
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_67
#by: R.D.Lestari.
Punggung itu amat Rena kenal. Punggung yang selama ini Rena rindukan kehadirannya. Punggung yang ingin ia peluk walau sesaat.
Rena melangkah ragu mendekati Sri yang masih bercengkrama dengan pemuda yang memunggunginya. Pelan tapi pasti Rena terus mendekat hingga tiba-tiba si Pria berdiri dan menghadap ke arahnya.
Brukkk!
Buah yang di bawa Rena seketika jatuh berantakan di lantai. Tubuhnya seketika membeku saat melihat wajah si Pria yang tanpa ekspresi menatap ke arahnya. Seolah ia sama sekali tak mengenal Rena.
"Rena? kapan kamu datang? aku tak mendengar kedatanganmu," Sri amat sumringah melihat kedatangan Rena yang tiba-tiba.
Rena membisu, antara terpesona dan ingin menangis melihat sosok di hadapannya. Sosok bermata biru dengan alis mata yang tebal dan menyatu.
"Ja--James...," tak terasa bibir mungilnya menyebut nama James.
Pria di hadapannya itu sama sekali tak berekspresi. Datar dan tak sedikit pun mengucapkan sepenggal kata pun untuk Rena.
Sri tambah bingung saat Rena berjalan mendekati Pak Dosennya dan pandangan mata yang lekat seperti di terpa kerinduan.
"Rena! kamu kenal dengan Pak Dosen baru kita?" Sri yang mulai terbakar cemburu menekankan suaranya. Ia takut semakin Rena dekat, semakin kecil kemungkinan Sri untuk memilikinya.
"Do--Dosen? a--aku...,"
"Aku bukan James, aku Gio, Giorgino. Dosen baru di kelas kalian," pria itu mengulurkan tangannya pada Rena. Rena hanya terdiam, tak ada niat baginya untuk bersentuhan pada Pria lain selain James. Hatinya sudah terpatri pada pemuda dingin yang selama ini mengisi harinya.
Rena sama sekali tak bergerak sedikitpun, menatap mata Pak Dosen yang terkesan angkuh. Tak ada sedikitpun senyum di wajahnya.
"Ren... ayok, sini. Sampai kapan kamu mau tatap-tatapan sama Pak Dosen?"
kali ini Sri mulai menunjukkan ketidaksukaannya.
Rena menghela napas dalam lalu membuangnya secara perlahan. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Sri dan membiarkan tangan Pak Dosen yang sejak tadi terulur padanya.
"Saya pulang duluan, Sri. Makan jangan telat biar bisa bertemu saya di kelas selanjutnya," ujar Pak Dosen seraya berlalu pergi dari sisi Rena.
Brakk!
__ADS_1
Dan pintu tertutup dengan kuat, membuat Rena dan Sri melihat bersamaan.
"Sikapmu aneh, Ren. Kamu kenal sama Pak Dosen?" Sri mengulang pertanyaannya. Ia amat penasaran karena sikap Rena yang bagai orang linglung.
"E--enggak, Sri. Cuma mirip dengan ... temanku," suara Rena rasanya tercekat di kerongkongan. Sekuat mungkin ia menahan bulir bening yang siap tumpah saat itu juga.
"Oh... syukurlah. Kalau memang kamu mengenalnya, aku siap bersaing denganmu, Ren. Karena ... ya , you know lah, Pak Dosen punya pesona yang luar biasa," Sri menatap Rena sumringah, terlihat jelas di matanya yang berbinar jika Sri sedang jatuh cinta.
Rena mengangguk dan senyum simpul mengembang di bibir merahnya.
"Kamu ga usah takut, Sri. Dia bukan lelaki yang kucari selama ini, kalaupun itu dia, aku akan mundur dan kamu tak perlu bersaing denganku," Rena nampak tulus dan yakin dengan ucapannya.
"Eh, ga bisa gitu, Ren. Cinta mana bisa di paksa. Kalau dia cinta nya sama kamu, kenapa dia harus memilih aku? itu namanya egois!" Sri mencebik.
"Ah, sudahlah Sri. Aku tak ingin membahasnya. Lagian aku juga sudah lega, ternyata dia bukan sosok yang kucari selama ini," Rena berusaha mati-matian menata hatinya yang saat ini hancur. Ia amat yakin jika pria tadi adalah James. Tak mungkin ada pria yang begitu mirip dari wajah, gestur, tatapan dan mata birunya. Nyaris tanpa celah. Dia memang James.
"Heeh, besok aku sudah bisa pulang, Ren. Jemput aku ngampus ya?" Sri menatap Rena penuh harap.
"Iya, Sri. Aku khawatir banget sama kamu, kok bisa sampai masuk rumah sakit?"
"Heeh, ga tau kemaren itu aku buru-buru, jadi lupa kalau punya sakit asma akut,"
"Beruntung kamu bisa sehat kembali,Sri. Lain kali jangan buru-buru, ya," Rena mengelus punggung tangan sahabatnya. Sri mengangguk pelan.
"Sri ... Aku mau tanya sesuatu, apa kamu ingat saat aku pergi dengan pria saat kita akan membeli makanan untuk Indri?"
"Ga, aku cuma ingat kalau Indri sakit perut dan hilang begitu saja. Sampai kini aku tak tau kabar Indri. Paling itu suaminya, Bima,"
Tok! tok! tok!
Tiba-tiba suara pintu di ketuk. Sejurus kemudian seraut wajah menyembul dari balik pintu.
"Aldi!" teriak Sri saat melihat jelas wajah yang amat ia hapal mendekat padanya.
"Sri, udah enakan? maaf ya aku baru sempat jenguk. Jadwal lagi banyak-banyaknya," Aldi menatap sendu ke arah sahabatnya.
"Iya, Al. Ga apa, aku juga ngerti kok," sahut Sri.
"Eh, ada Rena juga? kamu sudah sehat, Ren?" Rena hanya tersenyum getir mendengar pertanyaan Aldi.
"Emang Rena juga sakit?" tanya Sri keheranan.
"Ya, aku juga sakit, Sri, tapi sudah jauh enakan," jawab Rena asal.
__ADS_1
"Ya, sakit. Sakit hati," batin Rena.
***
Rena melangkah gontai menaiki anak tangga rumah sakit. Hatinya sakit dan perih. Ia meniti anak tangga menuju rooftop rumah sakit. Ingin teriak dan menangis di sana.
Glegarrr!
Suara petir terdengar menggelegar membelah langit tak menyurutkan langkah kaki Rena menuju lantai lima rumah sakit besar di kotanya itu.
Cukup sulit baginya untuk sampai di sana, beruntung pintu tak di kunci, mungkin petugas lupa sehingga Rena bisa leluasa keluar dan berada di rooftop sendirian.
Hujan mulai turun, satu-satu dan kemudian turun dengan deras. Rena berdiri di bawah langit tanpa pelindung. Menikmati guyuran air hujan yang jatuh ke seluruh tubuhnya.
"Jamesss! kamu tega! tega!"
Tangis Rena akhirnya luruh seperti derasnya air hujan. Dadanya amat sesak. Kerinduan ini lama-lama membunuhnya. Ia tersiksa karena cinta.
Wuzzzzhhh!
Desiran angin cukup kencang menerpa tubuh ringkih Rena. Gadis itu menggigil kedinginan. Hampir saja ia luruh karena tubuhnya limbung, saat itu...
Slapsss!
Rena merasakan ada seseorang yang menyanggah tubuhnya. Pelukan tangan melingkar di pinggangnya menciptakan kehangatan di tubuh Rena.
Rena memejamkan matanya. Hembusan napas terdengar merdu di telinga Rena. Hembusan yang amat Rena hapal dan Rena rindukan.
"James... kau datang ... James ... aku ... rin...,"
Brukkk!
Tubuh Rena tiba-tiba luruh di bawah guyuran air hujan. Ia tak sadarkan diri.
Saat itu juga sosok tak kasat mata yang selama ini terus ada di sampingnya membawa tubuh Rena terbang dan berteleportasi. Ia amat sedih melihat Rena yang terluka karena ulahnya.
Sosok yang lain adalah James membawa tubuh ringkih Rena menuju peraduannya, baju Rena yang basah seketika di ganti olehnya hanya dengan jentikan jari.
James merapatkan tubuhnya pada Rena dan memeluk gadis yang di cintainya dari belakang. Ia ingin Rena merasakan kehangatan dan juga kenyamanan yang ia ciptakan.
"Ja--James...," Rena mengerjapkan mata.
Kosong... ruangan itu kosong. Seketika Rena terduduk dan menyisir sekitar. Ia amat yakin jika tadi ia berada di rooftop rumah sakit. Kenapa sekarang bisa di dalam kamarnya?
__ADS_1
Dan tadi, siapa yang memeluknya dari belakang? tubuh hangat dan hembusan napas beraroma mint yang amat ia rindukan. James ... di mana ia berada ?
****