa menyembuhkan Indri lagi?"
Mata ibunya Indri kembali berkaca-kaca. Ayah hanya bisa berusaha menenangkan, ia pun tak banyak bicara. Hatinya kalut memikirkan nasib Indri yang begitu mengenaskan.
"Ibu, saya akan meminumkan darah saya ke Indri. Saya mohon selama proses berjalan, jangan ada yang mengganggu, biar ingatan Indri kembali pulih,"
__ADS_1
"Baik, Nak Bima. Ibu minta tolong sembuhkanlah Indri. Apa pun akan Ibu lakukan asalkan Indri bisa kembali seperti semula," Ibu menatap Bima penuh harap. Bima mengangguk penuh kepastian. Ia akhirnya pamit dan kembali ke kamar. Menemui Indri dan berusaha untuk mengobatinya.
***
"Bagaimana An, apa Indri sudah makan dan bersih?" Bima menatap adiknya penuh harap.
Anima mengangguk dan matanya tertuju pada Indri. Bima menatap istrinya penuh haru.
"Anima, terimakasih ya sudah bantu Kakak. Kamu boleh keluar karena Kakak akan melakukan ritual pengembalian ingatan Indri," ucap Bima.
"Baik, Kak. Aku keluar dulu. Semoga berhasil, Kak," Anima membungkuk dan keluar dari kamar Kakaknya.
Kretttt!
Perlahan Bima mendekati istrinya yang sudah bersih dan wangi. Ia duduk di pinggir ranjang . Wanita itu menatap Bima tanpa ekspresi.
Bima membelai rambut yang masih basah itu. Matanya mulai berkaca-kaca. Netra mereka beradu pandang. Jemari kekar itu mulai mendekat dan membelai wajah istri yang amat di rindukannya.
Bima menarik tubuh Indri dan membawanya dalam pelukan hangat. Tangan kirinya memeluk mesra punggung Indri sedangkan tangan kanannya membelai kepala Indri dengan sayang.
Indri masih diam tanpa bicara sepatah katapun.
"Maaf kan Kakak, Sayang. Kakak akan berusaha semampu yang Kakak bisa, semoga kamu bisa segera ingat kembali, Kakak sangat rindu pada dirimu,"
Cup!
Bima mengecup mesra kening Indri. Ia kemudian bangkit dan berjalan menuju nakas yang tak jauh dari ranjangnya. Ia mengambil pisau kecil dan sebuah gelas kaca yang memang sudah di siapkan sebelumnya.
Crakkk!
__ADS_1
"Akkkhhh,"
Bima menggores telapak tangannya dengan pisau. Ia sempat meringis kesakitan karena luka menganga yang cukup lebar.
Tes! tes! tes!
Cairan merah kehitaman yang menetes dari telapak tangan, ia tampung di gelas kaca. Setelah terisi setengah gelas, ia segera membalut lukanya dengan menyobek bajunya sendiri.
Srettttt!
Bima melangkah mendekati Indri yang masih diam seribu bahasa. Ia duduk di sampingnya dan menyerahkan gelas berisi darah itu pada istrinya. Beruntung gadis itu langsung menerima dan meminum cairan darah tanpa menolak.
Glek-glek-glek!
Dalam sekejap cairan itu habis. Indri masih diam. Tiba-tiba tubuh Indri menggelinjang hebat. Tangannya mulai gemetar. Bima mendekap istrinya penuh cinta. Perlahan getaran itu hilang dan mata Indri mengerjap. Mata cantiknya menatap Bima haru. Begitu pun dengan Bima. Ia langsung mengecup bibir istrinya sayang. Mereka saling berpagutan melepas rindu dan sesak di dada.
***
Ibu dan Ayah menatap Indri dengan sangat bahagia. Tangan mereka terbuka dan memeluk Indri dengan sayang. Berkali-kali kata maaf terucap di bibir sepuh mereka. Indri pun luluh dalam tangisan dan tergugu dalam pelukan.
"Ibu mengizinkan kamu tinggal dan menjadi istri Bima. Semoga kehidupanmu bahagia , Sayang. Maafin Ibu dengan semua keegoisan Ibu hingga membuatmu jadi seperti ini," tangis Ibu luruh.
"Ayah juga, semoga kamu bahagia, Sayang," Ayah membelai rambut anak gadis semata wayangnya dengan tangis yang terisak.
Indri dan Bima bersimpuh di kaki mereka. Bersyukur karena cinta mereka kini sudah mendapat restu.
__ADS_1
Semua orang di ruangan itu menangis haru. Walau mereka terpisah jarak dan waktu, tapi cinta mereka tetap utuh.