
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_112
#by: R.D.Lestari.
"Sri ...,"
"Antarkan aku pulang, Ren. Sekarang juga," ucap Sri memelas.
"Ga mungkin, Sri. Portal belum terbuka. Kita kan juga mau ketemu Indri?"
"Kalau begitu antarkan aku bertemu Indri, sekarang, Ren. Aku mohon. Aku tak ingin berlama-lama di sini,"
"Sri...,"
"Biar aku temui Gio! ini pasti perbuatan Gio hingga kamu sedih seperti ini," Rena yang wajahnya merah padam mengepal tangannya geram. Ia berbalik, hendak menemui Gio.
"Jangan, Ren. Jangan permalukan diri kita dengan marah-marah. Kita wanita yang punya adat ketimuran. Jadi wanita jangan murahan. Setidaknya aku sudah mencoba meluruskan. Namun, jika memang ia masih marah dan salah paham, aku tak bisa memaksa," Sri mengusap lembut wajahnya. Ia tak ingin wajahnya basah karena airmata yang sempat menganak sungai.
"Ayo, Ren, tolong katakan pada James untuk segera mengantarku menemui Indri," Sri mengulas senyum getir.
"Hmmh, oke Sri," Rena menghembus nafas kasar dan berjalan tergesa, sedang Sri masih terdiam di area kolam renang. Masih menatap mawar dengan tatapan sedih dan hancur. Ia tak mengira Gio bisa sekasar itu.
***
Dari lantai dua, disebuah kamar yang terbilang amat indah dan megah, sepasang mata mengintip gerak-gerik Sri dengan hati bimbang. Ia juga sebenarnya terluka. Bagaimanapun Sri adalah wanita yang amat ia damba. Wanita yang ia harap jadi Ibu dari anak-anaknya kelak.
Hidup abadi bersamanya hingga tua. Ia mau itu. Ia impikan itu. Namun, perbuatan Sri kala itu sudah mencabik-cabik harga dirinya. Cintanya. Pengorbanannya.
Perasaan yang ia bangun dari airmata, suka cita, karier dan semua tentang dirinya harus kandas karena kebimbangan Sri yang sulit memilih antara ia dan Hans, lelaki yang pernah singgah lama di hatinya.
Gio kembali menatap Sri di bawah sana. Gadis itu terus menundukkan wajahnya. Sesekali Ia mengaduh kesakitan dan mengibaskan tangannya. Sepertinya karena melamun, tangannya beberapa kali tertusuk duri mawar.
Gio bertambah gusar. Ia ingin segera berlari dan menyembuhkan jemari Sri dengan secepatnya. Namun, keegoisan memenuhi ruang di hatinya.
"Huh," Gio melenguh kasar. Ia kemudian berbalik dan membiarkan tubuh nya jatuh di atas kasur empuknya.
Ia menutup matanya, tapi tak dapat dipungkiri pikirannya hanya tertuju pada Sri.
***
Sri melangkah gontai, sesekali ia menghentikan langkahnya dan memalingkan wajahnya ke belakang. Berharap Gio berlari menemuinya dan kembali merengkuhnya dalam dekapan hangat seperti di drama korea yang sering ia tonton.
Namun, lagi-lagi hanya rasa kecewa yang ia dapat. Gio tak jua menampakkan wajah tampannya. Harapan untuk berbaikan pupus sudah. Sepertinya hubungan mereka memang sulit untuk dirajut kembali. Kandas dan terhempas.
__ADS_1
"Sri, ayo...," Rena menggelengkan kepalanya, ia tahu rasa bimbang yang kini merasuki batin sahabatnya itu. Ia pun tahu luka yang tergores dihatinya.
Sri mengangguk dan mengikuti langkah Rena menuju mobil. Hatinya hancur, tapi ia tetap bertahan untuk tak kembali menitikkan airmata. Ia harus kuat. Ia tak ingin terlihat cengeng di mata semua orang walaupun sebenarnya ia amat terluka .
"James, kamu harus bisa buat Gio mau bicara dan dengerin Sri, gedek aku sama adekmu itu. Kerasa kepala banget," omel Rena saat sudah berada di dalam mobil.
"Yaa... nanti aku bilangin," sembari menyetir James menghela nafasnya dalam.
"Janji ya, James? kalau enggak pertunangan kita ditunda!" ancam Rena.
James dan Sri serentak tersentak. Mereka terbengong mendengar ucapan Rena barusan.
"Rena... kamu ga perlu begitu," Sri membelai punggung Rena. Ia tak ingin sahabatnya itu terlalu jauh terbawa dalam dilema cintanya.
"Iya, Ren. Apa hubungannya Gio sama kita? biarin mereka urus percintaan mereka sendiri," James terlihat galak karena merasa Rena seperti anak-anak.
"Ya, adalah. Sri dan aku capek-capek datang ke sini. Mengesampingkan rasa malu, rasa takut, semua demi Gio, tapi, apa yang kami dapat? Zonk!" Rena nyerocos.
Kalau sudah begitu, James memilih diam dan menuruti apa mau Rena. Ia tahu, jika ia bersikeras, Rena bakal marah dan hubungan mereka akan sama seperti Gio dan Sri.
Mendadak semua terdiam. Hening. Hanya suara kendaraan yang menderu. Keindahan bangunan megah di sepanjang jalan tak mengikis sedikitpun rasa sedih di hati Sri. Hingga mobil memasuki daerah yang padat rumah, mereka tetap terdiam.
Mobil akhirnya masuk ke halaman luas yang penuh dengan bunga dan gazebo berwarna emas beserta kolam ikan dibawahnya.
Rumah megah dengan pintu besar dan berwarna emas, terbuat dari bahan pilihan dipadu ukiran burung elang.
"Ayo, Ren, Sri. Ini rumah Bima dan Indri," James berjalan mendahului Rena dan Sri yang masih mengagumi rumah sahabatnya itu.
"Ini amazing, gil*, rumah ini lebih bagus dari rumah James," bisik Rena.
Ning-nong!
James memencet tombol bel dan tak lama terdengar suara kaki dari dalam rumah.
"Iya, cari siapa?" sapa seorang wanita muda yang berpakaian seperti pelayan menyambut kedatangan mereka ketika pintu di buka.
"Kami mencari Indri, apa ada?" Rena menyebut dengan segera.
"Oh, Nyonya Indri. Ada, silahkan masuk," wanita itu menunduk dan membuka lebar pintu.
James tak ikut masuk. Ia lebih memilih pulang dan berbicara pada Gio. Ia tak ingin gara-gara Gio, Rena marah dan membatalkan pertunangan mereka.
Sedang Rena dan Sri masuk ke dalam rumah yang amat indah dan punya perabotan mahal.
"Silahkan duduk, Nona. Saya panggilkan Nyonya Indri. Ia sedang istirahat di kamar atas," wanita itu berbalik dan melangkah naik ke tangga menuju kamar majikannya.
Sri kembali muram. Rena yang melihatnya kembali merasa iba.
__ADS_1
"Sudah, Sri. Lupakan sejenak rasa sedih dan gundahmu. Kita seneng-seneng. Kamu kangen Indri, 'kan?"
Drap-drap-drap!
"Sri! Rena!"
Sri dan Rena mengalihkan pandangannya kearah yang sama. Mereka terpana saat seorang wanita berlarian dari atas menuruni anak tangga dengan setengah berlari.
Rena dan Sri serentak bangkit dan berlari mendekati Indri. Mereka saling berpelukan dan melepas rindu.
"In, kangen banget!" seru Rena. Ia yang paling histeris melihat Indri .
"Ya, ampun kalian! kok bisa ke sini?" Indri kembali memeluk kedua sahabatnya. Ia amat kangen.
"Ayo, kita ngobrol di ruang keluarga, sambil cemal-cemil," ajak Indri seraya menggandeng tangan kedua temannya. Ia mengajak kedua gadis itu menuju ruangan luas, dengan televisi yang super besar hampir memenuhi dinding dan juga karpet bulu super tebal dan lembut.
"I--ini, bioskop?"
***
James menghentak kakinya kesal saat memasuki kamar Gio. Sedangkan adiknya hanya menatapnya heran.
"Apa?"
"Kamu yang apa?"
"Aku ngapain?" Gio balik bertanya.
"Kamu kok kayak ga punya perasaan, Gi? kasihan Sri!"
"Ya, biarin. Toh, dia juga sudah milih cowok itu. Jadi, aku harus apa?"
"Serius udah ga punya perasaan sama Sri?"
"Aku ...,"
"Kalau seandainya Sri cuma ketemu buat yang terakhir kali, gimana? soalnya dia bilang begitu,"
"Dia bohong mungkin," kilah Gio berlagak cuek.
"Tapi, dia berani sumpah loh, Gi. Lagian apa gunanya dia bohong,"
"Apa kamu ga sedih kalau hubungan kalian benar-benar berakhir?"
"Aku....,.
****
__ADS_1